SKANDAL VIDEO MASA LALU

SKANDAL VIDEO MASA LALU
Apa Ada Keterlibatan Papa?


__ADS_3

Bagas merasa kesal dengan perbuatan Elma yang berani mengusik istrinya. Dia tidak menyangka jika senekat itu Elma berani mendatangi tempat kerja Indhira yang merupakan butik milik Azkia. Terang saja Elma langsung jadi santapan empuk kemarahan Azkia. Jangan ditanya wanita satu itu jika ada seseorang yang bertindak di luar kemauannya. Apalagi Elma hanya seorang karyawan yang kebetulan bekerja di butik milik Paman dari Azkia sendiri.


Bagas sendiri merasa bersalah karena dia tidak terbuka sejak awal soal pertemuannya dengan Elma kepada Indhira. Tapi sungguh, dia tidak berniat buruk sama sekali dengan tindakannya itu, dia justru ingin melindungi sang istri. Bukan hanya dia menyembunyikan pertemuannya dengan Elma, tapi dia juga menyembunyikan pernikahannya dengan Indhira pada Elma. Semua itu dia lakukan agar istrinya itu tidak diusik oleh Elma. Namun nyatanya, tetap saja Elma berhasil menemukan Indhira.


Bagas juga tidak mengerti, dari mana Elma tahu soal pernikahannya dengan Indhira. Dan bagaimana juga Elma sampai tahu di mana Indhira bekerja? Seketika Bagas teringat akan orang yang mengikutinya beberapa hari lalu. Apa orang itu ada kaitannya dengan Elma? Sehingga Elma bisa tahu tentang Indhira dan pekerjaannya? Itu pertanyaan Bagas dalam hati.


" Berani sekali Elma sampai mengusikku dan Indhira. Apa Elma bergerak sendiri? Atau, ada yang sengaja memanfaatkan Elma dalam hal ini?" Bagas mencurigai ada keterlibatan orang lain dengan aksi Elma itu.


" Apa mungkin Elma itu mata-mata Papa? Tapi tidak mungkin, Elma lebih dahulu bekerja di sini daripada aku. Atau ..." Bagas teringat jika anak buah Papanya itu bisa melakukan apa. saja. Seperti halnya saat mendatangi Raffasya dan mengajak Raffasya bekerja sama untuk membuat huru-hara pada pernihanannya. Bukan tidak mungkin juga anak buah Papanya itu melakukan hal yang sama pada Elma. Dan Elma yang memang punya dendam pribadi padanya dan Indhira memanfaatkan momen ini untuk menyudutkan Indhira.


Bagas memperhatikan Indhira yang sudah terlelap dalam tidurnya. Sebuah kecupan dia sematkan di kening Indhira cukup lama. Dia kemudian bangkit dari tempat tidur dan mengambil ponsel lalu keluar dari kamarnya.


Bagas mencari nomer telepon Damar. Sejak dia keluar dari rumah orang tuanya, dia sudah tidak mempekerjakan Damar lagi, karena dia merasa tidak dapat membayar jasa Damar dengan uang simpanannya saat ini.


" Selamat malam, Pak Bagas. Bagaimana kabarnya?" Suara Damar langsung terdengar jelas saat sambungnya teleponnya pada mantan anak buahnya itu tersambung.


" Malam, Pak Damar. Alhamdulillah kabar saya baik." Bagas menyahuti.


" Bagaimana, Pak Bagas? Apa ada yang bisa saya bantu?" Damar menduga jika mantan bosnya itu membutuhkan jasanya.


Bagas terkekeh mendengar perkataan Damar lalu berucap, " Saya tidak sanggup membayar jasa Pak Damar saat ini."


" Jangan bicara seperti itu, Pak Bagas. Jika Pak Bagas memang membutuhkan bantuan saya, katakan saja, Pak. Saya tidak akan menuntut fee jika Pak Bagas memang membutuhkan tenaga saya. Katakan saja, Pak Bagas. Apa yang perlu saya kerjakan?" Damar mengatakan jika dia siap membantu Bagas tanpa pamrih.

__ADS_1


" Saya tidak enak, jika harus memakai jasa Pak Damar secara cuma-cuma. Tapi mungkin saya tidak bisa membayar seperti dulu pada Pak Damar." Bagas merendah karena menyadari gaji yang dia terima sekarang ini tidak sebesar saat menjadi CEO di perusahaan milik keluarganya.


" Jangan memikirkan itu, Pak Bagas. Jangan sungkan terhadap saya. Jika memang ada bisa saya lakukan untuk Pak Bagas, pasti akan saya kerjakan." Damar menolak fee yang akan diberikan Bagas kali ini.


