
Sementara istrinya mengendurkan dasi yang di kenakan oleh Indra. Dan membuka dua kancing atas kemeja yang dikenakan putranya.
"Oalah Ndra...kamu jangan buat mami panik, dong!!" mami Tiara menangis sesunggukan sambil menggenggam tangan Indra.
Dahi wanita paruh baya yang masih tampak sangat cantik itu mengerenyit melihat Indra.
"Apa-apaan Indra ini??? mengapa dia memakai dua cincin kawin di dua tangannya kiri dan kanan??"
"Yang kiri itu aku ingat cincin pertunangannya dengan Pingkan, lalu yang di tangan kanannya??" segudang pertanyaan memenuhi kepala mami Tiara.
Dia hendak membuka cincin saat Indra sadar dari pingsannya dan setengah mengigau menyebutkan sebuah nama.
"Num...aku cinta sama kamu Num...!!" lirih Indra.
"Indra???" bentak mami Tiara sangat marah.
Papi yang mendengar suara ribut-ribut masuk bersama seorang dokter untuk memeriksa keadaan Indra.
Dia memeriksa sebentar lalu memanggil papi dan mami Indra.
"Apakah mas Indra sering mengeluhkan sakit di kepalanya dan lemas di sekujur tubuhnya??" tanya dokter Andre yang merupakan adik sepupu dari Indra.
"Kami kurang tau Dre...karena seingat mami Indra itu tak pernah mengeluhkan sesuatu." Jawab mami Tiara.
"Mi, ini baru diagnosa Andre tetapi untuk lebih jelasnya konsultasi saja nanti ke dokter spesialis." Jawab Andre.
Dan benar saja saat mami Tiara besoknya memaksakan Indra untuk mengenai kesehatannya akhirnya terdeteksi dia mengidap penyakit kanker otak stadium 3.
Oleh karena itu kepergian Indra dipercepat agar sebelum menikah, Indra bisa segera sembuh karena menurut dokter penyakit Indra kemungkinan masih bisa disembuhkan asalkan dengan penanganan yang tepat.
Tanpa sempat pamit pada sang kekasih akhirnya Indra bertolak ke Inggris meninggalkan sekeping hati yang merana.
***Flashback off***
Shanum duduk di taman belakang sambil menyantap bekalnya.
Dia makan sambil termenung hingga dia tak menyadari kedatangan seseorang di belakangnya.
"Kalau makan itu ya makan...jangan sambil melamun!!" suara itu begitu mengagetkannya hingga dia spontan berkata.
"Indra??"
Orang yang menyapanya tampak cemberut kalau bisa dikatakan cemburu mendengar nama Indra disebutkan.
"Tak bisakah kamu hilangkan nama itu barang sesaat dan menyebut nama saya??" tanya nya.
__ADS_1
Shanum membeku. Yang menyapanya barusan adalah pak Elang.
"Apa maksudnya pak Elang menyuruhku menyebut namanya?? seperti kurang pekerjaan saja!!" batin Shanum.
"Pak Elang?? ada yang bisa saya bantu??" tanya Shanum.
"Nggak ada saya hanya kebetulan lewat saja dan melihatmu nongkrong di sini sendirian." Jawab Elang.
"Bapak hebat ya...di sini bukan jalanan umum lho, memang bapak mau kemana blusukan sampai kebelakang sini??" tanya Shanum.
"Terserah saya dong!!" kata Elang sambil berlalu.
"Dasar orang aneh!! datang tak dijemput pulang tak diantar!!" kata Shanum lagi.
Shanum memandangi cincin yang melingkar di jari manis tangan kanannya yang tempo hari di selipkan Indra di jari manisnya.
"Pak Indra...aku kangen sama bapak!!" desis Shanum sambil mengecup cincin itu dengan perasaan campur aduk.
"Hadeuh...untung aku pintar mencari alasan!! alangkah malunya aku jika sampai Shanum tau bahwa aku kesana memang ingin melihat keadaannya seperti yang diminta Indra waktu."
"Berapa lama saya akan menjalani pengobatan ini dokter??" tanya Indra pada seorang dokter yang usianya kurang lebih seperti papinya.
Tergantung pada kemauanmu untuk cepat sembuh, semangatnu untuk hidup itulah obat paling mujarab di samping obat-obatan yang kami berikan!!" jawab dokter bernetra biru itu.
***********
Hari ini Shanum menerima gaji pertamanya setelah sebulan bekerja sebagai cleaning service di rumah sakit ini.
