Sejuta Kenangan Bersamamu

Sejuta Kenangan Bersamamu
Bab 109 Serasa Masih Memiliki


__ADS_3

"Ishh, siapa sih yang mau bunuh diri mas? Sandal saya lepas tuh sebelahnya!" Wanita yang ternyata adalah Anna itu tadinya berniat menenangkan pikirannya di jembatan itu, tetapi sandal jepit yang dia pakai sebelahnya jatuh ke sungai dan itu tadi yang hendak diraih olehnya.


"Oh iya kah? Saya pikir mbaknya mau bunuh diri!" Kata Darto jadi tersipu malu.


"Aduh, dangkal sekali pemikirannya mas! Mengapa semua masalah yang tidak bisa diselesaikan maka harus mencari solusi termudah, yaitu bunuh diri?" Tanya Anna.


"Saya memang lagi banyak masalah mas, tetapi saya tidak mau hidup saya berakhir dengan kematian yang tragis!" Kata Anna.


"Mbak tinggal di mana? Saya antar pulang ya?" Tawar Darto pasa Anna.


Lama Anna termenung.


Dia tak mungkin kembali kerumah itu karena rumah Hansen itu semenjak kasus tertangkapnya Hansen, polisi selalu mengawasi rumah itu karena saat itu Anna berhasil melarikan diri dengan membawa beberapa potong pakaian uang yang ada padanya juga beberapa barang berharga miliknya yang selalu dia jadikan satu tas hingga jika dibutuhkan, Anna hanya tinggal menariknya dan kabur.


"Saya tidak punya rumah, mas!!" Lirih Anna.


Darto terkejut mendengar penuturan Anna seolah tak percaya.


"Lalu sekarang tujuan mbak ini mau kemana? Oh iya kenalkan dulu nama saya Iskandar tapi orang biasa memanggil nama kecil saya, Darto!" Kata Darto sambil tersenyum malu-malu.


"Nama saya Marianni tapi panggil saja dengan sebutan Anni!!" Kata Anna menyambut uluran tangan Darto tanpa menyebutkan nama aslinya.


"Jadi mbak Anni ini sekarang tujuannya mau kemana?" Tanya Darto yang melirik Anna hanya mengenakan sandal jepit hanya sebelah, baju agak lusuh dan rambut diikat asal persis seperti orang mau kabur dari rumah.


"Saya tidak punya tujuan mas, niat saya mau mencari pekerjaan!" Jawab Anna.


"Mbak kabur dari rumah ya?" Tanya Darto to the point.


"Iya mas, saya mau dinikahkan paksa oleh orang tua saya pada seorang bandot tua, makanya saya kabur dari rumah!" Kata Anna dengan wajah memelas.


"Oalah, begini mbak, di tempat saya yang baru ini saya disuruh mencari seseorang untuk pembantu koki makanya saya kembali ke kota ini lagi, rencananya saya mau membawa teman saya tapi teman saya sudah mendapat pekerjaan baru!! Kalau mbak bersedia?? Siapa tau aja minat walau hanya jadi pembantu koki." Kata Darto.


"Mau mas, tapi saya tidak punya identitas apapun, saya kan minggat dari rumah jadi lupa bawa kartu identitas dan sebagainya." Kata Anna yang merubah namanya jadi Anni.


"Nggak apa-apa mba Anni kita juga kerjanya di dekat hutan kok di kamp!!" Kata Darto lagi.

__ADS_1


"Kalau begitu mbak Anni ikut ke rumah orang tua saya aja ya besok baru kita berangkat!" Kata Darto lagi.


Dengan senang hati Anna mengiyakan karena sejujurnya dia sudah tidak tau harus pergi kemana lagi membawa langkahnya sejak meninggalkannya berselingkuh lalu ditusuk pisau oleh selingkuhannya sampai masuk rumah sakit dan sampai kini dia tidak tahu lagi bagaimana kabarnya.


Dengan menumpang motor yang dikendarai Darto, Anna ikut pulang ke rumah orang tua Darto.


***********


"Ayo kita pulang Num, hari sudah sore!! Itu lihat matahari sudah hampir tenggelam." Kata Elang saat dia melihat Shanum masih betah duduk di depan pusara Indra.


