
"Jujur saya memang merindukan pak Indra!! jujur saya merasa sakit melihat kemesraan mereka kemarin tetapi mengapa saya masih mau menemuinya??" lirih Shanum menahan kesedihannya.
"Tuhan, mengapa tidak Engkau pertemukan kami semenjak dulu?? mengapa baru sekarang?? kalau sejak dulu kami bertemu tentu tak akan ada hati yang terluka seperti sekarang ini!!" butiran-butiran bening mengalir dari dua kelopak mata indah itu.
Sementara dari tempat yang agak tersembunyi, Elang rupanya mengikuti Indra.
"Nekad kamu Ndra, bagaimana jika hubunganmu dan Shanum diketahui oleh Pingkan?? kamu tak memikirkan betapa nanti Shanum akan lebih menderita?? dasar manusia bodoh!!" geram Elang lalu kembali keruangannya.
Apa yang ditakutkan Elang terbukti. Begitu dia masuk keruangannya, dia melihat sudah ada Pingkan dan Sheila yang sengaja mampir ke situ dari kantor mereka.
"Lho kok kembali sendiri beb...Indra mana??" tanya Sheila.
"Indra tadi ke kamar kecil dulu!!' dusta Elang.
Tak lama Indra masuk. Kini wajahnya tampak sumringah. Bukan karena kehadiran Pingkan di kantornya, tetapi karena nanti sore dia ada janji mau bertemu dengan sang pujaan hati.
Elang memandang Indra dengan tajam.
"Honey, aku sengaja datang kemari mau mengajakmu keacara temu keluargaku nanti malam!! habis kamu di telepon nggak pernah bisa, jadi aku memutuskan untuk datang langsung kemari menjemputmu." Kata Pingkan.
"Harus malam inikah?? nggak bisa besok malam??" tanya Indra dengan wajah yang mulai berubah.
"Tetapi sebentar sore kita ada meeting dengan direktur, ya kan Lang??" tanya Indra minta dukungan sahabatnya.
"Pertemuannya itu besok Ndra, bukan hari ini!!" kata Elang membuat Indra semakin terpojok.
"Maafkan aku Ndra, aku nggak tega melihat Shanum semakin tersakiti!!" batin Elang.
"Aku nggak mau tau honey pokoknya kita harus pergi bersama, nanti sore temenin aku ke salon dulu juga sekalian memperbaiki penampilanmu."
Indra hanya terdiam. Jika sudah begitu dia malas jika mulai beradu debat dengan Pingkan.
Dengan lesu Indra masuk keruangannya meninggalkan mereka semua yang ada di situ.
Kelakuan Indra tak luput dari perhatian Sheila.
__ADS_1
"Ayolah Pingkan, kita kembali ke kantor!!" kata Sheila.
"Pingkan, aku melihat Indra sekarang agak berubah ya?? atau hanya perasaanku saja??" tanya Sheila yang merupakan teman dan sepupu Pingkan.
"Aku juga merasa begitu, apakah aku ini kekasih yang menjengkelkan, Sheila?" tanya Pingkan dengan raut wajah sedih.
"Jangan berkata begitu, kamu kekasih yang baik dan pengertian, wajar kita menuntut dari pasangan kita selama yang kita tuntut hal yang masih wajar!!" ucap Sheila.
************
Shanum berdiri di jalan agak jauh dari gerbang rumah sakit setelah tadi dia kalah bertarung dengan perasaannya sendiri.
Awalnya tadi dia berperang dengan perasaannya antara mau menemui Indra atau kah tidak.
Ternyata rasa cinta mengalahkan ego nya untuk tetap harus bertemu dengan Indra.
Hampir setengah jam dia berdiri menunggu Indra tanpa dia berani untuk WA balik.
Dan Indrapun sebenarnya ingin menelpon Shanum tetapi tidak berkesempatan karena Pingkan sejak tadi siang sampai pulang selalu menempel kemana-mana.
Tapi dia bahagia itu artinya firasatnya benar bahwa Shanum juga memiliki perasaan yang sama dengannya.
"Maafkan saya Shanum, tapi lain kali saya akan menepati janji !!" batinnya.
Shanum menatap nanar pada mobil yang barusan lewat di depannya. Dia melihat Indra bersama tunangannya pergi bersama. Indra hanya tersenyum padanya lalu melewatinya begitu saja.
