
Dia mengambil obat-obatan yang ada di meja lalu mengambil jaket hodienya dan cepat pergi menuju ke kost-kostannya menggunakan ojek online.
Dengan cepat dia mengumpulkan bajunya kedalam ransel. Mengecek uang dan perhiasan yang dia bawa serta beberapa topeng miliknya.
Tak lupa obat-obatan dari dokter tadi lalu naik ojek yang dia pesan tadi menjauh dari tempat itu.
"Jika begitu keadaannya dokter, ayo cepat kita memeriksa keadaan mbak Wiwi!!" kata ibu pemilik kost.
Dengan cepat mereka berdua menuju keruang perawatan Sheilla.
"Astaghfirullah...!!" kata ibu kost kaget melihat ceceran darah di lantai disertai infusan dan perban yang berserakan di lantai.
Mereka tak menemui Sheilla sama sekali di ruangan itu.
"Suster...!!" teriak dokter tersebut.
Beberapa orang perawat berdatangan.
"Apa kalian melihat kemana pasien di kamar ini perginya??" tanya dokter tersebut.
"Kami tidak melihatnya dokter, kamu tadi sedang over shift sama perawat yang pagi!!" jawab mereka yang juga kelabakan mencari pasien yang hilang itu.
"Maaf dokter, sebaiknya saya pulang dulu mungkin dia sudah pulang ke kost-kostan lebih dulu!!" kata ibu kost.
Tapi alangkah kagetnya dia sesampainya di kamar Sheilla, rumah petak itu sudah kosong tak ada Sheilla di dalamnya.
"Siapa kamu sebenarnya mbak Wiwi?? benarkah kamu adalah seseorang yang menyamar??" kata ibu kost.
Sementara itu di tempat Hansen dan Anna.
"Sayang...tadi aku hendak belanja ke supermarket tapi kulihat ada banyak polisi dan menyebar foto kita bertiga di selebaran, aku takut banget!!" kata Anna.
"Kalau kita tidak bisa keluar, terus kita mau makan apa?? aku bosan makan nasi bungkus terus setiap hari, rasanya aku mau muntah!!" kata Anna.
"Terus mau kamu bagaimana?? apakah kamu mau masuk penjara lagi dan menghabiskan sisa hidupmu di sana??" tanya Hansen pada kekasihnya itu.
Anna hanya menggelengkan kepalanya saja.
"Ya sudah...kita jalani saja kehidupan kita seperti sekarang ini!!" kata Hansen.
***********
Pingkan masih berpura-pura bertingkah seperti orang gila dan itu semua tak sedikitpun luput dari pengawasan Rafli Andarian yang sengaja menyamar menjadi perawat di rumah sakit jiwa itu.
"Bang*sat...lama-lama kubunuh juga perawat baru yang bertugas menjagaku itu, bagaimana aku bisa beraksi jika dia selalu standby mengawasi aku??" gumam Pingkan sambil matanya melirik Rafli.
"Nyonya cantik, ibu anda datang berkunjung!!" kata salah seorang suster perempuan lalu datang menghampiri dan menggandeng tangan Pingkan membawanya menemui maminya di ruang tunggu.
"Halo sayangku??" kata mami Prianka sambil memeluk putrinya yang berpura-pura tampak seperti orang bodoh dan linglung.
"Bagaimana pistol yang mami sisipkan, apakah masih kamu simpan dan masih ada pelurunya??' bisik mami Prianka di telinga Pingkan.
"Masih mi tenang saja!!" bisik Pingkan pura-pura tertawa-tawa.
"Baguslah, mami mendapat kabar bahwa sore ini madu kamu itu bersama suaminya tercinta hendak memeriksakan kondisi jahitan di kepalanya dan perutnya yang kamu injak saat itu!!" bisik mami Prianka.
"Mami doakan semoga dia jadi mandul!!' kata mami Prianka geram.
__ADS_1
Kelakuan kedua anak beranak itu tak luput sedikitpun dari pengawasan Rafli Andarian.
"Apa lagi yang akan direncanakan dua iblis betina itu?? aku harus senantiasa waspada!!" batin Rafli.
"Mi, Pingkan benci sama perawat laki-laki yang baru itu!!" tunjuk Pingkan menggunakan isyarat bibirnya menunjuk Rafli.
"Ya kalau kamu benci sama dia tinggal kamu dor saja saat dia lengah, toh nggak akan ada yang bisa menyalahkanmu karena kamu kan tidak waras!!" kata mami Prianka memberi saran gila pada putrinya.
