
"Aduh...aku kok jadi gugup gini sih??" gumam Rafli.
Aku jadi nggak enak hati pada pak Indra, mbak Di!!" jawab Rafli ragu-ragu.
"Ayo katanya tadi mau menceritakan penemuanmu semalam pada mas Indra dan mas Elang, justru mereka harus tau agar mereka bisa senantiasa waspada!!" kata Bandiah.
Rafli Andarian dan Bandiah masuk keruangan Elang dan Indra.
"Eh, ada tamu penting...apa kabar Rafli!!" kata Elang.
Indra yang masih sibuk berkutat dengan laptopnya mendongakan kepalanya mendengar Elang menyebut nama Rafli.
"Baik pak Elang, pak Indra!!" kata Rafli.
"Nggak usah terlalu formal begitu, Raf...nggak usah panggil pak...panggil mas aja seperti mbak Di!!" kata Elang.
Elang dan Indra bergantian berjabat tangan dengan Rafli.
"Wah, ada angin apa nih, detektif polisi muda dan berbakat ini mampir kemari?? adakah kasus yang akan ditelusuri lagi??" tanya Indra sambil bercanda.
"Mas Elang, mas Indra...mbak Di sudah menceritakan semuanya dari kasus bu Sheilla dan kedua temannya yang kini masih jadi buronan polisi, sampai beberapa kasus penganiayaan yang menimpa mbak Shanum sampai percobaan pembunuhan pada keluarga mas Indra." Kata Rafli.
"Kalian berdua pasti kaget dan tak percaya dengan apa yang aku lihat semalam!!" kata Rafli lalu mulai menceritakan apa yang dia temui dan ikuti semalam.
Elang dan Indra menggeram marah.
"Sudah aku duga pastilah Pingkan yang ada dibalik semua ini, kita tinggal mencari bukti keterlibatan orang tua Pingkan dan mengumpulkan bukti-bukti yang bisa memberatkan mereka semua." Jawab Indra.
"Kita harus bekerja sama dalam hal ini!!" kata Rafli.
"Tapi kalian bertiga tidak bisa memata-matai mbak Pingkan jika selalu dari jarak jauh terus menerus seperti sekarang ini!!" kata Bandiah untuk pertama kalinya membuka suara setelah semenjak tadi berdiam diri dan hanya menjadi pendengar setia saja.
"Maksudnya mbak Di gimana ya??" tanya Indra dan Elang juga Rafli yang sedang menunggu jawaban dari Bandiah.
"Begini lho mas, ini jika mas Indra setuju karena sebenarnya kunci permasalahan ini ada pada mas Indra!!" kata Bandiah.
Mereka bertiga masih diam menunggu kelanjutan cerita Bandiah.
"Mbak Pingkan itu tidak ingin bercerai dari mas Indra makanya dia melakukan dan menghalalkan berbagai macam cara untuk mempertahankan pernikahannya dengan mas Indra walaupun kita belum tau apa motifnya untuk mempertahankan itu, cintakah?? atau sekedar materikah??" ujar Bandiah panjang lebar.
__ADS_1
"Terus inti pembicaraan mbak Di ini apa ya??" tanya Indra.
"Begini lho mas Indra....sekarang mbak Pingkan itu jinaknya hanya sama mas Indra, kalau menurut saran saya, lebih baik sidang perceraian mas Indra dan mbak Pingkan ada baiknya diundur dahulu, cobalah mas Indra dekati mbak Pingkan sambil mencari bukti-bukti kejahatan mereka dan mementahkan pendapat bahwa sebenarnya mbak Pingkan itu hanya pura-pura gila."
"Sambil mencari bukti penyerangan malam itu di mansion mas Indra." Kata Bandiah.
"Tapi bagaimana dengan istri dan anak-anak saya?? masak saya harus berpisah lagi dengan mereka hanya karena Pingkan sialan itu?? nggak mau ah!!" kata Indra sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Elang dan Rafli tertawa melihat dan mendengar pembicaraan keduanya.
"Sudah begini saja, serahkan semua padaku...aku akan menyamar menjadi perawat di rumah sakit jiwa itu, aku akan mencoba menyusup sebagai mata-mata di sana untuk mengikuti setiap gerak gerik Pingkan sementara orang-orang Elang fokus mengikuti dan mengamati kedua orang tua Pingkan juga tetap pada masalah utama yaitu mencari keberadaan Sheilla dan dua buronan lain dan menangkapnya." Kata Rafli.
"Nah kalau itu aku setuju!!" kata Indra sambil cemberut.
Sementara itu....
