Sejuta Kenangan Bersamamu

Sejuta Kenangan Bersamamu
Bab 46 Ingin Berpisah


__ADS_3

"Mi, mana Indra suami Pingkan??" tanya Pingkan saat siang itu dia tersadar dari pengaruh obat bius yang disuntikan padanya.


"Suami kamu kembali bekerja di rumah sakit tempat dia bekerja dulu." Jawab mami Prianka pada putrinya.


"Mi...Pingkan juga ingin kembali bekerja!! Pingkan nggak mau kehilangan mas Indra, mi!!" jawab Pingkan.


Mami Prianka sedih melihat keadaan putri tunggalnya itu.


"Kasihan kamu nak, mami tau Indra menikahimu karena terpaksa dan kini bayi yang ada di dalam kandunganmu juga sudah tidak ada, entah apakah Indra akan kembali padamu atau malah menceraikanmu!!" gumam nami Prianka.


"Yang penting kamu harus sehat dan sembuh dulu, Pingkan!!" hibur mami Prianka.


Pingkan termenung menatap keluar jendela rumah sakit.


Dulu dia tidak takut jika harus kehilangan Indra, karena dia begitu yakin Indra mencintainya dan tak akan melepaskannya, tetapi sekarang semua berubah...Indra tak lagi peduli padanya, apalagi semenjak dia tau Indra sudah menikah dengan Shanum walaupun hanya sekedar menikah siri, tetapi bukan tidak mungkin suatu hari nanti kedudukan bisa berubah, Indra akan menceraikannya dan menjadikan Shanum satu-satunya istri Indra yang sah.


Pingkan bergidik ngeri tak berani membayangkan hal itu akan terjadi padanya.


"Selamat siang ibu Pingkan!!" kata dokter Nindia.


"Kondisi ibu sudah berangsur membaik, mungkin hari ini juga ibu bisa pulang!!" kata dokter cantik itu.


"Terima kasih dokter!!" kata Pingkan sambil tersenyum.


Sementara itu di rumah sakit yang sama dengan gedung yang berbeda.


Kondisi Atika juga mulai membaik. Bayi berumur tiga bulan itu tubuhnya sudah tidak demam lagi.


"Bagaimana kondisi putri saya dokter??" tanya Rahman yang sejak semalam juga ikut menunggu Atika.


"Keadaan putri kalian juga berangsur membaik!!" kata dokter itu.


"Insya Allah besok sepertinya ananda Atika bisa pulang ke rumah." Kata dokter itu.


Yanti tersenyum lega. Sejak semalam tidak ada sepatah katapun keluar dari mulutnya untuk Rahman.


Dia memendam semua kemarahan dan kekesalan nya pada Rahman.


Sepeninggal dokter yang tadi menangani Atika, Yanti membelai bayinya.


"Syukur ibu tidak kehilanganmu, nak!!" batinnya.


"Alhamdulillah anak kita cepat sembuh ya Yan!!" kata Rahman memulai pembicaraan, karena selama dua hari ini Yanti diam tak pernah menghiraukan keberadaannya.


"Iya!!" kata Yanti singkat lalu turun dari tempat tidur berberes baju-baju dia dan Atika lalu memasukannya kedalam tas.


"Sini mas aja yang berberes, kamu istirahat aja!!" kata Rahman karena dia tau istrinya itu kurang tidur selama dua hari ini.


"Nggak usah mas, biar Yanti aja...mas Rahman pergi bekerja aja sana!!" kata Yanti pelan.


"Kok gitu sih Yan, kamu ngusir mas Rahman kah??" kata Rahman.

__ADS_1


"Kan memang begitu mas...mana pernah sekarang mas Rahman betah di rumah bersama Yanti dan Atika, mas selalu sibuk bekerja, kumpul dengan teman-teman, dan segudang kegiatan lainnya!!" kata Yanti datar.


"Kan memang mas Rahman sedang sibuk, mas juga mencari uang untuk siapa?? ya untuk kalian berdua juga!!" kata Rahman tidak mau kalah dan disalahkan seperti biasanya.


Yanti memilih diam karena malas ribut dengan suaminya yang keras kepala itu.


Dia memilih tidur memunggungi suaminya sambil memeluk Atika.


CKCK...


Rahman berdecak kesal melihat kelakuan istrinya. Tanpa dia sadari kelakuan Yanti seperti itu karena ulahnya juga.


Dengan kesal dia membanting pintu dan keluar ruangan.


Yanti hanya mengangkat bahu saja melihat kelakuan suami egoisnya. Lalu dia melanjutkan memejamkan matanya kembali mengistirahatkan pikiran dan hatinya yang sudah sangat lelah.


*************


"Kamu sudah agak baikan, Num??" tanya ibu Karti saat melihat putrinya bersiap mengantarkan Chika dan Chiro kesekolah.


"Sudah agak mendingan bu, ibu sudah mau berangkat kerja??" tanya Shanum.


