Sejuta Kenangan Bersamamu

Sejuta Kenangan Bersamamu
Bab 19 Janji Sebelum Pergi


__ADS_3

"Selama apa pun jika demi menunggumu akan saya lakukan, Num!!" ujarnya.


Mobil mereka perlahan melaju membelah jalan menyisakan sepasang mata yang menatap kedekatan mereka penuh luka karena sejak tadi pun tanpa diketahui oleh Indra, dia sudah berada di sana.


"Indra...kamu beruntung walaupun Shanum tau kamu telah berdua tapi dia tak pernah sedikitpun mengeluhkan tentang statusmu, terkadang aku iri padamu, Ndra!!" lirih Elang.


"Seandainya kamu tau bahwa aku juga mencintai Shanum!! semenjak dia pindah bertugas ke gedung baru, hari-hari terasa sepi!!"


"Kamu masih untung masih bisa berbalas pesan dengan nya sementara aku?? aku hanya bisa melihat kemesraan kalian walaupun hanya lewat chatingan." Kata Elang lagi.


Sementara itu...


"Kita mau kemana pak??" tanya Shanum saat melihat Indra memarkirkan mobilnya di parkiran mall pinggir kota yang tidak terlalu ramai pengunjungnya.


Indra tak menyahut. Dia meraih jemari tangan Shanum dan menggandengnya membuat Shanum sedikit risih dan takut.


"Pak nggak usah gandengan gini, saya takut ada orang rumah sakit atau orang di kantor mbak Pingkan melihat kita bergandengan begini.


"Sudah kamu diam saja!!" kata Indra malah semakin mengetatkan tautan jemari tangannya pada jari Shanum.


Dia melangkah mengajak Shanum ke sebuah toko perhiasan.


"Mbak...saya mau ambil pesanan saya kemarin!!" kata Indra pada pegawai toko perhiasan itu.


"Ohh sebentar ya mas!!" kata gadis itu.


Shanum hanya bisa mengagumi semua keindahan perhiasan itu.


"Alangkah bahagianya nanti mbak Pingkan saat setelah menikah dengan pak Indra!!" gumamnya.


Tal lama gadis tadi keluar sambil membawa kotak berwarna merah tua.


"Ini mas pesanannya, silakan di cek dahulu!!" katanya.


Shanum ikut melihat isi kotak itu saat Indra mengecek isinya.


"Bagus banget pak...pasti mbak Pingkan senang memakainya!!" kata Shanum.


Mendengar itu Indra hanya mendengus.


Setelah keluar dari toko dia berkata, " simpanlah kotak ini Shanum, saya memesankannya untukmu, pakailah jika suatu hari nanti saya kembali, tetapi jika saya tidak kunjung kembali maka kamu boleh menjualnya!!" ucap Indra mengagetkan Shanum.


"Maksudnya apa, pak??" tanya Shanum tapi tidak di jawab oleh Indra melainkan dia menarik tangan Shanum menuju belakang mall yang berdekatan dengan laut.


"Duduklah Num, saya akan bercerita!!" ucap Indra.


Mereka berdua duduk menghadap laut lepas.

__ADS_1


"Num, saya ingin dalam beberapa hari jangan menolak ajakan saya jika saya mengajakmu pergi seperti ini ya?? hanya untuk beberapa hari ini karena minggu depan saya sudah meresignkan diri."


"Saya dan Pingkan akan bertolak ke Inggris melanjutkan S2 kami dan...dan kami akan menikah di sana!!" ucap Indra tercekat.


Sedari awal Shanum yang sadar akan cinta yang tak semestinya ini pun sebenarnya sudah membangun benteng hati agar tidak runtuh saat Indra mengatakan demikian karena dia juga menyadari suatu hari Indra akan berlabuh di dermaga yang semestinya tapi bukan dermaga hatinya.


Tetapi tetap saja rasa sakit itu menjalari seluruh relung hatinya.


"Num...!!" kata Indra menggamit jemari Shanum saat melihat Shanun tak merespon ucapannya.


"Sekali lagi maafkan saya ya Num, asal kamu tau bahwa kenyamanan terbesar dalam hidup saya adalah saat bersama denganmu!!" kata Indra berkali-kali mengecup jemari kekasihnya itu.


Shanum menarik napas panjang.


"Kapan pak Indra akan berangkat??" tanya Shanum.


"Empat hari lagi, Num!!" kata Indra.


"Berarti sebentar lagi kita akan berpisah ya pak!!" tanya Shanum berusaha menegarkan hatinya.


