
Sebelum pergi ke hotel, Bagas mengantar Indhira terlebih dahulu ke rumah Raffasya, karena istrinya itu ingin kembali bekerja di butik Azkia. Sebelumya Indhira sendiri sudah menghubungi Azkia, jika dia ingin kembali bekerja, dan Azkia pun memperbolehkan Indhira untuk kembali ke butik. Bagas berkewajiban mengantar Indhira. Dia tidak akan mungkin tega membuatkan istrinya itu pergi sendirian ke rumah Azkia, meskipun hotel tempat dia bekerja sendiri jaraknya lebih dekat dengan rumah kontrakannya, ketimbang rumah Raffasya.
" Assalamualaikum, Pagi Pak Dudung." Indhira menyapa Pak Dudung, security yang berjaga pagi ini di rumah keluarga Raffasya.
" Waalaikumsalam ... eh, pengantin baru." Pak Dudung bergegas keluar dari posnya lalu membukakan pintu gerbang untuk Indhira.
" Sudah mulai bekerja, Mbak? Kirain masih honeymoon." Pak Dudung terkekeh melihat kedatangan Indhira saat ini bersama Bagas.
" Iya, Pak." sahut Indhira malu-malu. " Bu Kia belum berangkat 'kan, Pak?" tanya Indhira merubah arah pembicaraan agar Pak Dudung tidak membahas soal pernikahannya dengan Bagas.
" Ada, Mbak. Masuk saja ...!" Pak Dudung mempersilahkan Indhira masuk.
" Ra, aku tidak ikut masuk, ya!? Sampaikan saja salamku untuk Pak Raffa dan Bu Kia." Bagas memilih tidak ikut masuk ke dalam rumah Raffasya karena harus segera ke tempat kerjanya. Ini adalah hari pertamanya bekerja di hotel Gavin. Sudah pasti dia tidak ingin membuat cela dengan datang telat di hari pertamanya itu.
" Ya sudah, hati-hati, ya, Mas." Indhira langsung meraih tangan sang suami lalu mencium punggung tangannya.
" Kamu juga, kerja harus fokus, jangan melamunkan aku terus!" Ucapan Bagas justru membuat Pak Dudung terkikik, sehingga membuat Bagas dan Indhira menoleh ke arah Pak Dudung.
" Pengantin baru romantis banget," komentar Pak Dudung kemudian.
" Harus itu, Pak! Biar langgeng ..." Bagas menyeringai. " Iya, tidak, Yank?" Bagas mengedipkan matanya pada sang istri.
" Sudah cepat berangkat! Nanti telat, lho!" Indhira menyuruh Bagas untuk cepat pergi dari sana, karena dia tidak ingin suaminya itu bersama Pak Dudung kompak menggodanya.
" Ya sudah, aku berangkat ya, Yank. Saya pamit dulu, Pak. Assalmualaikum ..." Bagas berpamitan kepada Indhira dan Pak Dudung.
" Waalaikumsalam, hati-hati, Mas." Indhira dan Pak Dudung menjawab bersamaan dengan jawaban yang sama, membuat mereka saling menoleh dan tertawa kecil.
" Saya masuk ke dalam dulu, Pak." Setelah Bagas menjauh, Indhira pun langsung berpamitan kepada Pak Dudung untuk masuk ke rumah milik bosnya itu.
" Oh, silahkan, Mbak." Pak Dudung segera menutup pintu gerbang kembali setelah Indhira masuk ke dalam rumah itu.
" Assalamualaikum, Mbak Uni." Saat masuk ke dalam rumah Raffasya, Indhira menyapa Uni yang membukakan pintu untuknya.
" Waalaikumsalam ... lho, Mbak Indi, kok sudah kerja lagi? Tidak pergi bulan madu, Mbak?" Seperti hal nya Pak Dudung, Uni juga terkejut dengan kehadiran Indhira di rumah bosnya itu.
" Soalnya bingung di rumah sendirian mau ngapain, Mbak? Jadi mending saya membantu pekerjaan Ibu Kia saja di butik, Mbak." Indhira menyebut alasannya memilih kembali beraktivitas di butik milik Azkia.
" Bu Kia ada di kamar, Mbak?" tanya Indhira.