"Iya, ini sebentar lagi ibu berangkat!!" jawab bu Karti.


"Maafkan Shanum ya bu, ibu jadi banting tulang cari uang untuk hidup kita sekarang, tapi Shanum janji begitu selesai melahirkan, Shanum nanti yang akan menggantikan ibu bekerja!!" ucap Shanum merasa iba pada ibunya.


"Nggak apa-apa nak, lagian kerjaannya nggak terlalu berat kok!!" sahut ibu.


"Assalamualaikum, nek!!" Chika dan Chiro memberi salam sebelum berangkat kesekolah.


"Pagi mbak Shanum??" sapa Adrian saat mereka bertemu di ujung jalan.


"Pagi Ian...kamu belum berangkat kerja??" tanya Shanum.


"Cuti seminggu mbak, makanya agak santai!!" kata Adrian.


"Kok mbak Shanum jalan kaki?? Ian antar ya Chika sama Chironya pergi kesekolah, mbak Shanum kan habis sakit masa sudah mau jalan kaki aja??" kata Adrian.


"Iya bu, betul kata om Ian, kasihan ibu kalau nganterin kita mana naik angkot lagi!!" kata Chika.


Biar kami berdua sama om Ian aja bu!!" kata Chiro menanggapi perkataan kakaknya.


"Iya mbak, nanti sehabis mengantar Chika dan Chiro aku mau jemput bi Karti sekalian!!" kata Adrian.


"Jadi mbak Shanum pulang aja, nih??" tanya Shanum.


"Iya pulang aja mbak, mumpung belum jauh dari rumah!!" kata Adrian.


Lalu dia menunggu Chika dan Chiro naik keatas motor dan mengantarkan mereka berdua.


Shanum pulang kembali ke rumah.

__ADS_1


"Lho kok nganternya cepat banget, Num??" tanya bu Karti yang tampak sudak siap mau berangkat.


"Iya bu, dijalan ketemu Ian katanya habis ngantar Chika dan Chiro baru mau jemput ibu!!" kata Shanum.


"Shanum masuk dulu ya bu ngerjain kerjaan yang lainnya!!" kata Shanum.


"Iya...jangan yang berat-berat ya nak, kamu tempo hari hampir aja keguguran lho!!" kata bu Karti.


"Iya bu, Shanum akan hati-hati kok!!" kata Shanum.


***********


"Ndra...ayo kita makan siang!!" ajak Elang pada Indra yang masih sibuk berkutat dengan pekerjaannya.


"Kerjaanku belum kelar, Lang...mana ntar sore mau ada rapat lagi!!" kata Indra masih serius dengan laptop di depannya.


"Ayolah makan dulu...kamu janji padaku akan selalu memperhatikan kesehatanmu kan?? ayo!!" Elang menarik paksa tangan Indra untuk ikut makan siang.


"Kita makannya nggak jauh kan??" tanya Indra.


"Kita makan di kantin aja, jadi nggak akan banyak menyita waktu!!" kata Elang.


"Ndra, jadi bagaimana pernikahanmu dengan Pingkan?? apakah kamu akan menceraikan dia??" tanya Elang saat keduanya duduk berdua di pojok kantin.


"Mauku juga begitu, Lang...aku lelah dengan semua sandiwara ini!! semuanya membuat penyakitku semakin bertambah-tambah saja rasanya!!" kata Indra menyeruput es jeruknya.


"Baru hingga detik ini aku tak tau lagi istri Shanum ada di mana!!" lirih Indra.


"Aku merasa mbak Di itu tau sesuatu tetapi dia seperti menyembunyikan semua dariku!!" kata Indra.


"Bagaimana kamu bisa tau bahwa mbak Di menyembunyikan sesuatu??" tanya Elang.


"Matanya...dia tak pernah mau bertatap mata terlalu lama denganku jika aku sudah menanyakan tentang Shanum!! dia seperti gelisah menjawab pertanyaanku!! di situlah aku tau bahwa mbak Di menyembunyikan sesuatu tetapi aku tidak berani untuk memaksanya, takut Shanum semakin jauh dariku, Lang!!" kata Indra.


"Biarkan dia mengatakan sendiri, Ndra...Insya Allah Shanum itu akan baik-baik saja!!" jawab Elang.


"Tapi apa menurutmu Pingkan bersedia untuk diceraikan??" tanya Elang sambil mengunyah makanannya.


"Mau tidak mau itu urusan dia, bukankah kami mempunyai perjanjian saat pra nikah dulu, akan berpisah saat anak itu lahir." kata Indra.


"Apalagi sekarang bayi yang dikandungnya sudah meninggal, kami akan segera berpisah, Lang...terus terang aku lelah dengan semua kebohongannya padaku selama ini!!" ucap Indra.


*


*


***Bersambung...


Bagaimanakah kisah mereka selanjutnya?? maukah Pingkan diceraikan oleh Indra??


Ikuti terus kisah mereka dan mohon selalu dukungan nya.

__ADS_1


__ADS_2