Sejuta Kenangan Bersamamu

Sejuta Kenangan Bersamamu
Bab 37 Ingin Bertemu


__ADS_3

Di meja makan tampak tertata rapi masakan Emiana yang segera mengingatkan Rahman pada Shanum yang juga sangat pandai memasak, berbeda dengan Yanti yang hanya tau buat nasi goreng dan mie goreng doang. Terkadang buat telor ceplok juga gosong kekeringan.


"Kok malah melamun sih...duduklah dulu aku mau mandi sebentar!!" kata Emiana.


Rahman duduk sambil memandang Emiana yang masih sibuk menata makanan untuk mereka berdua.


"Kenapa kamu melihatku seperti itu??" tanya Emiana.


"Cantik!!" kata Rahman tersenyum menatap Emiana.


Emiana tersipu malu mendengar perkataan Rahman.


"Sudah sana mandi biar wangi!!" kata Rahman sambil mengedipkan matanya.


Sementara itu....


Rafli Andarian keluar dari ruangan ganti dengan memakai baju bebas.


Dia melihat Bandiah bersiap keluar dari ruangannya menuju parkiran.


"Mbak Di....!!" teriaknya.


Mendengar seseorang memanggil namanya, Bandiah berhenti dan menoleh.


"Iya Rafli...ada apa??" tanya Bandiah.


"Mbak Di...tau kah di mana mbak Shanum sekarang??" tanya Rafli.


"Untuk apa kamu tanya soal Shanum??" kata Bandiah.


"Mbak Shanum itu orang baik mbak Di...saat mbak Shanum dipecat, saya pas libur jadi tidak tau apa yang terjadi, seandainya saya tau tentu saya bisa membantu agar mbak Shanum jangan sampai dipecat." Kata Rafli.


"Besok saya berniat mengunjungi tempat tinggalnya yang baru, kamu mau ikut??" tawar Bandiah.


"Mau mbak...tapi besok kan saya masuk pagi, bisakah sepulang kerja kita berangkat??" tanya Rafli.


"Tapi rumah Shanum itu jauh lho Rafli, saya aja besok mau ada rencana nginep di sana!!" kata Bandiah.


Setelah berpikir sejenak akhirnya Rafli setuju ikut menginap di sana, biar subuh dia berangkat dari sana langsung bekerja.


***********


OEK...OEK...OEK....


"Aduh...Tika kenapa sih nak, rewel melulu??" keluh Yanti.


"Mana sudah jam sebelas gini mas Rahman belum pulang kerumah!! ditelepon dari tadi nomornya nggak aktif!!" kata Yanti lagi.


Sementara Yanti tengah sibuk dengan bayi kecilnya, Rahman pun sibuk menjadi bayi yang terus menempel di tubuh Emiana.

__ADS_1


Ini sudah kali ketiga mereka melakukan pelepasan bersama. Tubuh keduanya sudah basah bermandikan keringat.


"Emi, aku harus pulang...aku nggak mau istriku jadi curiga nanti!!" bisik Rahman ketelinga janda muda yang ditinggal mati oleh suaminya itu.


"Iya Man, nggak apa-apa...sering-sering kemari ya!!" kata Emiana seolah pasrah melepaskan kepulangan Rahman tetapi kedua tangan dan pahanya kembali menggelung pada tubuh Rahman membuat lelaki itu menggeram kembali.


Lalu pergulatan panjang di antara mereka terjadi lagi hingga setengah jam kemudian barulah keduanya benar-benar terbadai kelelahan.


Kali ini Emiana benar-benar sudah bertekuk lutut dan tak punya kemampuan lagi untuk menahan pria itu bersamanya.


Seluruh sendi-sendi di tubuhnya seolah bertanggalan.


Rahman tersenyum puas sudah berhasil meng KO Emiana di atas ranjang.


Dipungutnya pakaiannya dan meninggalkan Emiana yang pulas tertidur.


Dengan hati-hati dia keluar rumah, mengunci pintunya dari luar dan menyelipkan kembali kuncinya di bawah pintu supaya besok Emiana bisa membuka pintu rumah.


Dia memacu pelan mobilnya menuju kerumah.


Dia kembali merasa bete saat kembali mendengar tangisan rewel bayinya.


"Untung tadi aku sudah mendapat asuman gizi sehingga kepalaku nggak pusing mendengar Atika terus-terusan rewel.


Yanti sudah menunggu di depan pintu menyambut suaminya.


"Kok lama sih pulangnya mas??" tegur Yanti.


