
"Kamu yang membuatku jadi seperti ini Emi!!" kata Rahman sambil membelai wajah cantik wanita itu.
"Malam ini menginaplah di sini ya!!" kata Emiana.
"Rasanya tak cukup puas jika pertarungan kita hanya berakhir di sini!!" kata Emiana dan tentu saja diiyakan dengan senang hati oleh Rahman.
Sementara itu jauh di kota Jakarta....
Dari balik jendela kamarnya Yanti menatap lampu kota yang berkelap kelip bagaikan seribu kunang-kunang tetapi tidak untuk hati Yanti yang sangat terluka dan kecewa.
Dari malam hingga ke malam lagi dia menunggu suaminya menelpon setidaknya menanyakan di mana keberadaannya dan bagaimana kabarnya, tetapi harapannya sia-sia...Rahman sepertinya malah bahagia Yanti dan Atika pergi dari kehidupannya.
"Mungkin aku telah menikahi laki-laki yang salah...Shanum yang sudah sepuluh tahun bersamanya aja mampu dia khianati, apalagi aku??" gumam Yanti.
"Maafkan aku mbak Shanum, kini aku telah merasakan rasa sakit yang dulu pernah aku dan mas Rahman torehkan di hatimu, begini rasanya terluka saat orang yang masih kita cintai, sudah tak lagi memcintai kita." Kata Yanti perlahan.
**************
Saat Indra dan Elang asyik berbincang-bincang tiba-tiba masuk beberapa notifikasi dari Sandi orang kepercayaan Elang.
Melihat Elang yang tertegun, Indra juga jadi penasaran dibuatnya.
"Apa yang kamu lihat?? siapa yang mengirimkan pesan kepadamu??" tanya Indra.
Elang terdiam saat ponselnya diambil oleh Indra.
"Astagfirullah!!"
Indra mengembalikan ponsel milik Elang sambil berkali-kali berdzikir.
"Kamu sudah lihat sendirikan Ndra, bagaimana kelakuan bejat istriku??" kata Elang dengan suara tercekat.
Tampak dari enam gambar yang diambil dengan berbagai pose oleh Sandi bagaimana kebejatan perbuatan Sheilla dan Hansen.
"Mengapa nasib kita sama, bro...sama-sama dikhianati dan disakiti!!" kata Elang saat Indra memeluknya erat.
"Itu artinya Allah sayang sama kita dengan dibukakannya mata kita untuk melihat bagaimana kelakuan dari pasangan kita yang sesungguhnya."
"Lebih baik sakit sekarang daripada sakitnya nanti setelah kita benar-benar sangai mencintai dia!!" ucap Indra.
"Kamu tenangkanlah dulu dirimu, hadapi masalah dengan kepala dingin bila perlu malam ini kamu tidur di sini saja." Kata indra dan Elang hanya menganggukan kepala.
"Waduh...sudah pukul satu dini hari, aku harus pulang Hansen nanti suamiku curiga akan hubungan gelap kita!!" kata Sheilla lalu bangkit dari pembaringan dan menuju toilet untuk membersihkan diri.
Sheilla tidak menyadari apa yang akan menantinya di apartemen sekembalinya dia nanti.
***********
Shanum terbangun dengan perutnya yang terasa sangat sakit.
"Aduh...kenapa perutku sakit sekali?? sepertinya aku akan melahirkan, tetapi usia kandunganku baru menginjak tujuh bulan?" gumam Shanum sambil tak hentinya meringis menahan sakit.
"Mas Indra...mas Indra...tolong Shanum, mas Indra di mana??" lirih Shanum sambil menyeret langkah kakinya untuk memgambil air minum.
PRANGGG...
Gelas kaca di tangan Shanum jatuh dan pecah!! Ibu dan kedua anaknya yang tidur dalam satu kamar terbangun mendengar keributan di dapur.
"Ibu...!!" teriak Chika.
__ADS_1
"Ibu sepertinya sudah akan melahirkan!!" ucap Chika.