"Iya juga ya mam...kenapa tidak terpikirkan oleh Pingkan, ya??" kata Pingkan.
"Kita tunggu saja, jika dia masih mengawasi aku seperti seorang buronan maka akan aku dor kepalanya!!" kata Pingkan menyeringai.
Sementara Rafli yang tengah mengawasi gerak gerik Pingkan tersenyum simpul.
Dia sudah memasang alat perekam di tubuh Pingkan saat wanita jahat itu tengah tertidur.
"Kamu mau menembak aku Pingkan?? Kita lihat saja siapa yang akan tertembak!!" gumam Rafli.
Sementara itu...
"Rafli di sana apa kabarnya ya?? kok aku jadi khawatir ya??" gumam Bandiah sambil duduk di kamar kostnya yang sempit.
Ini sudah kesekian harinya Rafli menyamar menjadi perawat Pingkan tetapi Rafli belum ada memberinya kabar sama sekali.
"Di....Di...nyadar Di!!" Bandiah meringis dalam diamnya.
"Kamu itu siapanya Rafli, Di?? kamu itu bukan siapa-siapanya Rafli, ingat itu!!" gumam Bandiah sendirian.
"Jangan kamu berharap lebih padanya, sudah untung dia mau bersahabat dengan seorang wanita berstatus janda sepertimu, hidup sebatang kara tidak punya siapa-siapa, miskin pula!!" gumam Bandiah sambil tertawa getir memikirkan nasib hidupnya.
Dengan ogah-ogahan Bandiah membuka pesan itu.
Rafli
Bagus ya...kalau nggak ditanya, nggak mau kasih kabar duluan!!"
Bandiah menajamkan matanya untuk melihat lebih jelas pesan yang ditulis dan dikirim oleh Rafli.
Bandiah
"Kan kamu lagi sibuk...aku nggak enaklah mau mengganggu pekerjaan kamu!!"
Rafli
"Dasar nggak pekaπ€¨π€¨
Bandiah
"Justru karena aku peka makanya aku nggak mau mengganggumu!!"
Rafli
"Gimana kabarnya mbak Di??"
Bandiah
"Kalau aku sih baik aja, kok kamu nggak bertanya kabarnya Shanum??"
__ADS_1
Rafli
"Kalau mbak Shanum sudah ada yang mengurusi, masa iya aku mau nanya kabar bininya orang?? mending aku nanya kabar yang nyata-nyata masih single supaya nggak jadi masalah, disangka aku nanti seorang pebinor lagi.
Bandiah
πππππ
Rafli
"Kok tertawa sih?? aku serius tauπ€¨π€¨
Bandiah
"Iya aku percaya...kabarmu di sana bagaimana??"
Rafli
"Tidak terlalu baik, aku harus ekstra kerja keras karena orang yang kuhadapi sekarang adalah orang yang licik dan amat berbahaya."
Bandiah
"Ya sudah kamu hati-hati di sana, ya!! ππ
Rafli
"Terima kasih mbak Di, tersayang..."ππ
Bandiah merasa dirinya dilambungkan di atas awan walaupun dia tau jika Rafli itu kalau bicara lebih banyak bercandanya daripada seriusnya, tapi tetap saja hatinya terasa berbunga-bunga indah.
"Rafli...Rafli...cah gemblung!!" sungut Bandiah tapi sambil tersenyum.
*********
Elang menatap Shanum dalam diamnya.
"Aku tak pernah berhenti mengagumi kamu, Num...walaupun kamu telah memilih dia sebagai pendamping hidupmu." Batin Elang.
"Biarlah perasaanku kusimpan rapat di dalam hatiku dan tidak ada yang tahu tentang rasa sayangku kepadamu!!" batin Elang lagi.
Dia melihat betapa sayangnya Indra pada Shanum. Tak sedetikpun lelaki tampan itu melepaskan genggaman tangannya pada tangan Shanum.
"Bagaimana keadaannya??" tanya Elang saat melihat Indra dan Shanum telah keluar dari ruangan dokter.
"Alhamdulillah, Lang!! keadaan istriku sudah membaik kembali!!" kata Indra sambil menatap istrinya dengan tatapan mesra.
"Sialan....di mana sih aku meletakan peluru sialan itu??" gumam Pingkan yang tampak membongkar isi laci di kamar ruang perawatannya.
*
*
***Bersambung...
Apa rencana Pingkan selanjutnya??
Nantikan kisah mereka dalam.episode selanjutnya dan jangan lupa dukungannya yaππ
__ADS_1