Sejuta Kenangan Bersamamu

Sejuta Kenangan Bersamamu
Bab 116 Kisah Sandro Dan Indra


__ADS_3

Dengan cepat pak Soedibyo menggendong bocah kecil yang mengerang kesakitan itu naik keatas jurang sebelum mobil kedua orang tua mereka menggelinding kedalam jurang dan meledak di sana.


Lalu bagaimanakah nasib anak kecil lainnya yang juga ikut terlempar dari dalam mobil??


Rupanya sebelum ajal berpantang mati, pada saat bocah kembar satunya lagi terlempar dari dalam mobil, kepala terantuk batu dengan keras saat dia menggelinding dan menyebabkan dia jatuh pingsan.


Tak jauh dari sana ada seorang lelaki setengah baya beserta seorang temannya sedang memancing karena anak itu menggelinding hampir mendekati sungai di bawah jurang.


"No bunyi apa itu?? Sungai ini ada hantunya kah?" Tanya teman di sebelahnya.


Belum sempat mereka berdua berdiri, terdengar suara ledakan dari mobil Pramudya membuat kedua orang itu mendongak cahaya terang di atas jurang sana.


Saat mereka berdua melihat kebawah kembali tampaklah sesosok tubuh anak kecil di bawah kaki mereka membuat Tikno dan Engkus temannya berteriak kaget karena mereka pikir tubuh itu adalah hantu.


Dengan setengah hati Tikno membalikan tubuh penuh luka itu dengan ujung jari kakinya.


"Tikno...itu tubuh bocah!! Tampaknya dia terlempar dari atas jurang yang ada mobil meledak itu!!" Kata Engkus.


"Kasihan bocah ini, kita bawa pulang ke panti yuk lekas diobati luka-lukanya jika dibiarkan terlalu lama dia bisa meninggal dunia." Kata Engkus lagi.


"Tolong...tolong


Engkus dan Tikno lari kearah panti di tengah malam itu dan membangunkan seluruh penghuni panti.


"Ada apa Tikno, Engkus??" Tanya pak Burhan dan istrnya.


"Kami menemukan bocah lelaki ini penuh luka terjatuh dari jurang sebelah selatan panti pak!!" Kata Engkus.


"Sepertinya keluarga bocah ini korban perampokan dan pembunuhan." Jawab Tikno lagi.


Dengan cepat pak Burhan menyambut tubuh bocah malang itu dan istrinya menyiapkan air hangat dan waslap untuk menyeka tubuhnya yang penuh dengan luka-luka.


Seluruh penghuni panti sibuk malam itu. Hingga menjelang subuh tampak tangan bocah itu bergerak perlahan pertanda dia telah sadarkan diri.


"Mama, papa, Sandro...!!" Desisnya lirih.


"Kamu sudah sadar nak?? Bu tolong ambilkan air untuk dia minum!!" Pinta pak Burhan pada istrinya.


Dengan dibantu oleh pak Burhan, bocah itu duduk dan minum sedikit demi sedikit sambil meringis menahan sakit di sekujur tubuhnya.


"Siapa namamu nak?" Tanya ibu Burhan.


"Indra!!" Jawabnya singkat.


"Mana mama, papa dan Sandro??" Tanya nya dan tentu saja para penghuni panti tak ada satupun yang bisa menjawabnya.

__ADS_1


Bocah itu akhirnya diam dan merenung seperti mengingat sesuatu.


"Mama mendorong Indra dan Sandro sebelum para penjahat itu melihat kami, Indra jatuh menggelinding dan terantuk batu tetapi tidak tau dengan Sandro dan Indra sempat mendengar beberapa letusan di atas sana berarti mama dan papa telah ditembak oleh mereka!!" Jawab bocah cerdas itu setelah berhasil mengumpulkan segenap ingatannya.


Dia sama sekali tidak menangis seperti bocah kecil pada umumnya. Dia hanya diam dan tak banyak bicara.


Sejak itu Indra kecil tinggal di panti bersama anak-anak panti yang lain.


*************


"Mi, ayo kita pulang, Indra sudah tenang di alam sana!! Allah lebih menyayangi anak kita sehingga dia menjemputnya lebih cepat karena Allah kasihan melihat penderitaan Indra beberapa bulan ini!!" Kata suaminya yang masih setia menemani sang istri.


Jonas dan Mutiara Fahreza baru saja ditinggalkan putra tunggal mereka menghadap yang kuasa.


Bocah lelaki malang itu menderita leukimia semenjak berumur dua tahun. Dia hanya bertahan dua tahun lamanya sebelum dia menghembuskan napas terakhirnya kembali pada sang pencipta meninggalkan kedua orang tuanya.


Dengan berat hati Tiara berdiri dan beranjak dari makam putranya.


"Besok kita ke panti asuhan mas Burhan, di sana ada banyak anak-anak seusia Indra Fahreza putra kita supaya kamu terhibur, bukankah dulu semasa hidup Indra sangat senang jika kita ajak berkunjung ke sana.