"Sebaiknya panggil mbak Dian tetangga kita yang bekerja sebagai bidan puskesmas!!" kata bu Karti bergegas pergi keluar.
Indra terbangun dari tidurnya. Dia sadar sedang memeluk foto nikah mereka.
"Sayangku...aku seperti melihat dan merasakan kamu sedang kesakitan sekarang, mas harus bagaimana Shanum, mas aja nggak tau kamu ada di mana sekarang ini??" ucap Indra sambil mengusap bulir-bulir keringat yang membanjiri dahinya.
"Coba aku telepon mbak Di lagi, sekali ini aku benar-benar minta tolong padanya untuk memberitahukan di mana Shanum berada, aku merasa sangat khawatir." Gumam Indra.
Dia menoleh kearah Elang yang masih tertidur pulas, perlahan dia bangun menuju kamarnya untuk menelpon di sana agar Elang tidak terganggu karena dia juga sadar bahwa sahabatnya itu juga menghadapi masalah yang tidak ringan.
DDDRRRTTTT
Dengan mata yang masih sangat mengantuk, Bandiah meraba-raba mencari keberadaan ponselnya tersebut.
"Siapa sih yang menelpon di hari minggu masih subuh gini juga!!" gerutu Bandiah dengan mata hanya terbuka sebelah.
"Hah, mas Indra calling??" dengan sigap Bandiah bangun dan duduk ditepi pembaringan.
📱"Assalamualaikum!!"
📱"Waalaikum Salam, ada apa mas Indra!! ada yang bisa saya bantu??"
📱"Mbak Di, tolonglah...saya merasa bahwa Shanum sedang kesakitan sekarang, tolong beri tau saya di mana dia...saya khawatir sekali dengan kondisi dia sekarang!!"
Lama Bandiah termenung untuk mempertimbangkan.
Indra benar, jika terjadi sesuatu pada Shanum, dia pasti akan sangat berdosa.
Indra suami yang baik, karena keadaanlah yang membuat dia harus bersikap demikian tetapi Shanum selalu bercerita bahwa Indra tetap mengirimkan uang untuk keperluan Shanum dan keluarganya.
📱"Baiklah mbak Di, terima kasih banyak atas bantuanmu dan pengertianmu, kepada saya.
📱"Assalamualaikum!!"
📱"Waalaikum Salam!!"
Indra tersenyum lega setidaknya dia bisa menemui istrinya kembali.
Rasanya tak sabar baginya untuk menunggu pagi tiba.
Elang terbangun di pagi itu tetapi Indra tak ada di sekitaran rumah. Dia menuju meja makan dan menemukan catatan kecil yang ditinggalkan oleh Indra untuknya.
"Lang...sarapanmu sudah kusediakan, aku pergi bersama mbak Di menuju ketempat istriku Shanum...ingat Lang, hadapi masalahmu dengan kepala dingin!!"
"Kapan tuh anak bangunnya ya?? tau-tau sudah main pergi aja!!" gumam Elang lalu menyantap nasi goreng sosis dan secangkir kopi buatan Indra.
Shanum memang luar biasa, dia mampu merubah seorang Indra menjadi satu sosok yang mandiri, semoga kalian berdua bisa dipersatukan kembali, aku turut berdoa untuk kebahagiaan kalian." Ucap Elang.
"Hari ini adalah final dari semua masalahku dan Sheilla serta masalah keterlibatan Sheilla dan penggelapan dana yang dia dan orang-orangnya lakukan." Ujar Elang lagi.
"Benar kata Indra, aku harus menghadapi masalah ini dengan kepala dingin!!" kata Elang.
Pagi-pagi sekali Indra menjemput Bandiah di tempat kost-kostannya. Mereka sengaja berangkat pagi-pagi untuk menghindari kemacetan karena hari ini hari libur tentu siangan sedikit, jalanan akan padat dengan motor dan kendaraan roda empat.
