
Pingkan menarik napas. Jika sudah begitu, walaupun dia menelpon sampai ponselnya jebol sekalipun Indra tak akan merespon panggilannya!!
"Ada apa sih dengan dia?? beberapa hari ini kulihat dia galau melulu seperti sedang memikirkan sesuatu??" batin Pingkan.
"Honey, aku seorang wanita....aku merasa kini kamu telah berubah!! tatapan matamu tak sehangat dulu, keberadaanmu di sampingku dan menemaniku hanya menjadi sebatas kewajibanmu sebagai tunanganku bukan datang dari hatimu sendiri."
"Apakah cintamu kini telah terkikis oleh waktu??"
"Entah mengapa aku sering merasa cemburu, saat aku melihat kamu berbalas pesan dengan seseorang yang aku tak tau itu siapa, sepertinya kamu sangat bahagia, binar matamu tak bisa membohongi semua itu, kamu tau honey...aku sakit, tapi kucoba untuk mempertahankan hubungan ini!!" kata Pingkan lirih.
Kini ada 3 hati yang tengah terluka. Shanum, Pingkan dan Indra.
***************
Shanum pagi-pagi lebih cepat membersihkan ruangan Elang dan Indra untuk menghindari bertemu keduanya terutama dengan Indra.
Pukul 6 lewat 45 menit Elang dan Indra datang bersamaan, sama-sama dengan wajah yang kusut dan mood yang buruk.
Shanum yang meloby di koridor mengangguk sedikit pada keduanya lalu melanjutkan kembali pekerjaannya.
Elang melirik Indra yang sejak tadi tak lepas menatap Shanum.
"Apa kami berdua jatuh hati pada wanita yang sama??" batin Elang.
"Aku suntuk, aku minta dibuatkan kopi dulu!!" ucap Indra lalu berdiri dari duduknya dan melangkah keluar menuju pantry.
Tapi alangkah kecewanya Indra saat tak menemukan Shanum bahkan sweater biru laut yang biasa digunakan Shanum bekerja tak ada tergantung di Janitor.
"Kemana dia??" gumam Indra.
"Bapak mencari siapa ya??" tanya seorang cleaning service pada Indra.
"Lho kok kamu?? Shanumnya mana??" tanya Indra.
"Untuk sementara mbak Shanum di tempatkan di gedung baru pak, saya yang menggantikan mbak Shanum di sini!!" katanya.
Wajah Indra berubah. Dengan cepat dia pergi ke lantai dua menemui Bandiah.
"Mbak Di...Shanum memang dipindahkan dari sini kegedung sebelahkah??" tanya Indra.
Bandiah yang sedang sibuk dengan pekerjaannya tentu saja kaget mendengarnya.
"Rasanya nggak deh mas Indra!!" kata Bandiah.
"Itu cleaning service yang baru tadi yang bilang pada saya." Wajah Indra mengeras kentara sekali dia tak suka dipindahkan dari sana.
__ADS_1
"Coba nanti saya tanyakan ya mas, apa benar demikian??" kata Bandiah mencoba menenangkan Indra.
"Jatuh cinta...pak Indra bukan hanya sekedar suka sama Shanum, tetapi juga cinta!!" batin Bandiah.
"Aku tau, pasti Shanum sendiri yang meminta pindah dari sini." pikir Bandiah lagi.
Indra kembali keruangannya seperti orang baru bangun tidur. Wajahnya kusut masai.
"Kamu bikin kopi di mana??? Di Hongkong??? lama amat?? terus kopinya juga mana?? wah curang kamu ini, pantas lama sekali kamu minum di pantry ya??" tuduh Elang.
"Kopi apa sih?? aku lagi nyari Shanum!! sepertinya dia tak bertugas lagi di gedung lantai 3 ini!!" kata Indra.
"Apa?? kok bisa??" tanya Elang juga ikutan panik.
"Kok kamu panik begitu??" tanya Indra melirik sahabatnya.
"Kamu sendiri lebih panik dari pada aku, jujur Dra kamu suka sama Shanumkan??" cecar Elang yang membuat Indra terdiam.
"Iya, aku suka sama Shanum...jangan bilang kamu juga suka sama dia??" kata Indra mendelik pada sahabatnya.
"Jujur Ndra aku juga suka sama Shanum, tapi akal sehatku masih jalan!! aku ini sudah bertunangan dengan Sheila sama sepertimu yang sudah bertunangan dengan Pingkan."