Tiara hanya mengangguk tanpa menjawabnya.


**************


"Jonas....Tiara....apa kabar?? Kami semua turut berduka cita atas meninggalnya putramu yang lucu itu." Kata pak Burhan sambil menepuk bahu Jonas.


Dia memang dekat dengan mang Engkus dan Tikno, mungkin karena kedua orang itu yang awalnya menolongnya dari kematian.


Keduanya pun sangat menyayangi Indra seperti anak mereka sendiri.


"Apa yang mami lihat??" Tanya Jonas pada istrinya.


"Indra...itu Indra!!" Tunjuk Tiara membuat Jonas mengarahkan pandangan matanya pada bocah yang ditunjuk oleh istrinya itu.


Dari samping bocah itu memang mirip potongan tubuh dan perawakannya dengan almarhum Indra putra mereka yang baru dimakamkan seminggu yang lalu.


"Indra??" Teriak Tiara lalu lari mendekati bocah kecil itu.


Jonas ikut lari menyusul istrinya.


"Lho, inikan Indra anak kembar Pramudya?? Kok bisa ada di sini??" Tanya Jonas pada pak Burhan.


Pak Burhan lalu menceritakan kejadian dua hari lalu pada bocah malang itu.


Gigi Jonas bergemeletukan mendengar nasib sahabatnya yang meninggal mengenaskan.

__ADS_1


Dia dan Tiara memang sudah seminggu semenjak putra mereka meninggal tak lagi berhubungan dengan dunia luar.


Jonas tak ingin istrinya selalu bersedih dan menangis melihat anak seusia putra mereka di luar sana.


"Tante...om!!" Kata Indra yang rupanya juga mengenali sepasang suami istri itu karena mereka kerap berkunjung kerumah orang tuanya.


Tiara langsung memeluk Indra dan menangis karena selintas bocah itu memang mirip dengan putra mereka hanya saja Indra putra Pramudya ini memiliki dua lesung pipit yang dalam di kedua pipinya.


"Jadi papa, mama dan Sandro saudaramu sudah meninggal??" Tanya Tiara sambil mendekap Indra.


"Kamu pulang ikut mami dan papi aja ya?? Mami sama papi sangat kesepian di mansion sebesar itu!! Kata mami Tiara.


Indra menatap kedua orang itu lalu menatap Engkus dan Tikno.


Mereka bertiga sudah akrab satu dengan yang lain.


"Pergilah den, Mang Engkus dan Tikno di sini saja menemani bapak dan ibu bersama anak panti lainnya!!" Jawab Engkus sambil memeluk Indra.


Jadi mulai hari itu Indra resmi di adopsi oleh keluarga Fahreza dan berganti nama menjadi Indra Fahreza dan bukan lagi Indra Pramudya.


***********


Sementara Sandro saudara kembar Indra yang dibawa oleh dokter Soedibyo mengalami gegar otak hebat pasca kecelakaan itu juga traumatik berat karena posisi jatuhnya yang dekat dengan mobil, memungkinkan dia melihat seluruh adegan penembakan oleh dua orang bertopeng hitam yang menembak tepat di perut mama nya dan tepat di kepala papa nya, akan tetapi bocah cerdas yang pemberani itu segera menutup mulut dan matanya agar para penjahat itu tidak mengetahui keberadaannya.


Keadaan Sandro saat itu sangat parah apa lagi ditambah dengan banyak luka di sekujur tubuh dan wajahnya karena terkena semak belukar tajam dan kerikil-kerikil runcing di tepi jurang.


Perlu waktu sebulan untuk menyembuhkan luka di tubuhnya dan perlu waktu bertahun-tahun untuk menyembuhkan trauma yang dia alami.


Terkadang dia masih bertanya pada papinya.


"Papi, mana mama, papa dan juga Indra?? Sandro mau ketemu sama mereka, Sandro kangen mama dan papa, Sandro kangen pengen main bareng sama Indra seperti dulu, kenapa mereka tidak juga menjemput Sandro di sini??" Katanya sambil menangis keras.


Jika sudah begitu pak Soedibyo hanya bisa berkata sambil menangis pula.


"Jika Sandro pergi, papi tinggal sama siapa lagi??" Tanya Soedibyo sambil ikut menangis dan berhasil membuat Sandro diam.


Bertahun-tahun kemudian walaupun harus home schooling karena tak ingin putra angkatnya yang mengalami keterbelakangan mental itu diejek oleh teman-temannya, Sandro tumbuh menjadi seorang pemuda tampan tak bedanya dengan Indra.


Tetapi karena dia memang mengalami cacat mental terkadang bicaranya sering ngawur dan sering mengolok orang di sekitarnya jika tidak sesuai dengan kata hatinya.


*


*


***Bersambung...

__ADS_1


Jika kita bertemu dengan seseorang yang mirip dengan orang yang kita cintai, bagaimana perasaan kita??


Lanjut ke next episode ya reader dan jangan lupa dukungannya.😊😊


__ADS_2