
"Apa yang di sombongkan, Di? Kaya nggak, ganteng nggak, miskin sama jelek iya!" Kata Thoriq.
"Kamu menyindir aku kah?" Kata Bandiah.
"Untuk apa aku menyindirmu? Sesama orang jelek kok sindir menyindir, apa hebatnya?" Kata Thoriq membuat Bandiah tertawa pada kelakuan sahabatnya yang selalu bisa membuatnya tertawa itu.
"Bagaimana kabar mu sekarang Riq?? Kamu lho ya menikah nggak undang-undang!!" Kata Bandiah.
"Menikah sama siapa? Kapan aku menikah? Aku lho masih setia menunggumu?" Kata Thoriq.
"Gigimu bertato Riq, mau apa kamu menungguku? Memang aku ada hutang sama kamu?" Tanya Bandiah sambil tertawa.
"Bagaimana kabarmu di kota, Di? Jika pekerjaanmu di kota hanya begitu-begitu aja mending kamu balik ke desa, bekerja di sini saja, aku akan membantumu!!" Kata Toriq.
"Nantilah aku pikirkan, nomor teleponmu masih yang dulu kan?" Tanya Bandiah.
"Nomorku itu nggak pernah ganti, Di!!" Okelah jika begitu.
***********
"Hai Rahman, apa kabar?" Sapa seseorang pada Rahman yang sedang menghidupkan mesin motornya.
Rahman menoleh pada suara yang menyapa nya.
"Emiana!!!" Desisnya.
"Kabarku baik, ada perlu apa kamu menyamperin aku?" Ketus Rahman.
"Memang salah ya jika aku menyapa mantan kekasihku sendiri??" senyum Emiana terkembang.
"Sangat salah, sebab di antara kita sudah tak ada hubungan apapun lagi." Kata Rahman dengan mimik wajah yang tak suka.
Bagaimana pun dia mencurigai keterlibatan Emiana karena penyerangan seekor ular kobra di kamarnya waktu itu yang menyebabkan area kejantanannya harus terkena imbasnya dipatok oleh hewan buas dan ganas itu.
Emiana masih berusaha untuk menahan kesabarannya dengan sikap Rahman yang dingin dan ketus.
"Aku salah apa sih sama kamu, Man?? Dulu aja waktu kamu butuh aku, bahkan mungkin aku pergi kelubang semut pun kamu pasti mencariku!!" Kata Emiana.
"Sudah lah Emi jangan ungkit masa lalu, itu semua sudah berlalu." Kata Rahman.
Lalu dia kembali naik keatas motornya dan menghidupkan lalu hendak berlalu.
"Man, tak bisakah kita kembali berhubungan seperti dulu lagi?" Tanya Emiana menahan motor Rahman agar tidak berlalu dulu.
Rahman memandang Emiana dengan tajam.
__ADS_1
"Apa yang kamu harapkan dari lelaki impoten seperti aku? Dan aku mencurigai ular kobra yang mematokku tempo hari adalah ular kobra peliharaanmu, kamu kan suka memelihara hewan melata dan berbisa seperti itu!! Sayang, aku belum mempunyai bukti-bukti yang kuat untuk menjebloskanmu kedalam penjara." Lalu Rahman menepiskan tangan Emiana dan segera berlalu.
"Sialan kau Rahman, kuberi madu kamu malah meminta racun berbisa, kamu tunggu saja apa yang akan terjadi selanjutnya wahai kekasihku!!" Senyum smirk Emiana terkembang di bibirnya.
******************
"Selamat datang cucu kakek yang ganteng!!" Kata kakek Andarian menyambut kedatangan cucu laki-laki semata wayangnya.
"Lho kamu bilang mau bawa pacarmu, mana? Kok datang sendirian?" Tanya kakek sambil celingukan karena saat menikahi Bandiah, Rafli hanya bilang di kota tempat dia bertugas dia sudah punya pacar.
"Bang Rafli!!!!"
Terdengar suara teriakan dari luar gerbang.
'Zeta....Zoya....wah kalian sudah semester berapa sekarang?" Tanya Rafli sambil memeluk dua adik sepupu kembarnya itu.
"Selamat datang bang Rafli!!" Sebuah suara dari belakang Zeta dan Zoya mengagetkannya.
"Kamu? Kamu Kintan kan?" Tanya Rafli berusaha mengenali gadis imut yang berdiri cantik di belakang kedua sepupunya.
"Bukan bang, ini Kanza adiknya kak Kintan, mereka memang sangat mirip sih!!" Kata Zeta.