" Iya, ke atas saja, Mbak." Uni mempersilahkan Indhira langsung naik ke kamar Azkia seperti biasanya.
" Iya, Mbak Uni. Saya ke atas dulu." Indhira berpamitan kepada Uni lalu melangkah menaiki anak tangga menuju kamar Azkia.
Tok tok tok
Indhira memilih menenui Azkia di kamar Azkia karena dia tidak melihat mobil Raffasya terparkir di halaman. Biasanya suami Azkia itu sedang mengantar anak-anaknya sekolah.
" Eh, Ra. Masuk, Ra!" Saat Azkia membuat pintu kamarnya, wanita itu mempersilakan Indhira masuk.
" Terima kasih, Bu." Indhira menutup kembali pintu kamar Azkia yang tadi dibuka Azkia.
" Kamu 'kok, buru-buru banget kepingin kerja lagi, Ra? Tidak ingin menikmati cuti nikah dulu? Kalian dapat tiket honeymoon dari Uncle, kan? Kenapa tidak pergi honeymoon ke sana?" tanya Azkia menanyakan kenapa Indhira terkesan ingin cepat bekerja.
" Suami saya Senin ini 'kan sudah mulai bekerja, Bu. Tidak enak jika harus membolos, padahal Om Gavin sudah berbaik hati memberikan pekerjaan di hotel kepada suami saya. Lagipula saya belum pernah pergi ke luar negeri, Bu. Tidak punya paspor, paspor suami saya juga ada di rumah orang tuanya, jadi mesti banyak yang harus diurus jika berangkat ke sana dalam waktu dekat ini, Bu." Bukan tidak mensyukuri apa yang telah diberikan oleh Gavin, tapi Bagas dan Indhira harus mempertimbangkan beberapa hal untuk pergi honeymoon ke luar negeri yang diberikan Gavin sebagai kado pernikahan mereka
" Oh, gitu ... Wah, tiket dan akomodasinya hangus tidak kalau kalian tidak cepat pergi ke sana?" tanya Azkia khawatir jika Bagas dan Indhira tidak cepat mengcancel rencana perjalanan honeymoon yang diberikan oleh Gavin.
__ADS_1
" Waktu kepergian ke sana belum ditentukan 'kok, Bu. Om Gavin menyuruh kami menentukan waktunya sendiri, kalau kami siap, Om Gavin akan menyuruh orang untuk mengurusnya." Indhira menceritakan apa yang diceritakan oleh suaminya. Karena Bagas lah yang berbicara dengan Gavin soal hadiah tiket bulan madu ke luar negeri.
" Oh, gitu ... syukurlah kalau belum ditentukan waktunya, Ra." sahut Azkia kemudian.
" Oh ya, bagaimana rasanya setelah menikah dengan cinta pertama?" Azkia iseng menanyakan kesan pernikahan Indhira kepada wanita itu.
***
Ini hari pertama Bagas bekerja di Hotel Richard Fams milik Gavin sebagai General Manager di hotel tersebut. Posisi yang dia dapatkan, jabatan tertinggi di hotel itu. Kehadiran Bagas sebagai General Manager yang mempunyai paras rupawan, tentu membuat hampir seluruh pegawai wanita di hotel dari berbagai profesi kegirangan. Bisa dibayangkan betapa hebohnya pegawai hotel itu ketika sebelumnya dipimpin oleh pria tua berumur lima puluh lima tahun dengan perut buncit. Kini diganti dengan pria muda, berwajah tampan dengan tubuh atletis dan proposional yang membuat kaum hawa langsung terpesona.
Tidak sedikit pegawai wanita di hotel itu bersiap berlomba untuk tebar pesona mencoba menarik perhatian sang General Manager baru. Seperti pagi ini di meja resepsionis yang diisi oleh tiga orang pegawai wanita sedang bergosip sebelum kedatangan Bagas di hotel itu.
" Sudah tebal, Fis, sudah tebal!" sindir Farah, saat melihat Fiska menepukkan kembali bedak ke pipi dan merapihkan riasannya.
