
"Lang...apa saat kamu masih bersama dengan Sheilla, kalian pernah pergi bersama dan bersenang-senang seperti sekarang ini??" tanya daddy nya Elang.
"Pergi bersama?? boro-boro pergi bersama, setiap berdekatan aja yang ada kita selalu bertengkar, apalagi untuk pergi bersama??" jawab Elang mengenang kebersamaannya dan Sheilla yang tak ada romantis-romantisnya.
*************
Semua sudah siap??" tanya opa Jonas pada mereka semua.
"Siap opa!!" teriak Chika dan Chiro sangat senang karena mereka akan naik mobil kembali seperti waktu pertama mereka datang dari kota dulu.
"Asyik....kita naik mobil lagi!!" teriak keduanya.
Bersamaan dengan itu Sheilla yang menyamar sebagai Anni melihat mereka.
"Bukankah itu si janda pirang?? bodohnya aku, seandainya aku tau dia tinggal tak jauh dari tempat aku tinggal, sudah lama aku akan menghabisi mereka semua." Gumam Sheilla.
"Ooohhh berarti saat aku melihat maminya Indra beberapa hari lalu itu, mereka hendak menemui Shanum thoh...apa mereka akan kembali ke kota lagi ya??" kata Sheilla.
"Si janda ini nih salah satunya yang membuat Elang berubah padaku...bukan hanya Indra yang ingin digaetnya tetapi Elang juga!!" umpat Sheilla.
"Nasib kamu masih baik Shanum, kamu dan keluargamu masih selamat tetapi lain hari jangan harap kamu akan lolos dari tanganku wanita lak*nat!!" maki Shiella.
"Enak betul hidupmu bersenang-senang dengan suami sepupuku Pingkan, sementara Pingkan sendiri menderita di sana." Geram Sheilla.
Tak lama mobil Indra dan keluarganya perlahan meninggalkan tempat itu, menyisakan sepasang mata yamg menatap kearah kepergian mereka penih dendam.
*************
"Kamu merasa lelah??" tanya Rahman pada Pingkan.
"Jika kamu merasa lelah, aku akan mengantarkanmu ke bar tempat mobilmu tadi ditinggalkan." Rahman menahan langkah Pingkan yang sempoyongan.
"Aku memang sedikit lelah, Rahman!!" kata Pingkan lagi.
"Apa kamu mau pulang??" tanya Rahman.
"Aku mau pulang tetapi aku sepertinya tidak bisa membawa mobilku sendiri!!" jawab Pingkan.
"Apa kamu mau aku mengantarmu pulang?? kamu tinggalkan saja mobilmu di sini biar kuantar pulang dengan menggunakan motor saja, mau??" tawar Rahman.
__ADS_1
Akhirnya Pingkan mengangguk setuju saat Rahman mau mengantarkannya.
"Bisa cepetan nggak, Man? Tampaknya hari akan hujan deras lagi!!" kata Pingkan.
"Waduh kita singgah sebentar kerumahku mau ambil mantel sebentar ya, Pingkan!!" tawar Rahman.
Tetapi ternyata mereka tidak sempat beranjak dari rumah Rahman, hujan sudah turun dengan derasnya.
"Waduh...bakal lama nih kita di sini." ucap Pingkan.
"Jika sampai tengah malam hujannya ngga reda juga, lebih baik kamu menginap di sini saja!!" ujar Rahman.
"Nanti besok pagi kuantar kamu sampai bar tempat kita menitipkan mobil, jadi istirahat saja di sini dulu!!"
"Rumah kamu lumayan besar, Man...kamu tinggal di sini sendiri sajakah??" tanya Pingkan.
"Dulu sewaktu istriku dan anakku masih ada kami tinggal bertiga di rumah ini, sekarang ya tinggal sendiri saja."
Lho terus wanita simpanan kamu itu tinggal di mana." tanya Pingkan pada Rahman.
"Ya di rumahnya lah...dia kan juga punya rumah sendiri!!" ucap Rahman.
Tapi ternyata hujan memang turun semakin deras. Jalanan tampak sunyi dan pandangan mata terbatas karena tertutup oleh derasnya air hujan.
"Kamu sudah mengantuk?? kalau kamu sudah mengantuk kuantarkan kamu kekamar biar bisa istirahat!!" kata Rahman.
Pingkan mengangguk. Dia memang sudah sangat mengantuk ditambah lagi hawa yang semakin dingin di luar.
JEDAR...BLUBP...AAHHH...
Bersamaan dengan sambaran petir, seluruh listrik padam dan membuat Pingkan jadi berteriak ketakutan.
"Jangan kamu berteriak begitu, kan aku jadi kaget juga mendengar teriakanmu apalagi listrik padam begini." Kata Rahman sambil menggandeng tangan Pingkan.
Dengan bantuan lampu senter dari ponselmya Rahman mengambilkan lilin dan menyalakannya agar Pingkan tidak kegelapan.
Kamu tidur di sini juga ya Rahman, jangan tinggalin aku!! aku phobia pada gelap." Kata Pingkan.
"Kamu tidak takut aku gerayangi jija tidur bsrsamaku??" gurau Rahman
__ADS_1
"Lebih baik digerayangi kamu dari pada digerayangi kecoa!!" balas Pingkan pula.
"Sini..." Rahman menepuk bantal di sebelahnya agar Pingkan berbaring di sana.
Awalnya terasa biasa saja tetapi karena tubuh mereka yang saling merapat dan terus bergesekan, membuat sensasi tersendiri bagi keduanya.
Rahman mulai mendekap tubuh Ramping Pingkan walaupun belum lama dia habis melahirkan.
Dia merasakan tubuh yang dia dekap itu menggeliat dan seolah Rahman pun merasakan hal yang sama seperti Pingkan rasakan.
"Kamu menginginkannya??" bisik Rahman ketelinga Pingkan membuat bulu-bulu halus di tubuh itu meriang.
Pingkan hanya mengangguk samar. Jujur tubuhnya menginginkan sentuhan lebih dari pada sekedar dekapan dari laki-laki tampan yang semenjak di bar tadi sudah mencuri hatinya.
Rahman mulai menciumi tengkuk halus mulus itu. Tak lama Pingkan berbalik menghadapnya. Dalam keremangan cahaya lilin mereka saling bersitatap satu dengan yang lain.
"Pingkan, aku menginginkanmu!!" kata Rahman lirih.
"Aku juga!!" bisik Pingkan tak kalah lirihnya berbaur dengan gejolak darahnya yang memanas seiring dengan liarnya sentuhan demi sentuhan laki-laki itu.
************
"Hujan...bisakah kamu sampaikan salamku pada pujaan hatiku yang ada jauh di seberang lautan sana??"
"Katakan padanya jika aku sangat merindukan dia, wahai hujan!!" gumam Rafli Andarian dari balik jendela apartemennya.
"Hujan, apakah dia juga sedang memikirkan aku seperti aku yang selalu memikirkan dia??"
"Tak adakah sedikit saja tempat di hatinya untuk aku??"
"Rasanya aku ingin kembali menjadi cleaning service lagi agar bisa tetap dengan dia seperti dulu!!" Rafli Andarian terus bergumam di dalam kesendiriannya.
*
*
***Bersambung...
Rindu tersakit adalah saat orang yang sedang kita rindukan malah merindukan orang lain!!
__ADS_1