Sejuta Kenangan Bersamamu

Sejuta Kenangan Bersamamu
Bab 107 Ijinkan Aku


__ADS_3

Dia memutuskan beristirahat di sebuah warung sambil memesan teh hangat dan makanan.


Kembali dia mengecek ponselnya.


"Bahkan pesanku saja belum dibaca olehnya, apalagi mau balas menelpon??" Gumam Bandiah pelan.


Bandiah duduk termenung di sudut warung.


"Apa yang harus aku katakan pada kakek dan nenek nanti tentang kehamilanku ini ya?? Atau aku diam saja tidak usah memberi tahu mereka tentang keadaanku??" batin Bandiah.


Setelah cukup beristirahat untuk mengumpulkan tenaganya, wanita yang tengah hamil muda itu kembali melanjutkan perjalanannya.


Sementara itu setelah menangani masalah tentang kaburnya Hansen kembali dari rumah sakit, Rafli membuka kembali ponselnya.


"Masya Allah, istriku menelpon puluhan kali dan ini? Apa ini, dia mengirim chat sekitar lima jam yang lalu.


"Bi, umi pulang kampung menjenguk nenek lagi sakit!! Sejak tadi pagi abi umi telepon tidak diangkat maka umi hanya kirim pesan saja, umi tidak tahu berapa hari di sana!!"


"Ya Allah, kasihannya istriku!! Aku sampai lupa padanya gegara kasus kaburnya si Hansen ini lagi yang harus aku tangani!!" Gerutu Rafli kesal.


Lalu dia menelpon Bandiah tetapi selalu di luar jangkauan karena kampung kakek dan nenek Bandiah memang banyak melewati pepohonan besar sehingga sinyal telepon agak sulit di sana.


"Aduh, mana ponselnya tidak aktif lagi!!" Kata Rafli semakin kesal.


Akhirnya dia memutuskan untuk mengirim pesan kembali.


"Berapa hari di sana mi, jangan lama-lama ya!! Abi tidak tenang umi tak ada di samping abi!!!"


"Kakek!!"


Bandiah berteriak dari jauh saat melihat kakeknya sedang memetik lombok di halaman rumahnya yang tergolong luas.


"Di???"


Kakek Tomo meletakan bakulnya dan berdiri menyambut Bandiah.


"Kakek!!! Bagaimana keadaan nenek??" Tanya Bandiah.


"Ya gitu Di, namanya juga orang sudah tua ya banyak penyakitnya!!" Kata kakek Tomo.


"Kakek mau menjual lombok kepasar??" Tanya Bandiah sambil membantu membawa bakul-bakul lombok kedalam rumah untuk ditimbang.


"Iya Di, sebab besok kakek mau membawa nenek ke puskesmas lagi takut ada obat yang harus dibeli sendiri di apotik." Kata kakek Tomo.


Bandiah merasa sedih melihat kakek dan nenek yang telah merawatnya sejak dia kecil itu.


Karena kasih sayang kedua kakek dan nenek itulah maka dia masih hidup sampai sekarang.


Nenek Tomo tampak berbaring lemah di atas tempat tidurnya, matanya berbinar bahagia melihat kedatangan Bandiah kembali.

__ADS_1


*************


"Chika...Chiro!!!"


Chika dan Chiro yang sedang menunggu jemputan pulang sekolah seketika hendak berlari masuk kembali kedalam gerbang sekolah saat melihat bapak mereka tiba-tiba muncul di hadapan mereka.


"Jangan pergi bapak mohon nak?? Sebegitu bencinya kah kalian ssmpai bertemu bapak saja kalian tidak mau??" kata Rahman.


"Kami berdua tidak mau sama bapak, bapsk sudah jahat sama ibu dan kami berdua!!' Ucap Chika sambil lari menggandeng adiknya masuk kedalam halaman sekolah.


"Apa saja yang pernah kamu lakukan di masa lalu akan terekam di otak mereka, Rahman!!" Kata ibu Karti tiba-tiba dari arah belakangnya.


Rahman menoleh kebelakang pada bekas ibu mertuanya itunya.


"Rahman hanya ingin menyapa mereka bu, apa Rahman salah??" Tanya Rahman lagi.


"Kamu tidak salah, hanya saja di otak Chika dan Chiro yang terekam hanya kejelekanmu saja." Kata bu Karti.


Rahman terdiam padahal dia memang ingin bertemu dengan anak-anaknya dan bertenu dengan Shanum untuk mengucapkan bela sungkawa atas meninggalnya Indra.


