
Rahman tertegun. Selama sepuluh tahun berumah tangga dengannya rupanya inikah sifat asli Shanum?? di mana dulu sifat suka mengalahnya, sifat lemah lembut dan penurutnya?? sekarang semua sirna tak berbekas sama sekali!!
"Inikah ternyata sifat asli kamu, Shanum??" desis Rahman.
"Ya inilah sifat asli saya, asal kamu tau tak ada satu manusia pun yang mau dan sudi diinjak-injak terus menerus!!" kata Shanum.
"Muak...!!" satu kata yang terucap dari bibir Shanum untuk Rahman.
Sementara ribuan mil jauhnya di sebuah apartemen mewah yang terletak di Britania Raya...
Indra berdiri di tepi jendela memandang sungai Tyne dan jembatan ikonik yang membentang diatas nya terlihat di kejauhan.
Akibat kemoterapi yang sedang dijalankannya hampir sebulan ini membuat rambutnya yang dulu ikal indah sekarang rontok tak tersisa. Hanya kepala plontos wajah cekung dan pucat pasi yang menghiasi hari-harinya kini.
Dia mengambil ponsel dan membuka galeri sebulan kemarin saat dia berselfie dengan Shanum.
Dia tersenyum mengusap gambar wajah cantik itu yang tengah tersenyum berusaha untuk bahagia walaupun matanya tersimpan guratan luka.
Foto terakhir yang diambilnya di dekat pantai dan kini dijadikan wall paper ponselnya oleh Indra.
"Apa kabarmu kini tercinta?? masihkah kamu mengingat pria lemah dan penyakitan tapi selalu berpura-pura untuk tampak kuat ini??" lirih Indra.
Seminggu kemarin Pingkan juga tiba di Inggris. Dia sempat menjenguk Indra di rumah sakit tapi sampai kini dia tak juga mengunjungi Indra di apartemennya, Pingkan terlalu sibuk dengan urusan kuliah dan dunianya sendiri.
Tapi Indra tak begitu peduli. Bukankah dulu sewaktu di Indonesia sifat Pingkan pun sama??
Itulah sebabnya dia bosan menjalani hubungan dengan Pingkan yang selalu monoton.
Dia hanya ingin kuliah mengejar program studi S2 nya di sini sambil menyembuhkan penyakitnya. Terlepas nanti jadi atau tidaknya hubungan dia dan Pingkan, dia serahkan semua pada yang Kuasa.
Hanya yang jelas dan selalu jadi impian dan angannya adalah wanita tempat dia menyelipkan cincin putih dan menitipkan hatinya itu.
"Semoga kamu di sana baik-baik saja, Shanum!!" lirih Indra sambil menatap matahari yang mulai terbenam.
*************
"Pingkan, apakah hubungan kita ini tidak akan ketahuan oleh Indra??" bisik seorang lelaki yang tak kalah tampannya denga Indra dan Elang.
Dialah James. Kekasih gelap Pingkan selama ini saat dia di Indonesia kini di bawa juga ke negara ini oleh Pingkan.
"Tidak akan baby...Indra si penyakitan itu kini sedang sakit dia menjalani kemoterapi dan sedang berjuang melawan penyakit kanker otaknya." Kata Pingkan.
"Aku juga tengah berjuang beb??" bisik James ketelinga Pingkan.
__ADS_1
"Kamu sedang berjuang apa?" tanya Pingkan bingung.
"Berjuang untuk menanam benihku di rahim kamu supaya kita bisa mendapatkan pengakuan dengan hubungan terlarang kita ini di hadapan mami dan papi kamu jadi kamu tak perlu berpura-pura tampak seperti wanita setia yang sangat mencintai tunangannya!!" kekeh James yang disambit juga oleh gelak tawa Pingkan.
(Nggak bisa dilanjutkan tentang kelanjutan kemesraan mereka ya reader...maklum othornya nulis pagi hari pas puasa gini lagi๐๐).
******************
"Pak, kenapa saya harus dikembalikan ke gedung lama lagi?? apakah hasil kerja saya di gedung baru ini tidak maksimal??" tanya Shanum pada supervisor mereka saat Shanum mulai hari ini bertugas kembali di ruangan rawat inap bukan di ruangan rawat jalan.
