Sejuta Kenangan Bersamamu

Sejuta Kenangan Bersamamu
Bab 84 Menjadi Pendonor


__ADS_3

Dengan cepat Rafli Andarian menangkap Pingkan yang tampak tersenyum-senyum saja seolah tak peduli dia akan di penjarakan ataupun tidak.


Dengan cepat tubuh Shanum dilarikan kerumah sakit terdekat. Mami Tiara dan Bandiah berusaha menenangkan Chika dan Chiro yang terus menangis melihat keadaan ibunya.


"Bertahanlah sayang...demi aku dan anak-anak!!" Indra benar-benar menangis melihat keadaan Shanum sekarang ini.


Papi Jonas segera mendatangi Pingkan, dan....


PLAK...PLAK


"Keterlaluan kamu Pingkan, saya pastikan kali ini kamu akan benar-benar membusuk di penjara!!" teriak papi Jonas.


Prianka dan suaminya tidak bisa berbuat apa-apa saat melihat papi Jonas menampar keras pipi Pingkan hingga sudut bibirnya mengeluarkan darah.


"Apa salah menantu saya dan anak saya kepadamu?? Indra meninggalkan kamu karena kamu memang seorang wanita yang pantas untuk ditinggalkan." Kata papi Jonas dengan wajah merah padam.


"Sudah pi, tidak usah dilayani orang seperti itu, hanya akan memakan waktu kita saja, sebaiknya kita susul menantu kita ke rumah sakit, mami sudah minta tolong sama Wahid dan temannya Shanum tadi untuk mengantar Chika dan Chiro pulang ke mansion!!" kata mami Tiara.


Saat melewati orang tua Pingkan mami Tiara berhenti sejenak.


"Dulu aku berniat menikahkan putra putri kita agar persahabatan kita semakin erat, tetapi rupanya aku salah telah membangun harapan setinggi langit sedalam lautan kepada putrimu yang ternyata tak lebih dari seorang psikopat...sampai jumpa di pengadilan nanti Prianka, nasib Pingkan tergantung bagaimana nanti keadaan Shanum tapi yang pasti putri kupastikan kali ini akan membusuk di penjara dan katakan pada putrimu yang suka bersandiwara itu, supaya jangan berpura-pura gila lagi untuk menghindari jeratan hukum karena Pingkan sudah dua kali mencoba merencanakan pembunuhan kepada Shanum." Kata mami Tiara lalu bergegas pergi.


Sementara Rahman dan keluarganya yang syok mendengar berita penusukan Shanum yang dilakukan oleh Pingkan di pengadilan agama, segera menyusul kerumah sakit.


"Mas Indra, istrimu banyak mengeluarkan darah, kami pihak rumah sakit saat ini tidak mempunyai stok darah dengan golongan AB+!!" kata dokter Fadli yang sedang menangani Shanum.


"Saya akan mencoba menelpon PMI dulu, dokter!!" kata Indra.


Tak lama Elangpun datang ke situ.


"Apa yang sudah terjadi, Ndra?? bukankah hari ini kamu dan Pingkan sudah resmi bercerai?? kok sekarang malah jadi seperti ini, Ndra!!" kata Elang.


"Ini semua ulah Pingkan, Lang...dia berpura-pura baik pada kami dengan menerima perceraian ini dengan lapang dada dan awalnya kami saling berpelukan lalu dia meminta ijin kepadaku untuk bertemu Shanum."


"Awalnya pertemuan mereka berjalan lancar-lancar saja dan mereka saling berpelukan, ternyata itu hanya siasat dari Pingkan saja....dia menusuk Shanum dengan pulpen yang ada di tangannya yang ternyata adalah sebilah cutter tepat di ulu hati Shanum."

__ADS_1


"Saat pelukan mereka terlepas barulah darah menyembur keluar dari luka di perut Shanum!!" kata Indra dengan suara yang tercekat.


"Aku takut Lang, takut jika Shanum pergi meninggalkan aku dan anak-anakku...aku tidak bisa hidup tanpa dia, Lang!!" kata Indra yang juga mulai menceracau.


"Sabar Ndra...kita perbanyak berdoa mohon keselamatsn sama Allah, tadi kudengar Shanum membutuhkan banyak darah, kalau boleh tahu, apa golongan darah yang diperlukan oleh dokter, Ndra!!" kata Elang berusaha untuk tetap mengembalikan kesadaran sahabatnya itu karena dia tau bahwa Indra benar-benar dalam keadaan syok berat.


