Sejuta Kenangan Bersamamu

Sejuta Kenangan Bersamamu
Bab 103 Telah Pergi


__ADS_3

Pingkan meninggal karena membunuh dirinya sendiri setelah ditinggal Indra menikah dengan Shanum, karena apa?? karena putrimu itu tukang selingkuh, Prianka!!! Tapi bukan mengakui kesalahannya malah terus meneror keluarga kami bahkan gegara putrimu yang otaknya tidak waras itu, Shanum menantuku harus koma di rumah sakit karena cedera berat di kepala dan perutnya!!" Kata Mami Tiara menggeram.


"Dan kamu Prita, ada salah apa Indra anakku dan Shanum menantuku pada Sheilla anakmu hingga dia jadi ikutan menaruh dendam pada Indra dan Shanum bahkan sampai tega menembak Indra sehingga dia meninggal seperti sekarang ini, perkara anakmu meninggal karena tertembak oleh polisi karena anakmu itu sudah jadi buronan korupsi, lalu jadi pembunuh !!" Teriak Tiara melepaskan kemarahannya sambil kedua tangannya menarik kencang rambut pirang kedua kakak beradik yang senang mencari keributan itu.


"Kusumpahi semoga dua anakmu itu mati menjadi hantu gentayangan, kalau gentayangin keluargaku tinggal dibacakan doa pemusnah setan biar hangus terbakar sekalian!!" Jerit Mami Tiara.


"Mi...mi...sudah mi, lepas nanti kepalanya orang!!" Kata Papi Jonas berusaha melepaskan tangan istrinya dibantu oleh Dodi dan Wahid sementara suami Prita dan Prianka juga sibuk mengurusi istri masing-masing.


"Sakit Papi!!!" Teriak Prita dan Prianka.


"Yah lagian salah kalian juga datang kemansion mereka langsung saja mencari gara-gara dengan mereka!!" Kata suami Prianka.


"Awas kamu Tiara!!" ancam Prianka da Prita bersamaan.


"Sabar mi!!" Kata Papi Jonas sambil mendekap wanita cantik itu untuk menenangkannya.


"Siapa yang tidak marah Pi, mereka mengancam akan mencelakai menantu dan cucu-cucu kita, sudah kita masih dalam suasana berkabung, eh??? Mereka malah datang bukannya mengucapkan bela sungkawa malah membawa masalah!!" Kata Mami Tiara masih kesal.


"Ya sudah, sebentar almarhum akan di sholatkan, Mami yang tenang dulu ya!!" Kata Papi Jonas.


**************


Hansen tersadar dari pingsannya. Dia merasakan sakit di sekitar bagian perutnya.


"Auhhh, sakit sekali!!" Hansen meraba perutnya yang tempo hari terluka terkena tusukan pisau Sri.


"Sialan kamu Sri!! Kamu tunggu saja pembalasan dariku!!" Gumam Hansen.


"Bagaimana kabarnya Anna setelah kutinggalkan, ya?? Apakah dia baik-baik saja atau sudah ikut tertangkap polisi??" Gumam Hansen seraya meringis menahan sakit.


Dia hendak membuka pintu kamar rawat inapnya tetapi tidak jadi saat dia melihat beberapa polisi berjaga di depan kamarnya.


"Kampret!! Berarti aku sudah ketahuan, dasar Sri bodoh kurang ajar!! Kamu membuat polisi jadi menangkapku kembali!!" Hansen mundur perlahan kembali ketempat tidurnya dan berbaring kembali seolah-olah masih pingsan.


"Bagaimana caranya aku mengakali para polisi itu agar aku bisa lolos lagi dari kejaran mereka." Otak Hansen terus bekerja untuk mencari akal.


**************


"Ayo Mi, kok belum juga siap-siap?? Sebentar lagi jenazah almarhum akan di kebumikan!!" Kata Rafli saat dilihatnya Bandiah masih memakai baju rumahan.


Dengan berat hati Bandiah mengganti pakaian dan bersiap ikut suaminya.

__ADS_1


"Mi, Umi lagi sakit?? Kok sejak semalam abi dicueki??" tanya Rafli.


"Umi tidak apa-apa, bi!! Badan Umi hanya sedikit meriang saja!!" Kata Bandiah pelan tak bersemangat sama sekali.


CCCCIIITTTTTT


Rafli berhenti mendadak mendengar perkataan istrinya.


"Umi sakit apa?? Kita cepat periksa ke dokter ya!!" Kata Rafli lagi.


"Iiisssshhhh, Abi berhentinya kok dadakan banget sih?? Umi hampir jatuh dari motor, Abi!! Mau membuat Umi cepat meninggal ya!!" Kata Bandiah kesal.


"Maafkan Abi ya sayang, Abi hanya merasa khawatir mendengar Umi sedang sakit!!" Kata Rafli.