"Justru itu Num, ini permintaan mas Elang sebagai kepala perawat gedung lama." Kata Didi supervisor cleaning service di area rumah sakit ini.
"Dia lagi yang ikut campur tangan!!" batin Shanum.
Baiklah pak jika begitu saya akan pindah kembali kegedung sebelah!!" ujar Shanum.
"Selamat datang di gedung lama kembal, Shanum!!" kata Bandiah dan Tika.
"Terima kasih teman-teman!!" ucap Shanum tulus.
Setelah Tika nggak ada barulah Bandiah bercerita.
"Kamu tau kenapa kamu di tarik kembali kemari??" tanya Bandiah dengan diiringi gelengan kepala dari Shanum.
"Mas Indra!!" desis Shanum.
Nama terindah yang selalu dia kenang dan dia simpan di dalam hatinya.
"Mungkin dia sekarang sudah bahagia dengan kuliah dan pernikahannya!!" lirih Shanum.
Dirabanya cincin yang terbuat dari emas putih dan ada hiasan batu berlian kecil di atasnya yang tak pernah dia lepaskan sesaatpun dari jari manis tangan kanannya.
"Num...!!" kata Bandiah pelan sambil menepuk bahu Shanum seolah memberikan kekuatan pada sahabat karibnya itu.
"Kamu keingatan mas Indra, ya!! sudah dua bulan mas Indra nggak ada, rasanya gedung ini sepi tanpa tawa dan candanya, dia yang baik dan nggak pelit sama kita semua!!" kata Bandiah.
Bulir bening menetes dari kelopak mata Shanum mengenang itu semua tanpa mereka sadari seseorang sedang menatapnya penuh kerinduan tapi berbaur dengan kekecewaan.
"Masih saja kamu mengingatnya bahkan menangisinya, tak bisa kah kamu buka sedikit saja hatimu untukku, Num??" kata pemilik mata elang sesuai dengan namanya.
Dia memang menyibakan tirai di ruang kerjanya melihat keluar dan tak sengaja dia melihat Shanum dan Bandiah di lantai dua.
Dengan cepat dia memanggil seorang perawat jaga dan menginstruksikan agar Shanum segera kembali ke lantai 3.
__ADS_1
"Mulai deh...kata Bandiah mendengar panggilan untuk Shanum dari lantai 3.
"Itu segera hampiri gih psikopat cintamu, sebelum dia membunuh semua orang dengan kata-kata judesnya!!" kata Bandiah tertawa.
"Permisi, bapak memanggil saya??" tanya Shanum saat masuk keruangan Elang.
"Kalau datang itu harus cepat standby di ruangan jangan ngelayap kearea orang lain." Sinisnya.
"Pak Elang ini kenapa sih?? Lagi PMS kah?? kok sensitif aja bawaannya!!" batin Shanum.
"Iya pak, jika tidak ada yang perlu bapak bicarakan lagi saya permisi dulu!!" ucap Shanum membungkukan sedikit kepalanya lalu hendak berbalik pergi.
"Dan satu lagi!!" tambah Elang.
Shanum berhenti lalu berbalik menunggu perkataan Elang.
"Tidak bisakah jika kita hanya berdua kamu memanggilku mas saja??" tanyanya.
Shanum mengerenyitkan dahinya.
"Saya nggak terbiasa pak Elang!!" kata Shanum.
"Makanya harus dibiasakan!!" ucap Elang dingin.
"Akan saya coba pak eh...mas Elang!!" dengan wajah canggung.
Dengan wajah merah merona Shanum keluar dari ruangan Elang membuat Elang tersenyum melihatnya.
"Nggak jelas!!" ucap Shanum lalu mengambil peralatannya dan kembali bekerja.
Jam setengah dua belas Shanum telah selesai bekerja.
Dia duduk di janitor mengingat kembali awal perkenalannya dengan seorang Indra Fahreza.
Saat kembali bertugas di sini dia harus siap untuk membuka kembali kenangannya bersama Indra. Di setiap saat Shanum seperti mendengar suara Indra dan seperti melihat senyuman dan bayangan Indra di setiap sudut di lantai 3 itu.
*
*
***Bersambung...
Melupakan suatu kenangan baik manis maupun pahit tak semudah seperti membalikan telapak tangan.
__ADS_1
Ikuti terus kisah Shanum di next episode ya reader๐๐