"Shanum masih kangen sama mas Indra, mas!! Kapan kira-kira mas Indra bangun ya mas?" Tanya Shanum yang membuat Elang pun bingung menjawabnya.


Dia takut jika dia salah jawab maka akan membuat Shanum semakin terluka hati dan perasaannya.


"Mas juga nggak tau, mending kita pulang dulu yuk? Kasihan Rindra kelamaan ditinggalkan di mansion." Jawab Elang.


Akhirnya Shanum mengalah dan mau juga pulang bersama Elang.


Kembali sepanjang perjalanan Shanum terdiam membisu. Elang sampai ikut bingung apa lagi topik yang harus mereka bicarakan.


"Mas Wahid, perasaan motor matik merah itu dari tadi mengikuti kita terus ya, atau kah hanya perasaanku saja ya?" Kata Elang.


"Pengendara itu memang mengikuti kita mas sebab saya pun sudah perhatikan sejak tadi tetapi saya diamkan saja dulu selama dia tidak mengganggu kita." Kata Wahid sambil sesekali melihat spion di samping kanannya.


Saat mobil mereka tiba di jalan sepi motor matik itu melaju dan memotong jalan mereka.


Wahid berhenti dadakan membuat Shanum yang duduk di samping Elang terpelanting kesamping untung Elang dengan sigap menangkap tubuh ringkih itu sebelum kepalanya membentur jendela kaca di sampingnya.


"Ada apa mas Wahid mengapa mengerem dan berhenti mendadak?" Tanya Elang masih mendekap Shanum menenangkan wanita itu agar tidak ketakutan.


"Motor matik merah itu memotong jalan kita mas dan lihat itu dia turun dari motornya!!" Kata Wahid.


Pengendara itu belum membuka helmnya. Dia melangkah kesamping jendela Shanum dan menggedornya dari luar.


"Keluar Num...!!" teriaknya.

__ADS_1


Akhirnya Elang, Shanum dan Wahid keluar bersamaan.


"Maaf mas ini siapa ya? Dan ada keperluan apa dengan Shanum?" Tanya Elang yang berdiri di depan Shanum seolah hendak melindungi wanita itu.


"Minggir kamu, saya hanya berurusan dengan mantan istri saya bukan berurusan dengan kalian!!" Gertak orang yang masih memakai helm dan masker itu.


"Mantan istrimu? Bukankah suami Shanum Indra baru saja meninggal? Wah mengada-ngada nih orang." Kata Elang semakin membuat orang itu seperti kebakaran jenggot.


"Bukan suami kedua Shanum yang bernama Indra tetapi suami pertama Shanum yang bernama Rahman!" Kata Rahman dengan bangganya menyebut namanya sendiri di depan ketiganya.


"Oh suami pertama Shanum, terus ada urusan apa dengan kami semua?" Kata Elang balik bertanya.


"Jelas ada urusannya!!! Shanum itu mantan istri saya, untuk apa dia jalan dengan para pria hidung belang seperti kalian! Lebih baik dia pulang dengan saya!" Kata Rahman yang rupanya sejak tadi menguntit kemana saja mereka pergi.


"Pertama, dari mana kamu tau jika hidung kami belang, kedua kamu hanya mantan, hanya mantan suami pertama lagi, kamu dan mbak Shanum juga sudah lama bercerai kan jika kalian belum bercerai, bagaimana mungkin mbak Shanum dan mas Indra bisa menikah, secara sah lagi!!!" Kata Wahid.


Mendengar perkataan Wahid yang spontan membuat Elang terkekeh geli tetapi malah membuat Rahman jadi tersinggung, tidak terima dikata-katai Wahid dan juga di tertawakan oleh Elang.


"Kemari kamu Num, ayo kita pulang!" kata Rahman langsung mau menarik tangan Shanum.


Untung Elang siaga dan langsung menarik tangan Shanum mendekatinya.


"Eh mas, jangan asal main tarik dong? Nyadar mas ini sudah bukan apa-apanya Shanum lagi!" Ejek Elang semakin membuat Rahman naik pitam.


Tiba-tiba Shanum yang sedari tadi diam terdengar membuka suaranya.


*


*


***Bersambung...


Apa yang akan diucapkan oleh Shanum?


Mari dilanjut ke episode berikutnya ya!!!

__ADS_1


__ADS_2