"Nekad bener mas Indra ini, terus ngomong-ngomong, dari mana mas Indra bisa tau kalau saya sebenarnya tau tentang keberadaan Shanum??" tanya Bandiah.
"Mbak Di, saya seorang psikolog dari awal kita bicara saya sebenarnya sudah tau kalau mbak Di merahasiakan sesuatu tentang Shanum dari saya, tetapi saya tidak mau memaksa mbak Di untuk mengatakannya, mungkin mbak Di punya alasan sendiri untuk menyembunyikan semua dari saya."
__ADS_1
"Tetapi semalam perasaan saya nggak enak tentang istri saya, saya merasa dia tengah kesakitan di sana!!" jawab Indra.
"Makanya saya segera mendesak mbak Di untuk mengatakan di mana Shanum berada dan mengantarkan saya padanya!!" ujar Indra sambil menyetir mobilnya.
**********
"Bu Shanum, dari semalam hingga pagi ini pembukaan jalan lahirnya masih pembukaan dua terus bu, nggak maju-maju!!" kata bidan puskesmas yang menangani Shanum semalam.
"Sepertinya ada sesuatu yang sedang ditunggu oleh bayi ini makanya dia tidak mau dilahirkan dulu!!" ucap bidan tersebut.
"Mungkin dia menunggu kehadiran ayahnya, bu!!" perkataan bidan itu membuat hati Shanum terasa sangat pedih.
"Mana mungkin mas Indra peduli padaku...kehamilanku ini adalah sebuah kesalahan baginya, dia hanya peduli pada mbak Pingkan, bukan kepadaku!!" lirih Shanum dengan mata yang mulai berembun.
"Sebaiknya ibu pulsng aja dulu, kasihan Chika dan Chiro di rumah bu!!" kata Shanum pada ibunya.
"Assalamualaikum!!"
"Waalaikum Salam!!"
Pintu ruangan terbuka.
"Chika...Chiro...dengan siapa kalian kemari??" tanya bu Karti.
"Hai Num, apa kabar!!" kata Bandiah muncul di belakang Chika dan Chiro.
"Bandiah...kok bisa kebetulan kamu datang kemari!!" ucap Shanum senang sambil berusaha duduk di pembaringannya.
"Masuk sini!!" kata Shanum.
""Num, aku datang tidak sendiri, aku bersama seseorang!!" kata Bandiah.
Shanum pikir paling Bandiah datang bersama Rafli Andarian lagi, hanya mereka berdua teman yang tau Shanum berada saat ini!!
Bandiah bergeser kesamping begitu juga Chika dan Chiro untuk memberi jalan sosok tersebut masuk ke ruangan.
Bu Karti juga tak jalah tegangnya menunggu untuk melihat siapa yamg datang.
"Sayang!!"
DHUAR....
Seperti bunyi halilintar yang menyambar di atas kepala Shanum dan bu Karti melihat siapa sosok yang muncul di depan pintu.
"Mas Indra!!" lirih Shanum.
Airmatanya mengalir membanjiri pipinya. Sudah delapan bulan dia tidak lagi melihat dan berkomunikasi dengan laki-laki yang telah menikahinya dan telah menanamkan benihnya malam itu di dalam rahimnya kemudian dia berangkat kembali ke Inggris untuk kembali menjalani kehidupannya di sama tanpa terusik lagi.
Dia sama sekali tak pernah membayangkan bisa bertemu kembali dengan suaminya itu.
Dia hanya bisa mengangankan dan mengkhayalkan Indra ada di sampingnya, bersama membesarkan anak mereka, tetapi Shanum sadar, keindahan itu adanya hanya di dalam angan belaka dan tak mungkin menjadi nyata.
*
*
***Bersambung...
Kekuatan cinta telah menarik Indra untuk kembali pulang ke tempat hatinya berlabuh yang semestinya.
__ADS_1
Lanjut di next episode ya guys...jangan lupa selalu dukungannya.