
Mereka tak mungkin mengejar dalam situasi begini apalagi Wahid terluka di bagian lengannya.
Saat alarm tanda bahaya berbunyi, seluruh penghuni rumah terbangun.
"Tenangkan anak-anak...mas mau melihat kedepan dulu!!" kata Indra.
Indra yang memang seorang perawat dengan cepat mengambil peralatan medisnya dan membawa ke pos satpam.di depan.
Indra menghampiri pos satpam di mana Wahid sedang duduk sambil meringis menahan sakit di lengannya.
"Tahan sebentar mas Wahid, akan saya sterilkan dulu bekas lukanya lalu saya perban.
Indra memeriksa luka Wahid lalu membersihkannya.
"Mas Wahid ini hebat, saya melihat dari rekaman cctv kelincahan mas Wahid menghindari peluru-peluru itu, mungkin jika pak Sapto atau Sugeng yang maju mungkin salah satu peluru itu sudah bersarang di bagian tubuh, tapi ini mas Wahid hanya terkena serempetannya saja!! jangan khawatir, dua atau tiga hari kedepan luka mas Wahid ini akan mengering!!" kata Indra sambil memerban luka di lengan Wahid.
"Maaf ya mas Wahid, gegara membela keluarga saya, mas jadi kena imbasnya!!" kata Indra.
"Tidak apa-apa mas Indra, ini semua memang sudah menjadi bagian dari tugas kami berempat!!" kata Wahid.
"Apa kalian sempat melihat wajah pelakunya??? dan apa yang dia katakan sebelum menembak mas Wahid??" kata Indra.
"Kita tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas karena dia memakai topi dan masker, tapi saya seperti mengenal bentuk tubuh ramping dan suara itu ya??" kata pak Sapto dan dibenarkan oleh Sugeng dan Wahid.
"Maksud kalian pelaku itu adalah seorang wanita, begitu??" tanya Indra.
"Benar mas, kami bertiga sependapat begitu!!" kata mereka bertiga.
Indra nampak termangu mendengar perkataan mereka bertiga, mungkinkah?? tapi menurut Elang dari pantauan anak buahnya, dia sedang berada di dalam kamar rumah sakit jiwa sekarang, apa yang dilihat mereka itu bukan dia?? atau yang menyerang tempat ini orang bayarannya??" gumam Indra.
Tak lama mami Tiara dan papi Jonas keluar sambil menggendong Sharindra sementara ibu Karti menggandeng Chika dan Chiro beserta empat orang maid di mansion itu.
"Ada apa, apa yang terjadi Indra??" tanya mami Tiara.
"Penyerangan mi, untung tadi Shanum belum tidur jadi Indra juga tidak bisa tidur lalu Elang juga menelpon memberi tahu agar kita waspada." Kata Indra.
"Tapi untunglah kita selamat berkat mereka-mereka itu!!" kata Indra.
"Terima kasih pak Sapto, Wahid juga sugeng!!" kata papi Jonas.
"Ini pasti ulah si Pingkan yang pura-pura gila itu!!" umpat mami Tiara.
"Mami pikir begitu??" tanya papi Jonas pada istrinya.
"Iyalah...siapa lagi selain ulah si wanita pemain sandiwara itu!!" kata mami Tiara.
__ADS_1
"Ye..dulu aja disanjung-sanjung di sayang-sayang sekarang di caci maki tak karuan!!" kata papi Jonas lagi sambil tertawa.
************
"Sialan...kok mereka bisa tau dan membaca situasi sih??" maki Pingkan.
"Ini semua karena aku lebih dahulu mendatangi apartemen Indra dan rumah tua pelakor itu, ternyata mereka dibawa ke mansion oleh mami Tiara dan papi Jonas, cerdas juga mereka itu!!" gumam Pingkan.
Dia memperhatikan suasana di sekeliling rumah sakit jiwa itu, begitu tak ada yang memperhatikan, dia menyelinap masuk ke kamar tidurnya yang dia kunci dari dalam.
Dia sibakkan selimut yang menutupi guling dan diberi rambut palsu dan dipakaikan bajunya lalu ditidurkan menghadap kedinding oleh Pingkan jadi sepintas dari luar pintu dan dari luar jendela kelihatan Pingkan itu sedang tidur pulas.
Tanpa Pingkan sadari sepasang mata tengah memperhatikan gerak geriknya dari balik gelapnya malam.
"Oh, jadi begitu trik yang dipakai oleh iblis betina itu?? trik sederhana tapi sering berhasil mengelabui banyak orang termasuk aku tadi yang hampir tertipu!!" gumam orang yang berdiri di dalam gelapnya malam.
"Hari ini aku beri kamu kebebasan dulu Pingkan, tetapi ingat besok-besok!!" katanya lagi.
