Sejuta Kenangan Bersamamu

Sejuta Kenangan Bersamamu
Bab 108 Pelarian Hansen


__ADS_3

Tapi di dalam hatinya Elang meminta ijin kepada Indra jika dia mengijinkan dan Allah juga berkenan dia ingin menggantikan posisi Indra di hati Shanum untuk mengobati luka hati wanita itu.


"Bro, aku meminta ijinmu, kamu tahu sudah lama aku memcintai Shanum, bolehkah aku kembali memperjuangkan cintaku kepadanya?? Aku ingin selalu dekat denganmu melalui dirinya!!" batin Elang.


Sementara itu setelah seharian membantu kakek Tomo memetik lombok dan tomat untuk ditimbang dan dijual, Bandiah duduk meluruskan betisnya yang terasa mau patah.


"Di, kamu makan dulu!! Dari tadi nenek melihatmu belum ada makan!!" kata neneknya yang semenjak kedatangan Bandiah tadi siang sudah bisa bangun dan berjalan kecil dari tempat tidurnya kesekeliling rumah.


"Iya nek, sedikit lagi kerjadn Bandiah kelar kok!!" Kata Bandiah.


Bandiah termenung menatap layar ponselnya. Sejak tadi siang tak ada pesan apapun dari suaminya hingga sore ini.


Sementara Rafli yang baru tiba di rumah juga lupa jika istrinya sedang pergi kerumah kakek dan neneknya di desa.


"Mi, Umi kemana sih?" teriak Rafli dari ruangan tamu.


"Masya Allah, aku lupa jika istriku pamit kerumah kakek dan neneknya, dan bodohnya aku tidak ada juga aku menelpon sejak siang karena sibuk menangani kasus ini!!" Gumam Rafli.


Dia masuk ke kamar dan membuka laci meja rias istrinya bermaksud mencari tsu siapa tau ada alamat nenek Bandiah di desa.


"Apa ini?" Gumam Rafli melihat amplop di dalam laci.


Dia mengeluarkan amplop itu dan melihat isinya yang membuat dia terkejut.


"hasil test pack? Positif? Terus ini surat apa?" Kata Rafli membuka lipatan surat itu.


Abi, umi ingin memberikan hasil test pack ini sebagai hadiah di ulang tahun abi lusa, tetapi umi urungkan karena abi selalu sibuk, sibuk dengan pekerjaan dan sibuk menanyakan kabar Shanum jadi umi urungkan untuk memberi tahukan abi tentang kehamilan umi. Umi takut bukannya senang malah nanti beban pikiran abi jadi bertambah.


Rafli memeluk amplop itu dengan penuh rasa haru.


"Maafkan abi yang tak pernah peka ya umi, mestinya abi tau bahwa umi itu memang jenis wanita yang tak pernah mau mengungkapkan perasaan di dalam hati umi." Ucap Rafli penuh sesal.


"Abi janji akan meluangkan waktu dan perhatian lebih pada umi mulai sekarang!! Jawab Rafli.


Setelah mandi dan sholat, Rafli meraih ponselnya dan mencoba menghubungi Bandiah.


"Kok nomor umi selalu di luar jangkauan sih??" Geram Rafli sambil mencoba berkali-kali.


Akhirnya dia mencoba untuk mengirim pesan pada Bandiah tetapi masih contreng satu, kemudian dia mengistirahatkan tubuhnya yang terasa sangat penat seharian berkutat dengan tugas kantor yang harus dia selesaikan sebelum dia dan Bandiah bertolak ke Jakarta.

__ADS_1


Sementara Bandiah di sana pun gelisah. Sebentar-sebentar melihat kearah layar ponselnya dan ternyata tak ada kabarnya dari sang suami.


"Sepertinya memang bagus aku pergi, buktinya sampai detik inipun tak ada abi menelponku!!" Keluh Bandiah.


Mereka berdua saling menunggu tanpa tahu sulitnya sinyal di desa Bandiah yang jadi penyebabnya.


Rafli sudah hampir tertidur saat ponselnya berdering keras.


"Umi!!"


Dengan kecewa Rafli melihat di layar yang menelpon bukan istrinya tetapi kakeknya di Jakarta.


📱"Assalamualaikum, ya kakek ada apa??"


📱"Waalaikum Salam...Raf, bisakah di hari sabtu ini kamu pulang dulu ke Jakarta?"


