Sejuta Kenangan Bersamamu

Sejuta Kenangan Bersamamu
Bab 51 Pelarian Sheilla


__ADS_3

Dia sama sekali tak pernah membayangkan bisa bertemu kembali dengan suaminya itu.


Dia hanya bisa mengangankan dan mengkhayalkan Indra ada di sampingnya, bersama membesarkan anak mereka, tetapi Shanum sadar, keindahan itu adanya hanya di dalam angan belaka dan tak mungkin menjadi nyata.


Tetapi apakah orang yang berdiri di belakang Bandiah, Chika dan Chiro itu kenyataan?? ataukah hanya sekedar mimpi belaka??


Shanum sendiri sudah tak bisa membedakan lagi mana nyata dan mana sekedar mimpi belaka.


"Sayangku!!"


Sosok itu melangkah masuk mendekati Shanum yang masih bersimbah airmata.


"Mas Indra....!!"


"Shanum istriku...maafkan suamimu yang tak bertanggung jawab ini!!" kata Indra.


Kedua insan yang telah lama terpisah itu saling berpelukan. indra mendekap erat istri yang sangat dia cintai itu.


"Bagaimana kabarmu selama ini sayang?? mengapa uang yang mas tranfer ke kamu tidak pernah kamu pakai?? jadi selama ini kamu dan anak-anak serta ibu makan apa??" tanya Indra prihatin dengan keadan istrinya itu.


"Shanum bekerja apa saja setelah dipecat dari pekerjaan karena seseorang telah memfitnah Shanum mencuri mas, setelah tau Shanum hamil maka ibulah yang bekerja untung ibu dapat majikan yang baik hati." Tutur Shanum.


"Maafkan mas sayang, dan sekali lagi terima kasih sudah mau merawat sosok Indra junior ini di dalam rahimmu!! mas janji kita tak akan berpisah lagi.


AAWHHH...


Tiba-tiba Shanum meringis kesakitan lagi.


"Sepertinya junior sudah tak sabar untuk keluar melihat dunia, sayang!!" bisik Indra mencium pucuk kepala istrinya.


Ibu Karti, Bandiah, Chika dan Chiro semua menunggu di luar. Hanya suami yang boleh ada di dalam menemani sang istri.


Indra terus menyemangati Shanum dan tak henti terus mengelus perut buncit istrinya itu.


"Rupanya dia memang menunggu ayahnya untuk menunggu kelahirannya dan mengazani dia!!" kata bidan Dian pada Shanum sesaat sebelum Shanum akan melahirkan.


Indra tak sesentipun bergeser dari tempatnya untuk memberikan semangat pada Shanum hingga sang buah hati yang berjenis kelamin laki-laki itupun lahir selamat walaupun usia kandungan Shanum baru menginjak tujuh bulan.


"Tampannya putra kita yank...!!" ucap Indra sehabis mengazani bayi lelaki mereka yang diberi nama Sharindra Fahreza itu.


Keluarga kecil Shanum sangat bahagia menyambut anggota baru dalam keluarga mereka.


Karena kondisi Shanum sudah baikan, sore itu mereka bisa langsung segera pulang kerumah.


Bandiah juga ikut menginap malam itu karena dia datang dengan mobil Indra.


************


"Lho mobil Indra mana ya?? kok nggak ada?? kok sepi-sepi aja??" Pingkan yang siang itu mampir kerumah Shanum yang telah dibeli oleh Indra jadi bingung.


"Pintu rumahnya digembok...lampu terasnya sudah menyala, tapi kemana perginya??" gumam Pingkan.


Berkali-kali dia mencoba menelpon tetapi selalu diluar jangkauan.


"Isshh kurang ajarnya Indra ini!!" Pingkan lalu memutar balik arah mobilnya mencari kerumah sakit.


************


Elang duduk membeku di kursi kebesarannya. Di depannya Sheilla duduk tampak tenang tetapi tetap hatinya berkebat kebit tak karuan.


Elang melemparkan amplop besar warna coklat tepat dihadapan Sheilla.

__ADS_1


"Bukalah!!" titah Elang datar dan dingin.


