
"Bu!!! Tolong bapak, wanita ini tengah hamil bu! Kita harus segera menolongnya sepertinya dia mau melahirkan!!" Kata Suaminya.
Dengan susah payah kedua orang tua itu menggotong Bandiah ketempat yang rata.
"Tolong saya bu, pak...sepertinya saya sudah mau melahirkan!!" Rintih Bandiah sambil menahan rasa sakitnya.
"Sudah tidak ada waktu lagi mau dibawa kepuskesmas terdekat bu, kita baringkan di tempat yang rata aja, ibu kan pensiuan bidan masih ingatkan cara menangani orang yang melahirkan??" Tanya Suaminya.
"Yah masih ingatlah pak, lagian pensiunnya kan juga baru tahun kemarin masa sudah lupa!!" Kata istrinya.
"Maaf ya neng, puskesmas jauh dari sini apalagi rumah sakit, ini keadaan darurat jika tidak cepat ditangani maka salah satunya bisa tidak tertolong lagi!! Panggil saja ibu dengan nama Maria dan suami ibu namanya Yosef." Kata ibu Maria memperkenalkan diri dengan cepat.
"Iya bu, nggak apa-apa saya sudah tidak tahan lagi rasanya sakit sekali!!" Rintih Bandiah.
Dengan susah payah kedua orang tua itu membantu persalinan Bandiah.
"Ayo terus nak, semangatlah selamat atau tidaknya kalian berdua tergantung padamu sebagai ibunya." Kata ibu Maria.
Hingga setengah jam kemudian...
OEK...OEK
"Syukurlah, bayimu lahir dengan selamat walaupun dia seperti lahir kurang bulan ya, kecil sekali tapi nggak apa-apa sepertinya putramu sangat sehat dan kuat!!" Kata bapak Yosef.
"Dia laki-laki bu??" Tanya Bandiah penuh haru.
Setelah selesai dibersihkan, bayi mungil itu diberikan ibu Maria pada Bandiah.
"Dekaplah dia, beri kehangatan dan segera beri dia ASI!!" Kata ibu Maria.
"Apakah saya boleh ikut kerumah kalian dahulu?? Saya masih lemah jika harus pulang kerumah!!" Kata Bandiah.
"Tentu boleh nak, tetapi kami berdua tadi kemari naik sepeda, kamu ikut bapak saja ya!!" Kata pak Yosef.
Setelah agak pulih perlahan mereka bertiga naik keatas jurang lewat jalan lain.
Ada dua buah sepeda tua bersandar di tepi tebing.
"Ayo nak, cepat kita pulang hari hampir menjelang maghrib, kasihan bayimu nanti kemalaman di jalan." Kata ibu Maria.
__ADS_1
Dengan susah payah Bandiah menggendong bayinya dan duduk diboncengan sepeda ontel milik pak Yosef.
Sambil menggendong bayinya, air mata Bandiah menetes.
"Mungkin ini karmaku karena tidak menurut pada suami!!! Padahal abi sudah mengatakan untuk menunggunya pulang dan dia yang akan mengantarku ke mansion keluarga Fahreza tetapi aku tetap ngeyel mau pergi seorang diri sehingga akhirnya jadi begini!!" Gumam Bandiah.
"Mana aku tak tau jalan pulang, ponselku hilang saat aku jatuh tadi, sepertinya iblis betina itu sudah membawa aku jauh dari jalan utama." Lirih Bandiah.
"Abi kamu pasti sangat bahagia jika dia tau bahwa kamu telah lahir nak!!" Kata Bandiah mendekap bayinya erat.
Setelah menempuh perjalanan hampir setengah jam akhirnya mereka bertiga tiba di sebuah rumah sederhana dan Bandiah tinggal untuk sementara waktu di sana!!
***Flashback off***
"Kapten, ada kabar terbaru dari lapangan ternyata mobil yang membawa istri kapten itu adalah ibu Tania!! Tapi..." suara sersan Surya terputus.
"Tapi apa sersan??" Tanya Rafli tak sabar.
"Mobil yang mereka tumpangi masuk jurang dan meledak, anak buah saya hanya menemukan Tania yang dalam keadaan koma akibat pendarahan yang dia alami!!" Ucap sersan Surya.
"Lalu istri saya bagaimana sersan??" Tanya Rafli dengan suara meninggi.
"Tidak mungkin!!" Kata Rafli lemas terduduk di kursinya.
"Tidak mungkin istri saya meninggal di dalam mobil yang meledak itu!!" Keringat sebesar biji jagung mengalir di sekujur tubuh Rafli.
