
"Masa kamu lupa, aku pernah membelikannya untukmu waktu itu, kemarin kumasukan kedalam keranjang kotor karena kulihat dalaman itu sudah lama ada di lemari dari pada nanti kamu gatal saat memakainya, jadi kumasukan kedalam keranjang kotor supaya bisa kamu cuci!!" alasan Hansen memang terdengar masuk di akal hingga Anna tidak bertanya lagi.
HUFT...
"Hampir saja..."desis Hansen lalu kembali ke meja makan untuk meneruskan sarapannya yang tertunda hanya karena perkara dalaman.
Di tempat kediaman Sri juga demikian.
"Dek...dek...ini ********** kok kedodoran banget sih?? kamu setrika ya?? kok pinggang sama area depannya kebesaran...jangan disetrika begini dong dek!!" kata suami Sri yang postur tubuhnya memang kecil.
"Waduh maaf kang...iya Sri lupa ikut kena setrikaan kayaknya!!" ucap Sri menutupi kegugupannya.
"Ya iya lah kedodoran...perbandingannya ibarat pisang ambon dan pisang maulin!!" gumam Sri.
"Waktu masuk aja areaku terasa sesak sementara kalau punya kang Darto aku malah nggak merasakan apapun!!" desis Sri.
"Kok kamu malah bengong toh dek, ini ********** gantikan sama yang lain aja, bisa gondal gandil punya akang kalau memakai ini!!" kata Darto lagi.
"Syukur, kang Darto tidak bertanya lebih lanjut!! gegara kemarin terburu-buru jadi kami salah pakai dalaman, lain kali musti hati-hati lagi nih!!" gumam Sri membawa dalaman milik Hansen kedalam kamar dan menyimpannya.
***********
Sesekali Sheilla mengusap keringat yang mengalir deras di dahinya.
Sebenarnya kondisi tubuhnya belum begitu fit untuk menempuh perjalanan dengan bergonta ganti kendaraan selama berjam-jam.
Dia merasakan sakit di area sekitar perutnya. Sehingga saat bis yang dia tumpangi memasuki terminal, Sheilla bergegas turun dan mencari warung untuk membeli makanan sekedar pengganjal perutnya.
"Perjalananku masih 5 jam lagi mungkin menjelang maghrib baru aku bisa tiba di pemakaman, maafkan kakak ya Pingkan, tidak sempat melihatmu untuk yang terakhir kalinya, siapa yang telah membuatmu jadi orang lemah dan bodoh begini Pingkan??" gumam Sheilla berusaha dengan cepat mengunyah dan menelan makanan di mulutnya.
Setelah membayar makanannya dan membawa sedikit bekal untuk di perjalanan, Sheilla kembali mencari bis tujuan kotanya.
Sementara di pemakaman mama Prianka terus menangisi makam putrinya.
"Puas kamu Tiara melihat aku menderita begini kehilangan putriku karena ulah putramu dan istri sirinya??" kata mami Prianka.
Para pelayat yang ada di situ sudah banyak mendelik pada mami Tiara mendengar cerita dari mami Prianka.
"Kenapa kamu menyalahkan putra dan menantuku, Prianka...bukankah anakmu sendiri yang berselingkuh dan hamil dari laki-laki lain sementara dengan besar hati aku sekeluarga mencoba untuk menutup aib keluargamu, tapi apa balasan anakmu??" kata mami Tiara dengan tenang sehingga membuat orang banyak di situ tidak jadi mau menghujat mami Tiara dan rombongannya.
"Aku dan suamiku datang kemari karena ingat akan persahabatan kita dan mengingat Pingkan pernah menjadi menantuku dan menjadi bagian dari keluarga kami walaupun kesalahannya tak terhitung pada istri Indra yang sekarang, tapi kami berusaha memaafkan dan mengikhlaskan agar almarhumah bisa pergi dengan tenang!!" kata mami Tiara.
"Kami datang kesini juga dengan niatan yang baik, tapi jika kalian semua yang ada di sini merasa terganggu, kami permisi!!" kata mami Tiara.
__ADS_1
"Maafkan istriku Jonas, dia terlalu bersedih atas kehilangan putri kami satu-satunya, terima kasih kamu dan Tiara sudah menyempatkan datang kemari!!" kata suami Prianka yang selama ini lebih bersikap netral tidak memihak siapapun.
Pemakaman telah sunyi hanya tinggal mami dan papi almarhumah di sana sementara para bodyquard mereka menunggu di mobil.
Sesosok tubuh tinggi langsing berperawakan seperti Pingkan tengah menggendong ranselnya menuju kepemakaman.
"Mami...papi..." sapanya pada sepasang suami istri itu.
Mendengar suara yang mirip sekali dengan Pingkan, mami Tiara cepat menoleh.
"Siapa kamu??" tanya suami Prianka.
"Sheilla??" kata mami Prianka.
"Ssttt....jangan nyaring-nyaring mi, Sheilla nggak mau ada yang tau tentang penyamaran Sheilla ini." Kata Sheilla.
"Kamu dari mana aja nak??" kata mami Prianka sambil memeluk ponakannya itu.
"Sheilla, sebaiknya kamu menyerahkan diri saja kepada polisi nak!!" kata suami Prianka.
