Sejuta Kenangan Bersamamu

Sejuta Kenangan Bersamamu
Bab 104 Sisa Kenangan Yang Tertinggal


__ADS_3

Sekarang lelaki baik hati itu sudah pergi untuk selamanya dan meninggalkan luka di hati banyak.orang.


Semua pasien yang pernah di tangani oleh Indra sebelum dia naik jabatan menjadi wakil kepala perawat, ikut mengantarkan almarhum hingga sampai ke peristirahatan Indra yang terakhir.


Mereka semua mengirimkan ribuan untaian doa dan juga ratusan karangan bunga untuk perawat idola mereka.


Shanum menggendong Sharindra. Bayi yang usianya belum genap tiga bulan itu tampak tenang dalam gendongan ibunya.


Sudah seminggu sejak meninggalnya Indra, Shanum hampir setiap hari membawa Rindra kemakam ayahnya.


Shanum mengajak putranya itu mengobrol seolah berinteraksi dengan Indra sama persis seperti saat almarhum masih hidup dahulu.


Wahid yang sering mengantarkan Shanum kepemakaman Indra merasa sangat iba melihat istri majikannya itu bicara dengan anaknya dan seolah merasa Indra ada di depan mereka.


Rindra pun seolah mengerti dan tahu, mungkin bayi kecil itu tahu bahwa ayahnya masih ada di sekitar mereka.


"Sayang, aku dan Rindra datang lagi!!! Semalam dia rewel mas, sepertinya putra kita merindukanmu, sama seperti aku yang juga sangat merindukanmu!!"


"Kapan sih mas Indra pulang?? Sudah seminggu lho mas, mas tidak capek tidur di dalam sana sendirian??" Shanum terkadang tertawa bersama Rindra seolah dia merasa Indra masih ada di depannya sedang bercengkerama dengan putra mereka seperti dulu.


Air mata Wahid menetes. Ada rasa perih di hatinya, dia tahu Shanum sebenarnya menyadari bahwa suaminya tercinta sudah berpulang tetapi dia seolah memperlakukan Indra seperti saat Indra masih hidup dahulu dengan menghadirkan sisa kenangan di antara mereka.


Terkadang berjam-jam Shanum di sana jika sudah begitu Wahid selalu mendatanginya, mengingatkannya bahwa di mansion Chika dan Chiro juga sudah menunggu kepulangannya.


"Mbak, ayo kita pulang?? Chika dan Chiro juga sudah menunggu, sudah dua jam kita di sini, kasihan Rindra juga sepertinya sudah mulai mengantuk!!" Kata Wahid memperingatkan nyonya mudanya.


"Mas, Shanum sama Rindra pulang dulu, ya!! Besok kita kesini lagi, mas jangan bosan melihat Shanum datang bertamu kemari setiap hari, ya!! Habis mas tidak mau lagi Shanum ajak pulang kemansion, jadi Shanum dan Sharindra yang sering bertamu kemari!!


"Kita pulang ya, mas!! Mas juga pasti sudah lelah mau tidur lagi, putra kita juga sudah mengantuk!!


"Ayo dadah dulu sama ayah sayang!! Dadah ayah, sampai ketemu besok ya!! Assalamualaikum sayang, kami pulang dulu!!" Lalu dia berdiri sambil kembali menggendong Rindra setelah sebelumnya mencium dulu batu nisan Indra.


Dengan langkah gontai wanita ayu itu meninggalkan pemakaman.

__ADS_1


Sesekali Wahid melirik dari kaca spion di atas kepalanya.


Dia melihat Shanum duduk sambil mendekap Rindra yang tertidur dalam gendongannya, duduk bersandar sambil matanya menatap kosong keluar jendela mobil.


Sesekali air mata yang menetes di pipinya dia hapus dengan ujung jarinya.


"Mbak Shanum, masih ada yang mau dibeli??" Tanya Wahid berusaha mengalihkan pikiran Shanum yang kosong.


Shanum menoleh kearah Wahid sesaat seolah berpikir.


Terkadang Wahid merasa kagum pada majikannya itu.


"Pantas almarhum mencintainya setengah mati, tatapan matanya yang teduh dan bola mata coklatnya yang bening sebening telaga memberi ketenangan siapapun yang menatap jauh kedalam bola mata itu.


"Kita beli nasi goreng sebentar ya mas Wahid!!" Kata Shanum.