Tiba-tiba dia bangkit berdiri.
"Tidak, istri dan bayi saya tidak mungkin tertinggal di dalam mobil itu, saya sendiri yang akan memimpin pencariannya!!" Ujar Rafli seraya bangkit berdiri.
"Tenang kapten, tidak bisa sekarang kita melakukan penyelidikan nya , hari sudah gelap...tentu penyelidikan kita akan sia-sia nantinya!!" Kata sersan Surya berusaha menenangkan atasannya agar bersikap tenang terlebih dahulu.
"Bagaimana saya bisa tenang sersan Surya?? Nyawa istri dan bayi saya sedang dipertaruhkan di sini dan hingga detik ini saya juga tidak tau apakah istri saya masih hidup atau sudah tidak ada!!" Bentak Rafli dengan wajah dan mata yang memerah menahan gejolak perasaannya.
Kita tinggalkan dulu Rafli dan para anak buahnya yang sedang mengupayakan pencarian Bandiah, sementara itu di mansion keluarga Fahreza...
Shanum baru mendapat pesan dari nomor tak di kenal yang ternyata adalah Bandiah yang mengatakan bahwa dia diturunkan oleh supir taxi online di jalan, sekarang sedang tidak punya uang untuk melanjutkan perjalanannya ke mansion.
"Num, tolong aku dong...aku di turunkan ditengah jalan nih, aku mau melanjutkan perjalanan ke mansion uangku dan tas beserta ponselku sudah dibawa kabur oleh supir yang membawaku, aku diturunkan paksa di sini, ini aja aku meminjam ponsel bapak yang punya warung untuk mengechat kamu, jemput aku di sini ya Num, kamu aja yang menjemput jangan supir kamu...aku nggak enak!! Kutunggu ya Num!! BANDIAH...
__ADS_1
Tanpa berpikir dua kali karena mendengar ternyata sahabatnya sedang dalam kesulitan, maka Shanum langsung menuju keluar ke halaman.
"Mbak Shanum mau kemana kok bawa motor segala, nggak saya antar saja kah??" Tawar Wahid yang sedang bertugas sore itu.
"Nggak usah mas, saya mau menjemput Bandiah teman saya sudah tak jauh kok dari sini, makanya saya memakai motor saja!!" Kata Shanum.
"Oh ya sudah, telepon saya aja jika ada masalah ya mbak!!" Kata Wahid.
"Beres mas Wahid, saya keluar dulu ya...saya sebentar aja kok!!" Jawab Shanum sambil mengendarai motor matiknya.
"Sekitar sepuluh menit berkendara, Shanum tiba di tempat yang di share lock oleh Bandiah.
"Warung?? Mana warungnya?? Tapi benar kok ini tempatnya!!" Ujar Shanum berhenti ditepi jalan yang lumayan sunyi.
"Di, kamu di mana?? Di??" Teriak Bandiah.
"Aku di sini, Num...tadi aku mau buang air kecil tapi kaki aku kram tidak bisa berdiri!!" Teriak suara yang menyerupai suara Bandiah itu.
"Ada-ada wae si Bandiah...sudah sendirian di tempat begini, kebelet pipis pula!!" Gerutu Shanum sambil mencari keberadaan Bandiah.
"Di mana sih Di??" Teriak Shanum lagi karena suasana mulai temaram sebab hari sudah lewat sore.
"Terus sedikit lagi, Num!! Sepuluh meteran lagi lah di depanmu!! Kamu sudah terlihat kok, kamu aja yang nggak bisa melihat aku karena aku sedang duduk selonjoran di sini nggak bisa berdiri karena kaki aku rasanya kram banget!! Maju aja terus sedikit lagi!!" Ujar Bandiah dari belakang semak-semak yang ada di depan Shanum.
"Ya elah Di!! Sudah tau lagi hamil besar, kenapa pipisnya jauh banget!! Kamu bilang tadi ada di dekat warung, mana warung nya coba!!" Kata Shanum tanpa merasa curiga sedikitpun.
"Di mananya kamu Di??" Teriak Shanum lagi sambil matanya berusaha mencari ke sekitar semak-semak di depannya itu.
"Aku di sini Num, aku berada tepat di belakangmu!!" Suara itu berubah dan bukan lagi suara Bandiah tapi sebuah suara yang tak asing di telinga Shanum.
*
*
***Bersambung...
Penasaran kan suara siapa itu!!
Ikuti terus kisah mereka di episode selanjutnya ya!! Dan jangan lupa reader tercinta, mohon dukungannya ya, terima kasih🙏🙏
__ADS_1