Tanpa menoleh lagi dia masuk kedalam rumah langsung masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


Hati Yanti mencelos melihat kelakuan suaminya akhir-akhir ini, dia jadi curiga ada apa-apa dengan suaminya.


************


Apa yang ingin kamu bicarakan denganku, Elang??" tanya Indra saat mereka sudah duduk di sebuah kafe sambil memesan makanan dan minuman.


Aku ingin membicarakan tentang Shanum istrimu, Ndra..." kata Elang.


"Sebelumnya aku minta maaf sama kamu Ndra karena baru mengatakan ini semua kepadamu!!" kata Elang lagi.


"Sebenarnya Shanum sudah hampir sebulan ini tidak bekerja lagi dan ternyata bukan itu saja, mereka juga telah pindah rumah dan tak ada seorangpun yang tau mereka ada di mana!!" kata Elang.


"Apa Lang?? terus gimana ini jadinya??" tanya Indra gusar.


Sejak kepulangannya kemarin, dia ingin menemui istri keduanya itu tetapi karena kemarin kondisi fisiknya masih belum stabil, dia memutuskan hari ini untuk pergi ditemani oleh Elang, ternyata istrinya sudah nggak ada.


"Kenapa Shanum bisa dipecat?? Tanya Indra dengan suara bergetar.


"Dia difitnah dituduh mencuri, Ndra!!" kata Elang.

__ADS_1


"Ya Allah...istriku tidak mungkin menjadi seorang pencuri!!" sahut Indra jadi tertekan.


"Aku ingin mencarinya sekarang, Lang...sudah terlalu lama aku mengabaikannya.


"Ndra...sebaiknya jangan terlalu banyak pikiran dulu, kita akan mencarinya tunggu sampai kamu bisa jalan berkeliling, sekarang fisik kamu itu masih drop." Kata Elang karena dia sangat khawatir dengan kondisi fisik sahabatnya itu.


Akhirnya Indra mengalah dan mengangguk setuju.


"Kamu di mana sekarang, Num?? " pikirnya sedih.


Sementara perjalanan Rafli Andarian dan Bandiah telah sampai di pertengahan jalan.


"Berhenti dulu Raf...aku mengingat-ingat dulu jalannya!!" kata Bandiah sambil berpikir.


"Awas ya mbak Di, jangan salah mengingat jalan nanti kita bisa tersesat!!" Rafli memperingati Bandiah.


"Sepertinya setengah jam lagi kita sampai Raf!! kata bandiah.


"Sepertinya juga kamu ngebet banget mau ketemu sama Shanum?? hati-hati nanti kepincut sama janda lho!!" kata Bandiah.


Gleep..


"Nggak kok mbak, cuma ingin bersama aja masa nggak boleh??" kata Rafli dengan wajah memerah.


"Di supermarket depan kita berhenti dulu mbak, kita beli cemilan buat teman ngobrol di sana!!" ajak Rafli berusaha memutus percakapan dengan Bandiah.


Diam-diam Bandiah melirik belanjaan Rafli dan kartu kredit yang di gunakan untuk membayar belanjaannya.


"Berarti benar selentingan yang aku dengar tentang Rafli Andarian sebagai cucu pemilik rumah sakit ini." Batin Bandiah.


"Kenapa dia sampai menyamar menjadi petugas kebersihan?? apakah dia sedang menyelidiki sesuatu??" gumam Bandiah.


"Ayo mbak Di?? kok malah bingung sih??" ajaknya.


"Kamu yakin dengan semua cemilanmu ini?? kita hanya bisa menginap semalam lho....bukan sebulan!!" kata Bandiah.


"Ya nggak apa-apa...kita kan mau begadangan di sana!!" kata Rafli.


Mereka lalu melanjutkan perjalanan dengan motor Rafli.


Sementara itu juga di sebuah kafe tampak Pingkan dan Sheilla sedang berbicara serius.


"Beb, katanya kamu mengalami kecelakaan dan kaki kamu lumpuh, kenapa kok bisa jalan??" tanya Sheilla.


"Waktu itu aku memang lumpuh tapi tak seorangpun tau jika aku telah sembuh dari kelumpuhanku termasuk Indra, aku memang ingin menarik simpatinya dengan berpura-pura cacat biar aku bisa terus menekannya agar tidak meninggalkan aku, tapi aku mulai bosan dengan permainan ini jadi aku mulai lagi dengan karakter yang baru." Kata Pingkan santai.


*


*

__ADS_1


***Bersambung...


Ikuti terus kisah mereka di episode selanjutnya ya readerπŸ˜ŠπŸ˜ŠπŸ™πŸ™


__ADS_2