Sesal kini memang tak ada gunanya lagi, Chika dan Chiro takut padanya, Atika sendiri yang anak hasil pernikahannya dengan Yanti juga sudah tidak tau hilang kemana tak tau kabarnya.


**************


Pulang dari Bandung, dia tidak langsung pulang keapartemen atau menemui kedua orang tuanya dahulu, tetapi langsung cabut ke arah mansionnya orang tua Indra.


"Elang??? Kapan datang dari Bandungnya??" Teriak mami Tiara saat melihat kedatangan Elang.


"Kami semua baik, hanya Shanum yang dalam keadaan tidak baik-baik saja!!" Kata mami Tiara.


"Maksudnya Shanum sedang sakit mi??" Tanya Elang khawatir.


"Mentalnya yang perlu kamu bantu, Lang!! Karena di dalam ingatannya dia selalu berhalusinasi bahwa Indra masih hidup sampai saat ini!!" Kata mami Tiara.


Tak lama...


"Mas Elang kapan pulang dari Bandung??" Sapa Shanum dari arah tangga lalu mendekati mereka.


Shanum celingukan kearah pintu mansion.


"Mas Elang srndiro saja??" Tanya Shanum lagi.


"Iya mas sendiri saja!!" Jawab Elang belum memperhatikan ekspresi Shanum.


"Mas Indra tidak ikut pulang bersama mas Elang??" Tanya Shanum.


DEG!!


Ngilu hati Elang mendengar pertanyaan Shanum yang seperti itu.

__ADS_1


"Kok diam aja sih mas?? Mas Indra tidak ikut pulang sama mas Elang??" Ulang Shanum sekali lagi.


"Num, Shanum lupa ya bahwa Indra sudah tak ada lagi, mas Elang hanya pergi sendiri ke Bandung!!" Kata Elang.


Lama Shanum tercenung, lalu...


"Shanum lupa bahwa mas Indra kini sudah tidak ada lagi!!" Lirih Shanum.


"Mas mau mengantar Shanum kemakam mas Indra??" Tanya Shanum tiba-tiba.


"Tapi Elang masih lelah, Num!!" Kata mami Tiara.


"Tidak apa-apa mi, biar Elang antarkan sekalian nyekar kemakam Almarhum!!" Kata Elang.


"Ayo kita berangkat!!" Kata Elang lagi yang membuat Shanum tampak bahagia.


Sepanjang perjalanan mereka hanya diam. Sesekali Elang melirik kesamping pada Shanum yang asyik menatap


ke luar jendela mobil yang terbuka.


"Kita sudah sampai, Num!!" Kata Elang mengagetkan Shanum.


"Ayo!!"


Lalu Elang dan Shanum melangkah menuju kesebuah makam yang terlihat teduh karena agak terlindung dari matahari karena ada pohon kamboja tak jauh dari sana.


"Assalamualaikum sayang, aku datang mas Indra!!" Shanum memberi salam.


"Halo bro, bagaimana tidurmu?? Apakah kamu bermimpi indah di sana??" Tanya Elang sambil mengusap batu nisan Indra.


"Mas, kapan mas Indra bangun, dari sana, Shanum kangen sama ma Indra!!" Kata Shanum seraya memeluk nisan Indra sambil terisak sedih.


"Sudah sebulan mas Indra tidur di sana tetapi mas belum juga bangun!! Mas tidak kangen sama Shanum dan anak-anak?? Di sini juga ada mas Elang yang datang mengunjungimu, mas Indra!!" Kata Shanum.


Hati Elang melengos mendengar perkataan Shanum. Hati siapa yang tidak perih saat mengharapkan orang yang kita sayangi pergi tapi tak bisa lagi kembali begitu pula yang dialami oleh Shanum istri sahabatnya itu.


Kalau dituruti, ingin rasanya dia memeluk tubuh itu, menenangkannya dan memberinya kedamaian dalam hidupnya tapi apa daya, Elang bukan siapa-siapa Shanum.


Tapi di dalam hatinya Elang meminta ijin kepada Indra jika dia mengijinkan dan Allah juga berkenan dia ingin menggantikan posisi Indra di hati Shanum untuk mengobati luka hati wanita itu.


"Bro, aku meminta ijinmu, kamu tahu sudah lama aku memcintai Shanum, bolehkah aku kembali memperjuangkan cintaku kepadanya?? Aku ingin selalu dekat denganmu melalui dirinya!!" batin Elang.


*


*


***Bersambung...


Apakah akhirnya Shanum dan Elang akan kembali bersama??

__ADS_1


Ikuti terus kisah mereka dalam episode selanjutnya ya reader🙏🙏


__ADS_2