
Setelah puas menangis dia keluar dari kamar mandi tapi dia tidak menemukan Rafli di sana hanya martabak yang sudah tertata rapi di atas piring dan dua bungkus mie goreng serta sebuah tulisan tangan di kertas.
"Aku tau mbak Di sedang ada masalah, aku pulang dulu aku nggak mau mengganggu mbak Di lebih lama...selamat beristirahat dan selamat tidur!!! mimpikan aku dalam tidurnya mbak Di, ya...!!!"
Bandiah hanya menarik napas panjang.
"Sadar Di...tak mungkin seorang kapten polisi muda, tajir, ganteng dan memiliki karir cemerlang seperti Rafli Andarian menyukaimu!!" gumam Bandiah. Lalu dia membersihkan sisa makanan yang tadi tidak jadi mereka makan.
Bandiah sama sekali tidak tau jika dibalik dinding luar masih berdiri Rafli sambil bersender di dinding rumah.
"Kenapa kamu tak menyadarinya juga?? untuk mengungkapkannya kepadamu tak semudah caraku seperti mengungkapkan perasaanku pada mbak Shanum...kamu orangnya terlalu asyik tapi tak pernah peka!!" gumam Rafli lalu pergi dari sana dengan berjalan kaki menyusuri jalan raya.
**********
Hari ini Shanum sudah bisa pulang kembali ke mansion karena dia telah sembuh total tinggal menunggu masa pemulihannya saja.
"Ibu!!!" teriak Chika dan Chiro tampak gembira setelah seminggu lebih tak bertemu dengan ibu mereka.
"Anak-anakku sayang!!" peluk Shanum.
"Mana adik dan nenek serta opa dan oma??" tanya Shanum.
"Mereka sedang bersantai di taman belakang, kami sengaja menunggu ibu di sini!!" kata Chiro.
"Hanya menunggu ibu?? kalian tidak menunggu ayah??" tanya Indra yang baru masuk sambil membawa tas pakaian milik istrinya.
"Iya lah...kami juga kangen sama ayah!!" kata Chika dan Chiro gantian memeluk Indra.
"Kalian sudah tiba rupanya...masuklah dan beristirahatlah dulu, Num...dan kamu Ndra, ada sesuatu yang ingin mami sampaikan padamu!!" kata mami Tiara.
Shanum masuk ke kamar dengan ditemani Chika, Chiro dan Sharindra yang ikut diantar oleh ibu Karti ke kamar.
"Ada apa mi?? pi?? sepertinya ada sesuatu yang penting??" tanya Indra.
"Mami saja yang menyampaikannya pada Indra, mi!!" kata papi Jonas.
__ADS_1
"Ndra, apa kamu sudah mendengar sesuatu??" pancing mami Tiara.
"Dengar apa mi?? kan mami tau Indra cuti selama seminggu ini menemani istri Indra di rumah sakit??" kata Indra.
"Ya siapa tau dapat berita dari Elang, Bandiah atau dari Rafli atau dari karyawan, suster atau dokter di situ!!" kata mami Tiara.
"Nggak ada mi!! Elang, mbak Di dan Rafli memang rutin mengunjungi Shanum di rumah sakit tapi mereka tak pernah bercerita apapun pada kami!!" kata Indra.
"Berita apa sih memangnya mi?? kok sepertinya muter-muter begitu??" kata Indra tak sabaran.
"Pingkan, Ndra!!" kata mami Tiara.
"Ada apa dengan Pingkan, mi?? apakah dia membuat ulah lagi??" tanya Indra.
"Dia tidak akan pernah bisa membuat ulah lagi, Ndra!!" kata mami Tiara.
"Dia sudah insyaf kah?? atau sudah masuk penjara??" tanya Indra.
"Pingkan sudah pindah Ndra, dia sudah tenang sekarang!!" ujar mami Tiara lagi.
"Pingkan sudah meninggal tiga hari yang lalu, Ndra!! kami memang sengaja tak ada yang mengatakan semua padamu dan Shanum agar Shanum tidak terganggu pikirannya juga kamu bisa fokus menjaga istrimu di rumah sakit!!" kata mami Tiara pelan.
"Innalillahi Wa Innalillahi rojiun...!!" kata Indra tersandar di kursinya.
Sebagaimanapun kesalnya dia pada wanita itu, tetapi dia dan Pingkan pernah lama bertunangan dan sempat menikah walaupun Pingkan akhirnya berkali-kali mengkhianati dia tetap saja dia merasa syok dan tak menyangka itu bisa terjadi!!
