
"Idemu cemerlang Tirta, kita berdua akan mengikuti pria kurus itu, sementara yang lain stand by di sini mengawasi keadaan, beri tahukan juga pada mereka yang berjaga di sekitaran mansion nyonya Prita!!" perintah Sandi.
Lalu Sandi dan Tirta bergerak meninggalkan tempat itu mengikuti pria jangkung yang baru saja pergi tadi!!
Pria itu terus melajukan motornya tanpa dia sadari bahwa dia sedang diawasi.
Dia berbelok kearah sebuah gudang tua yang tidak terpakai lagi di pinggiran kota.
"Mau apa dia kesana, bos??" tanya Tirta.
"Mungkin dia mau kencan??" kata Sandi menimpali perkataan Tirta.
"Jauh amat kencannya!!" kata Tirta lagi.
"Sssst dia berhenti Tirta, kita berhenti di sini saja." Kata Sandi.
Lalu mereka mengendap-endap mengikuti langkah kaki si jangkung itu.
Ternyata si jangkung yang di maksud Tirta dan Sandi itu adalah Sheilla yang menyamar.
Dia menemui Codet, Abas, Sukran, dan Bucu di sana.
"Bagaimana perkembangan tugas kalian??" tanya Sheilla.
"Kemarin kami sudah berhasil mengikuti laki-laki yang bernama Indra itu bos, tetapi dia tidak sendiri dia bersama seorang supir dan seorang bodyquardnya." Jawab Codet.
"Kami hampir berhasil mengejar mereka mau kami giring ketempat sunyi tapi ternyata mereka cukup pintar untuk berhenti di depan kantor polisi." Kata Bucu.
"Tidak mengapa, kalian pelajari saja kegiatan sepasang suami istri itu, begitu ada kesempatan, tembak kepala mereka!!" ucap Sheilla.
"Enak betul hidupnya mau main tembak kepala orang aja!!" omel Tirta.
"Ssttt...diam Tirta nanti mereka yang ada di dalam sana bisa mendengar suaramu!!" kata Sandi.
"Bos...aku seperti pernah melihat laki-laki yang wajahnya berjerawatan itu, tapi di mana ya??" kata Tirta berusaha mengingat-ingat sesuatu.
"Di salon!!" kata Sandi enteng.
"Ngapain dia di salon??" tanya Tirta masih bingung.
"Mau facial Tirta untuk menghilangkan jerawatnya itulah!!" kata Sandi.
"Bukan di salon bos...tapi di suatu tempat tapi aku juga lupa tempatnya!! Kata Tirta.
"Sudahlah Tirta nanti saja kamu mengingatnya, sekarang kita cabut dari tempat ini sebelum mereka mengetahui tentang keberadaan kita di sini.
Tak lama setelahnya Sheilla keluar dari tempat itu dan melajukan moge nya. Tirta dan Sandi terus mengikuti motor Sheilla.
Rupanya Sheilla sadar juga dia diikuti, dengan segera dia menambah laju dan kecepatan motornya.
__ADS_1
"Sial...rupanya dia sudah sadar jika kita ikuti bos...!!" kata Tirta yang juga menaikan kecepatannya.
Kejar mengejar antara mobil Sandi dan Tirta dengan moge milik Sheilla.
"Kalian ingin coba-coba adu cepat denganku?? boleh!!" kata Sheilla sambil tertawa mengekeh.
"Cepat banget bos...dia dulu mantan pembalap kali ya??" kata Tirta.
"Apa kamu bilang Tirta?? mantan pembalap??" ulang Sandi.
"Iya...mantan pembalap!!" kata Tirta.
"Tepat sekali, Tirta dia itu berarti nyonya Sheilla...dia dulu memang mantan pembalap dan berkuliah di jurusan seni rupa, dia menguasai banyak sekali pembuatan seni topeng."
"Tepat sekali...beri tahu seluruh anak buah kita perketat penjagaan di dua mansion tersebut, dia pasti pulang ke salah satu mansion tersebut." Kata Sandi.
"Aman....akhirnya aku bisa mengelabui mereka!!" kata Sheilla.
Tapi kemudian otak jeniusnya serta perasaannya mencegahnya untuk kembali ke mansion dulu.
"Mereka pasti orang suruhan Elang, sebaiknya malam ini aku jangan kembali ke mansion dulu, perasaanku nggak enak nih!!" gumam Sheilla yang akhirnya memutuskan malam itu dia tidur di penginapan.
Sementara itu....
DDRRTTTTTT
Tampak Sukran dengan alasan mau membeli rokok di warung segera menelpon seseorang.
