
Ternyata lelaki keparat itu adalah suami non Anni??" Tanya Darto.
"Wah ternyata nasiblah yang telah mempertemukan dan menyatukan Anni dan Darto ya bu??" Kata ayah Darto.
"Kami berdua merestui hubungan Darto dan Anni." Ucap bapaknya Darto.
Darto dan Anni saling pandang dan terdiam.
*************
"Dari mana kamu Num??" Tanya Elang saat melihat Shanum turun dari motor matiknya.
"Kenapa harus pergi sendiri?? Kan kamu bisa minta aku untuk mengantarkanmu atau minta tolong pada Wahid yang tadi kebetulan ada di rumah, di luar itu sangat berbahaya Shanum, dan aku sangat mengkhawatirkanmu, aku ini calon suami kamu!!" Semua ucapan yang dilontarkan Elang membuat Shanum sakit kepala.
Justru ingatan Shanum itu tertuju pada laki-laki muda yang bernama Sandro Soedibyo yang wajahnya sangat mirip dengan Indra bagai pinang di belah dua, hanya saja Sandro mengalami keterbelakangan mental akibat kecelakaan parah yang dia alami dua puluhan tahun yang lalu.
"Num, kamu dengar nggak sih mas Elang bicara apa?" Kata Elang.
"Iya mas, Shanum tidak tuli, telinga Shanum masih normal untuk mendengar!!" Kata Shanum pada Elang.
"Mas posesif begini karena mas sayang samu kamu Num, mas nggak mau kamu kenapa-napa dijalanan sana sendirian, apalagi jarak mansion ke pemakaman itu lumayan jauh!!" Jawab Elang.
"Sebaiknya kamu mandi dan beristirahatlah!!" Kata Elang lagi.
Shanum tak menjawab tapi dia mengikuti perkataan Elang.
Setelah memastikan Shanum baik-baik saja barulahbElang pamit pulang ke apartemennya.
Sementara itu...
Rafli tak tenang selama menonton bersama tiga gadis itu. Bayangan wajah Tania selalu menghantuinya.
Antara rindu, benci dan dendam karena telah dikhianati bercampur menjadi satu dan begitu menyiksanya.
Dalam suasana tegangnya film horor yang diputar di bioskop, ada sesuatu yang meniup telinga Rafli sehingga membuatnya terkejut setengah mati.
"Rafli!!" Suara merdu diiringi hembusan napas wangi tercium di hidung mancung Rafli.
Mata Rafli membulat sempurna mendengar suara Tania ada di belakang bangku mereka.
"I miss you!!" bisik suara Tania membuat Rafli merinding.
"Ya Allah, dulu aku pernah mencintainya tetapi dia mengkhianati dan pergi meninggalkanku, susah payah aku berusaha bangkit dari keterpurukanku, lalu mengapa dia harus kembali lagi??" Gumam Rafli.
"Sekarang aku sudah punya istri dan istriku sedang hamil saat ini, alangkah berdosanya aku jika sampai masih tergoda pada wanita lain." Kata Rafli.
Dia fokus mengingat Bandiah yang kini sedang berada di kampung kakeknya.
Tampaknya aku harus cepat kembali ke kota Bandiah dan menjemput istriku agar tidak ada yang menggangguku lagi.
__ADS_1
Rupanya kegelisahan Rafli terlihat dan tertangkap oleh mata Zoya yang duduk di sebelahnya. Dia menoleh kebelakang.
"Apaan sih tante ini?? Rusuh bener nontonnya bisa tenang dikit nggak sih?? Perasaan mengganggu aja mulai tadi!!" Teriak Zoya.
Spontan mereka yang ada di situ kaget tidak terkecuali Tania sendiri.
Wanita cantik yang awalnya menempelkan dagunya ke pundak Rafli reflek menjauhkan kepalanya dengan wajah merah padam.
"Abang tukar tempat aja dengan Kanza agar tidak ditempelin terus sama tante-tante itu!!" Tunjuk Zoya langsung menunjuk Tania.
Akhirnya Rafli dan Kanza bertukar kursi membuat Tania tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
"Kurang ajar gadis ingusan ini mau cari gara-gara denganku rupanya!!" Gumam Tania geram.
Tania tak menunggu film berakhir karena memang tujuannya menonton tadi karena ingin berdekatan dengan Rafli tetapi ternyata gagal total.
Dengan menahan rasa kesal juga malu akhirnya dia keluar lebih dahulu, untung keadaan bioskop masih gelap.
Di sebelah Zoya, Zeta saudara kembarnya berbisik!!
"Ada apa sih kamu tadi marah-marah?" Tanya Zeta pada Zoya.
"Bagaimana aku nggak kesel coba, niat kita kemari kan mau nyenangin bang Rafli yang murung terus, eh malah ketemu tante genit mantan bang Rafli itu, pakai acara mengganggu bang Rafli lagi sehingga bang Rafli merasa nggak nyaman." Kata Zoya mengeluarkan kekesalannya.
