
Apakah tak mungkin dia pergi ke rumah Shanum?? dia hapal betul watak sahabatnya itu jika sedang suntuk.
Akhirnya Elang memutuskan untuk pergi kerumah Shanum malam itu.
"Ndra...Ndra, harus dengan apa aku memperingatkanmu untuk tidak melibatkan Shanum dalam kisah cintamu, kasihan wanita itu harus ikut terlalu jauh dalam masalahmu.
Elang bergegas mengambil kunci mobilnya. Dia sudah tau rumah Shanum saat mereka berempat membeli sate di persimpangan jalan menuju kerumah Shanum kala itu.
Dari luar rumah itu sepi, agak ragu Elang mengetuk pintu rumah.
TOK...TOK...TOK
CEKLEK
Shanum muncul dari balik pintu untuk melihat siapa yang datang.
"Pak Elang?? masuk pak, kebetulan pak Indra ada di sini!!" jawab Shanum.
DEG...
Ada rasa cemburu menggelayuti hati Elang mendengar perkataan Shanum, tetapi dia mencoba berpikir positif.
Elang masuk dan mendapati Indra tidur beralaskan bantal di bangku kayu panjang di ruang tamu rumah Shanum.
Dia melihat Indra begitu damai dalam tidurnya, sepertinya dengan Shanum dia menemukan kedamaiannya.
"Mengapa dia bisa tertidur di situ??" ucap Elang pelan.
"Jam setengah sembilan tadi pak Indra datang, wajahnya tampak pucat dan tubuhnya tampak lelah...kami sempat ngobrol sebentar tak lama pak Indra mengeluh sakit kepala dan meminta saya memijat kepalanya setelah itu pak Indra tertidur dan saya alaskan kepalanya dengan bantal saya tak berani membangunkannya karena pak Indra tampak sangat lelah!!" terang Shanum.
"Num, apakah kamu mencintai Indra??" tanya Elang to the point.
"Saya?? mengapa pak Elang menanyakan itu kepada saya??" Shanum balik bertanya pada Elang.
__ADS_1
"Num, apakah kamu tau bahwa sebentar lagi Indra akan menikah dengan Pingkan?? begitu pula dengan saya??" tanya Elang.
Shanum diam sesaat kemudian menganggukan kepalanya.
"Jadi, apakah kamu masih mau melanjutkan hubungan kalian yang tidak mempunyai kejelasan ini??" tanya Elang.
"Tapi saya tidak mengharapkan hubungan saya dan pak Indra berlanjut pak, saya cukup tau diri kok, posisi saya siapa dan kalian siapa!!" jawab Shanum.
"Itu bagi kamu Num, tapi lain bagi Indra!!"
"Saya hapal betul bagaimana Indra karena kami berteman sejak kecil, memang benar pertunangan Indra dan Pingkan adalah perjodohan kedua pihak keluarga karena mereka sama-sama anak tunggal, mungkin Pingkan mencintai Indra tetapi Indra yang saya tau tidak mencintai Pingkan!!"
"Orang seperti Indra adalah tipe orang yang sukar untuk jatuh cinta walaupun dia suka tebar pesona sana sini tetapi tak ada satu wanitapun yang pernah menjadi pacarnya."
"Indra terpaksa menerima pertunangan ini karena tekanan dari mami dan papinya."
"Tetapi setelah dia mengenalmu, saya melihat dia berubah, dia bukan hanya sekedar menyukai kamu, Num...tetapi Indra sudah jatuh cinta padamu!!"
"Begitu pula dengan saya, Num...tetapi saya berusaha untuk menyimpan rapat rasa ini, cukup saya dan Allah yang tau bagaimana perasaan saya padamu!!" batin Elang.
Tetapi Shanum mengerti dan berusaha menjaga jarak karena saat pertama dia melihat cincin bulat yang melingkar di jari manis tangan kiri Indra, dia tau bahwa Indra sudah tidak sendiri begitupun dengan Elang.
"Pak Elang....!!" suara Shanum nampak tersendat, jelas sekali dia pun memendam rasa sedihnya.