📱"Besok sepulang target bekerja, mereka merencanakan untuk mencegat rombongan Indra di jalan sepi, kapten."
📱"Pukul berapa kira-kira itu??"
📱"Sepertinya sekitar pukul 5 sore karena target suka mengambil jalan pintas untuk menghindari kemacetan dan itu sudah dipelajari oleh ketiganya."
📱"Oke terima kasih atas infonya sersan Johan!!"
Sukran kembali berjalan melenggang seolah tak terjadi apapun pulang membawa rokok dan tiga bungkus nasi goreng untuk ketiga kawannya di markas.
*************
"Assalamualaikum....umi, abi pulang!!" kata Rafli mengetuk pintu kost-kostan.
"Umi?? kemana sih istriku yang biasanya bawel itu semenjak menikah kemarin menjadi pendiam!!" kata Rafli masuk ke kost-kostan.
"Mungkin dia mandi, dia kan masuk siang, pasti baru pulang kerja!!" gumam Rafli.
Dia melihat di dapur sudah tersedia makanan walaupun sederhana, rupanya sebelum mandi tadi istrinya itu sempat menghangatkan makanan dan nasinya.
Dengan segera Rafli masuk ke kamar untuk mengambil handuk dan membuka seluruh pakaiannya untuk mandi.
__ADS_1
AAGGHHH
Bukan main kagetnya Rafli mendengar teriakan istrinya hingga tanpa sadar bukan mengenakan handuknya untuk menutupi aset berharganya yang gondal gandil malah dia lari memeluk istrinya karena dia pikir Bandiah berteriak karena takut dengan tikus atau kecoak.
Wajah Bandiah sangat merah menahan malu melihat suaminya yang memeluknya tanpa sehelai benangpun melekat di tubuhnya.
"Ancrit nih orang...nyadar nggak sih pisang ambonnya mengibas kian kemari??" batin Bandiah.
"Ada apa mi?? kenapa teriak-teriak begitu?? nggak enak sama tetangga kamar kita!!" kata Rafli menutup rapat mulut istrinya.
"Isshhh orang aneh, dia sadar teriakanku akan mengagetkan sekitar tapi dia belum nyadar juga kalau dia itu polos seperti bayi alias nggak pakai apa-apa??" batin Bandiah lagi.
Setelah tenang barulah Rafli melepaskan bekapan di mulut istrinya.
"Ada apa sih umi berteriak??" tanya Rafli.
"Bi, lebih baik ambil handuk tutupi dulu deh yang bergelantungan itu!!" tunjuk Bandiah kebawah.
Rafli baru sadar kalau tadi dia lupa memakai handuk karena kaget mendengar teriakan Bandiah.
Dengan wajah merah padam menahan malu reflek Rafli menarik handuk yang dikenakan oleh istrinya.
Karena kerasnya tarikan itu membuat Bandiah jatuh terjengkang kebelakang di atas kasur lipat di kamarnya dan menarik lengan Rafli tanpa sengaja.
Keduanya jatuh bertumpang tindih untung lantai kamar itu sudah terbuat dari tehel bukan dari kayu jika tidak pasti bunyi jatuhnya mereka berdua akan sangat keras sekali.
"Abi apa-apaan sih??" dari bawah kungkungan tubuh besar Rafli, Bandiah melotot kearah suaminya.
"Ayo awas dari atas umi, abi berat banget tau!!" kata Bandiah.
Bukannya mengikuti saran istrinya untuk turun, Rafli malah menatap kearah istrinya, sekarang dia baru menyadari bahwa keduanya sama-sama dalam keadaan polos.
"Mi, boleh ya sekalian abi celupin...tanggung nih punya abi sudah mengeras begini...umi kan sudah janda juga pasti lolos...lolos aja dimasukan begini tinggal umi buka dan renggangkan kaki umi!!" bisik Rafli pelan.
Bandiah menggelengkan kepala dengan mata membulat membesar.
Tapi dia tidak bisa bicara saat mulutnya dibekap lagi oleh Rafli agar tidak berisik.
"Kok susah banget sih masuknya, mi??" kata Rafli yang merasakan miliknya berkali-kali terpeleset dan tak tepat sasaran.
Sementara Rafli sama sekali tak menyadari istrinya yang mulai menangis menahan rasa sakit dan nyeri.
"Ah....masuk juga!!" dengan santainya Rafli berkata sambil tersenyum puas karena berhasil melaksanakan misinya.
*
*
****Bersambung....
__ADS_1
Penasarannya disimpan dulu ya...author tak pandai untuk mengekspresikannya😊😊
Lanjut ke episode berikutnya ya reader...jangan lupa mampir dan baca serta dukungannya !!