"Oohhh mau cari gara-gara dengan kita rupanya tante girang itu!!" Geram Zeta ikutan marah.
Di luar Tania masih menunggu Rafli keluar. Ada hal yang ingin dia bicarakan pada mantan kekasih bocilnya yang kini sudah berubah menjadi sosok pria dewasa yang kini mampu menggoyahkan imannya.
**************
"Sandro...kamu kenapa sejak tadi murung terus??" Tanya pak Soedibyo.
"Sandro kangen mama sama papakah??" Tanya papi nya lagi yang ternyata bukan ayah kandung Sandro.
Sandro menatap papi nya sesaat.
"Papi, kapan mama, papa dan Indra pulang?? Sudah lama lho Sandro menunggu mereka di sini, kata papi mereka akan menjemput Sandro di sini tapi kapan??" Pria yang mengalami keterbelakangan mental itu mulai menangis sesunggukan.
Terkadang jika otaknya kembali bekerja dan dia ingat saat-saat mengerikan di mana mobil yang mereka tumpangi meledak, Sandro jadi histeris.
Jika sudah begitu pak Soedibyo yang adalah seorang dokter memberikannya suntikan penenang, jika dibiarkan maka Sandro akan melukai dirinya sendiri.
Dia ingat kejadian dua puluh tahun yang lalu dan ikut melibatkannya hingga hari ini.
***Flashback on***
Soedibyo pulang bertugas malam itu sekitar pukul sepuluh malam.
Tiba-tiba...
__ADS_1
NGUNG...
Sebuah mobil menyalip mobilnya dengan kecepatan tinggi tak lama kemudian disusul oleh sebuah mobil lainnya di belakang mobil tadi.
Rupanya mobil pertama yang melewati mobilnya tadi bermaksud lari dari kejaran mobil di belakangnya.
Entah karena minim penerangan atau memang jalannya yang menikung dengan curam ditambah lagi hujan gerimis mengguyur daerah itu.
Tadi aja pak Soedibyo sempat geleng-geleng kepala melihat kedua mobil yang melaju kencang di depannya tanpa mempertimbangkan kondisi jalan yang licin.
Tiba-tiba...
BRUAK...
Suara dentuman keras terdengar di depan sana.
Saat pak Soedibyo tiba di depan sana dia melihat mobil pertama yang menyalip mobilnya tadi sudah menabrak pembatas jalan dan sebagian badan mobil sudah separuh mau masuk ke jurang.
Mobil yang mengejar mereka sudah tidak nampak lagi di sana.
Dengan cepat pak Soedibyo turun untuk memberikan pertolongan.
Tapi di mobil dia hanya melihat sepasang suami istri sudah bersimbah darah.
Sang suami sudah meninggal di tempat dengan luka tembak di kepalanya.
Sedang sang istri yang sedang sekarat karena luka tembak di perutnya sempat meminta tolong sebelum maut menjemputnya.
"Tolong kedua putraku, mereka berdua aku dorong keluar agar tidak menjadi korban para penjahat itu!!" Kata wanita muda itu dengan suara terputus-putus karena luka di perutnya dan tak lama kemudian dia pun menghembuskan napas terakhir dan menyusul suaminya.
Sebelum mobil itu meledak, pak Soedibyo sempat mencari kedua putra pasangan tersebut yang tadi dikatakan wanita yang sedang sekarat itu dia dorong keluar mobil untuk menghindari menjadi korban si pembunuh selanjutnya.
Rupanya si pembunuh keburu kabur saat melihat ada mobil lain yang mendekat hingga melupakan bahwa keluarga Pramudya itu mempunyai sepasang anak kembar yang kurang lebih berusia 4 tahun.
Dengan cepat pak Soedibyo bergerak. Menolong sepasang suami istri itu sudah tidak mungkin karena keduanya telah meninggal dunia tujuannya sekarang adalah kedua putra mereka yang tadi di katakan oleh istri pria yang meninggal itu.
Soedibyo turun sedikit ke dalam jurang dan mencari saat dia mendengar suara erangan anak kecil yang terluka hampir di sekujur kepala dan tubuhnya.
Hanya bocah itu yang sempat dilihat oleh pak Soedibyo sebelum dia melihat ada percikan-percikan api di mobil yang sedikit demi sedikit mau masuk ke dalam jurang itu.
Dengan cepat pak Soedibyo menggendong bocah kecil yang mengerang kesakitan itu naik keatas jurang sebelum mobil kedua orang tua mereka menggelinding kedalam jurang dan meledak di sana.
Lalu bagaimanakah nasib anak kecil lainnya yang juga ikut terlempar dari dalam mobil??
*
*
***Bersambung...
__ADS_1
Ayo dong reader beri dukungannya agar author semangat menulisnya!!
Jangan lupa like, komen, vote, favorit dan rate nya😊😊🙏🙏