"Saya tidak menyalahkan pertemuan saya dengan kalian, karena pertemuan itu sesuatu yang pasti, yang tidak pasti itu adalah untuk memiliki kalian!!" lirih Shanum berusaha tersenyum tegar.
Elang pun juga terdiam. Dia pun merasakan. Dia mencintai Shanum walaupun hanya dalam diam. Dia tidak sampai hati untuk menyakiti hati dan perasaan wanita itu karena dia menyadari posisinya sekarang ini.
"Saya tau hal yang paling menyakitkan adalah mencintai seseorang yang tak bisa bersama kita!!" jawab Elang.
Dia melihat setegar apapun wanita yang berdiri di depannya itu, tetapi air mata akhirnya mengucur deras dari dua kelopak mata indahnya pertanda hatinya pun sedang tidak baik-baik saja.
"Bagiku lebih baik begini, Num...menyukaimu secara diam-diam dan tersakiti juga secara diam-diam, karena aku tak rela jika melihatmu yang tersakiti, cukup Indra yang membuat rasa cinta dan patah hati yang bersamaan jangan lagi aku yang menambahkan penderitaanmu!!" batin Elang.
__ADS_1
"Mencintai seseorang yang bukan hak kita itulah rasa sakit yang harus kusembuhkan sendiri!!" lirih Shanum.
Rupanya Indra sejak tadi terbangun karena dia seperti mendengar Shanum sedang bercakap-cakap dengan seseorang.
Indra mencoba membuka matanya dan ternyata ada Elang di sana.
Dia mendengar semua apa yang Shanum dan Elang perbincangkan. Hatinya juga terasa nyeri, tetapi apa daya dia bukan seperti Elang yang mampu menyimpan rapat perasaan cintanya pada seseorang yang tak mungkin bisa dia miliki, dia hanyalah seorang Indra yang lemah yang hanya ingin merasakan bagaimana rasa indahnya jatuh cinta di sisa hidupnya.
Karena posisi tidurnya membelakangi Elang dan Shanum, maka keduanya tidak tau bahwa Indra pun menangis dalam diam.
"Ya Allah...aku tau umurku tak lama lagi, aku berusaha menuruti papi dan mami karena aku tak ingin meninggalkan kenangan buruk pada mereka sebagai anak pembangkang, aku berusaha menerima perjodohan ini walaupun aku tidak mencintai Pingkan, tetapi bersama Shanum?? aku merasakan getaran cinta itu, kumohon jangan salahkan aku dan Shanum akan perasaan cinta ini, ya Allah!!" batin Indra bergejolak hebat.
"Pak Indra bangun!!" suara Shanum terdengar lirih di telingnya dan dengan ujung jarinya dia dengan cepat mengusap air mata diujung mata Indra agar tak terlihat oleh Elang yang masih berdiri di belakangnya.
Dia merasakan telapak tangannya yang menempel di bahu Indra bergetar pertanda lelaki itu kemungkinan mendengar percakapannya dengan Elang dan Shanum memastikan bahwa Indra juga menangis walaupun secara diam-diam.
Elang yang tak tahan melihat cara Shanum membangunkan Indra dengan penuh kelembutan akhirnya memilih keluar dan menunggu di teras sambil berusaha menyembunyikan sesak di dadanya.
"Bangun pak!!" lirih Shanum lagi dan Indra merasakan butiran kristal bening milik Shanum nembasahi dahinya.
Dia berbalik dan menatap wajah teduh yang kini juga bersimbah air mata.
"Bangun pak, pak Elang sudah menjemput dan menunggu pak Indra di depan!!" ucap Shanum.
"Num, terima kasih telah hadir di dalam hati dan kehidupan saya walaupun hanya sesaat, dan maafkan saya yang telah membawamu masuk terlalu jauh ke dalam hidup saya." Ucap Indra pelan lalu Shanum membantunya untuk bangun dari tidurnya.
*
*
***Bersambung...
"Level tertinggi dari sebuah ujian kesabaran adalah mengikhlaskan orang yang kita cintai untuk hidup bersama dengan yang lain."
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, vote, favorit dan rate nya reader tercinta🙏🙏