Sejuta Kenangan Bersamamu

Sejuta Kenangan Bersamamu
Bab 156 Saling Mengenali


__ADS_3

"Kamu kan lihat sendiri saya telah mematahkan sambungan sikunya kenapa masih bertanya lagi?? Kamu tidak buta kan??" Tanya Mini datar.


"Dasar perempuan an*jing kamu!! Biar sekalian aku bunuh kamu!!" Kata preman itu sangat marah.


"Saya manusia, kalian an*jingnya!! Muka kalian saja yang manusia tapi hati kalian seperti hewan...benar nggak??" Tanya Mini dengan santainya.


"Dasar wanita sialan, jangan salahkan jika kamu babak belur aku hajar!!" Kata si preman.


"Sekarang itu bukti, saya mau merasakan bagaiman rasanya tangan kalian yang besar mulut itu." Kata Mini tersenyum mengejek.


"Terima ini...!!"


BUGH...BUGH


Dua pukulan bersarang di perut Mini.


Wanita itu hanya hanya mundur tiga langkah tetapi tidak memberikan reaksi apa pun.


"Hanya segitukah kemampuanmu?? Saya pikir kamu bisa memukul lebih keras lagi ternyata pukulan kamu lembek seperti pukulan seorang wanita, dasar banci!! Begitu kok mau tidur dengan saya, apa burungmu bisa berkicau??" Kata Mini membuat kedua preman tersebut semakin naik darah.


"Sekarang giliran saya yang memukul kalian ya!!" Kata Mini.


Wajah bercandanya kini lenyap berganti seringaian buas dari bibirnya.


"Saya hanya perlu satu pukulan tak usah banyak-banyak!!" Kekeh Mini.


BUGH....


ARRGGHHHH


Preman itu langsung terpental muntah darah dan langaung jatuh pingsan tak sadarkan diri membuat si adik jadi ketakutan.


"Pergi...bawa kakakmu ini sekaraannggg sebelum saya berubah pikiran untuk mematahkan satu siku kamu yang sebelahnya lagi!!" Bentak Mini membuat si preman ketakutan setengah mati.


Dengan susah payah akhirnya dia mampu menggeret tubuh kakaknya itu pergi menjauh.


"Bapak tidak apa-apa??" Tanya Mini membantu orang tua itu berdiri.


"Bapak nggak apa-apa nak!! Lagian bapak sudah biasa dihajar oleh mereka!!" Jawab orang tua itu.

__ADS_1


"Bapak tinggal di mana? Mari saya antar?" Tawar Mini.


Pak tua itu nampak bingung mau menjawab pertanyaan dari Mini.


"Bapak...sudah tiga tahun bapak tinggal di mana saja yang penting bapak tidak kehujanan!!" Lirihnya.


Akhirnya Mini mengajak bapak tua itu duduk makan nasi goreng di pinggir taman, sambil menunggu pesanan datang Mini akhirnya bertanya akan sesuatu yang sejak tadi mengganjal pikirannya.


"Pak saya mau tanya sesuatu, tadi saya samar mendengar bapak menyebut sebuah nama Anina, benarkah itu?" Tanya Mini.


Mungkin kamu salah dengar nak!! Kilah bapak tua itu.


"Pak, nama yang bapak sebutkan tadi persis sama seperti nama almarhumah ibu saya!!" Terang Mini pelan.


Lelaki tua itu menoleh pada Mini.


"Iya tadi bapak sempat kaget saat kamu membuka kaca mata hitam tadi wajahmu sangat mirip dengan nama orang yang bapak sebut barusan!!" Kata pak tua itu terlihat murung.


Belum sempat mereka banyak berbincang, nasi goreng spesial pesanan Mini dan dua gelas es jeruk sudah datang.


"Pak, ceritanya nanti saja dulu ya?? Kita makan dulu!! Saat ibu saya masih hidup, beliau sangat marah jika saya dan saudari kembar saya makan sambil mengobrol!!" Kata Mini.


Pak tua itu tampak melamun seperti tengah mengingat sesuatu.


"Ada apa pak?? Mengapa bapak tiba-tiba menangis??" Tanya Mini kaget mendengar suara isakan pak tua itu.


"Bapak hanya teringat nasehat istri bapak dulu, nak...dia juga nggak suka kalau makan sambil ngobrol!!" Kata pak tua itu.


"Pak maaf perasaan sedari tadi saya belum tau siapa nama bapak!!" Kata Mini.


"Nama bapak Zonas tetapi orang sering memanggil bapak dengan sebutan Zoe." Kata pak Zonas.