" Hush, berisik!" sergah Fiska kembali memulas bibir dengan lipstiknya. " Kalau sudah kelihatan perfect gini 'kan, lebih pede kalau bos baru lewat." Fiska terkekeh seraya menyeprotkan parfum di beberapa titik nadinya.
" Memang ganteng banget bos baru kita itu, Fis?" tanya Dahlia penasaran, dia sedang kebagian libur ketika Bagas Selasa Minggu lalu datang bersama Gavin.
" Ganteng banget pokoknya, Li. Nanti kamu lihat sendiri, deh! Semoga saja masuknya dari lobby ini, tidak dari basement." Fiska berharap, kedatangan Bagas melewati lobby hotel, sehingga dia bisa melihat dan menikmati ketampanan bosnya itu.
" Penasaran banget, deh! Kayak apa gantengnya General Manager baru itu " Dahlia semakin penasaran.
" Nanti juga kamu pasti tahu, Li. Tapi tidak usah naksir, ya!? Biar sainganku tidak banyak." Fiska tertawa meminta Dahlia untuk tidak ikutan menganggumi manager baru mereka.
" Kalau memang beneran ganteng, aku tidak janji tidak akan naksir lah, Fik." Kali ini giliran Dahlia yang tergelak. " Namanya wanita, wajar, dong! Kalau ada yang ganteng jadi ikut mengagumi!?" sambungnya.
" Kalian ini niat kerja atau ingin merumpi!? Kalau ada tamu yang datang lalu melihat kalian merumpi seperti ini, mereka pasti akan menilai kalian bekerja tidak profesional. Kalau sudah tidak niat bekerja, sebaiknya kalian segera mengundurkan diri saja daripada buat malu nama baik hotel ini!"
Suara seseorang yang menegur para pegawai di meja resepsionis membuat ketiga orang pegawai itu terdiam dan berhenti bergunjing. Mereka pun langsung menoleh ke arah suara tadi.
" Maaf, Bu Elma." Ketiga pegawai itu serempak mengucapkan permintaan maaf mereka.
Elma adalah executive assistent manager di hotel itu. Dia dikenal sebagai pegawai yang tegas kepada pegawai dan terkesan jutek. Tidak sedikit pegawai hotel yang memusuhinya karena sikap tegasnya itu dinilai tidak luwes terhadap pegawai dan terkesan cari muka kepada sang bos.
Sekitar sepuluh menit kemudian, Bagas memang tiba di hotel tersebut melalui pintu lobby hotel, karena Bagas pergi kerja menggunakan motor. Sebenarnya Gavin sudah memberikan fasilitas mobil dinas untuk bagas, tapi Bagas menolak dengan alasan sulit untuk parkir di tempat kontrakannya, karena mobil dinasnya tentu saja termasuk mobil mewah yang berharga milyaran. Dia tidak ingin beresiko harus mengganti jika sampai mobil itu rusak atau lainnya. Karena sekarang ini, dia harus lebih bijak mengatur keuangannya.
" Selamat pagi, Pak." Sebelum security menyapa Bagas. pria itu dengan ramah menyapa security yang berjaga di depan pintu masuk hotel.
" Selamat pagi, Pak." Security itu sedikit membungkukkan tubuhnya membalas Bagas, karena merasa tidak enak hati disapa duluan oleh bos barunya itu.
Bagas lalu berjalan masuk ke dalam lobby hotel. Tentu saja pengalaman dia sebagai seorang pemimpin sebuah perusahaan besar membuatnya luwes namun tetap berwibawa saat melangkah memasuki hotel milik Gavin Richard itu.
" Selamat pagi, Pak." Fiska dan Farah menyapa Bagas saat Bagas melintasi meja resepsionis, sementara Dahlia sampai terbengong ketika melihat Bagas yang kini terlihat semakin tampan menurutnya.
" Selamat pagi." Dengan mengulum senyuman Bagas menyapa ketiga pegawai di meja resepsionis itu. Senyuman yang terasa seperti angin sejuk bagi Fiska dan Farah.
" Kak Bagas?"
Bagas yang sudah melewati ketiga pegawainya itu seketika menghentikan langkahnya saat mendengar suara salah satu pegawai tadi menyebut namanya. Bagas bahkan memutar badannya karena menganggap pegawai itu mengenalinya secara pribadi jika mendegar dari cara orang itu memanggilnya.