"Shanum membutuhkan golongan darah AB+ Lang....stok darah di rumah sakit ini tinggal sedikit lagi." Kata Indra.


"Kamu sudah mencoba menelpin pihak PMI??" tanya Elang pada Indra.


"Aku bingung Lang, karena stok di PMI juga kosong untuk jenis golongan darah itu!!" kata Indra.


"Kita akan berusaha untuk mencarinya hari ini Ndra..kamu jangan putus asa begitu, ingat kamu masih punya anak-anak yang harus kamu urus, jadi tolong, jangan menyerah Ndra!!" kata Elang.


Ditengah kepanikan kedua sahabat itu, datanglah keluarga Rahman.


"Mas Indra maaf jika saya menguping pembicaraan mas Indra dan mas Elang tadi!!" kata Rahman.


"Saya bersedia mendonorkan darah saya kebetulan darah saya dan Shanum itu sama!!" kata Rahman.


Elang menganggukan kepalanya memberi persetujuan kepada Indra.


Akhirnya mereka bertiga memeriksakan kesehatan Rahman dahulu sebelum diambil darahnya.


Sementara itu di mansion kedua anak Shanum terus menangis mencari ibunya. Bandiah dan bu Karti masih berusaha untuk menenangkan mereka.


"Sabar ya Chika...Chiro...berdoalah kalian agar ibu kalian bisa segera sembuh!!" kata Bandiah memeluk kedua anak itu.


DDDRRRTTTTTT


Rafli calling....


📱"Assalamualaikum, bagaimana dengan keadaan anak-anak mbak Di??"


📱"Mereka menangis terus...kasihan...terus sudah dapat kabar dari rumah sakit kah??

__ADS_1


📱"Belum...anggota keluarga mbak Shanum yang ada di rumah sakit belum ada yang bisa dihubungi sama sekali!!"


📱"Lalu bagaimana dengan perempuan jahat itu?? dia akan ditangkap dan dipenjarakan lagi kan?? secara enak betul hidupnya jika sekali ini bisa lolos lagi dari jeratan hukum dengan alasan mentalnya terganggu sementara Shanum sebagai korbannya tengah berjuang antara hidup dan mati!! nggak bisakah diberi suntik mati aja itu perenpuan jahat!!"


📱"Hukum juga ada prosesnya, beb...nggak sembarangan main suntik mati orang aja!! tapi kamu jangan khawatir, aku yang nanti akan turun tangan sendiri menangani kasus Pingkan ini supaya dia tidak menipu semua orang dengan berpura-pura gila lagi!! sekarang kamu fokus menjaga anak-anak mbak Shanum saja dulu hitung-hitung latihan menjadi seorang ibu, jadi jika nanti kita punya anak sendiri, kamu nggak canggung lagi!!"


📱"Apaan sih ah...bicaranya kok malah kemana-mana sih??"


Walaupun sedikit kesal dengan Rafli tetspi Bandiah berbunga-bunga juga mendengar gombalannya Rafli.


📱"Ya sudah aku mau mengawasi si ular betina ini dulu jangan sampai dia berukah lagi...kamu jaga anak-anak baik-baik ya...Assalamualaikum!!"


📱"Waalaikum Salam!!"


Percakapan Bandiah Rafli terputus.


Di kantor polisi, Pingkan dengan didampingi papi dan maminya juga kuasa hukum keluarganya tampak diam.


Pandangan matanya kosong dan bibirnya yang masih terluka sedikit mengering di sudut bibirnya.


"Pak, menurut orang tua klien kami, bu Pingkan ini mengalami gangguan kejiwaan sejak hendak bercerai dari suaminya, bisa saja ibu Pingkan melakukan percobaan pembunuhan itu di luar kesadaran beliau!!" kata kuasa hukumnya.


"Ooo dalam keadaan tidak sadar aja sudah melakukan berkali-kali rencana pembunuhan....apalagi dalam keadaan sadar kemungkinan korban-korbannya sudah meninggal semua di tangannya lalu alih-alih dia membunuh karena mendapatkan bisikan setan di telinga kanan dan kirinya, begitu ya kiranya!!" cibirnya.


"Apa maksud anda dengan merencanakan berkali-kali pembunuhan??" tanya kuasa hukum keluarga Pingkan.


*


*


****Bersambung....


Bagaimana proses persidangan Pingkan dan bagaimana proses pendonoran darah oleh Rahman kepada mantan istrinya!!


Penasaran kan....jangan lupa umtukselalu mengikuti kisah mereka ya🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2