Sejuta Kenangan Bersamamu

Sejuta Kenangan Bersamamu
Bab 6 Ingin Bercerai


__ADS_3

TUUUTTTT


Aku mematikan sambungan ponsel karena sudah malas berdebat dengan mas Rahman yang sebentar lagi akan menjadi mantan suamiku.


"Sial...sial....!!"


Rahman menggeram marah menahan emosinya.


"Shanum sekarang sudah berani melawanku, dulu dia selalu menurut walau sekasar apapun perbuatanku atau kata-kataku menyakiti hatinya, dia tidak pernah melawan."


"Tapi apa yang dikatakan Shanum memang benar aku telah berpoligami tanpa persetujuan darinya."


"Baiklah Shanum...aku lebih memilih Yanti karena aku mencintainya dan dia telah mengandung anakku, aku akan mengabulkan permohonan ceraimu!!" kata Rahman.


Sementara itu Shanum termenung mencoba membenarkan keputusannya untuk bercerai dari Rahman.


"Aku tau mas, sampai kapanpun sepertinya Shanum tak akan pernah bisa membuat mas Rahman mencintai Shanum."


"Aku lelah mas...aku menyerah kalah...semoga mas bahagia dengan keluarga barumu!!"


*************


Semalaman Shanum tidur kurang lebih hanya dua jam saja. Pagi ini dia bangun dengan kepala nya terasa berat.


Setelah mengurusi sarapan kedua anaknya, diapun berangkat bekerja.


"Aku harus tetap profesional dalam bekerja, masalah di rumah jangan sampai kubawa ke pekerjaan."


"Akhirnya selesai juga membersihkan ruangan pak Elang dan pak Indra." Kataku.


"Selamat pagi mbak Shanum?? sapa pak Indra ramah seperti biasanya.


"Selamat pagi pak Indra, pak Elang..." sahutku sambil menundukan sedikit kepalaku pada mereka lalu aku keluar ruangan.


"Nggak sopan!!" gerutu Elang.


"Maksudmu siapa yang nggak sopan??" tanya Indra.


"Itu cleaning service yang baru!!" gerutu Elang lagi.


"Maksudnya letak nggak sopannya itu di mananya, bos?? dia mengucapkan salam, dia mengangguk hormat, apa lagi??" tanya Indra bingung.


"Bicara dengan orang lain kok tidak mau melihat wajah lawan bicaranya!!" kata Elang.


"Memangnya kalau mbak Shanum bicara denganmu harus gitu ya menatap wajahmu?? tapi rasanya dia memang tak pernah bicara apapun selain mengucapkan salam sih!!" Kata Indra.


"Ya nggak juga sih...aku juga nggak mau dia menatapku, nanti ujung-ujungnya dia naksir sama aku lagi!!" Kata Elang.


"Gede rasa kamu bos!! belum tentu juga dia suka sama kamu, melihatmu aja dia tidak mau!!" goda Indra makin membuat Elang panas.


Setelah itu seperti biasa Shanum bekerja tanpa dia tau dua pasang mata selalu bergantian mengawasinya.

__ADS_1


Satu pandangan mata teduh dan lembut milik Indra...dan satu pandangan mata tajam menusuk milik Elang.


Shanum memang tak tau jika dia sedang diawasi karena kaca tempat kepala ruangan itu gelap, jadi dari dalam leluasa melihat keluar sementara yang di luar tak bisa melihat ke dalam.


Sesekali Shanum membuka maskernya untuk menyeka keringatnya sehingga wajah ayu miliknya semakin meningkat berkali-kali lipat.


Wajah cantik tanpa polesan dengan alis, hidung dan bibir yang sudah terbentuk sendiri keindahannya dari sono nya.


"Cantik!!" kata Indra tanpa bisa menyimpan pujiannya.


"Hati-hati...jangan sampai Pingkan tau kamu memuja wanita lain!!" kata Elang.


"Lho, wajar wanita kubilang cantik berarti aku masih laki-laki normal tapi kalau laki-laki yang kubilang ganteng artinya aku homo dong!!" ucap Indra.


"Lagian dia juga nggak mungkin suka sama kita bos, kamu ingetkan dua bocah yang dia gandeng sewaktu ketemu kita membeli sate tempo hari?? Itu pasti kedua anaknya." Kata Indra.


Elang tak berkata apapun, hanya matanya yang sesekali melirik kearah Shanum.


"Jangan suka diliati nanti malah kebalik, kamu lho nanti yang bakal naksir sama dia..." ucap Indra.


Elang hanya mendengus mendengar candaan Indra.