Sheilla membuka amplop itu dan wajahnya langsung pucat pasi saat melihat fotonya dan Hansen sedang bergelut ria di atas ranjang.


"Apa-apaan ini, beb??" tanya Sheilla pura-pura marah.


"Ya itu kamu sedang berbuat mesum, pakai tanya lagi apa-apaan!!" kata Elang menatapnya tajam.


"Ini pasti foto editan...!!" breett...Sheilla merobek-robek foto itu dan membuangnya ketempat sampah.


"Hebat ya, editan tapi ada tulisan nama motelnya, apa perlu aku mengecek apa motel itu benar-benar ada!!" tanya Elang.


"Sudahlah Sheilla tak usah berkilah lagi, aku juga punya bukti kejahatan kamu yang lain, penggelapan dana pembangunan misalnya??" kata Elang.


Sheilla tampak semakin tercekat. Justru pembawaan Elang yang tenang dan tanpa ekspresi semakin membuatnya takut.


"Aku sudah tidak bisa mengampuni kamu lagi Sheilla, terlalu banyak kesalahan yamg telah kamu buat hingga tak lagi bisa di maafkan!!" rahang Elang mengeras menahan kemarahan dan mengendalikan emosinya.


"Aku akan menceraikanmu agar kamu bebas bersama dengan pria itu tanpa takut ketauan lagi."


"Juga aku akan melaporkanmu pada yang berwajib mengenai penggelapan uang itu." Kata Elang.


Sheilla tampak menggelengkan kepalanya tak percaya.


"Tega kamu melakukan ini kepadaku, Lang!!" kata Sheilla.


"Kamu bicara soal tega?? lalu bermain api dengan laki-laki lain di belakang suami itu namanya apa??" tutur Elang.


Sheilla mundur lalu melarikan diri. Elang menatapnya sambil tertawa mengekeh. Walaupun bibirnya tertawa tetapi tatapan matanya kosong.


"Pergilah sejauhnya Sheilla, berharaplah semoga polisi tak bisa menemukanmu lagi!!" gumam Elang.


Sheilla terus melarikan mobilnya tak tentu arah. Awalnya dia ingin kerumah Hansen tetapi dari kejauhan dia melihat pacar gelapnya itu sedang digiring oleh polisi beserta seorang wanita berbaju minim.


"Keparat kamu Hansen, aku dengan segala daya upaya memenuhi gaya hidup dan kebutuhanmu sampai aku rela mendua di belakang suamiku dan ikut terlibat dalam korupsi ini semua demi apa dan demi siapa?? semua demi gaya hidupmu dan demi cintaku padamu, tapi apa balasan kamu Hansen?? dasar Hansen jaha*nam!!" rutuknya.


Perlaham Sheilla memutar mobilnya kembali ke jalan besar.


"Aduh...aku harus pergi kemana??" gumamnya.


Dengan menggunakan mobil ini pasti akan ketauan juga, apa yang harus aku lakukan selanjutnya??" tanya Sheilla.


"Iya, aku harus menyamar...aku masih menyimpan topeng kulit, beberapa potong baju...dan untung saja dana itu tidak semua kuberikan pada Hansen keparat itu." Gumam Sheilla.


Dia berhenti di pinggir jalan dekat tepi jurang, segera memulai penyamarannya dengan mengubah seluruh penampilannya, dan memasukan seluruh uang dan perhiasan yang selalu dia simpan di dalam mobilnya kedalam tas punggung dan menutupnya dengan beberapa potong pakaian. Terakhir dia mengambil roller blade dan memakainya.


Perlahan dia keluar dari mobil dan mendorong mobil miliknya kejurang supaya jatuh dan orang akan beranggapan bahwa Sheilla telah mati di dasar jurang.


Berbanding terbalik dengan Elang, Indra justru sedang merasakan kebahagiaan yang luar biasa bersama keluarganya.


Bandiah telah pulang sore tadi karena besok dia harus bekerja, sementara Indra memilih menginap di rumah Shanum.


"Pi...Indra mengirim pesan untuk kita??" kata mami Tiara.


