Sejuta Kenangan Bersamamu

Sejuta Kenangan Bersamamu
Bab 105 Salahkah Aku Cemburu


__ADS_3

Tiba-tiba mata Bandiah memfokuskan pada Rafli suaminya.


Kebanyakan saat di dalam setiap pose mereka, Rafli selalu menatap mesra pada Shanum.


Tak ada sedikitpun dia menatap kearah Bandiah selalu saja matanya terfokus pada Shanum semata.


Ada rasa sedih di hati Bandiah melihat semua itu, walaupun itu sudah lama berlalu tapi tetap saja hatinya pedih.


"Salahkah aku cemburu?? Salahkah jika aku takut kehilangan dia?? Bagaimana jika rasa cintanya untuk Shanum tumbuh dan bersemi kembali, apa lagi sekarang Shanum sudah kembali sendiri lagi!! Jika dibandingkan dengan Shanum, tentu dia kalah jauh, apalagi sekarang semenjak Shanum menjadi nyonya Indra dan tinggal di mansion yang bagus, tentu bertambah jauhlah perbedaan mereka.


Mengingat akan hal itu membuat Bandiah semakin sedih dia seperti orang yang kalah sebelum bertanding.


Jika sudah begitu dia terasa menyesali mengapa pernikahan terpaksanya, pernikahan karena kesalah pahaman warga pada mereka harus terjadi.


Seandainya saja waktu itu Rafli datang ke kost-kostannya tidak dalam keadaan masuk angin dan jika mulutnya tidak lancang untuk menawarkan niat baiknya untuk membantu dengan mengerok punggung Rafli, tentu sampai saat ini dia tidak akan terjebak dalam perasaan cinta separuh hati seperti ini.


Cintanya pada Rafli memang sepenuh hati, tetapi cinta Rafli padanya hanya separuh hati atau bahkan mungkin Rafli tidak mencintainya sama sekali.


Berbagai perasaan berkecamuk di kepalanya. Apakah tidak sebaiknya pernikahan ini harus diakhiri saja ya?? Sebelum Rafli membawanya pulang ke Jakarta dan menikahinya secara hukum negara dan tercatat resmi di kantor karena status Rafli yang seorang abdi negara.


Dari sudut manapun sepertinya dia tidak ada pantas-pantasnya untuk mendampingi Rafli. Rafli yang ganteng, terpelajar punya karier cemerlang dan tajir melintir harus bersanding dengan seorang upik abu yang dekil, sekolah hanya tamatan SMA itupun dia banting tulang terlebih dahulu mencari uang untuk membiayai sekolahnya sampai bisa menamatkannya.


Akhirnya Bandiah bisa tertidur juga walaupun airmata membanjiri pipinya hampir semalaman.


***************


Drrrrtttttt


📱"Assalamualaikum, ya ada yang bisa saya bantu mas Elang??"


Wahid menguap lebar-lebar terlebih dahulu sebelum menjawab telepon dari Elang.


📱"Bagaimana keadaan mbak Shanum dan anak-anaknya, mas Wahid??"

__ADS_1


📱"Kalau anak-anak baik, tapi kalau mbak Shanum masih sama seperti hari biasanya, selalu rutin mengunjungi makam mas Indra tak pernah absen sehari pun!! Mbak Shanum selalu pergi bersama den Rindra dan bisa menghabiskan waktu berjam-jam dimakam mas Indra.


📱"Tetapi dia baik-baik saja kan?"


Tampak suara Elang begitu khawatir dari kejauhan sana. Elang memang sedang ada pertemuan di Bandung, sudah hampir seminggu ini dia hanya bertanya dan berkirim kabar via ponsel melalui Wahid ataupun Dodi karena dia tahu kedua orang kepercayaan papi Jonas itu selalu dengan setia menjadi pengawal kemanapun anggota keluarga itu pergi.


📱"Insya Allah baik-baik saja mas, tapi mungkin dengan cara itu mbak Shanum mengobati kerinduan dan membunuh kesunyiannya semenjak mas Indra pergi."


📱"Mungkin minggu depan saya baru kembali, mas Wahid!! Tolong jaga Shanum dan keluarganya dengan baik ya mas Wahid!!"


📱"Insya Allah mas karena itu sudah menjadi tugas kami!!"


📱"Ya sudah, saya tutup dulu ya mas, Assalamualaikum!!"


📱"Waalaikum Salam mas Elang!! Mas Elang juga hati-hati selama berdinas di sana ya!!"


Mas Elang itu sepertinya menyimpan rasa untuk mbak Shanum, karena kulihat dia begitu khawatir dengan keadaan mbak Shanum dan anak-anaknya." Gumam Wahid.


