Sejuta Kenangan Bersamamu

Sejuta Kenangan Bersamamu
Bab 148 Twin


__ADS_3

Wahid tidak segera menjawab dia hanya bilang...


"Kencangkan sabuk pengaman tuan dan mas Sandro, kita harus segera tiba di mansion dengan cepat!!" Kata Wahid.


WUUSSSHHH


Dengan kecepatan penuh Wahid membawa kendaraan itu berkejaran dengan waktu untuk segera sampai ke mansion.


"Sebenarnya ada apa Wahid??" Tanya papi Jonas pada bawahannya itu.


"Nyonya Tiara tadi bilang ada ular kobra masuk ke dalam kamar beliau tuan, senentara nyonya di dalam kamar bersama den Rindra!!" Terang Wahid.


"Apa??" Kata papi Jonas dan Sandro bersamaan.


"Bagaimana ular itu bisa masuk ke dalam kamar??" Tanya papi Jonas.


"Saya tidak tau pasti tuan, yang pasti sekarang nyonya Tiara sedang berada di balkon sempit di tambah lagi jendela kacanya ditutup oleh nyonya dari luar agar ularnya terkurung di kamar saja tidak bisa ikut keluar tetapi sekarang nyonya malah terjebak di sana sambil memegangi sisi jendela sambil juga menggendong den Rindra." Kata Wahid semakin menambah kecepatan mobilnya.


"Rasanya tak masuk di akal pi, kamar papi dan mami ada di lantai dua, lalu ular itu datangnya dari mana sementara tidak ada penghubung pepohonan pun di sana yang bisa menjadi media lewatnya ular tersebut jika datang dari tanah atau dari pohon lain, itu pasti ada yang dengan sengaja memasukan ular tersebut kedalam kamar mami Tiara." Kata Sandro.


Tidak sampai sepuluh menit mobil mereka tiba di depan gerbang lalu cepat didambut oleh seorang sekuriti dan cepat menutup kembali gerbangnya sementara yang lain sibuk di bawah jendela lantai dua.


Tampak di sana Dodi berusaha memanjat karena tangga yang ada tidak sampai pada jendela kamar.


Suatu ketika ada angin yang sedikit kencang membuat mami Tiara yang sebelah tangan menggendong Rindra dan sebelah tangan yang lain berpegangan pada sisi jendela sedikit goyah membuat mereka semua yang di bawah menahan napas.


Shanum sudah menangis di bawah jendela sambil berusaha di tenangkan oleh ibu Karti sementara Chika dan Chiro berdiri agak jauh dengan salah seorang pengasuh mereka.


Tak lama Wahid, Sandro dan papi Jonas datang mendekat.


Dengan sedikit menahan sakit Sandro mendatangi Shanum dan memeluknya.


Awalnya Shanum sedikit ragu pada Sandro karena dia tau Sandro belum mengingat dia sepenuhnya sebagai istrinya, tetapi pelukan terhangat dan ternyaman yang sudah di berikan Sandro membuat Shanum kembali merasa tenang.


"Bagaimana Dodi, bisa sampai keatas??" Teriak Wahid dari bawah.


"Belum bisa, tangganya kurang tinggi!!" Seru Dodi dari atas.

__ADS_1


Dengan cekatan Wahid menyusul naik setelah dia bisa memperkirakan kurang berapa lagi ketinggian baru bisa memcapai tempat mami Tiara dan Rindra berada.


"Naik ke pundak aku Dod, lekas...tampaknya nyonya tidak bisa bertahan lebih lama lagi sambil menahan beban den Rindra digendongannya!!" Kata Wahid.


Perlahan Dodi naik ke atas pundak saudaranya dan perlahan Wahid kembali berdiri di tangga dengan posisi Dodi menginjak kedua pundaknya.


Berikan dulu den Rindra pada saya, nyonya!!" Pinta Dodi.


Dengan tangan gemetar mami Tiara mengangsurkan Rindra pada Dodi.


"Nyonya bertahan dulu sementara saya akan membawa den Rindra kebawah tangga." Kata Dodi berusaha setenang mungkin agar mami Tiara juga tidak ikut panik.


"Berhasil....!!" Teriakan mereka yang ada di bawah saat Rindra berhasil diberikan kembali pada Shanum oleh Dodi.


Tak lama Dodi naik kembali keatas.


"Terus bagaimana saya turun dari sini Dodi??" Tanya mami Tiara mulai gemetaran.