" Ini Kak Bagas, kan? Kak Bagaspati yang dulu sekolah di SMA Satu Nusa Satu Bangsa?" Dahlia lah yang memanggil Bagas tadi.
" Iya, benar, saya memang lulusan SMA itu. Apa kamu adik kelas saya di sana?" tanya Bagas mencoba mengenali siapa pegawai yang menyapanya tadi.
Dengan percaya diri, Dahlia keluar dari meja resepsionis lalu berlari kecil menghampiri Bagas. Sudah pasti tindakan Dahlia membuat Fiska dan Farah tercengang, karena ternyata Dahlia sudah lebih dahulu mengenal Bagas.
" Kak Bagas masih ingat aku tidak? Aku Dahlia, Kak. Kak Bagas ke mana saja selama ini? Sudah lama kita tidak bertemu. Senang bisa ketemu Kak Bagas kembali." Dahlia kini mengulurkan tangannya ke arah Bagas.
__ADS_1
" Dahlia? Maaf, saya lupa. Dahlia siapa, ya? Apa kamu teman saya di SMA dulu? Atau teman SMP saya?" Bagas memang terlupa siapa wanita yang mengaku bernama Dahlia itu. Dia juga tidak menyambut uluran tangan Dahlia.
" Aku Dahlia, Kak. Aku saudara sepupunya Indhira. Kak Bagas ingat Indhira tidak?" Dahlia yang tak lain anak dari Tante dan Om Indhira mencoba membuka ingatan Bagas agar Bagas mengenalinya.
Seketika Bagas membulatkan bola matanya saat mengetahui jika wanita di hadapannya saat ini adalah anak dari Tante Marta dan Om Ferry, keluarga Indhira yang sudah tega membuat hidup Indhira seperti pembantu di rumahnya sendiri. Anggota keluarga Indhira yang tidak menganggap Indhira seperti keluarga mereka. Keluarga Indhira yang mengambil hak Indhira sebagai anak yatim piatu kala itu.
Rahang Bagas seketika mengerat, bahkan tangannya sudah mulai mengepal. Jika saja orang yang ada di hadapannya saat ini adalah seorang pria dan dia saat ini tidak sedang membutuhkan pekerjaan, rasanya dia ingin menghan tamkan pu kulan kepada orang itu sebagai bentuk pembalasan apa yang sudah mereka perbuat terhadap Indhira selama ini.
" Indhira?" Bagas kini harus bersandiwara dengan berpura-pura terkejut mendengar nama Indhira. " Maaf, Indhira siapa, ya?" tanya nya kemudian. Seketika otaknya bekerja, sehingga dia memilih bersandiwara sambil memikirkan rencana untuk menjebak keluarga istrinya yang sudah memperlakukan istrinya secara tidak manusiawi.
Kali ini Dahlia yang kaget karena Bagas tidak mengenal siapa Indhira. Dia pun berpikir jika Bagas sudah melupakan Indhira karena pasti banyak teman kencan wanita Bagas sehingga Bagas melupakan Indhira begitu saja. Padahal Bagas dan Indhira sempat terjerat kasus video viral. " Apa Kak Bagas pura-pura tidak ingat Indhira karena malu dengan kasus video itu, ya?" pikir Dahlia.
" Hmmm, Indhira itu ... teman Kak Bagas waktu SMA. Dulu Kak Bagas sering mengantar Indhira pulang ke rumah, lho!" Dahlia mencoba membuat Bagas mengingat Indhira kembali.
" Benarkah? Lalu, bagaimana kabar Indhira sekarang? Maaf saya agak lupa orangnya yang mana?" Bagas berpura-pura memijat pelipisnya.
" Hmmm, saya tidak tahu Indhira sekarang ada di mana? Soalnya dia waktu itu kabur dari rumah, Kak." cerita Dahlia tentang Indhira.
" Oh gitu ... ya sudah, sekarang kamu kembali bekerja." Setelah mengakhiri kalimatnya, Bagas kemudian memutar kembali tubuhnya lalu melanjutkan langkahnya menuju arah lift untuk ke lantai di mana ruangan General Manager berada.