"Hei...kulihat sejak tadi pagi kamu melamun saja, ada apa??" tanya Bandiah.


Dia sengaja naik ke lantai 3 untuk melihat keadaan sahabatnya itu.


"Di, ada yang ingin kuceritakan padamu!!" kataku pada Bandiah.


"Sebelumnya aku minta maaf pernah meragukan dan sempat tak mempercayai ceritamu!!" kataku.


"Ceritaku yang mana??" tanya Bandiah lagi.


"Tentang mas Rahman!!" jawabku singkat.


"Oohh yang tempo hari aku cerita seperti pernah melihat mas Rahman itukah??" tanya Bandiah.


Aku hanya mengangguk saja tak bisa mengiyakan lagi karena netraku sudah berembun.


***Flashback***


"Num, mas Rahman sudah pulang ke Indonesiakah??" tanya Bandiah sore itu saat kami bertemu di warung.


"Belum lah Di, masih satu tahun lagi kontrak kerjanya." Jawabku.


"Kenapa memangnya D?" tanyaku lagi karena nggak biasa-biasanya sahabatku ini bertanya soal mas Rahman.


"Maaf Num, mungkin aku yang salah lihat...kemarin sepulang kerja aku berhenti di warung pak sabeni beli sayur mateng...secara tak sengaja aku melihat orang yang mirip mas Rahman melintas bersama seorang wanita menggunakan mobil sedan!!" jawab Bandiah agak ragu.


"Fix kamu salah lihat Di...mas Rahman mana punya mobil...motor aja cuma motor butut yang kupakai ini!!" jawabku.


"Iya kali ya aku salah lihat!!" kata Bandiah.

__ADS_1


***Flashback off***


"Sebenarnya bukan hanya sekali aku melihatnya Num, sudah 3 kali hanya aku nggak tega mau cerita ke kamu takut kamunya ngga percaya lagi!!" kata Bandiah.


"Terus kamu akhirnya melihat sendiri??" kata Bandiah.


"Iya Di...bahkan sekarang aku menuntut cerai darinya karena pastinya dia lebih memilih istri mudanya itu secara kamu tau sejak dulu mas Rahman memang tak pernah mencintaiku!!" kataku.


"Yang sabar ya Num...memang lebih baik begitu, Insya Allah kamu mampu menghidupi kedua anakmu dengan hasil jerih payahmu sendiri!!" kata Bandiah.


Mereka terus saling curhat tanpa tau tadi ada seseorang yang tak sengaja lewat dan mendengarkan pembicaraan mereka.


Benar...Elang secara tak sengaja lewat di samping janitor mau keruangan ayahnya, tak sengaja dia mendengar percakapan Shanum dan Bandiah dan dia melihat Shanum yang terus mengusut air matanya.


Ada rasa iba di hati lelaki berhati keras itu. Karena kemarin juga dia melihat Shanum membersihkan buah yang masih bisa dimakan untuk dia bawa pulang kerumah.


"Kok kamu kembali cepat banget dari ruangan papimu??" kata Indra.


"Nanti ajalah...paling orang tua Sheila yang meminta papi untuk segera menikahi putrinya." Kata Elang.


"Kenapa tidak cepat menikah saja...nanti hatimu keburu kepincut dengan cleaning servicemu sendiri lho!!" kata Indra menggodanya.


"Ck...seperti kamu nya nggak menunda-nunda pernikahan aja!!" kata Elang.


**************


Shanum baru pulang bekerja, saat mau masuk kehalaman dia melihat mobil sedan terparkir di depan rumah.


Di teras sudah duduk menunggu Rahman dengan muka kusutnya.


"Jam berapa ini?? lama sekali ditunggu nggak datang-datang!!" sungutnya.


Aku yang juga merasa lelah dan letih bagai gayung bersambut mendengar laki-laki yang akan segera menjadi mantanku ini sengaja mau ngajak ribut.


"Memangnya saya kerja di perusahaan nenek moyang mau seenaknya pulang meninggalkan pekerjaan begitu?? lagian, apa keperluanmu kemari?? kan bisa lewat WA saja." Kataku tak kalah ketus.


Sejenak Rahman tersentak mendengar aku berani membantah perkataannya.


"Mentang-mentang sudah kerja, bicaramu ketus amat!!" sahutnya.


"Mestinya kamu senang saya bekerja jadi saya tak menadah tangan meminta belas kasihanmu lagi meminta uangmu!!" jawabku datar.


*


*


****Bersambung.....


Apakah di hati Elang mulai ada rasa terhadap Shanum??


Jawabannya ada di episode selanjutnya ya reader🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2