
"Mas mau memukul saya?? mestinya saya yang memukul sampean karena telah berzina dengan istri saya tapi ini kok malah terbalik??"
"Sebentar saja saya berteriak mas, maka satu kampung akan datang untuk menghakimi penzina seperti kalian berdua, mau??" tanya Darto lembut tapi penuh ancaman.
Hansen menurunkan kembali tangannya kemudian bergegas pergi meninggalkan rumah Darto sementara Sri si istri tukang selingkuh itu berdiri dengan tubuh dan lutut gemetaran di pojok ruang tamu.
Seandainya dia bisa melarikan diri maka detik itu juga dia akan melenyapkan dirinya sendiri dari muka bumi ini.
Setelah sosok Hansen hilang dalam kegelapan, Darto kemudian berdiri menghadap Sri istrinya.
Tadi awalnya dia begitu marah dan kecewa, jika dia turuti ingin rasanya dia membunuh kedua pasangan mesum itu.
Tapi setelah dia berpikir kembali, tak ada gunanya dia mengotori kedua tangannya untuk menghakimi Hansen dan Sri, maka dari itu dia akhirnya bisa meredam semua kemarahannya.
"Maafkan Sri mas...Sri khilaf!! laki-laki itu yang selalu menggoda Sri untuk melakukan hal yang tidak senonoh!!" kata Sri menghiba.
"Sudahlah Sri...tak ada gunanya kamu menghiba seperti itu, air mata darah sekalipun yang kamu teteskan tak akan pernah bisa merubah keadaan!!" kata Darto lalu berdiri menghampiri Sri.
Darto memeluk Sri yang menangis dalam penyesalan tiada akhir.
"Mas tau mas salah karena telah menerima perjodohan kita, mas pikir seiring dengan berjalannya waktu, mas bisa membuatmu jatuh cinta pada mas Darto dan mau menerima mas Darto tapi ternyata mas salah, hatimu tetap membatu!!" kata Darto
"Besok mas akan mengembalikanmu pada kedua orang tuamu, kamu jangan khawatir, mas tak akan membeberkan perselingkuhanmu pada orang tua kita karena aibmu merupakan aib mas Darto juga." Kata Darto lalu melepaskan pelukannya pada Sri kemudian masuk ke kamar hendak berganti baju.
Hati Darto sangat terpukul melihat ranjang durjana yang tadi baru saja digunakan oleh istri dan selingkuhannya untuk bergelut ria di atasnya.
Dengan cepat Darto berbalik keluar kamar setelah berganti baju lalu mengambil bantal, dia mau tidur di ruang tamu.
Sri tidak lagi punya keberanian untuk menegur suaminya. Malam ini hari terakhir dia bersama dengan mas Darto sebelum besok dia akan di talak oleh suaminya.
Anna menangis sesunggukan melihat gambar yang terkirim ke ponselnya.
Gambar mesum suaminya dengan seorang wanita dengan berbagai gaya.
Dia ingin mengingkari kenyataan bahwa itu bukanlah Hansen suaminya tetapi mau dipungkiri bagaimanapun itu tetaplah Hansen.
TOK...TOK...TOK
Anna pura-pura tidur dan tidak mau membukakan pintu untuk Hansen.
Hansen masuk dengan menggunakan kunci cadangan yang dia bawa.
"Sepi...Anna sudah tidur!!" pikir Hansen.
__ADS_1
Dia melirik jam dinding yang sudah menunjukan pukul dua belas tengah malam.
Hansen melihat Anna sekilas tak ada yang berubah lalu dia keluar kamar dan duduk merokok di ruang tamu serta kembali mengingat kejadian tadi.
Sepeninggal Hansen kembali air mata Anna berlinangan tanpa sepengetahuan Hansen.
"Sungguh terlalu kamu mas, dulu kamu berselingkuh dengan bu Stella dengan alasan mengeruk harta kekayaan bu Stella dan aku masih bisa memahaminya, tapi sekarang??" lirih Anna sambil terisak memiringkan tubuhnya kedinding.
"Dasar aku manusia bodoh yang mau saja dibodohi oleh mas Hansen!!" gumam Anna.
Karena bosan, Hansen menghidupkan televisi di ruang tengah sambil menghirup teh hangatnya.
Hansen mengerenyitkan dahinya saat ada berita yang mengatakan keluarga besar Prita serta keluarga Willy dan Prianka atas meninggalnya putri semata wayang konglomerat itu atas kasus penembakan.