" Li, kamu kenal bos baru kita itu?" tanya Fiska yang merasa kalah satu langkah dari Dahlia, karena Dahlia mengenal secara personal dengan Bagas.
" Iya, dulu dia itu pacarnya sepupuku. Tapi, namanya juga playboy banyak pacarnya, jadi dia lupa sama sepupuku itu," cerita Dahlia menjelaskan kepada kedua temannya itu dengan bibir mengerucut, karena Bagas terlihat cuek bahkan seperti tidak mengenalinya.
Sementara di dalam lift, Bagas merasa senang bisa bertemu kembali dengan keluarga istrinya yang dulu bersikap buruk terhadap Indhira.
" Akhirnya bertemu juga dengan kalian. Aku sangat penasaran ingin bertemu dengan Tante Marta, terutama Om Ferry yang hampir saja berniat menjual Indhira. Kalian harus menerima pembalasan atas apa yang sudah kalian perbuat pada Indhira selama ini." Bagas sungguh bersemangat ingin bertemu dengan keluarga istrinya itu. Dan sudah pasti Bagas akan membuat perhitungan kepada mereka semua atas perlakuan mereka terhadap Indhira. Ibarat kata, dia sanggup menentang orang tuanya demi membela Indhira apalagi hanya melawan Tante Marta dan Om Ferry yang tidak ada ikatan darah dengannya.
Ting
Pintu lift terbuka di lantai yang Bagas tuju. Dia lalu melangkah ke arah ruangan kerja di tempat kerja barunya itu.
" Selamat pagi, Pak Bagas." Tiba-tiba Elma menyapa Bagas yang baru sampai di depan ruang kerja General Manager.
Bagas menyipitkan matanya saat melihat wanita cantik di hadapannya saat ini. Dia menatap lekat wanita itu, karena dia mengenali wanita yang menyapanya tadi.
" Elma?" Kini bola mata Bagas membulat saat dia mengenali siapa yang ada di depannya saat ini.
Elma adalah salah seorang wanita yang pernah Bagas kencani saat dia muda dulu. Elma lah yang membuat dia berpaling dari Crystal saat itu. Namun, justru akhirnya Bagas meninggalkan Elma saat dia mulai tertarik pada sosok Indhira.
" Surprise kamu masih ingat aku, Bagas. Senang bisa berjumpa kamu lagi." Elma mengulurkan tangannya ke arah Bagas seraya mengulum senyuman saat mengetahui Bagas masih mengingatnya.
" K-kamu ada di sini, Elma?" Bagas terheran saat mendapati Elma berada di hotel milik Gavin, terlebih Elma berada di depan ruangannya. Pasti bukan orang sembarangan bisa masuk ke ke lantai di mana ruangan kerjanya berada.
" Aku sudah bekerja selama lima tahun di sini. Aku Executive Assistant di hotel ini, dan aku akan membantumu pekerjaanmu di sini, Bagas." Elma menjelaskan posisinya di hotel milik Gavin itu kepada Bagas.
Bagas terkesiap mendengar jabatan Elma di hotel yang akan dia pimpin saat ini. Tentu saja status Elma sebagai mantan kekasihnya membuat dirinya merasa tidak nyaman. Karena dapat dipastikan jika dia dan Elma akan sering berinteraksi dengan jabatan yang masing-masing mereka pegang.
Bagas yakin dengan hatinya. Dia yakin jika dia tidak akan berpaling dari Indhira karena itu sudah terbukti dia setia hanya mencintai Indhira. Justru yang dia takutkan adalah Elma akan terbawa perasaan dengan pertemuan mereka kembali. Dan Bagas yakin, Indhira pasti akan cemburu jika Indhira tahu saat ini dirinya berada dalam satu tempat kerja dengan mantan kekasihnya dulu.
Bagas tidak pernah menyangka dirinya dipertemukan kembali dengan Elma, salah seorang wanita yang dulu pernah dekat dengannya. Semua berjalan secara berurutan dalam jangka waktu yang sangat berdekatan antara bertemu dengan Indhira dan juga Elma, padahal dia kembali ke Jakarta sudah dua tahun lalu.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung ...
Happy Reading❤️