
Dua tubuh diangkat dengan dua ambulan yang berbeda. Pertama ambulan yang membawa jenazah si cungkring dan yang kedua adalah ambulan yang membawa Indra dan Sukran yang terluka cukup parah akibat benturan dengan batu pembatas jalan saat dia melompat tadi dari mobil yang berkecepatan tinggi.
Dengan cepat Dodi menelpon mami Tiara. Sementara Wahid ikut dalam ambulan bersama Rafli.
DDDRRRTTTTTT
π±"Assalamualaikum!!"
π±"Nyonya...mas Indra tertembak di punggungnya dan sekarang sedang dilarikan kerumah sakit xxx."
π±"Apa??? Indra tertembak??"
PRANG...
Piring yang dibawa oleh Shanum pecah terlepas dari pegangan tangannya.
"Mas...!!" lirih Shanum.
π±"Sekarang bagaimana keadaannya???"
Terdengar suara mami Prianka sangat panik mendengar penembakan yang terjadi pada putra semata wayangnya.
"Shanum, ada apa nak??" tanya bu Karti.
"Mas Indra tertembak bu, sekarang keadaannya sedang gawat dan sedang dalam perjalanan kerumah sakit." Kata Shanum dengan suara bergetar.
π±"Sebaiknya nyonya menyusul saja kerumah sakit xxx kami sudah hampir sampai.
Tanpa menunggu lagi mami Prianka memutuskan sambungan teleponnya dan bergegas akan pergi.
"Mau pergi kemana sudah mau mendekati isya begini, mi??" tanya suaminya.
"Indra pi!!" mami Prianka tak kuasa melanjutkan kalimatnya.
"Indra kenapa mi??" tanya papi Jonas.
"Indra tertembak di punggungnya pi, dan sekarang sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit xxx!!" kata mami Prianka.
"Ayo kita pergi sekarang mi!!" kata suaminya.
"Mi...pi...Shanum mau ikut, Shanum mau melihat juga keadaan mas Indra, mi...pi!!" kata Shanum tiba-tiba muncul di belakang mereka.
"Tapi nanti jika kamu pergi dengan kami, anak-anak bagaimana Num??" kata mami Prianka.
"Biar anak-anak sama saya aja bu!!" kata bu Karti.
"Biarkan saja mi, Shanum juga harus tau bagaimana keadaan suaminya!!" kata papi Jonas.
Sementara di kamar jenazah...
__ADS_1
Saat jenazah si cungkring akan di autopsi.
"Dokter Jimmy yang menangani jenazah tersebut kaget.
"Dia seorang wanita, dia bukan laki-laki!!" kata dokter Jimmy.
Dia menelusuri wajah si cungkring dan menemukan seperti ada selaput tipis di leher wanita yang jenazahnya dia tangani.
Pelan dokter Jimmy menarik selaput tipis itu dan, set....
Secarik topeng tipis tertarik keseluruhan dari leher hingga wajah dan kini tampaklah rupa asli jenazah tersebut.
"Wanita ini??? kalau tidak salah wanita ini yang sempat menjadi buronan polisi beberapa bulan lalu dan belum tertangkap!!" desis dokter Jimmy.
Akhirnya dia menelpon tim kepolisian dan akhirnya terungkaplah kini identitas pria cungkring yang ternyata adalah Stella.
Mendengar kabar bahwa putri tunggalnya tewas tertembak mami Prita dan mami Prianka pingsan.
Elang menghembuskan napas kasarnya. Bagaimanapun dia dan Stella pernah bersama, berbalik bagaimana awal keretakan dan perpisahan mereka, tapi mereka sempat lama menjalin hubungan.
Sementara dokter yang menangani Indra masih berjuang di meja operasi untuk mengeluarkan dua butir peluru yang bersarang di punggung Indra.
Shanum sekeluarga tak hentinya berdoa untuk suami dan ayah anak-anaknya.
Sementara Elang...
***POV ELANG***
Tidak Ndra, kamu seorang ayah dan seorang suami yang kuat, kamu bisa berjuang melawan penyakit tumormu saat itu, mengapa kamu bisa kalah hanya dengan dua butir peluru??
Tetap semangat untuk kami dan juga keluargamu Ndra, jangan menyerah dan kamu tidak boleh kalah oleh rasa sakitmu.
Jangan pernah tinggalkan Shanum, Ndra...dulu aku ikhlas melepaskanmu dengannya asal kamu jaga dia baik-baik...makanya aku meminta padamu untuk menjaga Shanum.
