Sejuta Kenangan Bersamamu

Sejuta Kenangan Bersamamu
Bab 32 Rafli Andarian


__ADS_3

"Honey...aku bosan, aku mau jalan-jalan dulu ya malam ini!!" kata Pingkan tanpa menunggu persetujuan dari suaminya itu.


Indra hanya mengangguk saja.


"Terserah kamu sajalah Pingkan, toh jika terjadi apa-apa dengan bayimu itu tanggung jawabmu sendiri, aku sudah lelah berdebat denganmu!!" gumam Indra lalu kembali berbaring mengistirahatkan tubuhnya.


Sementara Elang yang sudah menerima telepon dari Indra bahwa Indra dan Pingkan sudah tiba di Jakarta, langsung kalang kabut!!


Dia bingung apa yang harus dia katakan pada Indra tentang kecerobohan dia dan istrinya Sheilla yang telah memecat Shanum dari rumah sakit tempat dia bekerja dulu.


"Kamu kenapa sih mas kok uring-uringan terus sama aku??" tanya Sheilla seolah tanpa dosa.


"Aku itu uring-uringan karena kamu!! apa yang harus aku jelaskan pada Indra tentang kelakuan kamu mengusir istrinya dari sini??" tanya Elang dengan nada mulai naik satu oktaf.


"Kamu kok bingung sih beb, bilang aja tuh perempuan berhenti sendiri, habis perkara!!" kata Sheilla santuy.


"Ooh gitu ya!!" kata Elang manggut-manggut tanda mengerti.


Mendengar suara Elang yang merendah, Sheilla senang menganggap Elang mau mengikuti usulnya.


Tiba-tiba...


"Kamu pikir segampang itu??" tiba-tiba suara Elang naik lebih meninggi lagi membuat Sheilla merasa sangat kaget.


"Kamu pikir semua orang di sini takut sama kamu Sheilla?? kamu lihat laki-laki muda yang bernama Rafli kemarin??" tanya Elang.


Sheilla hanya mengangkat bahu tanda tak peduli.


"Dia itu cucu pemilik rumah sakit ini, yang sengaja disusupkan kemari untuk mengamati perkembangan di rumah sakit ini, paham kamu??" sentak Elang.


"Dari mana mas Elang tau soal itu??" tanya Sheilla dengan suara bergetar.


"Dinding rumah sakit ini beserta temboknya mempunyai mata dan telinga, Sheilla...jadi kita tidak bisa berbuat semena-mena se kehendak hati kita!!" kata Elang dengan suara bergetar menahan amarahnya pada istrinya itu.


"Tau ah...aku sudah pusing dengan masalah ini, aku juga banyak pekerjaan yang harus aku kerjakan jadi kamu urus masalah kamu itu, bekerjasama lah dengan Pingkan, bukankah mengusir Shanum dengan cara memfitnah adalah juga ide dari kalian berdua??" tanya Elang lalu memilih pergi.


Kini gantian Sheilla yang pusing tujuh keliling memikirkan kemana Shanum pindah seperti yang dibilang Bandiah kemarin.


"Kemana sih janda pirang ini?? pakai acara pindah segala bikin susah aja!! apa aku temui aja si Bandiah ya....minta temeni dia nyari si Shanum." Gumam Sheilla.


Mau tidak mau dia bergidik juga melihat pemuda kemarin yang berani membuatnya diam tak bersuara.


Tatapan matanya lebih tajam dan dingin dari mata Elang suaminya, suaranya lebih datar dan juga lidahnya lebih berbisa dari lidah Elang.


"Atau aku harus menemui pemuda songong itu dulu ya?? tapi terus terang aku juga ngeri berhadapan dengannya." Ucap Sheilla.


Akhirnya dia memutuskan untuk menemui Bandiah dulu untuk bertanya sekaligus untuk minta tolong membantu mencari Shanum.


Bergegas Sheilla meninggalkan ruangan kerjanya yang berada di lantai 2 dan mencari Bandiah untuk bicara dan meminta Bandiah membantunya.


Tapi tak disangka dia bertemu dengan cowok es batu bernama Rafli itu.

__ADS_1


Matanya memandang dan menyorot tajam menatap Sheilla.


"Kenapa kamu menatap saya seperti itu?? kamu kagum dengan saya??" kata Sheilla percaya diri tetapi juga untuk mengurangi rasa groginya menghadapi pemuda di depannya itu.


Rafli tersenyum sinis menatap Sheilla dan juga mendengar perkataan Sheilla tadi.


"Tampaknya pak Elang salah memilih istri seperti anda nyonya, yang hanya dipoles tubuh dan wajah tetapi tidak pernah dipoles mulut dan hati." Jawabnya lalu melangkah meninggalkan Sheilla yang amat geram pada pemuda itu.


"Geramnya aku pada pemuda songong ini...betulkah dia ini cucu pemilik rumah sakit yang sengaja disusupkan kedalam rumah sakit ini sih??" gumam Sheilla dan juga berlalu.


