Sejuta Kenangan Bersamamu

Sejuta Kenangan Bersamamu
Bab 55 Menyesal


__ADS_3

Sheilla langsung memutus teleponnya begitu pun dengan Pingkan.


"Syukurlah kamu baik-baik aja, Sheilla...aku begitu mengkhawatirkanmu!!" kata Pingkan lega.


"Setidaknya aku tau bahwa hingga detik ini Sheilla masih aman di tempat persembunyiannya semoga kamu terus bisa menghindari kejaran polisi baby!!" kata Pingkan.


"Sebaiknya aku pergi kerumah bekas janda pirang itu, siapa tau Indra ada di sana!!" gumam Pingkan.


Lalu dia mengambil kunci mobilnya dan melaju kerumah kediaman I dra sekarang.


Tepat dugaan Pingkan, Indra sedang membersihkan halaman depan dan memperbaiki pagar rumah yang sudah mulai rusak.


Indra mengangkat wajahnya sesaat melihat siapa yang datang kemudian melanjutkan pekerjaannya lagi tanpa mempedulikan Pingkan.


"Rajin banget suamiku ini!!" sapa Pingkan.


Indra hanya melirik sebentar kemudian fokus melanjutkan pekerjaannya lagi.


"Dari mana aja kamu selama dua hari ini?? telepon nggak diangkat, WA nggak dijawab, lupakah kalau kamu masih punya istri?" tanya Pingkan kesal.


"Untuk apa kamu menelponku sih?" tanya Indra.


"Wajarlah aku menelponmu, kamu kan suamiku dan aku adalah istrimu, lalu di nana letak kesalahannya??" tanya Pingkan lagi.


"Kok baru sekarang kamu sadar jika sudah punya suami, dari dulu kemana aja kamu??" tanya Indra masih sibuk mengecat pagar rumah Shanum.


"Apakah kesadaran yang terlambat itu salah?? mendingan terlambat dari pada tidak sama sekali, ya kan??" tanya Pingkan lagi.


"Nggak!!" jawab Indra singkat.


"Di saat aku sakit dan membutuhkanmu, kamu pergi bersama dengan teman-teman sosialitamu, aku tertinggal sendiri di tempat asing tanpa ada yang menemaniku dalam kondisi sakit dan tak berdaya!!"


"Kekuatanku saat itu hanya satu, aku harus bertahan hidup demi seorang wanita yang sangat aku cintai dan juga mencintaiku tapi itu bukan kamu karena kamu hanya cinta uangku dan tak pernah peduli padaku bahkan mungkin saat itu kamu berharap supaya aku lekas mati saja supaya tidak lagi menjadi beban hidupmu!! iya kan??" tanya Indra.

__ADS_1


"Lalu di saat aku sudah mulai berangsur sembuh kamu kembali dengan membawa masalah baru, kamu dan keluargamu memaksaku untuk menikahimu demi menutupi aib yang telah kamu ciptakan sendiri."


"Aku harus menikahimu agar bayi yang kamu kandung menpunyai status yang jelas, alangkah teganya kamu padaku...sudah meninggalkanku, mengkhianatiku tau-tau kembali meminta pertanggung jawaban atas sesuatu yang tidak aku lakukan sama sekali."


"Dulu aku menyanggupi karena aku menghormati kedua orang tuaku, tetapi sekarang mereka telah sadar dan tak mau lagi memaksaku untuk mempertahankan pernikahan ini karena mereka tau aku tidak pernah bahagia denganmu!!" kata Indra.


"Kamu ingat dengan perjanjian kontrak yang telah kita sepakati bersama kan?? kita akan mengakhiri hubungan ini jika bayimu telah lahir dan di saat itu juga kewajibanku dan tanggung jawabku padamu sudah berakhir, Pingkan!! jadi kamu tak usah mencariku lagi, aku akan mengurus surat perceraian kita secepatnya!!" kata Indra.


"Tidaakk...aku tidak mau bercerai denganmu, Indra!! aku mencintai kamu, Indra!!" teriak Pingkan.


"Kamu ingatlah, kita pernah melewati masa-masa indah bersama, susah dan senang bersama dan bukan wanita yang sekarang kamu puja-puja itu!!" isak Pingkan tak tertahankan lagi.


"Tapi itu dulu sebelum kamu mengkhianati kepercayaanku, sebelum kamu menduakan aku dengan laki-laki lain, jadi hangan salahkan siapapun dalam hal ini, jangan libatkan Shanum karena ini adalah mutlak kesalahanmu bukan salah orang lain, salahkan dirimu yang tidak bisa menjaga kepercayaan yang sudah aku berikan kepadamu!!" kata Indra.