"Aku tidak mau ada hati yang tersakiti karena perbuatanku."
"Hati Sheila, hatiku terutama hati Shanum!! kamu pikir setelah kamu lambungkan mimpinya kelangit ketujuh tapi setelah itu kamu hempaskan lagi ke samudra yang tak berdasar dia tak merasa sakit??" tanya Elang.
"Bohong jika aku menampik untuk mengatakan, aku jatuh hati padanya sebelum aku melihat wajahnya, bahkan." Kata Elang.
***POV ELANG***
"Ya Tuhan, mata wanita ini indah sekali??? siapa dia ya??? aku beralasan saja marah-marah padanya karena telah menabrak motorku!!"
"Oh namanya Shanum!! dia bekerja di rumah sakit ini?? senangnya!! aku bisa melihat dan ketemu dia setiap hari."
"Masya Allah, cantik banget!! bukan hanya matanya yang Indah tetapi wajahnya cantik banget!!"
"Mungkin jika dibandingkan dengan Sheila, dia masih kalah cantik tetapi dia mempunyai aura wajah yang sangat mempesona, kecantikan yang dia miliki berbeda dengan kecantikan wanita yang sering kutemui, dia amat istimewa...beruntung aku tadi sempat melihat wajahnya!!"
"Rupanya kita menyukai wanita yang sama!!" desis Elang.
Indra dan Elang sama-sama terdiam larut dalam pikiran masing-masing.
*************
Shanum duduk bersandar pada kursi plastik di area kerjanya yang baru. Entah ini memang secara kebetulan ataukah semesta yang memang tidak mengijinkan mereka bertiga berkumpul untuk saling menyimpan rasa.
__ADS_1
"Pak Elang, pak Indra...maafkan saya ya!! mungkin dengan cara ini saya bisa menghindari kalian berdua."
"Saya rasa kalian saling cocok dengan pasangan masing-masing, saya akan pergi menjauh." Lirih Shanum.
"Num!!" sebuah suara lembut mengagetkannya.
Dengan cepat Shanum membuka mata karena merasa mengenali suara yang sejak pagi tidak dia dengarkan dan masih dia rindukan.
"Pak Indra!!" lirih Shanum membatu di kursi plastiknya.
Di depan pintu janitor Indra berdiri masih lengkap dengan seragam perawatnya.
Mereka berdua saling menatap tanpa bisa mengeluarkan sepatah katapun.
"Saya kangen sama kamu, Num!!" ucap Indra membuat jantung Shanum berdebar kencang.
Tak dipungkirinya sejak kemarin dia juga merindukan lelaki itu, tetapi apa daya antara Shanum dan Indra ada dinding pemisah yang tinggi.
"Kamu nggak kangen sama saya, Num??" bisik Indra.
"Saya...!!"
Belum selesai Shanum bicara Indra telah menyela perkataan Shanum.
"Tidak usah kamu katakan saya sudah tau kamu juga merindukan saya, Num."
"Saya bisa mempelajari bahasa tubuh kamu, binar matamu saat melihat saya, bahkan suara debaran jantung kamu pun bisa saya hitung!!" lirih Indra.
"Saya tunggu kamu nanti sore di jalan mau keluar rumah sakit, tak enak rasanya kita berbicara di sini...saya pergi dulu ya!!" seperti biasa Indra menoel puncak hidung bangir itu sambil tersenyum.
Setelah Indra keluar kembali Shanum sendirian.
"Ya Allah...saya pindah ke area kerja yang baru untuk menghindari mereka berdua kok malah pak Indra menyusul saya kemari??" desis Shanum.
"Jujur saya memang merindukan pak Indra!! jujur saya merasa sakit melihat kemesraan mereka kemarin tetapi mengapa saya masih mau menemuinya??" lirih Shanum menahan kesedihannya.
"Tuhan, mengapa tidak Engkau pertemukan kami semenjak dulu?? mengapa baru sekarang?? kalau sejak dulu kami bertemu tentu tak akan ada hati yang terluka seperti sekarang ini!!" butiran-butiran bening mengalir dari dua kelopak mata indah itu.
*
*
***Bersambung...
Bukan perjalanan hidup namanya jika lurus-lurus saja, jika mulus-mulus saja seperti jalan tol, benar tidak??
__ADS_1
Mphon dukungannya selalu ya reader!!🙏🙏