"Nanti sehabis dari mansion keluarga Shanum, kita langsung periksa ke rumah sakit!! Oke??" Kata Rafli lagi.


"Makanya kalau naik motor itu peluk pinggangnya Abi jangan malah pegangan di belakang, memangnya Abi ini tukang ojek apa??" Gerutu Rafli.


"Peluk pinggang Abi!!" perintah Rafli.


Dengan terpaksa Bandiah memeluk pinggang suaminya.


Kedua pasangan suami istri itu kemudian saling diam tak ada yang bicara lagi.


Semakin mendekati mansion semakin hati Bandiah berkebat kebit. Dia tahu bahwa dia tidak seharusnya merasa cemburu pada teman baiknya itu, tetapi dia sekarang sudah menjadi istri dari Rafli Andarian, salahkah jika dia cemburu??


"Ya Allah, buang semua prasangka buruk di hatiku tentang suami dan sahabatku!! Semestinya aku ikut berbela sungkawa atas meninggalnya Mas Indra, bukan malah cemburu pada mereka berdua." Gumam Bandiah.


Mereka berdua tiba di mansion bertepatan saat jenazah Indra akan di sholatkan.


Sementara Rafli langsung bergabung dengan para pelayat lain, Bandiah menemui Shanum di ruang tengah.


"Num!!"


Bandiah tak mampu meneruskan kalimatnya melihat kondisi sahabatnya yang sangat kacau.


Dua lingkaran hitam melingkar di bawah mata Shanum tanda dia tidak tidur semalaman.


Shanum menoleh pada Bandiah. Untuk sesaat mereka hanya mampu saling berpandangan saja, lalu...


"Di, Mas Indra benar-benar telah pergi sekarang, bukan hanya pergi sementara tetapi sudah pergi untuk selamanya." Isak tangis Shanum tak terbendung kembali, lagi dia menumpahkan segenap perasaannya pada sahabat baiknya itu.

__ADS_1


Bandiah memeluk Shanum dengan erat.


"Aku tahu kamu mampu dan kamu sanggup!! Allah tidak akan pernah memberikan cobaan di luar batas kemampuan hambanya." Kata Bandiah berusaha untuk membesarkan hati Shanum.


Kedua sahabat baik itu saling menguatkan, walaupun Bandiah juga harus merasa kuat jika nanti pada akhirnya apa yang dia khawatirkan akan terjadi juga.


"Kamu mau ikut ke pemakaman??" Tanya Bandiah.


"Iya, aku akan tetap bersama dengan suamiku sampai tanah menutup seluruh tubuhnya di liang lahat." Kata Shanum dengan suara yang bergetar.


Mami Tiara tidak diberikan ijin oleh Papi Jonas untuk ikut kepemakaman karena dari semalam kondisi Mami Tiara drop terus menerus.


Jenazah dimasukan ke dalam ambulan. Shanum, Bandiah, Papi Jonas, Elang dan Rafli ikut di dalam mobil ambulan itu.


Di dalam ambulan sesekali Rafli melirik Shanum yang termenung menatap keranda suaminya.


Semua itu tidak luput dari perhatian Bandiah. Ada rasa perih di hatinya menyaksikan itu semua. Tapi dia berusaha berpikiran yang positif saja, mengingat bahwa dia, Shanum dan Rafli dulu pernah menjadi sahabat, mungkin kekhawatiran Rafli sekarang karena mereka pernah bersahabat dekat itulah yang menjadi alasannya.


"Gimana Dodi?? Liang lahat untuk Indra sudah selesai??" Kata Papi Jonas.


"Siap bos, tuan muda sudah bisa dimakamkan!!" Kata Dodi dengan suara yang tercekat.


Sungguh bagi mereka yang bekerja di keluarga Jonas sudah tahu betapa baiknya seorang Indra Fahreza kepada semua pekerjanya.


Dia tak pernah memberikan batasan antara atasan dan bawahan karena baginya semua yang tinggal di mansion sudah menjadi bagian dari keluarganya.


Sekarang lelaki baik hati itu sudah pergi untuk selamanya dan meninggalkan luka di hati banyak.orang.


Semua pasien yang pernah di tangani oleh Indra sebelum dia naik jabatan menjadi wakil kepala perawat, ikut mengantarkan almarhum hingga sampai ke peristirahatan Indra yang terakhir.


Mereka semua mengirimkan ribuan untaian doa dan juga ratusan karangan bunga untuk perawat idola mereka.


*


*


***Bersambung....


Tugas Indra di dunia sebagai seorang pengabdi masyarakat, sebagai anak yang berbakti sebagai suami dan sebagai seorang ayah sudah selesai, Allah memanggilnya untuk pulang kembali ke pangkuanNya.


Lanjut ke episode berikutnya ya reader dan mohon dukungannya selalu.🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2