📱"Tapi istri Rafli masih pulang kerumah nenek dan kakeknya, kek!! Masa mau Rafli tinggalkan ke Jakarta sendiri?


📱"Sebentar saja Rafli!!"


📱"Kejutan apa sih kek?"


📱"Waalaikum Salam.


"Ck...Kejutan apa sih yang di maksud kakek? Ada-ada saja kakek, mah!" Kata Rafli.


****************


Hansen meringis menahan perih pada luka bekas tusukan pisau Sri di perutnya. Luka itu sudah tidak lagi mengeluarkan darah, tetapi jika dia merasa sangat lelah maka dari bekas luka itu akan terasa pedih.


"Kemana lagi aku harus berjalan? Aku tak mempunyai uang sepeserpun di kantongku.


Tiba-tiba dia ingat dia menyelipkan sebuah kalung emas di kantong celananya. Waktu itu dia mau memberikannya untuk Sri sehabis mereka bercinta tetapi dia lupa karena keburu ke pergok sama Darto suami Sri saat mereka akan melakukan pelepasan terakhir.


Kalung seberat sepuluh gram itu memang khusus dia belikan dua untuk Anna satu dan untuk Sri satu masing-masing sepuluh gram tetapi belum sempat dia berikan pada keduanya keburu ada trouble pada hubungan mereka.


Hansen meraba kantong celananya, karena mungkin kantong celana levisnya itu letaknya agak dalam, maka tak ada seorangpun yang menyadari ada dua benda berharga di dalam salah satu sakunya.


Hari telah pagi, itu artinya Hansen sudah berjalan selama semalaman tanpa berhenti.

__ADS_1


Jenggot dan kumisnya yang sekarang tumbuh memenuhi wajahnya dia tutupi dengan masker dan menggunakan topi yang dia curi dari jemuran orang semalam plus baju kaos.


Dia memang menghindari keramaian karena dia melihat begitu banyak petugas kepolisian yang menyebar turun ke jalan.


Hansen berjalan kebelakang pasar yang ada terdapat penjual toko emasnya.


Dia memasuki salah satu toko yang tidak terlalu ramai pengunjungnya.


"Ada yang bisa saya bantu pak?" Tanya pemilik toko emas itu.


Hansen mengeluarkan kalung yang hendak dia berikan pada Sri pada pemilik toko emas tersebut.


"Ini emas dengan kualitas terbaik, kenapa mau dijual pak??" Tanya sang pemilik toko.


"Istri saya mau melahirkan bu, dia akan di operasi caesar siang ini dan uang saya kurang jadi mau tidak mau saya harus menjual kalung ini!!" Kata Hansen dengan suara memelas penuh kepalsuan.


Setelah menimbang dan membayar harga kalung itu, Hansen dengan cepat beranjak dari toko tersebut.


Dia membeli nasi bungkus dan sebotol air mineral tapi tak berani makan di tempat, dia lebih memilih makan di tempat lain sambil dia berpikir bagaimana caranya agar dia bisa sampai ke rumahnya yang ada di kawasan puncak itu.


Sementara itu bagaimana dengan nasib Anna setelah sepeninggal Hansen...


Saat itu dia bertemu dengan Darto. Darto baru saja pulang dari kantor polisi menjenguk Sri sekalian dia mau berpamitan pada mantan istrinya itu, di tengah jembatan dia bertemu dengan seorang wanita yang hendak melompat dari jembatan.


Darto tau sungai di bawah jembatan arusnya cukup deras apalagi di musim penghujan seperti sekarang ini.


"Mbak...stop!! Jangan bertindak bodoh mau bunuh diri segala, memangnya tidak ada ya masalah yang tidak bisa diselesaikan selain harus berakhir dengan bunuh diri?" Teriak Darto.


"Ishh, siapa sih yang mau bunuh diri mas? Sandal saya lepas tuh sebelahnya!" Wanita yang ternyata adalah Anna itu tadinya berniat menenangkan pikirannya di jembatan itu, tetapi sandal jepit yang dia pakai sebelahnya jatuh ke sungai dan itu tadi yang hendak diraih olehnya.


"Oh iya kah? Saya pikir mbaknya mau bunuh diri!" Kata Darto jadi tersipu malu.


*


*


***Bersambung...


Lanjut ke next episode reader dan mohon selalu dukungannya.

__ADS_1


__ADS_2