
"Bukankah dulu saat di Indonesia sifatnya pun sama?? datang jika ada maunya dan pergi setelah semua keinginannya terpenuhi!!' jawab Indra.
"Dia kan calon menantu terbaik pilihan mami dan papi tapi bukan keinginanku untuk menikah dengan Pingkan!!" jawab Indra datar.
"Nyatanya sudah seminggu ini, kabarnya aja tak ada apalagi menyemangati aku untuk sembuh??" kata Indra berusaha tabah.
"Aku selalu membayangkan Shanum ada di sini memberi kekuatan untukku, itulah yang membuat semangatku untuk hidup terus berkobar.
"Aku akan selalu mendukungmu, Ndra!!" kata Elang menepuk bahu sahabatnya.
***Flashback off***
"Maafkan aku Num, bukan maksudku untuk menyembunyikan tentang keadaan Indra...tetapi Indra sendirilah yang meminta aku merahasiakan tentang keadaannya padamu."
"Dia tidak mau membuatmu terus kepikiran padanya!!" lirih Elang saat dia sedang makan siang.
"Kamu kenapa sih beb, makanannya nggak enak??" tanya Sheila melihat Elang hanya mengaduk-aduk makanan di piringnya.
"Kulihat akhir-akhir ini kamu sering melamun, ada apa??" tanya Sheila lagi.
"Aku hanya kepikiran Indra, Shel...di Inggris dia seorang diri hanya ditemani oleh seorang maid saja." Kata Indra.
"Kan Pingkan selalu menemani, Indra??" tanya Sheila sambil mengunyah makanannya.
"Shel, kalau Pingkan selalu menemani Indra aku nggak akan segalau ini memikirkan keadaannya!!" kata Elang.
"Maksudmu??" tanya Sheila masih tak paham.
"Pingkan jarang ke apartemen Indra, dia sibuk dengan urusannya sendiri!!" jawab Elang.
Mereka berdua terdiam memikirkan nasib Indra di sana.
Sementara itu Shanum pergi menghadiri sidang perceraiannya dengan Rahman di pengadilan agama ditemani oleh Bandiah sahabatnya.
"Hari ini adalah sidang yang kedua semoga menjadi sidang terakhir agar masalah cepat kelar!!" ujar Shanum.
__ADS_1
"Bagaimana Num?? kamu sudah siap??" tanya Bandiah.
"Insya Allah aku siap, Di!!" kata Shanum mantap.
Di depan halaman pengadilan agama Shanum berpapasan dengan Rahman dan keluarganya.
Wajah mereka menatap sinis pada Shanum.
"Mau makan apa kamu setelah pisah dengan anak saya nanti?? bagus-bagus juga biaya hidupmu dan anak-anakmu ditanggung oleh Rahman...suami kerja banting tulang di Malaysia istri di rumah kok selingkuh!!" cibir ibu Wati ibunya Rahman.
Shanum berhenti mendengar perkataan ibu Wati. Dia menatap Rahman yang tersenyum sinis padanya.
"Memang ibu nggak tau kalau Rahman itu sudah 5 bulan lalu ada di Indonesia?? bahkan sejak 5 bulan lalu Rahman sudah menikah siri dengan Yanti dan sekarang istri sirinya sedang hamil."
"Dan maaf mengenai uang tanggungan Rahman yang ibu maksud, sudah 5 bulan ini juga saya dan anak-anak tidak menerima nafkah apapun, makanya saya menuntut cerai dari dia toh untuk apa saya menantikan suami yang sudah menikah dengan wanita lain?? ibu pikir tanpa nafkah saya dan anak-anak nggak bisa hidup, gitu?? saya bukan pengemis bu...saya masih mampu bekerja."
"Mestinya ibu bersyukur saya mengajukan gugatan cerai dengan biaya saya sendiri karena Rahman tidak mau mengeluarkan biaya sepeserpun dengan begitu dia bisa melegalkan pernikahannya dengan Yanti jadi anak di perut Yanti itu bisa mendapatkan pengakuan agar bisa membuat akta kelahiran, bukan begitu Rahman??" tanya Shanum sejak mereka tak lagi bersama, tak ada embel-embel mas lagi di depan nama Rahman karena Shanum malah geli jadinya.
Ibu Wati tampak syok berat mendengar penuturan Shanum begitu pun keluarganya yang lain.
Rupanya selama ini Rahman memutar balikan fakta dengan mengatakan bahwa Shanum lah yang telah berselingkuh.
