
Tubuhnya yang tinggi dan atletis serta kulitnya yang dulu coklat terbakar panas matahari dan bau apek karena terlalu banyak main layangan di bawah terik matahari sekarang putih bersih, sisa-sisa jerawat batu di wajahnya pun kini hilang tak berbekas.
Wajah Adrian merah merona saat Shanum memindai wajah dan penampilannya dari kepala sampai ke kaki.
"Kamu kenapa kok tersipu-sipu begitu??" tanya Shanum heran.
"Ian malu dilihatin mbak Shanum seperti itu!!" kata Adrian.
"Ian...ini rantangnya sampaikan terima kasih ibu sekeluarga pada ibumu ya!!" kata ibu Karti.
"Iya bu nanti Ian sampaikan!!" kata Ian.
"Masya Allah...mbak Shanum sekarang cantik banget!!" kata Adrian sambil senyum-senyum sendiri di atas motornya.
"Kenapa kamu senyum-senyum sendiri?? ketemukan sama bu Karti dan Shanum??" tanya bu Sandra.
"Ketemu mah...Ian juga ketemu sama mbak Shanum!!" kata Adrian sambil senyum-senyum.
"Mah...lamarkan mbak Shanum untuk Ian dong mah!!! please...!!" mohon Adrian.
"Edan nih bocah...pulang-pulang dari luar negeri kok minta nikah...kenapa nggak cari pacar yang sesuai dengan seleramu di luar negeri sana??" tanya bu Sandra.
"Ih...mamah kan tau Ian suka sama mbak Shanum sejak dulu!!" kata Adrian.
"Sembarangan...iya kalau Shanum. Masih sendiri, kalau sudah menikah?? kamu mau buat mama dan papa malu??" tanya bu Sandra.
"Lagian kamu juga....kamu tuh diminta pulang kembali untuk mengurus perusahaan papa yang ada di kota ini, kok malah minta nikah!!" tekan bu Sandra.
"Chika dan Chiro kemana bu??" tanya Shanum.
"Mereka sedang berjalan-jalan...paling juga nanti pulang!!" kata ibunya.
"Ini sudah hampir sore lho bu, jangan-jangan mereka berdua tersesat...secara kitakan baru tiba di kampung ini!!" Shanum mulai cemas pada kedua anaknya.
"Biar Shanum mencari mereka dulu, bu!!" kata Shanum lalu bergegas keluar rumah.
Shanum berjalan menyusuri jalan setapak dekat dengan sawah. Tepat dugaan Shanum dekat persimpangan yang agak sepi Chika dan Chiro tengah dihadang oleh anak-anak seusianya. Rupanya mereka tau Chika dan Chiro baru tiba dari kota, dan mereka pikir Chika dan Chiro membawa banysk uang.
Sempat kudengar perkataan Chika, "nggak ada bang, kami tidak punya uang!!" jawabnya.
Aku langsung berteriak dari samping sambil mengacungkan potongan kayu yang lumayan besar yang ada di tanganku.
"Mau apa kalian mengganggu anak saya??" bentakku dengan kesal.
"Masih kecil sudah mau jadi preman, jika sudah besar mau jadi apa??" teriak Shanum lantang.
Para bocah berandalan itu langsung angkat kaki berlari menjauhi kami.
"Chika...Chiro...kenapa kalian main nya sampai kemari??" tanya Shanum sedikit kesal pada kedua anaknya.
__ADS_1
"Maaf bu, Chiro nih yang punya ide untuk berjalan mengelilingi kampung dan akhirnya tersesat di area persawahan gini lalu dibajak oleh anak-anak berandalan itu." Jawab Chika.
"Aduh...anak-anak!! kalian membahayakan diri kalian sendiri!!" ucap Shanum pada kedua buah hatinya.
"Maafkan kami bu...!!" ucap Chika dan Chiro barengan.
"Ya sudah sebaiknya kita pulang, hari sudah mau maghrib!!" ajak Shanum.
**************
"Bagaimana kata dokter, honey?? apakah kandunganku cukup sehat untuk melakukan perjalanan jauh??" tanya Pingkan pada Indra.
"Kandunganmu sehat dan kita akan kembali ke Indonesia secepatnya." Jawab Indra.
"Honey, bolehkah aku bertanya sesuatu??" tanya Pingkan.
"Apa yang ingin kamu tanyakan, Pingkan??" kata Indra.
"Honey...apakah hampir setengah tahun ini kamu tinggal bersamaku dan berada jauh dari istri keduamu itu tidak membuatmu kembali mencintaiku seperti dulu??" tanya Pingkan lagi.
Indra terdiam sebentar.
"Untuk apa kamu tanyakan pertanyaan itu, Pingkan??" tanya Indra.
"Aku tau honey, bagaimana besarnya kesalahanku padamu selama ini, aku tahu kamu tak pernah mencintaiku, menikahiku hanya sekedar karena bakti pada kedua orangmu saja!!" tanya Pingkan dengan suara yang dibuat semenghiba mungkin.