Elang menggigit bibir bawahnya. Tak tega rasanya dia melihat Indra dalam keadaan seperti itu. Mereka berteman mulai kecil hingga sekolah dan kuliah hingga bekerja lalu bertunangan secara bersamaan lalu mencintai satu wanita yang sama pula dan akhirnya Elang mengalah demi sahabatnya walaupun dia masih memendam rasa itu.
"Ayo lah bro, semangatlah...aku selalu mendukungmu!!" gumam Elang lirih.
***********
Suara ******* dan erangan bersahutan dari rumah kecil pinggir kampung itu.
Kedua insan berlainan jenis yang saling berselingkuh dari pasangannya masing-masing terus berpacu melawan dinginnya malam sampai mereka tidak menyadari bahwa suami Sri sudah pulang dari dinas malamnya.
Awalnya Darto pulang kerumah nya dengan semangat mengayuh sepeda tuanya.
Hari ini dia mendapat rejeki sekaligus mendapat promosi naik jabatan oleh atasannya karena Darto terkenal rajin dan disiplin dalam bekerja sehingga dia cepat dipromosikan oleh supervisornya.
Dengan wajah berseri-seri Darto pulang untuk memberikan kabar baik ini untuk istri tercinta.
__ADS_1
Darto berniat mengetuk pintu rumah tapi karena tak mau mengganggu tidur si istri akhirnya dia memilih masuk lewat pintu belakang karena dia juga memegang kunci pintu belakang.
Pintu dia buka perlahan dan kemudian dia tutup kembali juga dengan perlahan.
"Suara apa itu??" lirih Darto saat mendengar suara tak biasa dari arah kamar satu-satunya milik mereka.
Wajah Darto tiba-tiba menjadi pucat pasi, bergegas dia menuju kamar tidur mereka dan alangkah terkejutnya dia melihat pemandangan yang membuat hatinya seketika hancur berkeping-keping.
Bagaimana tidak, dia melihat istrinya tercinta sedang terbaring telentang di atas ranjang mereka sementara di atas tubuhnya yang telan*jang itu dtindih oleh sesosok tubuh tinggi kekar sedang mengaduk-aduk istrinya sehingga Sri merem melek keenakan.
Air mata Darto tak kuasa membanjiri pipinya. Dia dan Sri memang menikah karena perjodohan, dia tak mengenal sebelumnya bagaimana perilaku Sri yang sebenarnya.
Darto mundur perlahan menikmati setiap kesakitannya. Membuat kopi dan membawanya duduk di ruangan depan.
Lima belas menit kemudian kegiatan bercocok tanam Hansen dan Sri sudah berakhir.
"Astaga mas?? sudah jam sebelas malam, cepat pulang...sebentar lagi suamiku datang!!" kata Sri cepat-cepat memakai dasternya.
"Sri jangan lupa dikembalikan dalaman milik pria itu ya...sayang di sini juga nggak terpakai." Sebuah suara yang penuh kelembutan seperti biasanya tetapi seperti halilintar menggelegar di telinga Sri dan Hansen.
"M...mas Darto!!" lidah Sri terasa kelu saat menyebut nama suaminya yang sabar itu.
"Sri aku pamit dulu....kalian selesaikan saja dulu masalah di antara kalian." Kata Hansen dengan enteng.
"Terima kasih mas...!!" kata Darto.
Hansen berhenti lalu setelah mengambil ponselnya di atas televisi milik Sri dia lalu berpaling pada Darto.
"Untuk apa??" katanya bingung dan juga heran.
"Telah mengajarkan kepada saya apa arti kesetiaan dan juga arti sebuah pengkhianatan." Kata Darto lemah lembut tapi sangat menusuk bagi telinga kedua pasangan mesum itu.
"Mas, istri sampean sejak tadi menelpon terus jadi saya kirimkan saja foto kalian tadi yang lagi kuda-kudaan!!" kata Darto kalem tapi membuat wajah Hansen berubah.
"Bang*sat....beraninya kau!!" kata Hansen bukan main marahnya lalu hendak memukul Darto.
Darto hanya tersenyum melihat kemarahan Hansen.
"Mas mau memukul saya?? mestinya saya yang memukul sampean karena telah berzina dengan istri saya tapi ini kok malah terbalik??"
"Sebentar saja saya berteriak mas, maka satu kampung akan datang untuk menghakimi penzina seperti kalian berdua, mau??" tanya Darto lembut tapi penuh ancaman.
*
*
***Bersambung....
Akhirnya Hansen dan Sri kena batunya....
__ADS_1
Bagaimana kisah mereka selanjutnya??
Jangan lupa ikuti kisah mereka di next episodeππ