"Di, aku bisa minta tolong antarkan ke pengadilan agama untuk mengurus surat ceraiku dengan Rahman!!" kata Shanum siang itu.
"Semua berkas sudah kamu siapkan??" tanya Bandiah.
"Sudah semua, kamu nggak usah khawatir." Jawab Shanum.
Sementara itu Rahman dengan percaya dirinya beranggapan bahwa Shanum tak akan mengurus surat cerai itu.
Tetapi raut wajahnya berubah saat di siang itu sebuah surat dari pengadilan agama datang ke rumahnya yang baru bersama Yanti.
Dengan amarah yang membara Rahman meluncur dengan mobilnya kerumah Shanum.
PLUK...
Surat dari pengadilan agama itu dia lemparkan ke wajah Shanum yang sedang sibuk dengan kayu bakarnya.
"Apa....apaan ini Shanum?? apa maksudmu dengan gugatan cerai ini??" tanya Rahman emosi seperti biasa.
__ADS_1
Dengan santainya Shanum menjawab, "kamu nanya??? kamu bertanya-tanya!!" katanya sambil mencibir pada Rahman.
"Shanum???" teriak Rahman bertambah emosi.
"Kenapa kamu Rahman?? bukankah ini yang kamu inginkan?? saya yang lebih dahulu mengajukan gugatan cerai itu karena kamu tak mau mengeluarkan uang sepeserpun untuk membayar biaya perceraian?? kamu nggak usah khawatir tentang biayanya, karena saya yang akan membayar sendiri!!" jawab Shanum berubah datar dan dingin.
"Aku tidak mau kita bercerai!!" kata Rahman.
Entah mengapa dulu dia begitu menggebu-gebu ingin bercerai dari Shanum tetapi sekarang malah dia yang ngotot untuk melanjutkan pernikahannya.
"Nggak apa-apa sih, tapi kamu siap memilih untuk berpisah dengan Yanti??" tanya Shanum santai.
"Aku tak mungkin juga meninggalkan Yanti yang sekarang sedang mengandung anakku!!" jawab Rahman.
"Rahman, kesalahan kamu itu teramat banyak, mau saya sebutkan satu persatu??" tanya Shanum.
"Pertama...kamu sudah setengah tahun tidak memberikan nafkah lahir dan batin, dan kedua kamu berpoligami tanpa seijin saya sebagai istri pertama, kamu mau gugatan saya perberat??" tanya Shanum yang selalu membuat Rahman diam.
"Pulanglah...saya harap permudahlah keadaan karena saya tak menuntut apapun dari kamu jadi saya harap kamu juga tidak usah banyak tingkah laku!!" ucap Shanum memberi penekanan.
Dengan geram Rahman melangkah menuju mobilnya tetapi matanya sepintas menangkap benda putih melingkar di jari manis tangan kanan Shanum.
Dengan gusar Rahman berbalik mendatangi Shanum.
"Dasar wanita murahan, pantas kamu niat banget mau bercerai dariku rupanya kamu sudah kebelet mau kawin lagi, hah??" bentak Rahman emosi sambil hendak meraih tangan Shanum dan merampas cincin itu serta membuangnya.
"Jangan sentuh!!" bentak Shanum tak kalah berangnya.
"Kamu tau nyawamu bahkan harga dirimu sekalipun kamu jual tak akan pernah sebanding dengan benda ini, saya akan mempertahankannya dengan taruhan nyawa saya sendiri, jadi kamu harus tau betapa berarti dan berharganya benda ini serta orang yang telah memberikannya pada saya!!"
"Dan kamu tadi bilang saya perempuan murahan?? kamu yang menyebabkan saya seperti ini, gegara kamu dan Yanti yang sok mahalan tapi munafik!!" ucap Shanum dengan rahang mengeras.
Rahman tertegun. Selama sepuluh tahun berumah tangga dengannya rupanya inikah sifat asli Shanum?? di mana dulu sifat suka mengalahnya, sifat lemah lembut dan penurutnya?? sekarang semua sirna tak berbekas sama sekali!!
"Inikah ternyata sifat asli kamu, Shanum??" desis Rahman.
"Ya inilah sifat asli saya, asal kamu tau tak ada satu manusia pun yang mau dan sudi diinjak-injak terus menerus!!" kata Shanum.
*
*
***Bersambung...
Bagai manakah kisah cinta Shanum dan Indra selanjutnya?? berlanjutkah??? atau terhentikah???
__ADS_1
Mohon selalu dukungannya ya reader🙏🙏