Sejuta Kenangan Bersamamu

Sejuta Kenangan Bersamamu
Bab 110 Restu Untuk Elang


__ADS_3

Untung Elang siaga dan langsung menarik tangan Shanum mendekatinya.


"Eh mas, jangan asal main tarik dong? Nyadar mas ini sudah bukan apa-apanya Shanum lagi!" Ejek Elang semakin membuat Rahman naik pitam.


Tiba-tiba Shanum yang sedari tadi diam terdengar membuka suaranya.


"Mas Rahman hubungan kita sudah lama berakhir, jangan asal main mengaku saja!! Mas ini seperti tidak mempunyai rasa malu sama sekali." Kata Shanum pelan tapi cukup jelas terdengar oleh mereka yang ada di situ.


"Saya tidak peduli, Num!!! Kita sekarang sudah sama-sama sendiri, aku ingin kita rujuk dan balik lagi sebagai sepasang suami istri seperti dulu!"


"Mas janji tidak akan menyia-nyiakanmu dan anak-anak lagi!" Kata Rahman memohon.


"Cukup ya mas, Shanum itu sekarang jiwanya lagi terguncang dengan kepergian Indra suaminya, jangan sampai kepalanya juga ikut terguncang karena desakan darimu untuk rujuk kembali!" Kata Elang menengahi Rahman yang masih keukeuh dengan pendiriannya yang aneh dan tidak tau malu.


"Ayo mas Wahid nggak ada habisnya melayani orang ini!" Lalu Elang menarik tangan Shanum dan berlalu masuk ke mobil sementara Rahman terus bertengkar dengan Wahid yang berusaha keras untuk menghalanginya.


"Minggir kamu cungkring, jangan coba-coba menghalangi aku untuk bertemu dengan istriku!!" Kata Rahman geram karena sedari tadi Wahidterus menghalanginya.


"Heh Rahmono, bangun sudah sore!! Malam masih jauh, masih sore sudah mimpi mesum mengaku-aku istri orang sebagai istri sendiri!" Kata Wahid juga tak kalah kesalnya.


"Ayo Wahid, cepetan nanti keburu maghrib kasihan anak-anak di rumah." Teriak Elang dari dalam mobil.


"Gila itu si Rahmono, terobsesi sekali dia mau kembali dengan mbak Shanum lagi!" Kata Wahid sambil melajukan mobilnya.


"Salah sendiri!! Punya burung nggak bisa dijaga, keliaran terus di luar sangkar! Sekarang giliran hanya bisa manggut-manggut saja menyesalkan?" Kata Elang.


*************


"Kenapa kamu pulang kerja kok kayaknya kesal begitu?" Kata ibunya Rahman.


"Rahman kesal sama Shanum bu, dasar perempuan ja*lang tidak bisa menjaga martabatnya sebagai seorang istri mau saja pergi dengan Elang dan supir mereka si cungkring Wahid yang menjengkelkan.


"Kamu marah?" Tanya ibunya.


"Marahlah bu, kayak nggak pantas aja gitu, seorang janda yang baru ditinggal mati suaminya terus bersama laki-laki lain lagi!" Gerutu Rahman.

__ADS_1


"Terus ada hak apa kamu untuk marah? Sedangkan kalian sudah tidak mempunyai hubungan apapun lagi, kecuali kalau Yanti yang selingkuh baru kamu boleh marah sebab dia masih istrimu yang sah!" Kata ibu Rahman.


Rahman terdiam merenungi perkataan ibunya.


"Ada benarnya juga sih perkataan ibunya dan si cungkring Wahid tadi, memang dia ada hak apa untuk marah? Toh dia bukan apa-apa dan bukan siapa-siapanya Shanum lagi, dia hanya bagian dari masa lalu. Masa lalu yang tak pantas untuk diingat dan dikenang.


Sementara itu...


"Num, kamu masih kepikiran tentang mantan suami kamu tadi??" Kata Elang dengan hati-hati takut menyinggung perasaan Shanum.


"Nggak mas, Shanum sudah kebal kok sama ocehan mas Rahman yang lidahnya super tajam." Kata Shanum.


"Lang, makan malam aja dulu di sini!! Mami masak banyak nih!" Kata mami Tiara.


Setelah mereka makan malam, mami Tiara dan papi Jonas mengajak Elang keruangan kerja mereka.


"Bagaimana tadi saat kamu bersama dengan Shanum, Lang?" Tanya papi Jonas.


