
Giliran Chika yang naik kepanggung menyanyikan lagu ayah dengan penuh penghayatan, saat selesai menyanyi Indra langsung berdiri dan memberikan tepuk tangan paling meriah diikuti oleh penonton yang lain.
"Hebat Chika...anak ayah!!" teriak Indra dari arah kursinya membuat semua orang bertepuk tangan dan terharu mendengar perkataan Indra barusan begitupun dengan Shanum yang memandang suaminya dengan mata berkaca-kaca.
Lain halnya dengan Rahman. Hatinya diliputi berbagai macam perasaan saat dia mendengar memanggil Chika putrinya dengan sebutan anak ayah, lalu cara Shanum memandang Indra dengan mesra dan penuh kasih sayang, berbeda dengan cara Shanum memandang dirinya dulu saat masih bersama.
"Terima kasih ya sayang!!" ucap Shanum seraya memeluk Indra dengam erat.
Bertahan demi keadaan. Itulah posisi Rahman sekarang. Dia ingin sekali melihat penampilan kedua anaknya, tetapi dia juga tak sanggup melihat kemesraan yang dipertontonkan oleh Shanum ke Indra barusan.
Inikah rasa yang pernah dia berikan kepada Shanum dahulu?? akhirnya karma terbalaskan padanya.
"Chika...Chiro penampilan kalian bagus banget!!" puji Rahman saat mereka bertemu di luar aula saat akan pulang.
Shanum nampak terkejut melihat kehadiran Rahman di sana.
"Rahman?? dengan siapa kemari dan tau dari siapa ada acara anak-anak di sini!!" tanya Shanum.
"Sayang...jalannya cepat banget sih??" teriak Indra sambil menggandeng Chika dan Chiro.
"Siapa dia yank??" tanya Indra saat bertemu langsung dengan Rahman.
"Kenalin mas, ini mantan suami aku!!" kata Shanum pada Indra.
"Ouhhh...kenalin saya Indra Fahreza suami Shanum!!" kata Indra pada Rahman sambil tersenyum.
"Saya Rahman mas, bapaknya Chika dan Chiro." Kata Rahman.
"Halo anak-anak!!" kata Rahman sambil menyapa Chika dan Chiro.
Chika dan Chiro diam saja, mereka malah terkesan bingung dengan kehadiran Rahman di sana.
"Kenapa kalian diam saja anak-anak...sana cium tangan bapak kalian??" kata Indra pada kedua anak sambungnya itu.
Tapi apa jawaban Chika dan Chiro sungguh mengejutkan mereka.
"Bapak mau apa datang kemari?? bukannya bapak sama sekali tidak menyukai kami berdua??" tanya Chika membuat terkejut semua orang yang berada di situ tak terkecuali Rahman.
"Chika..kok ngomongnya gitu sih!!" kata Indra pada putri sambungnya itu.
__ADS_1
"Kan memang gitu kenyataannya, yah?? bapak tak pernah menyukai kami bahkan Chika pernah dikatakan bapak sebagai pembawa sial." Kata Chika dengan polosnya.
"Ya Allah...benar begitu mas Rahman??" tanya Indra sementara Shanum hanya diam terpaku seolah dia sedang mengingat kembali saat Rahman mengatakan itu sewaktu Chika dan Chiro masih kecil.
***Flashback on***
BRAAKK....
Rahman membanting pintu di depannya.
"Masya Allah...ada apa mas??" tanya Shanum yang saat itu sedang menidurkan Chiro yang masih kecil.
"Lihat pekerjaan Chika anakmu...habis seluruh nomor-nomor penting di ponselku di hapusnya, dasar anak pembawa sial!!" maki Rahman.
"Mas...memang ponsel mas Rahman diletakan di mana sampai bisa dijangkau oleg Chika??" tanya Shanum pelan.
Kepalanya terasa pusing karena seharian ini Rahman kerjanya hanya chatingan dengan teman-teman lamanya.
"Aku taruh di meja, dasar Chikanya saja yang tangannya minta dipukul!!" geram Rahman.
"Jangan mas...aku mohon jangan...itu sepenuhnya bukan kesalahan Chika, usia Chika lho baru lima tahun, yang salah ya mas Rahman sendiri kenapa sudah tau di rumah punya dua anak kecil, masih meletakan ponsel sembarangan!!" kata Shanum mencoba menengahi.