***Flashback on***
Malam ini aku akan beraksi!!" gumam Pingkan tersenyum.
"Sebaiknya aku ke apartemen Indra dulu ahhh, siapa tau mereka ada di sana!!" gumam Pingkan lagi.
Sebelumnya dia mendandani guling tidurnya dan dia beri pakaiannya dan diberi rambut palsu, lalu guling yang telah dia dandani menyerupai dirinya itu dia hadapkan kedinding membelakangi pintu.
Sialan...tak ada tanda-tanda Indra dan pelakor itu ada di sini??" gumam Pingkan.
"Sepertinya memang tak ada di sini!!" desisnya kesal.
Lalu dia beralih menuju rumah Shanum yang telah dibeli Indra dari pak RT dan direnovasi olehnya.
"Kosong juga!! tak ada tanda-tanda kehidupan di sini!!" gumam Pingkan lagi.
Lama Pingkan berpikir.
"Apa mereka dibawa oleh mami Tiara dan papi Jonas ke mansion ya??" gumam Pingkan lagi.
"Teganya mami dan papi Indra, aku aja dulu sewaktu sakit tak pernah sampai dibawa dan dirawat di mansion, lha ini wanita pelakor itu malah dikumpulkan semua sekeluarganya yang miskin itu di mansion, apa nggak kotor tuh mansion ditempati orang miskin seperti mereka ya??" gumam Pingkan bergidik jijik.
Lalu dia mengendarai motor yang dia dapatkan di parkiran rumah sakit tadi.
"Untung saja ada orang bodoh dan pikun yang lupa mengambil kunci motornya dan dibiarkan saja tergantung di atas motor, perasaan mengapa semua orang ini pada bodoh semua?? hanya keluarga Pingkan saja yang pintar!!" kata Pingkan sambil tertawa sendiri seolah perkataannya itu adalah sesuatu yang lucu.
Hingga dia tiba di depan mansion Indra dan dia sama sekali tak menyangka jika gerbang besar mansion itu ditutup dan dikunci dari dalam.
__ADS_1
"Bang*sat, ternyata mereka tak sebodoh yang kukira!!" kata Pingkan.
Dan karena tak tahan lagi menyimpan rasa emosi dan rasa jengkel karena dia tidak bisa masuk kedalam mansion, akhirnya dia nekad menembak seorang satpam penjaga di sana.
Saat semua orang panik Pingkan lalu kabur meninggalkan mereka semua di sana.
****Flashback off****
SSSSTTTT...SSSSTTTT
"Siapa sih itu usil banget!!" kata Bandiah karena sejak tadi ada suara tapi tak ada orangnya.
Karena tak melihat siapapun maka Bandiah lanjut bekerja.
DORRR...
"Kodok...!!" kata Bandiah kaget.
Dari mulutnya sudah hampir terlontar umpatan pada orang yang telah mengagetkannya tetapi begitu dia melihat siapa yang tadi mengagetkan dia, hatinya langsung gembira dan berbunga-bunga indah.
"Rafli Andarian!! kapan kamu datang??" tanyanya lalu reflek memeluk sahabatnya itu.
"Eits...bukan muhrim!!" kata Rafli sambil tertawa tapi tak berusaha menghindari pelukan Bandiah malah balas memeluknya.
"Kapan kamu datang??" tanya Bandiah lagi.
"Sebenarnya aku sudah datang sejak kemarin mbak Di, begitu tiba malam hari aku langsung menyelidiki keberadaan seseorang yang mencurigakan!!" kata Rafli Andarian.
"Dasar polisi...jangan bilang kamu langsung menyelidiki kasus bu Pingkan di rumah sakit jiwa sana!!" tebak Bandiah.
"Wah mbak Di pintar banget sekarang...tebakan mbak Di tepat sekali!!" kata Rafli membuat hati Bandiah berbunga-bunga mendapatkan pujian itu dari Rafli.
"Aku itu penasaran banget mbak Di, dan akhirnya aku mendapatkan jawaban dan titik terang." Jawab Rafli lagi.
"Nantilah kita bercerita, kita kekantin yuk!! nanti aku yang traktir!!" kata Rafli.
"Beneran Raf?? makasih loh...kamu tau aja ini tanggal tua apalagi bagi orang yang punya gaji pas-pasan seperti aku!!" kata Bandiah.
"Iya bener, ayo...ada yang mau aku ceritakan sama mbak Di tentang temuanku semalam!!" kata Rafli lagi.
*
*
***Bersambung...
__ADS_1
Ternyata orang semalam yang mengintai Pingkan adalah Rafli, lalu apa yang akan dilakukan Rafli pada Pingkan selanjutnya??
Cusss ikuti terus kisah mereka dalam lanjutan kisah di episode selanjutnya ya🙏🙏