Sheilla sejak pagi menggigil. Tubuhnya terserang demam tinggi. Makan yang tidak teratur, kurang istirahat di sertai perasaan takut dan stress membuat sheilla jatuh sakit.
Sendirian...semua harus dijalani Sheilla seorang sendiri.
Sejak semalam dia mengalami sakit perut yang intens disertai mual dan muntah yang hebat sehingga membuat tubuhnya demam dan panas dingin.
Sheilla meringkuk menggelar tikar di ruang tengah rumah petaknya.
Kebetulan ibu pemilik kost sore itu membuat bubur kacang hijau yang lumayan banyak dan akan membagikannya pada para penyewanya.
"Assalamualaikum...mbak Wiwi...!!" berulang kali dia mengucapkan salam tapi tak dijawab oleh Sheilla.
Karena tidak dikunci akhirnya ibu pemilik kost masuk bermaksud untuk menaruh bubur kacang hijau di atas meja tetapi alangkah kagetnya dia melihat Sheilla sudah meringkuk di lantai entah tidur entah pingsan.
"Mbak Wiwi...!!" katanya mengguncang lengan Sheilla
Tak ada jawaban dari Sheilla sementara demamnya semakin tinggi. Tubuh bagian bawah dari kaki sampai pinggang terasa dingin seperti es batu sementara pinggang sampai kepala panasnya seperti bara api.
"Ya Allah mbak Wiwi...!!" kata ibu kost panik.
Mendapati Sheilla yang pingsan ibu kost berinisiatif membawa Sheilla kerumah sakit.
"Mbak Wiwi ini mengalami peradangan usus bu...kemungkinan besar terlalu banyak mengkonsumsi makanan cepat saji, juga saya lihat dari hasil diagnosa mbak Wiwi adalah pecandu minuman beralkohol." kata Dokter yang menangani Wiwi alias Sheilla.
__ADS_1
"Sheilla dibiarkan beristirahat di ruangannya sementara ibu kost di panggil oleh dokter yang tadi memeriksa Sheilla.
"Bu, apakah ibu sudah kenal lama dengan mbak Wiwi itu??" tanya dokter tersebut.
"Baru kurang lebih sebulan ini dokter semenjak mbak Wiwi kost di rumah petak milik saya!!" kata ibu kost.
"Bu maaf, tapi saya menduga mbak Wiwi ini bukan nama dan wajah aslinya." Kata dokter tersebut.
"Maksudnya gimana sih dokter, kok saya nggak paham ya?? apa maksud dokter mbak Wiwi ini siluman??" tanya ibu kost.
Dokter tersebut mengeluarkan sesuatu yang menyerupai selaput tipis dan meletakannya di atas meja kerjanya.
"Apa lagi ini dokter??" tanya ibu kost.
"Saya mendapatinya dari sekitar leher mbak Wiwi dan saya bisa menyimpulkan bahwa mbak Wiwi itu memakai sejenis topeng tipis untuk menutupi wajah aslinya, bukankah ibu bilang dia tidak mempunyai tanda pengenal sama sekali kan??" kata sang dokter lagi.
"Iya juga sih dokter, saat diantar oleh pemilik warung depan rumah saat itu katanya mbak Wiwi ini mencari kost-kostan murah, saya langsung menunjukan kamar petak saya yang kosong tapi saat saya tanya identitas diri dia bilang nggak punya karena dia habis kecopetan di bis...begitu katanya!!" sahut ibu kost itu.
Tanpa mereka sadari rupanya Sheilla sudah sadar dari pingsannya.
"Di mana aku sekarang??" tanya Sheilla pada dirinya sendiri.
Dia mengedarkan pandangan matanya terakhir menatap tangannya yang ditusuk jarum infus.
"Aku harus segera pergi dari sini!!" kata Sheilla sambil bangun dan mencabut infusan di tangannya lalu melangkah tertatih-tatih.
Dia mengambil obat-obatan yang ada di meja lalu mengambil jaket hodienya dan cepat pergi menuju ke kost-kostannya menggunakan ojek online.
Dengan cepat dia mengumpulkan bajunya kedalam ransel. Mengecek uang dan perhiasan yang dia bawa serta beberapa topeng miliknya.
Tak lupa obat-obatan dari dokter tadi lalu naik ojek yang dia pesan tadi menjauh dari tempat itu.
*
*
***Bersambung...
Kemana lagi tujuan pelarian Sheilla kali ini membawanya??
__ADS_1
Jangan lupa ikuti terus lanjutan kisahnya di episode selanjutnya reader🙏🙏