"Berdoalah semoga akan ada keajaiban, Num!!" bisik Indra di telinganya.


"Aku hanya ingin bisa bersama denganmu selama empat hari ini, karena masa empat hari ini akan menjadi sejuta kenanganku bersamamu selamanya!!" bisik Indra lagi.


"Simpanlah kotak perhiasan itu dan jangan pernah bertanya lagi, tapi tunggu coba kamu buka kotaknya!!" perintah Indra.


Ada sepasang cincin bulat, sepasang anting dan sebuah gelang dan kalung!!


Indra mengambil sepasang cincin itu dan menutup kotak kembali.


"Shanum Susena, maukah kamu menerima lamaran Indra Fahreza dan menjadi belahan jiwaku untuk selamanya??" tanya Indra sambil berlutut di depan Shanum.


"Pak Indra hanya bercanda seharusnya saya tertawa dan bukan jatuh cinta!!" senyum Shanum terkembang seiring dengan tetesan air matanya.


"Jangan berkata begitu, Num...berhentilah menangis!!" tetapi kenyataannya Indra juga menangis dan memeluk erat tubuh itu.


"Tidak apa-apa pak, saya sudah siap kehilangan bapak sebagaimana bapak yang sudah siap kehilangan saya!!" kata Shanum.


Indra meraih jari tangan Shanum dan memakaikan cincin itu di jari manis tangan kanannya.


"Pakaikan cincin satunya ke tangan kanan saya dan asal kamu tahu Num, cincin yang melingkar di tangan kiri saya akan terlepas tapi tidak dengan cincin yang ada di tangan kanan saya....cincin ini tak akan terlepas kecuali nyawa sudah terlepas dari tubuh saya." Kata Indra dan kembali memeluk Shanum dengan erat.


Pada kenyataannya itu adalah hari terakhir aku bertemu dan bersama dengan pak Indra.


Entah karena apa pak Indra pergi lebih dulu dari mbak Pingkan tunangannya.


Untuk bertanya dengan pak Elang pun Shanum tak berani.

__ADS_1


***POV SHANUM***


"Pada akhirnya kita berpisah, bukan karena kemauan tapi kita berpisah karena sebuah keharusan."


"Tugasku sebagai payung pelindungmu di kala hujan telah usai, pak Indra...hujan telah reda, pelangi telah muncul, pergilah kejarlah pelangi cintamu!!"


"Benar cinta tak harus memiliki walau hanya sebentar bersamamu aku merasa bahagia...walaupun dari awal aku sudah tau bahwa kita tak mungkin bersama."


************


Sementara jauh di sana...


"Maafkan saya Shanum yang lagi dan lagi ingkar janji." Kata Indra.


Di sebuah rumah sakit terbesar di negara itu, di sana lah Indra terbaring kini.


***Flashback on***


Sepulang habis mengantar Shanum kerumahnya, Indra balik ke kediaman orang tuanya. Dia tidak seperti Elang yang hidup terpisah di apartemen dari kedua orang tuanya, Indra lebih memilih tinggal bersama mami dan papinya.


"Aduh kenapa kepalaku terasa amat sakit?? tubuhku lemas sekali???" lirih Indra.


BRUAKKK


Tepat di depan pos sekuriti sehabis memarkirkan mobilnya, Indra jatuh telungkup di rerumputan pingsan tak sadarkan diri.


"Den Indra???" teriak para sekuriti kaget melihat anak majikannya jaruh dan pingsan.


Mendengar kehebohan di luar, mami dan papi Indra keluar dan sangat terkejut saat putra semata wayang mereka dibopong oleh seorang sekuriti mau masuk ke dalam mansion mereka.


"Pi...Indra kenapa pi??" tanya mami Tiara sangat panik.


"Cepat angkat dan baringkan di sofa dulu!!" kata papi Indra lalu dengan cekatan beliau menelpon dokter keluarga mereka.


Sementara istrinya mengendurkan dasi yang di kenakan oleh Indra. Dan membuka dua kancing atas kemeja yang dikenakan putranya.


"Oalah Ndra...kamu jangan buat mami panik, dong!!" mami Tiara menangis sesunggukan sambil menggenggam tangan Indra.


Dahi wanita paruh baya yang masih tampak sangat cantik itu mengerenyit melihat Indra.


*


*


***Bersambung...


Apa yang tengah jadi perhatian mami Tiara??"

__ADS_1


Ikuti terus kisah mereka di next episode ya reader🙏🙏


__ADS_2