"Pesan apa mi??" tanya suaminya.


"Pesan yang mengatakan jika sekarang dia sudah berada bersama dengan istrinya Shanum dan bayi mereka!!" jawab mami Tiara antusias.


"Alhamdulillah...kita punya cucu sendiri dari Indra dan Shanum bukan dari Pingkan dengan lelaki lain!!" kata mami Tiara lagi.


"Tapi Indra bilang kita harus merahasiakan dulu semua ini, sebab dia taku akan keselamatan istri dan keluarganya." Kata mami Tiara.

__ADS_1


***********


"Kenapa kelihatan bete begitu, Pingkan?" tanya mami Prianka pada putri tunggalnya.


"Pingkan lagi bete, mi!! Masa Indra pergi ngga kasih kabar ke Pingkan?? dia hilang begitu saja." Kata Pingkan cemberut.


"Kenapa kamu nggak ketok pintu rumahnya aja siapa tau ada orang di dalamnya!!" kata mami Prianka.


"Gila aja nih mami ya...sudah tau pintunya digembong masih aja Pingkan di suruh ketok pintu seperti maling saja.." gerutu Pingkan.


"Kamu sudah coba tanya sama mertua kamu??" tanya mami Prianka.


"Oalah...kenapa otak Pingkan jadi buntu begini ya mi??" tawa Pingkan membelah sore itu.


"Nah gitu dong...anak mami harus ceria!!" kata mami Prianka.


***********


Tawa dan canda kini memenuhi rumah sederhana itu.


Indra tampak semangat selalu menggendong bayi mungilnya.


"Jangan digendong terus mas, nanti Sharindra jadi cengeng lho...!!" kata Shanum memperingatkan suaminya.


"Mas itu seneng banget tau, bisa berkumpul lagi dengan kalian semua!!" kata Indra.


Sementara bu Karti sejak tadi terus tersenyum bahagia sambil memasak makan malam untuk mereka.


Ibu mana yang tak bahagia, semenjak berpisah dengan Indra delapan bulan yang lalu, Shanum selalu murung dan sedih, tetapi kini Shanum selalu tertawa begitu juga Chika dan Chiro karena Indra adalah sosok seorang ayah yang suka humor dan periang...beda dengan ayah mereka dulu yang taunya hanya gemar marah-marah dan mengomel saja.


"Ayah...beli makanannya banyak sekali??" kata Chiro sambil menonton televisi.


"Iya...kalian makanlah sekenyangnya sudah itu sikat gigi lalu tidur, bukankah besok kalian harus sekolah??" kata Indra pada kedua anak sambungnya itu.


"Ayah tidak akan meninggalkan kita lagi kan?? kasihan ibu selalu murung dan sedih!!" kata Chika.


"Kalian berdoa saja semoga kita bisa selalu bersama ya??" kata Indra sambil mengelus rambut Chika.


Tak lama ibu dibantu Chika menggelar tikar untuk menata makan malam. Sementara Sharindra anteng tertidur di dalam boks bayi yang tadi siang sudah dibeli oleh Indra.


Dengan sabar Indra membantu istrinya kekamar kecil sampai membantu istrinya duduk selonjoran di lantai.


"Aku berharap kita akan bersama terus selamanya, sayang!!" kata Indra mengecup lembut kepala Shanum.


**********


"Nggak ada Pingkan...Indra tidak ada pulang kemari!!" kata mami Tiara saat Pingkan datang kemansion mereka, karena mami Tiara maupun suaminya tak ada satupun yang mengangkat telepon dari Pingkan.


Mau tak mau Pingkan sendiri yang datang ke mansion mertuanya untuk menanyakan keberadaan Indra.


"Apa kamu sudah mencoba untuk menelponnya??" tanya papi Indra.


"Sudah pi, tetapi ponselnya selalu di luar jangkauan!!" kata Pingkan dengan kesal.


*


*


***Bersambung...


Bagaimana kah akhir dari penyamaran dan pelarian Sheilla??

__ADS_1


Jangan lupa untuk mengikuti terus kisah mereka ya reader🙏🙏


__ADS_2