"Coba kamu ingat-ingat kembali...apakah selama denganku, aku pernah melarangmu kumpul dan hang out bareng dengan teman-temanmu?? nggak kan?? karena aku sudah mempercayaimu!!


"Pernahkah kamu meminta uang ataupun barang yang tidak aku sanggupi?? semua keinginanmu aku upayakan untuk penuhi, tapi kamu memang wanita yang tidak tau berterima kasih, Pingkan...sebenarnya aku enggan untuk menceritakan ini semua kepadamu, aku tidak mau mengungkit semua pemberian yang telah aku berikan padamu tetapi kamu sendiri yang memaksaku untuk mengingatnya." Jelas Indra.


"Aku juga ingin bahagia Pingkan, dan aku juga tau kamu pun demikian, tapi bahagia kita tidak untuk bersama-sama."


"Lebih baik kita saling melepaskan dan mengikhlaskan satu dengan yang lain, Pingkan!!" terang Indra di akhir penjelasannya.


Pingkan tak lagi bersuara, hanya isak tangisnya sajalah yang terdengar, entah isak tangisan yang benar-benar tulus ataukah hanya air mata buaya saja.


"Sekarang kamu pulanglah...aku tau seorang Pingkan yang cantik dan terpelajar serta memiliki status sosial yang tinggi tak mungkin mengemis dan menghiba untuk dicintai."


Indra menepuk bahu wanita yang sebentar lagi hanya akan tinggal cerita saja, karena dia akan segera menceraikan wanita itu!!!


"Aku benci padamu, Indra....sampai kapanpun aku tak ingin bercerai, titik!!" kata Pingkan yang masih kukuh dengan keputusannya.


"Terserah kamu sajalah Pingkan, itu artinya kamu juga harus siap untuk mempermalukan dirimu sendiri, karena di sini sudah jelas, aku menikah lagi karena kamu yang telah lebih dahulu berselingkuh dan hamil dengan laki-laki lain!!" kata Indra.


Mata Pingkan memerah, nafasnya terlihat turun naik karena memendam amarah dan kebencian pada Indra.

__ADS_1


"Aku tak akan pernah membiarkan kamu untuk hiduo bahagia, Indra...ingat itu!!" ancaman yang dilontarkan oleh Pingkan sesaat sebelum dia pergi meninggalkan Indra sendiri.


"Aku harus memberi tau pada mami dan papi bahwa Indra akan menceraikan aku!!" kata Pingkan.


Sementara Itu di tempat kediaman Rahman setelah Yanti dan Atika tidak ada...


Rahman termenung di teras depan, biasanya sepulang kerja sore begini, dia selalu disambut oleh tangisan Atika putrinya, tetapi sudah seminggu ini dia hanya sendirian saja.


Emiana pernah menawarkan kepada Rahman untuk tinggal di rumahnya, tetapi Rahman tidak mau dan lebih memilih tinggal di rumahnya sendiri.


"Ayolah Man, kita tinggal bersama saja...toh tidak ada lagi yang menjadi penghalang kita untuk hidup bersama, kamu tidak harus berbohong lagi kepada istrimu jika ingin bertemu denganku, tak perlu lagi mandi membersihkan badan dengan terburu-buru karena takut ketauan kita baru saja habis bercinta!!" pinta Emiana tetapi Rahman menolaknya dengan alasan rumah Emiana jauh dari tempat dia bekerja, takutnya nanti malah terlambat, begitu alasannya Rahman.


Seperti sore itu sepulang bekerja, Rahman duduk termenung di teras depan.


Tak ada lagi kopi ataupun teh yang disuguhkan oleh Yanti seperti biasanya saat dia pulang dari bekerja.


Tak ada lagi tangisan rewel dari Atika yang selalu saja cerewet jika dilepaskan dari gendongan Yanti.


Tak ada lagi permintaan tolong dari Yanti yang meminta bantuannya untuk menggendong Atika sebentar karena dia ingin mandi.


"Yanti...apakah kamu di Malaysia sana baik-baik saja??" gumam Rahman.


"Mas sudah berulang kali mencoba menelpon kamu tetapi ponselmu sepertinya tidak kamu aktifkan lagi!!"


"Apakah kamu tidak kangen sama mas Rahman di sini??" kata Rahman.


Lalu Rahman beranjak masuk ke dalam rumah jika dia sudah puas merenung di teras rumah. Dia sekarang mempersiapkan semua keperluannya sendiri tanpa bantuan dari istrinya lagi.


*


*


***Bersambung...

__ADS_1


Memang terkadang penyesalan itu datangnya sangat terlambat. Di saat kita baru menyadari dia begitu berharga di dalam kehidupan kita, dia sudah terlanjur pergi dan menghilang.


Ikuti terus kisah mereka selanjutnya di next episode dan jangan lupa dukungannya🙏🙏


__ADS_2