Lalu Elang menceritakan semuanya termasuk pertemuan mereka dengan mantan suami Shanum tadi.


"Dasar orang aneh!! Kok nggak ada malunya bicara begitu ya? Apa urat malunya sudah putus?" Tanya mami Tiara geram.


"Kamu sahabat terbaik Indra mulai kalian kecil kami juga sudah menganggap kamu sebagai anak kami sendiri, makanya kamo mohon menikahlah dengan Shanum agar kami merasa bahwa Indra tetap hidup dan ada di antara kami dengan kehadiranmu." Kata Mami Tiara.


"Tapi pi, mi, apakah Shanumnya akan mau jika Elang menikahinya? Secara dia masih sangat mencintai Indra? Tanya Elang.


"Nanti kami berdua yang akan membantu memberikan penjelasan padanya." Kata papi Jonas.


"Terserah kalian saja, Elang akan mengikut saja mana baiknya." Kata Elang.


************


"Umi, sudah dua hari umi pulang kampung tapi abi nggak bisa menghubungi umi sama sekali padahal sore ini abi harus ke Jakarta untuk memenuhi undangan kakek." Gumam Rafli bermonolog pada dirinya sendiri.


"Padahal rencana awal kita akan pergi berdua ke Jakarta nya, umi!! Terima kasih atas kado terindah yang umi berikan pada abi di hari ulang tahun abi, i love you umi!!" Rafli mengecup sayang foto sederhana saat akad nikah mereka waktu itu di depan pak RT dan para saksi yang lain.

__ADS_1


"Walaupun pernikahan kita karena kepergok warga tapi kalau mengenai rasa cinta, abi sungguh-sungguh mencintai umi, abi melakukan semua itu karena abi tau jika abi melamar umi dengan baik-baik buntut-buntutnya pasti umi akan tertawa ngakak menganggap abi hanya ngejoke doang!!" Gumam Rafli sambil tersenyum-senyum sendiri mengingat masa dua bulan lalu pernikahan mereka berdua.


"Aku nggak usah bawa baju ganti ah, di rumah kakek masih banyak baju-bajuku di kamar, lagian paling senin sore aku sudah harus balik ke kota ini lagi!! Kata Rafli.


Sebelum pergi dia berpesan dulu pada pak RT selaku yang punya kontrakan.


"Pak, saya titip kunci rumah takutnya istri saya pulang dari kampung!!! Katakan saja saya pergi cuma sebentar, saya mau memberi tahukan nya tapi sepertinya di desa kakek dan neneknya susah sinyal!!" Kata Rafli.


"Baiklah mas, nanti bapak sampaikan jika istri mas Rafli pulang." Kata pak RT.


Lalu sore itu Rafli berangkat ke bandara untuk menemui kakeknya dengan sebuah kejutan menunggunya.


"Kenapa kamu melamun, Di?" Tanya nenek Tomo saat melihat Bandiah termenung di teras depan.


"Nggak apa-apa nek, hanya menikmati suasana desa yang tenang saja!" Sahut Bandiah tersenyum bahagia saat melihat penyakit neneknya sudah berangsur membaik.


"Hai Di???? Apa kabar????" seorang pemuda berkulit hitam manis menyapa Bandiah dari depan pagar rumah kakek Tomo.


"Thoriq!" Ayo mampir teriak Bandiah pada teman SMA nya itu.


"Apa kabarmu Riq?? Sombongnya sekarang mentang-mentang sudah jadi PNS bukan guru honorer lagi!" Sapa Bandiah.


Dia dan Thoriq memang berteman mulai SMP sampai SMA, lalu Bandiah mencari pekerjaan di kota dan Thoriq melanjutkan kuliah di FKIP karena cita-citanya sejak dulu ingin menjadi guru.


"Apa yang di sombongkan, Di? Kaya nggak, ganteng nggak, miskin sama jelek iya!" Kata Thoriq.


"Kamu menyindir aku kah?" Kata Bandiah.


"Untuk apa aku menyindirmu? Sesama orang jelek kok sindir menyindir, apa hebatnya?" Kata Thoriq membuat Bandiah tertawa pada kelakuan sahabatnya yang selalu bisa membuatnya tertawa itu.


*


*


***Bersambung...

__ADS_1


Bagaimana kisah mereka selanjutnya?


Jangan lupa dukungannya ya reader agar author semangat menulisnya😊😊


__ADS_2