"Mbak Sheilla mencari saya??" tanya Bandiah mendatangi Sheilla saat salah seorang perawat mengatakan padanya jika dia tengah dicari oleh istri kepala perawat itu.


"Iya mbak Di ada yang mau saya bicarakan dengan mbak Di!!" kata Sheilla.


Dalam hati Bandiah sudah bisa menerka arah pembicaraan istri bosnya itu.


"Mbak Di mau bicara apa ya??" tanya Bandiah berpura-pura.


"Keruangan saya saja ya...nggak enak kalau bicara di sini!!" kata Sheilla.


Sheilla berbalik diikuti oleh Bandiah menuju ruangannya.


"Duduk mbak!!" kata Sheilla.


Setelah keduanya sama-sama duduk barulah Sheilla membuka pembicaraannya.


"Mbak Di tentu tau keributan kemarin kan??" tanyanya to the point.


"Tepat sekali, saya pikir ini hanya salah paham yang harus segera diluruskan!!" kata Sheilla.


"Maksudnya diluruskan gimana ya mbak?? saya belum begitu paham!!" kata Bandiah yang memang belum begitu mengerti arah pembicaraan Sheilla.


"Saya harus menemui Shanum, apakah mbak Di tau di mana Shanum tinggal??" tanya Sheilla.


"Kan saya sudah bilang walaupun saya temannya tetapi dia tidak memberi tau saya di mana dia dan keluarganya tinggal!!" jelas Bandiah.


"Kenapa mbak Sheilla ngga jujur aja sama mas Indra kalau Shanum sudah dipecat karena sebuah kesalah pahaman agar permasalahannya bisa cepat selesai??" kata Bandiah.


Agak lama Sheilla terdiam mempertimbangkan perkataan Bandiah.


"Tetapi pertanyaannya, apakah Indra bisa menerima kalau Shanum dipecat atau nggak??" Sheilla bergumam tetapi masih dapat didengar oleh Bandiah.


Dalam hati Bandiah tersenyum.


"Rasakan kamu orang kaya sombong...seenakmu saja memecat orang lain tanpa persetujuan siapapun, kamu pikir kamu siapa??" batin Bandiah.


Sheilla tampak sakit kepala memikirkan masalah ini, tiba-tiba...


DDRRTTTT...DDDRRTTT


πŸ“±"Halo sepupu??"

__ADS_1


Terdengar suara ceria Pingkan dari sana.


πŸ“±"Halo beb...kamu sudah dimana??"


πŸ“±"Aku dan Indra sudah di Jakarta, besok kami naik penerbangan pagi ke Kalimantan...bagaimana kabar si pelakor itu?? apakah kamu sudah mengusirnya??"


πŸ“±"Nah itu sudah masalahnya, beb!! gegara aku ngusir dia dengan cara menfitnahnya menuruti saranmu, aku kini repot sendiri juga, bagaimana aku nggak repot seluruh orang termasuk suamiku sendiri menyerangku!!"


πŸ“±"Iya kah?? terus langkahmu selanjutnya apa??"


πŸ“±"Nah...ini yang aku belum tau, beb, tapi kamu tau?? ada cleaning service baru yang membela Shanum dan selalu mementahkan setiap perkataanku."


πŸ“±"Oh ya?? siapa dia hanya seorang cleaning service berani jual tampang pada orang-orang seperti kita??"


πŸ“±"Aku mendengar selentingan kalau pemuda itu adalah cucu pemilik rumah sakit ini!!"


πŸ“±"What?? berarti dia Rafli Andarian Alexander cucu Fabian Alexander."


πŸ“±"Kamu mengenalnya??"


πŸ“±"Dia pemuda bermata sangat tajam dan bermulut tajam seperti silet sehingga wajah tampannya tertutup oleh semuanya??"


πŸ“±"Kamu benar beb, orangnya memang seperti itu!!"


Sheilla mulai was-was mendengar penuturan Pingkan saudara sepupunya itu.


πŸ“±"Kamu carilah cara agar Shanum bisa kembali sebelum kita berdua kena masalah!!"


πŸ“±"Kalau aku memang sudah kena masalah dari awal gara-gara ikut membelamu!!"


Sheilla agak dongkol dengan sepupunya itu.


πŸ“±"Sudah dulu ya beb, Indra sudah memanggilku, aku putus dulu sambungan teleponnya."


Lalu sambungan telepon terputus dan hanya menyisakan keresahan di hati Sheilla.


"Kamu menelpon siapa?? tadi katanya mau keluar menemui teman-temanmu, cepat banget!!" kata Indra sambil mengucek kedua matanya.


Istirahat selama beberapa jam membuatnya sedikit lebih baik dan merasa jauh lebih sehat dan segar.


"Aku baru saja pulang, honey...aku sedang menelpon Sheilla mengatakan jika kita sudah ada di Jakarta." Kata Pingkan tersenyum manis pada Indra.


*


*


***Bersambung...


Siapa sebenarnya Rafli Andarian dan bagaimana sosok lelaki itu??"


Ikuti terus lanjutan kisah mereka dalam episode selanjutnyaπŸ™πŸ™

__ADS_1


__ADS_2