Dodi lalu berdiri membelakangi mami Tiara.


"Naik kebelakang saya nyonya!!" Kata Dodi.


"Insya Allah akan coba saya tahan nyonya!!" Kata Wahid mulai memposisikan dirinya.


Walau dengan tubuh gemetar karena ketakutan akhirnya mami Tiara berhasil naik ke belakang tubuh Dodi kemudian perlahan tapi pasti Dodi merayap turun dari tubuh Wahid dan perlahan menuruni anak tangga sehingga berhasil mencapai tanah.


Semua bersorak menyambut turunnya mereka bertiga.


"Mas, mas Sandro kenapa??" Tanya Shanum saat melihat Sandro mulai terkulai lemah dalam pelukannya.


Mereka semua terlihat panik kembali saat melihat Sandro terkulai dipelukan Shanum dan tak sadarkan diri.


Separuh dari para pelayan membantu mami Tiara dan separuh lagi menolong Sandro.


Dodi dan Wahid dibantu beberapa orang untuk menangkap ular kobra yang masih terperangkap di dalam kamar mami Tiara.


Dari balik pilar yang agak jauh dari keramaian tampak dua sosok tubuh berdiri. Salah satu dari mereka tampak memukul tiang pilar dengan geram.

__ADS_1


"Sabar Mina, waktu kita masih banyak untuk membalas dendam!!" Kata sosok yang berdiri di sebelahnya.


"Ngomong-ngomong apa yang kamu lakukan sore tadi di taman dengan laki-laki yang sudah menjadi suami orang itu Mina??" Kata wanita yang menutupi wajahnya yang berdiri di samping Mina.


"Bukan urusanmu!! Lebih baik kamu urus saja urusan kamu sendiri!!" Ketus Mina.


"Ingat Mina, lelaki hilang ingatan itu sudah tau pada saat kamu dan si Kirun main enjot-enjotan di taman tadi!!" Kata wanita itu.


Mina tampak mengerenyitkan dahinya.


"Terus kamu melihat kami juga begitu?" Kata Mina menyeringai.


"Ingat pada tujuan kita semula, Mina...jangan sampai hancur sebelum rencana kita berhasil, ingat bagaimana penderitaan ibu kita dahulu!!" ucap wanita itu.


"Aku ingat, aku nggak mungkin lupa!! Tapi aku juga ingin bersenang-senang!!" Jawab Mina.


"Tak ada yang melarangmu untuk bersenang-senang Mina, yapi tak bisakah kamu bersenang-senang bukan dengan pria yang sudah beranak dan beristri?? Jangan sampai kamu membuat mereka menjadi anak yatim karena bapaknya telah tergila-gila pada wanita lain sama seperti ayah dulu pada saat meninggalkan ibu!!" Kata wanita itu.


"Cukup Mini...kamu pergilah!!cukup tugasmu untuk hari ini, kamu beristirahatlah!!" Kata Mina pada wanita yang bernama Mini itu.


"Aku sudah memperingatkan kamu Mina, jangan sampai kamu menyesal kelak!!" Sahut Mini lalu dengan cepat berkelebat pergi meninggalkan Mina.


"Aku tidak akan menyesal Mini karena tujuan awalku adalah untuk menggaet dan menggoda para lelaki beristri agar mereka bertengkar di dalam keluarga karena kehadiran orang ketiga yaitu aku." Seringai terus bermain di bibir Mina tetapi anehmya mata itu justru tampak berkaca-kaca.


"Aku akan membalaskan dendam mu ibu!! Dia harus merasakan seperti salit yang pernah ibu rasakan." Gumam Mina lalu ikut berkelebat pergi.


Ternyata wanita yang bernama Mini itu tidak benar-benar pergi. Dari balik pilar yang lain dia menatap wajah Mina.


"Mina...Mina...!! Apa yang sebenarnya kamu cari?? Kepuasan?? Tetapi tidak harus berhubungan dengan suami wanita lain juga kali, Mina!!" Desisnya.


"Aku akan tetap mengawasi kamu Mina suka atau tidak suka karena hanya kamulah satu-satunya saudara yang masih aku punya!!" Kata wanita bertopeng itu lalu berkelebat pergi.


*


*


**?Bersambung

__ADS_1


Ikuti terus kisah mereka selanjutnya di next episode!!🙏🙏😊😊


__ADS_2