Sejuta Kenangan Bersamamu

Sejuta Kenangan Bersamamu
Bab 132 Menyelamatkan Diri


__ADS_3

Bergegas Rafli keluar dari kantor menuju motornya, dia ingin pulang dulu memeriksa keadaan rumah. Mungkin istrinya belum berangkat menuju tempat tinggal Shanum atau ada hal lain yang terjadi dan membuat Bandiah lupa untuk menelponnya.


"Assalamualaikum...mi..umi!!" Rafli mengetuk pintu rumah.


"Ibu yang punya kontrakan keluar mendengar suara Rafli berkali-kali memanggil nama Bandiah.


"Lho, bukannya tadi siang pergi dengan taxi online yang sudah dipesan sama mas Rafli, ya!! Makanya mbak Di titip kunci rumah sama ibu!!" Kata pemilik kontrakan sambil memberikan kunci pada Rafli.


"Kata temannya yang dituju, istri saya belum sampai ke sana bu!!" Kata Rafli mulai tegang.


"Kok bisa mas, nyata-nyata lho tadi mbak Di juga pamit sama saya sebelum naik taxi!!" Kata ibu kontrakan itu.


"Bu, ibu ingat nggak sama warna mobil dan plat mobilnya??" Tanya Rafli dengan wajah yang mengeras.


"Ingatlah mas, warnanya biru dan platnya XXXX mobil orang itu berhenti tak jauh dari tempat saya berdiri jadi saya ingat betul warna dan platnya." Kata ibu yang punya kontrakan itu.


"Astaghfirullah!!" Wajah Rafli tampak pias mendengar ucapan ibu kontrakan tersebut.


"Kenapa mas Rafli kok tampak panik begitu??" Tanya ibu tersebut.


"Bu, taxi online yang saya pesan warnanya putih bukan biru, lalu itu siapa??" Tanya Rafli juga panik, tetapi sebagai seorang polisi dia berusaha setenang mungkin.


Tiba-tiba....


DDDRRRTTTTT


"Halo Kapten, kami menemukan mobil avanza putih dengan plat seperti yang anda sebutkan tadi terparkir di pinggir jalan!! Tampaknya sang supir baru tersadar dari pingsannya!! Sekarang dia ada kami amankan dahulu di kantor polisi."


"Jika begitu saya akan kembali ke kantor sekarang, kalian selidiki terus ya karena ini juga menyangkui istri saya."


"Siap laksanakan, kapten!!"


Apa kata anak buah mas Rafli??" Kata ibu kontrakan juga ikut bingung.


"Anak buah saya menemukan supir yang siang tadi mau menjemput istri saya ada di pinggir jalan jauh di perbatasan kota, untung dia tidak apa-apa hanya sedikit ling lung!!" Jawab Rafli.


"Bu, saya kembali ke kantor lagi ya jika ada berita tentang istri saya telepon saya aja bu!!" Kata Rafli lagi.


"Ya Allah umi, umi ada di mana sekarang?? Semoga umi baik-baik saja!!" Doa Rafli dan tak terasa beberapa bulir air mata mengalir di pipinya.

__ADS_1


***Flash back on***


"Stop mas, stop...mobil ini mau kemana?? Ini bukan jalan menuju tempat yang di pesan oleh suami saya??" Teriak Bandiah.


Tiba-tiba si supir tertawa mengekeh lalu tampak dia membuka topi dan kaca mata hitam serta maskernya.


"Kamu?? Kamu mbak Tania kan?? Untuk apa kamu menyamar menjadi supir taxi online??" Tanya Bandiah.


"Hei wanita jelek dan kampungan, apa sih bagusnya kamu ini?? Cantik nggak jelek iya, pintar nggak goblok iya!!" Kekeh Tania sambil melajukan mobilnya.


"Berhenti..." Kata Bandiah tidak mau kalah.


Dengan sekuat tenaga dia menarik rambut Tania yang tergerai.


"Sakit kepalaku wanita sialan!!" Jerit Tania.


"Jika kamu tidak menghentikan laju mobil ini maka akan aku tarik terus rambutmu ini biar lepas sekalian sama kepalamu!!" Ancam Bandiah tak mau kalah.


"Aku akan menerjunkan mobil ini ke jurang sana biar kamu dan bayi yang ada di perut kamu itu juga mati, enak saja kamu mau mengambil kedudukan Rafli dariku!!" Sentak Tania tiba-tiba membuat Bandiah terjengkang ke belakang dan jambakannya pada rambut Tania terlepas.