"Yah semoga mbak Shanum berjodoh dengan mas Elang!! Walaupun mas Elang tak sehangat mas Indra tetapi jika bicara soal perhatian, kedua sama, sama-sama baik dan sama-sama perhatian!!" Gumam Wahid.


Mami Tiara dan bu Karti sama-sama saling pandang dan berinisiatif membuka tudung saji.


Mereka sama-sama menghela napas berat saat melihat di atas meja ada sebungkus nasi goreng masih terbungkus diletakan di atas piring seperti menunggu pemiliknya untuk dimakan.


"Bu!!" Mami Tiara seolah memberi kode pada bu Karti.


Bu Karti seolah mengerti, karena setiap pagi dia juga mendengar Shanum sibuk berbicara sendiri menyiapkan keperluan suaminya untuk berangkat bekerja.


"Mas pakai seragam ini kan?? Jangan lupa warna celananya yang ini jangan sampai tertukar, ponsel dan laptop jangan lupa dibawa mas!!" Begitulah kalimat yang sama yang setiap pagi selalu digumamkan oleh Shanum dan selalu didengar oleh ibu Karti dengan hati sedih.


Setelah menurut anggapan Shanum dia sudah beres melayani kebutuhan suaminya, lalu dia turun kemeja makan menyiapkan sarapan untuk kedua anaknya yang akan pergi bersekolah.


"Chika dan Chiro berangkat sama om Kirum aja ya!! Kalian tidak usah menunggu ayah, nanti kalian terlambat." Kata Shanum.

__ADS_1


Awalnya Chika dan Chiro saling berpandangan lalu berbisik, "Ayah kan sudah meninggal?? Tapi ibu selalu saja menganggap ayah masih hidup!!" Bisik Chiro pada Chika.


"Sssttt, biarkan saja Chiro!! Jangan mengganggu ibu, supaya ibu tidsk sedih lagi, mungkin dengan selalu menghadirkan kenangan tentang ayah, bisa membuat luka di hati ibu dan kerinduan ibu akan ayah Indra bisa terobati!!" Kata Chika memperingatkan adiknya.


"Bu, Pi!!! Kita tidak bisa membiarkan Shanum terus menerus larut dalam bayangan ilusinya tentang Indra, jika diteruskan maka lama kelamaan Shanum bisa terkena gangguan kejiwaan!!" Kata mami Tiara.


"Mami sudah pernah konsultasi dengan dokter Febri dokter spesialis kejiwaan teman mami itu??" tanya papi Jonas sambil mengolesi selai di rotinya.


"Psikiater, pi??" Kata istrinya.


"Sudah Pi, tapi mami tidak sampai hati mau mengajak Shanum ke psikiater, Shanum tidak mengalami gangguan jiwa, dia hanya selalu berusaha untuk menghadirkan sosok Indra semata untuk melepaskan kerinduannya!!" Kata mami Tiara.


"Buktinya mami sering melihat dia memeluk foto pernikahan mereka sambil menangis, terkadang dia juga tertidur sambil membawa foto Indra di dadanya." Kata mami Tiara lagi.


"Kalau Elang kapan balik dari Bandung, mi??' Tanya papi Jonas.


"Sepertinya masih seminggu lagi deh pi, sebenarnya tempo hari dia dan almarhum kan yang akan diberangkatkan ke Bandung!! Kenapa memangnya pi?" Tanya istrinya.


"Mami lupa ya!! Indra adalah seorang psikolog dan Elang adalah seorang psikiater??" Kata papi Jonas sambil mengunyah rotinya pelan.


"Terus maksudnya papi, apa??" Tanya mami Tiara yang belum mengerti arah pembicaraan suaminya.


"Iisshhh, sepertinya tiang antena di kepala mami harus ditinggikan deh agar bisa menangkap siaran lebih banyak!!" Kata papi Jonas.


"Coba kalau bicara langsung pada intinya pi, jangan terpelilit seperti kaset rusak!!" Kata mami Tiara juga jadi kesal dengan perkataan suaminya yang membuat dia bertambah pusing!!


Papi Jonas tertawa melihat istrinya pagi-pagi sudah terpancing emosi. Dia sebenarnya juga tahu bahwa istrinya pun merindukan sosok putra mereka itu, tetapi mami Tiara tampak berusaha tegar dan terutama ikhlas.


*


*


***Bersambung...

__ADS_1


Akankah Elang bisa membantu masalah kejiwaan Shanum??


Ayo dukungannya dong reader, like dan komennya, vote, favorit dan rate nya jangan lupa🙏🙏


__ADS_2