"Apa-apaan pak Indra ini?? mau satu jam aku berdiri di sini seperti orang bodoh menunggunya, jika tidak menghormati dia nggak mau aku berdiri di sini seperti tiang jemuran menunggu yang tak pasti."
"Jika memang tidak bisa mengapa berjanji?? jika memang tidak jadi mengapa tidak memberi tahukan jika batal bertemu?? aku memang manusia bodoh...bodoh karena jatuh cinta pada orang yang salah!!" lirih Shanum lalu perlahan beranjak menuju motor bututnya dan menstarternya menuju rumah.
Sepanjang perjalanan air mata Shanum mengalir tiada henti.
Dulu sewaktu dengan Rahman walau sesakit apapun dia mampu menahan linangan air matanya, tetapi ada apa dengan seorang Indra Fahreza yang belum genap sebulan dikenalnya??
"Yang bodoh ini sebenarnya aku atau hatiku??" isak Shanum pelan.
__ADS_1
"Mestinya dari awal aku harus menyadari bahwa kami berbeda dan tak mungkin bersama, tetapi hati terus menipu dan terus merasakan kenyamanan saat berada bersamanya!!" ucap Shanum memukul stang motornya pelan.
Dia tiba di rumah sudah hampir pukul setengah enam sore, sakit di hatinya masih belum hilang saat di rumah dia disambut oleh kedua anaknya dan...
"Rahman, lagi!!" desis Shanum bertambah jengkel melihat laki-laki yang sudah mau menjadi mantan itu masih saja datang kerumahnya, pasti mau cari gara-gara lagi untuk ribut dengannya.
"Bukan main, jam segini baru pulang?? kemana saja kamu keluyuran?? nggak ingat apa punya anak di rumah??" serang Rahman dengan mulut beracunnya.
Shanum yang memang sedang dalam keadaan mode emosi tingkat dewa langsung menyambut dengan senang hati ajakan ribut dari Rahman.
"Situ siapa berani-beraninya mengurusi saya dengan mengatas namakan anak-anak?? tumben sekarang baru peduli pada anak-anak!! kemana saja kamu bertahun-tahun yang lalu?? jangankan peduli menanyakan kabar anak-anak saja tak pernah!!" sindir Shanum.
"Saya mau keluyuran atau apapun selama tidak merugikan anak-anak kok malah jadi kamu yang repot?? urusi saja binimu yang bunting itu nggak usah bolak balik kemari, kedatanganmu kemari hanya membuat hidup kami tak nyaman tunggu saja waktunya panggilan pengadilan agama, nggak usah kamu bolak balik kemari!!" ucap Shanum tegas.
"Siapa yang melarangku pulang kerumahku sendiri??" kata Rahman santai.
"Rumahmu??? gubuk reot ini rumahmu?? nggak salah??? rumahmu ada di kawasan elit sana yang telah kamu dan Yanti beli dari hasil tabungan uang gajimu yang kamu dapat bisa di atas sepuluh juta sebulan tetapi kamu berbohong pada keluargamu dan kami hanya menerima jatah sebulan satu juta, itupun kamu kirimkan hanya tiap tiga bulan sekali!!" ucap Shanum telak dan membuat Rahman kehabisan kata-kata.
"Gubuk reot ini rumahku dan anak-anak aku pemberian dari orang tuaku!!" sengaja kata-kata aku lebih ditekankan oleh Shanum.
"Uang pemberian darimu jangan kata memperbaiki rumah, untuk makan dan biaya anak sekolah aja tidak cukup, saya yang harus terpontang panting kesana kemari mencari tambahannya!!" ujar Shanum geram.
"Sudah ah...saya capek, lelah dan banyak kerjaan rumah yang harus saya kerjakan, berdebat denganmu hanya menguras tenaga dan membuang waktu saja, pulanglah kamu dan tak usah kemari lagi!!" usir Shanum lalu berbalik menuju rumah.
"Ayo anak-anak!!" ucap Shanum pada kedua anaknya yang lalu dengan setia masuk kedalam rumah mengikuti ibu mereka.
Rahman terpaku di halaman. Penolakan dari istri dan anak-anaknya kini telah dia dapatkan, sakit?? tentu saja...dan itulah resiko yang harus dia terima akibat dari kata "MENDUA".
*
*
***Bersambung....
"Di saat detik-detik menuju kehilangan, barulah kita menyadari betapa berharga waktu yang telah kita buang percuma tanpanya."
__ADS_1
Mohon dukungannya, like dan komennya, vote dan favoritnya serta rate nya ya reader yang baik🤗🤗