
"Sial....lagi-lagi aku kalah dari pemuda idiot itu!!" Teriak seseorang yang tak lain adalah Elang sambil membuka topeng penutup wajahnya.
"Mengapa si bodoh itu nggak mati-mati sih??" Geram Elang.
"Padahal tinggal sedikit lagi aku berhasil membunuhnya, tetapi ternyata umurnya masih panjang juga!!" tambah Elang menggeram kesal.
Shanum sangat syok melihat keadaan calon suaminya.
"Sayang...aku nggak apa-apa!! Kita bisa memulai pernikahan kita!!" Ucap Sandro lemah.
Akhirnya mereka duduk menghadap penghulu. Dengan susah payah Sandro berhasil mengucapkan ijab kabul, tiba-tiba...
BRUUUKKK...
Setelah kata sah dikumandangkan tiba-tiba Sandro ambruk di dalam pelukan Shanum.
Rasa sakit yang sejak tadi menderanya sudah tidak bisa di tahannya lagi. Dan akhirnya Sandro roboh juga dan pingsan.
"Mas Sandro??" Jerit Shanum.
Dengan cepat Sandro dibawa kedalam kamar dan dibaringkan di sana.
"Tenang saja nak, suamimu hanya pingsan!! Dia sudah melewati masa kritisnya!!" Kata dokter Soedibyo.
"Kasihan Shanum ya, pi!!" Kata mami Tiara.
"Semoga Sandro adalah jodohnya yang terakhir, mi!! Papi masih berusaha menyelidiki penyerang gelap itu!! Menurut orang yang papi suruh mengejar mobil hitam itu tadi, mobil tersebut bisa dengan cepat menghilangkan jejak, berarti dia bukan sembarang orang bisa jadi dia juga mantan pembalap!!" Kata papi Jonas.
"Siapa sih sebenarnya orang itu?? Apa ada sangkut pautnya lagi dengan Elang??" Gumam mami Tiara pada suaminya.
***************
"Nak ada kabar baik, besok pagi mobil pick up yang biasa membawa hasil bumi para warga di sini akan datang...kamu dan Radhian bersiaplah untuk kembali ke kota!!" Kata pak Josef.
"Iya pak?? Alhamdulillah!!" Kata Bandiah.
"Tetapi ibu dan bapak tidak bisa mengantar kalian sampai ke kota ya nak, kami berdua hanya bisa mengantarkanmu sampai di tempat para warga menjual hasil kebun mereka." Ucap pak Josef.
"Tidak apa-apa bu, pak...saya mengucapkan banyak terima kasih, tanpa bantuan dari kalian mungkin saya dan Radhian sudah meninggal di dasar jurang itu!!" Kata Bandiah seraya meneteskan air matanya.
"Radhian senang ya leh?? Mau pulang ketemu ayah??" Kata ibu Maria sambil mengayun-ayunkan bayi mungil itu dalam gendongannya.
__ADS_1
"Sementara di atas jurang tempat Bandiah terjatuh waktu itu, Rafli terlihat masih menelusuri daerah itu.
Entah mengapa keyakinannya bahwa istri dan bayinya masih hidup masih membara di hati nya apa lagi memang tak ditemukan penemuan mayat atau apapun dalam beberapa hari semenjak Bandiah dinyatakan hilang.
"Umi di mana sekarang, abi kangen...semoga umi dan bayi kita baik-baik saja!!" Ucap Rafli lirih.
Sersan Surya yang menjadi anak buahnya merasa iba pada atasannya itu.
"Sudah sore kapten, sebaiknya kita pulang!!" Kata Surya pelan.
Dengan berat hati Rafli mengikuti saran Surya untuk pulang kembali setelah hari kesekian-sekian pencarian mereka belum menemukan hasilnya.
Sementara Bandiah yang diantar oleh pak Josef dan ibu Maria istrinya sudah sampai di tempat pick up yang mengambil barang dagangan dari para petani di sekitar situ.
"Pak Budi saya titip keponakan saya, dia dan anaknya mau balik ke kota!!" Kata pak Josef pada pak Budi pemilik sekaligus supir pick up tersebut.
"Oh iya pak, bareng saya aja duduk di depan biar Paijo dan Parman duduk di belakang!!" Katanya tersenyum ramah.
"Terima kasih lho sebelumnya pak Budi!!" Kata ibu Maria.