"Apa yang telah dia lakukan, mi?? waktu mencoba membunuh Shanum dia nampak baik-baik saja??" tanya Indra.
"Dia dicecar pertanyaan oleh Rafli di kantor polisi dan entah mengapa dia mungkin merasa tertekan dengan keadaannya lalu menurut cerita Rafli, Pingkan berteriak histeris dan merebut pistol dari salah seorang polisi yang berdiri di dekatnya tanpa bisa dicegah lagi, lalu dia menembak sendiri perutnya sebanyak dua kali lalu roboh ke lantai." Kata mami Tiara.
"Pingkan...Pingkan...nekat sekali kamu!!" gumam Indra tercekat mendengar cerita maminya.
"Ternyata di rumah sakit jiwanya tak tertolong lagi, setelah berhasil mengeluarkan dua butir peluru yang bersarang di perutnya, Pingkan mengeluarkan banyak darah sehingga nyawanya tak tertolong dan akhirnya dia meninggal dunia." ucap mami Tiara.
"Saat mami dan papi ditemani Dodi dan Wahid melayat ke pemakaman pun, Prianka seolah menimpakan semua kesalahan ini pada kamu dan Shanum...tetapi suaminya bersikap netral karena dia tau ini bukanlah kesalahan kaluan berdua, Shanum istrimu berkali-kali nyawanya berada di ujung tanduk itu semua karena ulah Pingkan!!" ujar mami Tiara lagi.
__ADS_1
"Sudahlah mi...itu semua sudah lewat!! Indra sudah memaafkan almarhumah dan Indra rasa istri Indra pun berpikiran sama, karena kami berdua pada dasarnya bukan tipe manusia yang suka menyimpan dendam pada orang lain, kami lebih menyerahkan semua masalah ini pada yang Kuasa." Jawab Indra.
Mami Tiara kagum pada jiwa besar anak asuhnya itu. Tidak sia-sia dia mengadopsi Indra saat Indra masih kecil dulu, mencurahkan seluruh kasih sayangnya pada putra angkatnya itu karena papi Jonas telah di vonis mandul oleh dokter, sehingga mereka memutuskan untuk mengadopsi Indra.
Ternyata Indra mendapatkan istri yang hatinya sama mulianya dengan dia, dan mami Tiara sangat bersyukur.
"Di mana Pingkan dimakamkan, mi?? kalau Shanum sudah sembuh total, Indra akan mengajaknya nyekar kemakam almarhumah!!" kata Indra.
************
"Kok kamu gelisah terus sih beberapa hari ini mas??" tanya Anna pada Hansen saat dilihatnya kekasihnya itu sedang mondar mandir di kebun belakang rumah mereka.
"Nggak apa-apa kok yank, oh iya kapan kamu pergi kepasar lagi?? stok bahan makanan kita mulai menipis!!" kata Hansen.
"Lalu apa hubungannya dengan kegelisahanmu??" tanya Anna.
"Aku gelisah karena aku ingin pergi menemani kamu belanja tapi takut jika penyamaran kita terbongkar!!" kata Hansen yang terdengar masuk akal di telinga Anna.
"Baiklah kalau begitu aku saja yang pergi kepasar seperti seminggu yang lalu, mas...kamu berberes di rumah saja, nanti aku catat apa saja yang mau kubeli!!" kata Anna.
"Yes....Sri, i'm coming!!! sudah seminggu tongkat pusaka milikku tidak aku gunakan untuk menghajarmu sampai kamu klepek-klepek minta ampun padaku!!!" batin Hansen bersorak girang.
"Baiklah sayang...aku mau mengurus tanamanku dulu ya.. kamu masaklah untuk makan siang kita!!" kata Hansen riang dan bersemangat tak sabar untuk menunggu besok hari di mana dia akan bercocok tanam berdua dengan Sri.
Bukan bercocok tanam di kebun tetapi bercocok tanam di atas ranjang yang membuat Hansen seperti mau gila dengan goyangan dan era*ngan Sri.
Memang tipe lelaki seperti Hansen ini bukan tipe lelaki yang puas hanya dengan satu wanita, bodohlah Anna yang tak menyadarinya selama ini padahal Hansen dulu juga sudah menyelingkuhi dia dengan Sheilla, entah karena cinta atau karena bodoh atau karena dua-duanya tak ada yang tau isi hati seorang Anna.
*
*
***Bersambung...
Tak ada yang bisa menebak hati seseorang selain orang itu sendiri yang mengerti apa sebenarnya yang menjadi keinginannya.
__ADS_1
Ayo dong reader...beri semangat author untuk menulis dengan memberikan dukungannya🙏🙏