"Baik mbak!!" Kata Wahid tanpa membantah lagi karena dia tahu warung nasi goreng langganan Shanum dan Indra dulu.


"Nasi gorengnya yang biasa tujuh yang spesial satu ya, mas!!" Kata Shanum pada penjualnya.


Shanum selalu membelikan nasi goreng untuk semua penghuni rumah kecuali mami Tiara dan papi Jonas yang memang tidak suka dengan goreng-gorengan.


Dan yang membuat Wahid semakin sedih, setiap kali membeli makanan apapun, Shanum juga selalu memesankannya untuk Indra, walaupun Indra telah tiada tetapi Shanum tak pernah lupa untuk membelikan suaminya.


Abang penjual nasi gorengnya juga sudah tahu kebiasaan dan kesukaan Shanum tak pernah bertanya karena dia tahu bahwa Indra juga telah meninggal dunia.


**************


"Mi, kok malah duduk termenung di teras begini, sih??" Tanya Rafli pada istrinya yang sejak tadi betah duduk berlama-lama di teras rumah kontrakan mereka.


"Tidak apa-apa, bi!! Di dalam rumah hawanya terasa panas!!" Jawab Bandiah.


Hingga detik ini dia belum juga memberitahukan kepada Rafli bahwa dia telah mengandung.

__ADS_1


"Ayo masuk Mi, sudah pukul sepuluh malam abi sudah mengantuk banget nih!! Banyak sekali kerjaan yang harus abi selesaikan di kantor." Kata Rafli sambil berkali-kali menguap menahan kantuknya.


"Oh iya bagaimana kabarnya mbak Shanum, mi??" Setiap hari selalu pertanyaan itu yang dilontarkan Rafli kepada Bandiah, mungkin bagi Rafli itu pertanyaan wajar tetapi bagi istrinya yang tengah hamil muda itu membuat wanita hamil yang biasanya selalu sensitif bertambah semakin sensitif saja.


"Bi, setiap hari sepulang bekerja yang abi tanyakan selalu saja tentang kabarnya Shanum, tapi abi tidak pernah menanyakan tentang kabarnya umi di rumah!!" Kata Bandiah pelan nyaris tak terdengar tapi masih tertangkap oleh telinga tajam Rafli.


"Yah si umi, abi tau pasti baik-baik saja kan?? Abi kan walau sesibuk apapun selalu menelpon umi di rumah, itu tandanya abi selalu ingat umi dan sayang sama umi, sedangkan Shanum kan beda mi, Indra kan tidak mungkin menelpon dia lagi walaupun dia selalu mengharapkan suara deringan telepon dari suaminya, jika bukan kita para sahabatnya yang memperhatikan keadaannya, siapa lagi??" Kata Rafli panjang lebar memberikan pengertian pada istrinya.


Dan seperti biasanya Bandiah berusaha mengerti dan mencoba memahami dan seperti biasanya juga dia selalu terdiam tak berkata apapun lagi.


Dia bangkit dari duduknya menyusul sang suami yang sudah lebih dahulu masuk kedalam kamar mereka.


Rafli telah lebih dahulu memasuki alam mimpi sementara Bandiah sudah satu jam hanya bisa membolak balikan tubuhnya saja di tempat tidur.


Karena matanya tak kunjung juga mengantuk, dia memutuskan untuk bangun dan keluar dari kamar membawa bantal menuju ruang tamu mereka yang kecil.


Bandiah menghidupkan televisi dengan volume yang kecil saja tetapi setelah sekian lamanya menonton, tak juga matanya kunjung mengantuk akhirnya dia mematikan televisi di ruang tamu itu.


Dia memilih membuka galeri ponsel yang dibelikan Rafli untuknya.


Banyak foto kenangan antara dia, Shanum dan Rafli semasa mereka masih berteman dahulu!!


Bandiah tersenyum melihat ekspresi Shanum yang dalam keadaan mengandung Rindra saat Indra masih berada di Inggris bersama dengan Pingkan dulu dan sekarang keduanya sama-sama telah meninggal dunia.


Tiba-tiba mata Bandiah memfokuskan pada Rafli suaminya.


Kebanyakan saat di dalam setiap pose mereka, Rafli selalu menatap mesra pada Shanum.


Tak ada sedikitpun dia menatap kearah Bandiah selalu saja matanya terfokus pada Shanum semata.


*


*

__ADS_1


***Bersambung....


Lanjut ke episode selanjutnya ya reader dan jangan lupa selalu dukungannya🙏🙏


__ADS_2