"Bisakah kita tidak membicarakan tentang hal itu lagi, Pingkan??" jawab Indra.
Sambil duduk di atas kursi rodanya, tak henti-hentinya bibir Pingkan menyunggingkan tersenyum.
"Aku tak akan pernah memberikanmu kesempatan untuk bisa dekat lagi dengannya, honey...aku akan buat kamu benar-benar untuk melupakannya." Seringai jahat jelas tergambar di wajah Pingkan.
"Maafkan aku Pingkan, tak perlulah kamu tau tentang perasaanku, betapa aku sangat mencintai Shanum istriku!! " batin Indra.
"Kita akan pulang ke Indonesia dua hari lagi, jaga kesehatanmu ya!!" kata Indra pada Pingkan sebelum mereka berpisah di kamar masimg-masing.
Sungguh berat memang pernikahan yang dijalani Indra yang harus selalu berpura-pura bisa menerima kenyataan tentang Pingkan dan kehamilannya dengan pria lain.
Begitu pula dengan Pingkan yang harus selalu menjadi orang lemah dan penyakitan dan hanya bisa duduk di kursi roda saja untuk mengelabui Indra.
Sebenarnya kedua kaki Pingkan sudah bisa digerakan sejak sebulan kemarin tetap dia menutupi hal ini rapat-rapat agar bisa tetap menahan Indra untuk tidak menghubungi istri keduanya itu lagi.
Indra masuk kedalam kamarnya dan menguncinya dari dalam seperti biasa karena dia tidak mau Pingkan akan masuk diam-diam kedalam kamarnya.
Dia menuju balkon tempat favoritnya selama ini.
Tiba-tiba...
DDRRRTTT...DDRRTTTT
__ADS_1
Elang calling...
π±"Assalamualaikum, ada apa Lang??"
π±"Gawat Ndra...aku baru tau jika beberapa hari lalu Shanum telah dipecat dari pekerjaannya, kamukan tau aku ada di Jakarta selama sebulanan kemarin??"
π±"Apa?? kok bisa?? terus apa Shanum dan keluarganya baik-baik aja sekarang??"
Indra mulai nampak sangat cemas mendengar kabar itu.
Memang selama ini dia mempercayakan Shanum pada Elang sampai mengirimi nafkah lahir untuk Shanum pun Elang yang melakukannya.
π±"Ini dia masalahnya, Ndra!! aku sudah mengerahkan anak buahku untuk mencarinya tetapi nampaknya Shanum sekeluarga sudah pergi dari rumah mereka."
Indra terduduk lemas mendengar perkataan Elang.
π±"Tetapi kamu jangan khawatir, aku dan orang-orang yang aku kerahkan pasti bisa menemukan mereka."
Sambungan teleponpun terputus. Indra masih duduk bersandar di dinding paviliunnya.
"Kamu pergi kemana, Num?? maafkan mas yang telah menelantarkanmu selama ini ya??" desis Indra sambil memandang cincin yang melingkar di jari manis tangan kanannya itu.
Rupanya apa yang dirasakan Indra juga tengah dirasakan oleh Shanum.
Di kamarnya dia berdiri di depan jendela sambil menatap malam.
"Mas, salahkah aku jika masih menyimpan rasa rindu kepadamu?? walaupun aku tau rinduku ini terlarang!!" lirih Shanum.
"Aku hanya bisa berkhayal mengangankan mas Indra ada di dekatku, memeluk dan bercerita melewati malam bersamaku seperti dulu!!" tak terasa air mata Shanum kembali menggenangi kelopak matanya.
"Tetapi sekarang sepertinya hanya akan menjadi cerita yang akan kusimpan dan kukenang selamanya!!" lirih Shanum.
"Aku menunggu mas Indra menelpon atau hanya sekedar menitip pesan pada pak Elang tapi tak ada...mungkin mas Indra sudah benar-benar telah melupakan aku!!" isak Shanum dalam tangisnya.
Sementara itu Elang sedang naik darah menghadapi Sheilla yang akhirnya dia tau bahwa Sheilla orangnya yang telah memecat dan memfitnah Shanum.
"Keterlaluan kamu Sheilla...tega kamu ya memecat Shanum, bahkan juga memfitnahnya telah mencuri perhiasan pasien??" bentak Elang sambil menggebrak meja rias istrinya itu hingga beberapa make up Sheilla berjatuhan ke lantai.
Sheilla sangat terkejut mendengarnya tapi dia berpura-pura saja tidak tau.
"Apa-apaan sih kamu mas?? bikin aku kaget saja??" tanya Sheilla menatap Elang yang juga tengah menatap kearahnya dengan sorot mata yang seakan hendak membunuhnya.
*
*
***Bersambung...
Apa yang akan dilakukan oleh Elang pada Sheilla selanjutnya??
__ADS_1
Jangan lewatkan kisah mereka di episode selanjutnya dan jangan lupa selalu dukungannya ya readerππ
.