"Di, jaga diri baik-baik ya...juga Radhian, salam buat suami kamu!!" Kata ibu Maria memeluk Bandiah bergantian dengan suaminya.
"Ayo neng, kalau berangkat sekarang maka sebelum maghrib kita sudah tiba di kota!!" Kata pak Budi seraya membantu Bandiah naik ke pick up. Mereka bertiga duduk di depan, sementara Paijo dan Parman yang menjadi anak buahnya duduk di belakang menjaga sayuran.
Rafli memarkirkan motornya di halaman. Dia tidak langsung memasukan motor ke teras sebab dia berniat mau pergi lagi, dia betul-betul tidak bisa berpikir jernih jika harus tinggal lama di rumah kontrakannya.
"Lho, kok lampu ruang tamu menyala?? Perasaan saat aku pergi tadi pagi sudah aku matikan??"Desis Rafli.
"Lho kok seperti ada suara tangis bayi ya?? Perasaan cucunya bu RT juga sudah balik ke rumah mereka, suara bayi siapa ya?? Dan sepertinya berasal dari rumah kontrakanku itu!!" Desis Rafli lagi.
Perlahan Rafli mendekat dan mengintai kedalam lewat celah korden jendela yang sedikit tersibak.
"Kok aku tambah penasaran ya?? Apa sebaiknya aku masuk aja ya??" Berpikir sampai kesitu Rafli akhirnya mencari kunci di bawah pot bunga.
"Lho kok nggak ada?? Hanya aku dan umi yang tau tempat penyimpanan kunci rumah yang lain tak ada yang tau tentang kunci itu!!" Gumam Rafli lagi tak terasa bulu badannya meremang karena mulai merasa takut.
TOK...TOK...TOK
Karena tak ada yang membukakan pintu akhirnya Rafli memberanikan diri untuk masuk sendiri.
CEKLEK...
__ADS_1
"Pintunya tidak dikunci!!" Gumam Rafli lagi.
"Hei bayi siapa yang terbaring di ruang tengah itu??" Gumam Rafli terkejut tapi akhirnya mau mendekat juga.
"Abi sudah pulang?? Kok nggak ada kedengaran suara memberi salam??" Tanya seorang wanita dari arah belakang Rafli yang membuat nya merasa syok di tempat dia berdiri.
"Suara itu?? Itu suara istriku atau kuntil anak ya??" Desis Rafli mulai tegang.
"Abi?? Kok malah bengong sih??" teriak suara itu lagi kini lebih dekat di belakangnya.
Perlahan Rafli berbalik menghadap kearah sumber suara itu.
"Umi???" Teriaknya histeris sambil memeluk istrinya.
Dia meraba perut Bandiah yang telah kempes.
"Mi, bayi itu??" Tanya Rafli dengan suara tercekat.
"Iya bi, namanya Radhian Rabandy putramu!! Dia memang lahir lebih cepat mungkin di karena kan saat umi jatuh menyelamatkan diri dari dalam mobil yang terbalik itu, bi!! Untung saja Radhian lahir dengan selamat walaupun sangat kecil pada saat dia lahir kala itu!!" Jelas Bandiah yang membuat bahu Rafli terguncang tak dapat menahan isak tangisnya.
Dia bisa merasakan betapa berat apa yang dirasakan oleh istrinya kala itu. Melahirkan dalam keadaan kesakitan yang teramat sangat, tanpa ada dia di sampingnya belum lagirasa sakit akibat terguling dari dalam mobil dan berusaha menyelamatkandua nyawa, yaitu nyawanya dan nyawa bayi yang dikandungnya.
"Maafkan abi ya umi!!" Isak Rafli sambil memeluk Bandiah.
"Ini bukan sepenuhnya kesalahan Abi, umi juga salah karena telah melalaikan nasehat abi!!" Kata Bandiah sambil membalas memeluk suaminya tercinta.
"Lalu dengan siapa selama ini umi tinggal??" Kata Rafli.
"Umi tinggal dengan sepasang suami istri yang rumah mereka tak jauh letaknya dari jurang sebelah timur!!" Kata Bandiah.
"Syukurlah, kapan-kapan ajak abi kesana untuk menemui mereka sekaligus untuk mengucapkan terima kasih karena telah menolongmu dan Radhian!!" Kata Rafli lagi.
*
*
***Bersambung...
Akhirnya mereka bisa berkumpul kembali😊😊
Ikuti terus kisah mereka selanjutnya di next episode ya reader!!
__ADS_1