PLAKKK...
Tiba-tiba sebuah tamparan dilayangkan kak Sarti ke pipi Rahman bolak balik.
"Pantas selama ini mbak ngerasa ada yang janggal dengan ceritamu, Rahman!! ternyata kamu memutar balikan kenyataan membodohi aku kakakmu juga menghasut ibu dan bapak agar ikut membenci Shanum, kalau mbak berada di posisi Shanum, bukan hanya tuntutan cerai yang mbak ajukan juga termasuk hak dan biaya untuk anak-anak akan mbak ajukan di pengadilan." Tutur Sarti dengan geram mendengar penuturan Shanum tentang kelakuan adik bungsunya itu.
Mbak Sarti mendekati Shanum.
"Maafkan kami ya Num, selama ini kami terhasut oleh cerita bualan Rahman tentangmu, sebenarnya mbak juga nggak percaya begitu aja karena mbak tau kamu itu tipe istri yang bagaimana, sudah terbukti selama 10 tahun ini kamu memperjuangkan kehidupan rumah tanggamu karena perjodohan ini!!" kata Sarti.
"Sekarang jika kamu mau bercerai dari Rahman, mbaklah orang pertama dari keluarga kami yang akan mendukungmu karena tak ada satu perempuan pun yang hidupnya ingin di poligami."
"Hanya Rahman sajalah lelaki bodoh yang melepaskan permata dan menukarnya dengan emas sepuhan!!" cibir mbak Sarti pada adiknya.
__ADS_1
Mereka lalu masuk keruang persidangan dan menyisakan wajah Rahman yang merah padam karena marah dan malu tentang perselingkuhan dan kebohongannya pada Shanum.
Ibu Wati tak hentinya menangis. Dia tau Shanum menantu yang baik. Ibu Wati bersikap kasar pada Shanum karena hasutan Rahman putranya.
Rahman tak bisa banyak berbuat apa-apa karena di sini dia lah yang salah, masih untung pihak Shanum tak menuntut ini dan itu dengan syarat agar Rahman dan keluarga barunya jangan mengganggu kehidupan Shanum dan anak-anaknya lagi.
Palu sudah diketuk, Shanum dan Bandiah tersenyum lega.
Shanum menyalami ibu, bapak dan mbak Sarti tapi tidak dengan Rahman, dia melewati Rahman begitu saja.
Tiba-tiba Rahman nyeletuk...
"Selamat menjadi janda mantan istriku, semoga hidupmu akan baik-baik saja setelah berpisah denganku!!" kata Rahman.
"Terima kasih mantan suami...saya bersyukur akhirnya berpisah juga denganmu, saya pastikan hidup kami akan jauh lebih baik tanpa ada kamu lagi bersama kami!!" ucap Shanum menimpali ucapan Rahman.
Senyum mengejek Rahman seketika lenyap mendapat jawaban balik dari sang mantan istri.
"Dan aku pastikan aku tidak akan membiarkan kamu bahagia!!" ketus Rahman.
"Oohhh silakan saja, ini perkataanmu sudah saya rekam dalam ponselku, jika suatu hari terjadi sesuatu pada saya atau pada anak-anak itu berarti ulahmu dan saya tak usah susah-susah mencari pelakunya karena sudah pasti kamulah tersangka utamanya, dan saya akan langsung melapor pada polisi untuk menangkap dan memenjarakanmu."
:Dan akan saya sumpahi semoga saat istri melahirkan bukan kepala yang akan keluar duluan tapi kaki atau tangan bayinya, biar mampus kalian berdua!!" balas Shanum mengejek lalu pergi berlalu bersama Bandiah.
"Siaaallll kamu Shaanuummm!!" umpat Rahman.
Perceraiannya dengan Shanum bukan membuatnya lega, justru membuatnya kesal mengapa mantan istrinya itu akhirnya menggugat balik dirinya??
Selama ini Shanum yang dia lihat selalu diam walaupun dia hina seperti apapun kini telah berubah menjadi Shanum yang berani menentangnya dan membalikan semua perkataannya dan sering membuatnya mati gaya!! Inikah karakter asli mantan istrinya itu yang sesungguhnya, dan selama ini rupanya dia hanya pura-pura mengalah??
*
*
***Bersambung...
__ADS_1
Kena batunya kau kini Rahman, semut aja jika diinjak akan menggigit!! apalagi seorang Shanum??ππ
Jangan lewatkan kisah mereka selanjutnya di next episode ya readerππ