"Kak Kintan ikut suaminya ke Medan bang!!" Kata Kanza.
"Oh iya abang lupa, kamu itu kan cengeng banget dulu!!" Kata Rafli menggoda teman adik sepupunya itu.
"Baru semester 3 bang, tapi katanya Kanza mau menikah muda bang!" Kata Zeta menggida Kanza sahabatnya.
"Oh ya? Memang Kanza sudah punya pacar?" Tanya Rafli.
"Belum bang, kata dia mau menunggu abang!!" Goda Zeta menambahkan membuat wajah Kanza memerah.
"Jangan abang lah, abang kan sudah punya calon istri!!" Kata Rafli.
"Kan baru calon bang belum nikah juga!! Selama janur kuning belum melengkung mah bebas! Jangan kata baru calon yang sudah jadi laki orang aja bisa direbut kok!" Goda Zeta lagi.
"Dasar gadis nakal, di mana kamu belajar ajaran sesat seperti itu!!" teriak Rafli mengejat Zeta yang sudah lari lebih dahulu dan sembunyi di belakang kakek Andarian.
Sementara Kanza yang mendengar Rafli sudah mempunyai calon istri jadi nelongso hatinya.
"Kejutan ini kah yang kakek maksud?" Teriak Rafli berbinar-binar bahagia.
Di sana sudah berkumpul ayah dan ibu si kembar, orang tua Kanza dan masih banyak lagi keluarga bearnya yang lain.
"Selamat ulang tahun yang ke 25 Rafli!! Kata tante Zizi dan om Edward.
__ADS_1
"Om kapan kapalnya sandar?" Kata Rafli memeluk pria blasteran Indo Perancis itu.
Om Edward hanya singgah saat kapalnya bersandar pelabuhan Tanjung Priok sambil dia menjenguk keluarganya.
"Baru tadi pagi langsung diajak tante dan adikmu kemari untuk merayakan ulang tahunmu!!" Jawab Edward yang juga fasih berbahasa Indonesia.
"Rafli sudah punya pacar ya, kalau belum nanti tante Sandra jodohkan denga Kanza saja supaya tali kekeluargaan kita semakin erat." Kata mama dari Kanza tersebut.
"Ah mama apaan sih? Bang Rafli kan sudah punya calon istri." Kata Kanza tersipu.
"Oh ya?? Kenapa tidak dibawa kemari jadi kita bisa lebih mengenalnya!!" Kata Tante Zizi dan tante Sandra.
Dia lagi pulang ke kampung halamannya menjenguk kakek dan neneknya, tante!!" Jawab Rafli.
"Oh orang kampung, tante kira seangkatan kamu, polwankah atau kowad kah??" Kata tante Sandra.
Rafli terdiam. Jika dia terus menceritakan tentang Siti Bandariah istrinya tentu mereka akan lebih menghina lagi, jadi Rafli memilih untuk diam saja.
"Sudah...sudah!! Rafli sudah dewasa, kakek yakin dia bisa memilih jodoh terbaik untuk hidupnya!!" Kata kakek Andarian menengahi obrolan mereka supaya jangan sampai berlarut-larut karena kakek paham watak cucunya itu yang tidak terlalu nyaman jika privacy nya terusik.
Mereka berkumpul di taman belakang rumah besar kakek yang halaman belakangnya banyak terdapat aneka tanaman buah-buahansehingga membuat suasana bertambah sejuk.
Sementara itu...
"Num, ada yang mami, papi dan ibu kamu mau bicarakan." Kata mami Tiara siang itu.
"Shanum yang sedang bermain dengan Rindra, Chika dan Chiro menoleh pada ketiganya.
"Assalamualaikum!!"
"Wah kebetulan orang yang di tunggu sudah datang, masuklah Elang, mbak, mas!!" Kata mami Tiara pada kedua orang tua Elang yang ikut datang berkunjung siang itu ke mansion papi Jonas dan mami Tiara.
Setelah melakukan cipika cipiki seperti layaknya para ibu-ibu pejabat jika bertemu, mereka memilih duduk di taman belakang yang sejuk agar pembicaraan lebih terasa nyaman.
"Mbok, tolong bawa Sharindra, Chika dan Chiro ke kamar dulu ya!!" Perintah mami Tiara.
"Ayo Num, kamu ikut kami ke belakang." Lalu mami Tiara mendahuluinya ke belakang.
*
*
***Bersambung...
Apakah yang akan dibicarakan mereka dan bagaimanakah juga tanggapan keluarga Rafli tentang Bandiah?
__ADS_1
Ayo dong reader mohon dukungannya selalu😊😊