"Apa papi bilang?? menyerahkan diri ke polisi?? ohh no...tidak bisa dan tidak boleh, mami sudah kehilangan Pingkan dan mami tidak ingin kehilangan Sheilla juga!!" jawab mami Prianka tegas.
"Haahhhh terserah mami sajalah...papi tidak ikut-ikutan!!" kata papi sambil melangkah menuju ke mobilnya.
"Belum mi, dari bis tadi Sheilla langsung naik ojek kemari, karena Sheilla harus berhati-hati dalam perjalanan takut tertangkap oleh polisi!!" kata Sheilla.
"Kedua orang tua kamu tadi juga habis dari sini tetapi papimu cepat membawa mami kamu pulang saat dia syok melihat Pingkan hendak di masukam ke liang lahat!!" kata mami Prianka dengan mata berkaca-kaca.
"Sebaiknya kamu ikut mami pulang, Sheilla...nanti kita pikirkan bagaimana caranya menemui kedua orang tuamu!!" kata mami Prianka.
"Tapi papi tampaknya tidak begitu senang pada kehadiran Sheilla, mi!!" kata Sheilla lagi.
"Halah...biarkan saja papi Pingkan sama papimu sama-sama menjengkelkan!! biarkan saja, mereka tidak akan mempunyai keberanian juga untuk membocorkannya kepada pihak kepolisian." Jawab mami Prianka.
"Ayo kita pulang nak, mami lihat wajahmu pucat sekali, apakah kamu sakit??" tanya mami Prianka setelah dia melihat Sheilla membuka topeng tipis yang menempel di wajahnya.
"Sheilla terkena radang usus mi, mungkin karena pola hidup Sheilla yang kurang teratur dan juga makanan yang Sheilla makan selama dalam pelarian juga tidak layak yang membuat sistem pencernaan Sheilla jadi terganggu." kata Sheilla.
Mobil mereka melaju menuju mansion Prianka dengan membawa beserta Sheilla di dalammya.
***************
Malam itu Rafli berkunjung ke kost-kostan Bandiah.
__ADS_1
"Masalah Pingkan sudah selesai dengan berakhirnya nyawa Pingkan, apakah jika kamu berhasil menangkap Sheilla dan dua anteknya maka kamu akan kembali ke Jakarta, Rafli??" tanya Bandiah tiba-tiba pada Rafli.
"Tentu, aku kan aslinya dinas di sana rumahku di sana, di sini di rumah sakit di kota ini sudah dikelola dengan baik oleh ahlinya, jadi aku tidak perlu merasa khawatir lagi!!" jawab Rafli mantap.
Bandiah seketika terdiam. Ada rasa sedih di hatinya saat mendengar bahwa Rafli akan pergi jika masalahnya di kota ini sudah selesai.
"Lagi pula mbak Shanum sekarang sudah bahagia kok, aku tidak pantas untuk mengganggu kebahagiaannya!!" jawab Rafli sambil tersenyum.
Bandiah tau ada rasa sedih di setiap ucapan Rafli jika itu menyangkut soal Shanum.
"Iya...lagian jika tugasmu sudah selesai terus Shanum juga sudah bahagia, itu artinya kan kamu sudah tidak punya kepentingan apapun lagi di kota ini kan??" kata Bandiah berusaha tersenyum menyembunyikan kesedihannya.
"Oh iya, itu kamu bawa apa??" tanya Bandiah mengalihkan pembicaraan mereka supaya dia juga tidak terbawa suasana.
"Ah iya hampir lupa, ini martabak telur dan mie goreng kesukaan mbak Di!!" ucap Rafli sambil menyodorkan dua buah bungkusan pada Bandiah.
"Sebentar ya aku ambilkan tempat di dapur sekalian aku ambilkan minum!!" kata Bandiah.
Dengan cepat Bandiah masuk tapi tujuannya ke kamar mandi dulu, sudah sejak tadi dia berusaha menahan lelehan air matanya.
Dia tidak mau Rafli tau bagaimana perasaannya yang sesungguhnya.
"Tak ada kah tempat barang sedikitpun di hatimu untuk aku Rafli ??" jerit hati Bandiah.
Hanya air matanya saja mengucur deras tak bisa dia bendung lagi.
"Mbak Di...lama amat di dapurnya??" tanya Rafli berteriak lalu menyusul kedapur.
"Ambil saja dulu Rafli!! aku lagi sakit perut!!" kata Bandiah bicara dusta.
Setelah puas menangis dia keluar dari kamar mandi tapi dia tidak menemukan Rafli di sana hanya martabak yang sudah tertata rapi di atas piring dan dua bungkus mie goreng serta sebuah tulisan tangan di kertas.
"Aku tau mbak Di sedang ada masalah, aku pulang dulu aku nggak mau mengganggu mbak Di lebih lama...selamat beristirahat dan selamat tidur!!! mimpikan aku dalam tidurnya mbak Di, ya...!!!"
*
*
***Bersambung...
Memendam rasa memang sakit, tapi lebih sakit lagi mengutarakan rasa dan ternyata dia tak mempunyai rasa apapun kepada kita!!
Lanjut ke next episode ya reader🙏🙏
__ADS_1