Lalu tanpa diduga dia membuka pintu mobil dan membuang dirinya kesamping.


Tetapi tak mudah mencapai kebagian depan apalagi mobil yang melaju tak terkendali dalam keadaan menuruni jalanan jurang ditambah Bandiah sedang hamil 7 bulan.


Tetapi dia tetap berusaha untuk menyelamatkan diri dan bayinya. Tas tangan yang berisi ponsel dan uang tetap dia selempangkan di bahunya.


"Aku harus bisa, aku harus selamat karena aku bukan hanya untuk menyelamatkan diriku sendiri tetapi juga menyelamatkan bayi yang berada di dalam kandunganku ini." Kata Bandiah.


Walaupun dengan susah payah akhirnya dia berhasil pindah ke bangku kemudi.


"Aku harus cepat tetapi juga tetap tenang dan jangan panik, sebab jika dalam.keadaan panik maka otak kita juga sulit untuk berpikir." Gumam Bandiah.


Sebagai manusia biasa apalagi sedang dalam keadaan hamil besar seperti ini, pastilah Bandiah pun juga sangat ketakutan. Tetapi ajaran Rafli mengatakan, "Tenanglah dalam situasi apapun karena dengan pikiran yang tenang kita bisa menemukan jalan keluar dari kesulitan kita!!"


Bandiah meninggalkan tas pakaiannya di dalam mobil setelah semua isinya berusaha dia ikatkan kepinggangnya untuk menutupi perutnya agar tidak terlalu terkena benturan secara langsung.


"Bismillah...yang kuat ya nak, kita berjuang untuk hidup bersama hingga abi bisa menemukan kita!!" Lalu begitu ada kesempatan untuk melompat Bandiah segera melompat dari mobil yang terus melaju menuju ke dasar jurang.


Rupanya Allah masih melindungi umatnya yang berhati baik seperti Bandiah tidak seperti Tania tadi saat terguling dari dalam mobil perutnya menghantam batu besar.

__ADS_1


Tania berteriak saat darah merembes keluar membasahi pahanya. Karena tak dapat menahan rasa sakit akhirnya Tania pingsan tak sadarkan diri.


Berkat perlindungan beberapa helai pakaian yang telah dililitkan keperutnya dan sebatang pohon yang akarnya menjuntai dan sempat ditangkap oleh Bandiah sehingga mengurangi daya dorong saat dia jatuh akhirnya Bandiah selamat tiba di sisi jurang sebelahnya.


Terdengar ledakan keras di bawah sana saat mobil biru metalik itu terbakar.


"Aduh perutku sakit sekali!!" Rintih Bandiah.


"Jangan-jangan aku mau melahirkan tetapi usia kandunganku belum genap 7 bulan!!" Rintih Bandiah.


"Ya Allah selamatkanlah hamba, abi tolong umi, abi!!" Air mata Bandiah menetes menahan rasa sakit pada perutnya.


Perlahan Bandiah mencari tempat yang enak untuk dia duduki.


"Tolong!!" Rintih Bandiah untuk terakhir kali sebelum dia jatuh pingsan.


"Bu, ada sesuatu yang meledak di bawah jurang sana!!" Kata seorang lelaki tua bersama istrinya yang tengah mencari sayuran dan umbi-umbian di sisi jurang.


"Sepertinya ada kecelakaan di sini pak!!" Jawab istrinya.


"Bu, itu apa ya?? Mayat kah?? Bisa jadi itu adalah korban yang selamat dari ledakan tadi!!" Kata suaminya.


"Cepat pak ayo kita tolong!!" Kata istrinya.


Dengan hati-hati suaminya turun untuk melihat keadaan seseorang yang terbaring memiringkan tubuhnya.


"Bu!!! Tolong bapak, wanita ini tengah hamil bu! Kita harus segera menolongnya sepertinya dia mau melahirkan!!" Kata Suaminya.


Dengan susah payah kedua orang tua itu menggotong Bandiah ketempat yang rata.


"Tolong saya bu, pak...sepertinya saya sudah mau melahirkan!!" Rintih Bandiah sambil menahan rasa sakitnya.


*


*


***Bersambung...


Bagaimana nasib Bandiah selanjutnya? Ikuti terus kisah mereka selanjutnya ya reader dan jangan lupa untuk dukungannya!! Terima kasih😊😊🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2