Dari televisi Hansen menyaksikan prosesi pemakaman Stella.
Sesaat hati Hansen terasa sesak. Bagaimanapun dulu dia sering melewati hari-hari indah bersama dengan wanita cantik dan kaya itu.
Wanita yang juga menjadi buronan polisi karena ikut-ikutan Hansen menggelapkan dana rumah sakit yang uang hasil korupsi mereka bagi dua.
Pikiran Hansen bertambah kacau melihat berita di televisi tersebut.
***********
Ditatapnya gurat lelah dan kesedihan dari wajah cantik nan ayu yang selalu diam dan bertahta di hatinya itu.
Belum ada tanda-tanda bahwa Indra akan sadar dari komanya.
"Num....!!" sapa Elang.
"Shanum membuka matanya untuk melihat siapa yang datang dan menyapanya.
"Pak Elang!!" kata Shanum mencoba tersenyum pada Elang yang datang keruangan ICU tempat Indra dirawat.
"Makanlah kemudian sholatlah dulu biar bergantian aku yang akan menjaga Indra." Kata Elang yang merasa kasihan melihat keadaan Shanum.
Atau kamu mau makan di sini juga sholat di sini saja??" kata Elang pada Shanum.
"Aku makan dan sholat dulu ya!!" kata Shanum berusaha menutupi kesedihannya.
Dengan langkah gontai dan lelah, Shanum melangkah menuju mushola rumah sakit sekalian untuk membeli makanan.
Mami dan papi pulang sebentar diantar oleh Dodi dan Kirun sementara Wahid ikut stand by di rumah sakit.
__ADS_1
"Kasihan Shanum!!" lirih Indra lalu dia teringat akan pesan Indra kemarin sore padanya sebelum dia tertembak.
"Jaga istriku dan anak-anakku jika nanti aku pergi dalam waktu yang lama!!"
Begitu pesan Indra kemarin sambil bercanda, dan siapa sangka candaannya malah menjadi kenyataan.
*************
"Bi, ayo cepat...katanya kita mau kerumah sakit!!" kata Bandiah yang mulai akur dengan Rafli suaminya.
"Iya mi sebentar!!" kata Rafli dari dalam kamar kecil mereka.
"Lama amat sih bi?? seperti perempuan saja!!" kata istrinya.
"Sabar sayang, abi lagi terima telepon dari kakek di Jakarta!!" kata Rafli.
Bandiah terdiam. Pernikahannya dengan Rafli baru pernikahan siri, mereka belum meresmikan pernikahan mereka karena Rafli selalu sibuk dengan tugasnya.
"Bi, apakah kakekmu akan merestui hubungan kita??" tanya Bandiah khawatir.
"Siti Bandariah istriku!!" kata Rafli sambil menangkup kedua istrinya.
"Walaupun kita hanya menikah siri tetapi pernikahan kita sah di mata Allah hanya tinggal pengesahannya saja." Kata Rafli meraih tubuh istrinya.
"Kakek hanya bertanya kapan abi pulang membawamu dan mengenalkanmu pada kakek di Jakarta!!" kata Rafli lagi.
"Ya sudah ayo kita berangkat!!" kata Rafli sambil mengambil kunci motor milik istrinya di atas meja.
"Semoga hidup Shanum tenang sekarang setelah meninggalnya Pingkan dan Sheilla ya, bi!!" kata Bandiah.
"Semoga aja mi...kasihan mereka!!" kata Rafli menimpali perkataan istrinya.
"Tugas abi hanya tinggal menangkap Hansen dan Anna saja mi, setelah itu abi akan membawa umi pulang ke Jakarta, kita akan meresmikan pernikahan kita di sana!!" kata Rafli lalu motor yang mereka tumpangi melaju membelah jalan raya menuju ke rumah sakit tempat Indra dirawat.
"Oma...bagaimana keadaan ayah??" tanya Chika pada oma Tiara.
"Ayah belum sadar, nak...kalian berdoa saja semoga ayah cepat sadar dan cepat sembuh, ya!!" kata oma Tiara sambil mengelus rambut Chika dan Chiro.
"Sekarang kalian tidur ya...kasihan juga adik Rindra, temani nenek dahulu...oma dan opa akan kerumah sakit lagi bergantian dengan ibu kalian menjaga ayah Indra!!" kata oma Tiara lagi.
*
*
__ADS_1
***Bersambung...
Jangan lupa dukungannya selalu ya reader, like, komen, vote, favorite dan rate nya🙏🙏