"Apa?? kamu menyalahkanku?? dasar anak-anakmu saja yang pembawa sial, sama sialnya seperti saat aku menikahi kamu!!" ketus Rahman tanpa perasaan.
BRAKKK...
Kembali pintu ditutup dengan cara dibanting oleh Rahman.
"Bu...Chika takut!!" kata Chika sambil memeluk Shanum dengan erat.
Keterlaluan kamu mas!!" kata Shanum.
"Tega sekali kamu mengatakan itu kepada anak-anak...kamu boleh membenciku dan mengata-ngataiku dengan sebutan apapun asal jangan anak-anak tak berdosa seperti Chika dan Chiro." Dada Shanum terasa sesak seperti dihimpit oleh batu sebesar gunung.
"Pembawa sial itu apa bu?? apakah benar Chika dan Chiro pembawa sial??" tanya Chika disela-sela tangisannya membuat Shanum menjadi semakin sedih.
"Chika dan Chiro bukan pembawa sial karena bagi ibu, Chika dan Chiro adalah anugerah terindah yang telah diberikan Allah kepada ibu dan tak bisa dinilai dengan permata semahal apapun di dunia ini!!" kata Shanun memeluk putrinya yang masih berlinangan air mata.
Di dalam hati Shanum terasa sakit sekali. Tak pernah ada sedikitpun perkataan Rahman yang tidak kasar setiap kali melontarkan cacian dan makian kepadanya.
__ADS_1
Bertahan demi keadaan...hanya kata itu yang bisa dia keluarkan dari mulutnya, terus bersabar entah sampai kapan!!
***Flashback off***
Melihat istri yang sangat dia cintai terdiam dan melihat sikap kedua anak sambungnya yang nampak sangat ketakutan saat berdekatan dengan Rahman membuat Indra yakin sekali alangkah beratnya tekanan mental yang telah diberikan laki-laki itu kepada Ketiganya sampai mereka seperti orang ketakutan setengah mati.
"Maafkan bapak Chika!!" kata Rahman. Hanya itu kata yang sanggup dia ucapkan.
"Bapak hanya menyampaikan pesan dari mbah uti mereka kangen sama kalian dan juga ibu kalian!!" kata Rahman
"Ya sudah, bapak hanya mau menyampaikan itu...mampirlah kerumah mbah kung dan mbah uti jika kalian ada waktu!!" kata Rahman lalu pamit dan berlalu dari hadapan Shanum sekeluarga.
Hati Rahman terasa nyeri melihat anak-anaknya pun merasa takut padanya, dari cara mereka memandang Rahman mengatakan bahwa mereka tak ingin lagi bertemu dengan Rahman.
Indra yang melihat situasi yang dialami oleh istri dan kedua anaknya segera memeluk mereka bertiga berusaha memberikan kenyamanan yang bisa menghilangkan rasa trauma di hati ketiganya.
"Kasihan kalian sayang...ayah janji, selama hayat masih dikandung badan, ayah akan terus melindungi kalian dan berusaha untuk membuat kalian bahagia!!" kata Indra.
"Ayo kita kembali kemobil saja!!" ajak Indra pada anak dan istrinya.
wahid mengikuti bos nya dari belakang, dia juga ikut terhanyut dalam suasana tadi.
Keempatnya tiba di mobil dan mendapati Dodi sedang memperban lengannya sendiri.
"Astaghfirullah, Dodi?? apa yang telah terjadi??" tanya Wahid sementara Indra berusaha menenangkan istri dan anaknya yang juga terkejut melihat keadaan Dodi.
Tampak lengan Dodi ada luka sayatan senjata tajam, dahinya juga memar dan masih mengeluarkan darah.
"Apa yang telah terjadi mas Dodi??" tanya Indra.
Sambil meringis Dodi berusaha mengumpulkan ingatan tentang kejadian yang baru saja menimpanya tadi.
Wahid menyodorkan botol air mineral agar diminum oleh Dodi supaya Dodi bisa merasa lebih tenang.
*
*
***Bersambung...
__ADS_1
Ada kejadian apa sebenarnya yang menimpa Dodi dan siapa yang telah melakukannya??
Lanjut untuk mengikuti kisah mereka selanjutbya ya reader tercinta🙏🙏