"Pasti istri bapak sangat cantik sehingga bapak selalu mengingatnya!!" Kata Mini sambil menyuap dan mengunyah nasi goreng di dalam mulutnya.


"Istri bapak sangat cantik sebetulnya dia belum menjadi istri baru calon istri tapi dia di usianya yang masih sangat muda telah mengandung anak kami!! Bapak dan dia sudah berencana menikah saat itu tetapi entah mengapa dia pergi meninggalkan bapak bersama calon bayi kami." Kata pak Zoe seraya menghapus air mata yang sejak tadi ditahannya.


"Memang kemana dia pergi bersama kandungannya pak??" Tanya Mini yang entah mengapa begitu tertarik pada orang tua itu seperti ada satu ikatan kuat di antara mereka berdua.


"Bapak tidak tau nak, istri bapak tiba-tiba saja pergi bersama ibunya entah kemana, bapak sampai seperti orang gila saat kehilangan dia!!" Kata pak Zoe.

__ADS_1


"Bapak masih mencintainya? Bagaimana jika dia sudah meninggal pak??" Tanya Mini lagi.


"Bapak akan selalu tetap mencintainya walaupun kini dia sudah tak ada lagi di dunia ini!!" Kata pak Zoe.


Belum sempat mereka banyak bercerita tiba-tiba datang preman yang tadi bersama beberapa orang kawannya tetapi kakaknya yang pingsan tadi tidak bersama dengan dia.


"Ouuhh di sini rupanya kamu pak tua Zoe?? Punya pelindung sekarang ya?? Pakai acara makan nasi goreng di sini lagi!!" Bentak preman yang kini tangannya tampak dibalut perban dan diberi penyangga.


"Kamu lagi...nggak kapok-kapoknya ya kamu berbuat onar, mau kaki sebelah kamu lagi yang akan saya buat cacat??" Bentak Mini geram sementara pemilik rombong nasi goreng dan mereka yang makan di sana termasuk pak Zoe nampak sangat ketakutan.


Mereka membubarkan diri setelah membayar nasi goreng tersebut selesai atau belum selesai makan dan mereka segera angkat kaki dari sana.


"Jangan kamu sombong dulu neng cantik!! Tadi kami hanya berdua saja sekarang kami ada berenam, masih berani kamu melawan kami??" Tanya si patah tangan.


Mini hanya tersenyum miring. Para preman itu tidak tau siapa Mini sebenarnya, jangankan hanya menghadapi enam orang, satu lusin orang seperti para preman itu tidak akan membuat gentar seorang Amini Fahreza.


"Pak, menjauhlah!! Bersembunyi yang jauh agar bapak tidak terluka!! Percayalah pada saya!!" Bisik Mini berusaha meyakinkan pak Zoe untuk pergi menjauh.


Awalnya pak Zoe ragu untuk meninggalkan Mini seorang diri, tetapi melihat kesungguhan di mata Mini membuat pak Zoe merasa yakin sekarang.


"Bagus semua orang sudah pergi kalian berenam sendiri yang datang mencari gara-gara dengan saya, jangan salahkan saya jika kalian akan saya buat cacat seumur hidup!!" Tiba-tiba suara Mini berubah menjadi dingin dan wajahnya seperti menyiratkan wajah seorang pembunuh.


Ya...Amini memang berprofesi sebagai seorang pembunuh bayaran, dan para berandalan itu salah jika mencari ribut dengan Amini sama saja seperti membangunkan seekor naga yang sedang tertidur pulas di dalam sarangnya.


Mini berdiri tegak dia tak bergerak sama sekali dari tempatnya berdiri saat keenamnya mengurung Amini dan mulai menyerangnya entah kapan dia bergerak ketika kaki dan tangan Mini menghajar keenam orang itu.


"Manusia seperti kalian ini memang pantas untuk dibuat cacat seumur hidup, bila perlu untuk dibunuh agar tidak meresahkan orang lain yang tidak berdosa lagi!!" Kata Amini datar.


Gerakannya sangat cepat karena memang keenam preman jalanan itu bukanlah lawan yang seimbang untuk Mini yang sering menghadapi musuh lebih banyak dan lebih tangguh dari pada preman kacangan itu.


BAG...BUG...BAG...BUG


Satu persatu para preman itu tumbang di tangan Amini.


"Pergilah kalian, hari ini moodku sedang baik, saya akan mengampuni kalian tetapi jika sampai kita bertemu lagi dan kalian masih tetap menjadi penjahat seperti sekarang ini, maka habis kalian!!" Ancam Mini pada berandalan yang sudah babak belur itu.


*


*

__ADS_1


***Bersambung...


Lanjut ke next episode ya😊😊 dan jangan lupa dukungannya!!!


__ADS_2