" Tidak bisa begitu, Pak Damar. Saya harus tetap menghargai setiap jasa Pak Damar yang saya butuhkan." Bagas pun menolak menerima pertolongan gratis dari Damar.


" Begini saja, Pak Bagas. Berapa pun yang Pak Bagas beri pada, saya akan terima. Pak Bagas katakan saja apa yang harus saya kerjakan sekarang ini?" Damar mengambil jalan tengah, dia tidak menolak berapa pun nominal yang akan diberikan Bagas kepadanya. Karena jika terus berdebat menolak bayaran atas jasanya, itu tidak akan selesai.


" Baiklah, Pak Damar. Saya hanya butuh informasi seputar seorang wanita bernama Elma Joseline. Dia bertugas sebagai Executive Assistant Richard Fams Hotel di daerah Tangerang. Dia wanita yang dulu pernah dekat dengan saya ketika SMA. Dia baru saja mengacau di butik tempat istri saya kerja, dan berniat mempermalukan istri saya. Tolong Pak Damar selidiki, apa aksi dia ada sangkut pautnya dengan orang suruhan Papa saya?" Bagas mencetitakan apa yang sedang menjadi beban pikirannya saat ini pada Damar, orang selama ini selalu membantu menyelesaikan masalahnya.


" Dan kalau memang dia terlibat dengan rencana Papa yang ingin mengganggu rumah tangga aku dan Indhira, saya rasa Pak Damar tahu apa yang harus Pak Damar lakukan." Bagas sudah memberi mandat kepada Damar untuk membereskan Elma. Meskipun Indhira sudah mengatakan jika urusan Elma sudah ditangani oleh Azkia, namun sebagai suami Indhira, yang paling berhak melindungi Indhira, dia merasa perlu memberikan balasan atas apa yang sudah dibuat Elma kepada istrinya.


" Baik, Pak Bagas. Besok saya akan mulai bergerak mencari tahu soal wanita itu." Damar menyanggupi permintaan Bagas.


" Baik, Pak Bagas. Selamat malam."


Bagas kemudian mengakhiri percakapannya dengan Damar via telepon. Dia berniat kembali ke kamar dan bergabung dengan sang istri di tempat tidur.


" Mas, Mas tadi bicara dengan siapa?"


Bagas terkesiap saat mendengar suara Indhira yang tiba-tiba sudah berdiri di belakangnya.


" Sayang? Kenapa kamu bangun?" Bagas langsung merangkul pundak istrinya, dan membawa Indhira kembali ke kamar.

__ADS_1


" Aku terbangun dan melihat Mas tidak ada si sampingku." Indhira menjelaskan kenapa dirinya terbangun dan mencari Bagas. Dia sempat mendengar Bagas berbicara via telepon, tapi dia tahu dengan siapa Bagas berbicara.


" Mas bicara dengan siapa di telepon?" Indhira penasaran dengan siapa suaminya tadi berbincang di telepon.


" Tadi itu aku bicara dengan Benny, Yank. Aku ... aku cerita soal rencana pertemuanku dengan Odie, dan Benny sangat menyesalkan tidak bisa ikut bergabung karena jauh." Melihat istrinya masih mengantuk dan tidak fokus dengan siapa dirinya berbincang tadi, membuat Bagas harus kembali berbohong. Tidak mungkin dia menceritakan yang sebenarnya, jika dia memberi tugas kepada Damar untuk memberi efek jera kepada Elma. Yang ada istrinya itu akan menasehatinya panjang lebar, dan melarang apa yang dia rencanakan pada mantan kekasihnya itu.


" Oh ...."


" Ya sudah, sebaiknya kita tidur lagi, yuk! Lihat kelopak mata kamu cuma setengah terbukanya. Pasti berat banget ngantuknya, kan?" Bagas menertawakan bola mata Indhira yang sebagian tertutup kelopak matanya. Dan pertanyaan Bagas langsung ditanggapi Indhira dengan anggukkan kepala wanita itu.


Sementara di kamarnya, Elma terlihat gelisah. Dia merasa telah salah melangkah dalam melawan Indhira. Dia tidak menduga jika Indhira sangat dekat dengan keluarga Gavin.


" Sialan! Ternyata Bagas dan Istrinya itu punya hubungan spesial dengan keluarga Pak Gavin. Bisa bahaya kalau aku sampai dipecat. Seharusnya aku tidak menerima misi dari orang itu. ini namanya bunuh diri jika aku terus mengikuti apa yang dia inginkan," gumam Elma.


" Sial! Mana aku sudah mengeluarkan uang lima belas juta untuk membayar Bimo. Aku tidak mendapatkan Bagas, tidak mendapatkan apa-apa, justru aku harus kehilangan lima belas juga, ancaman dipecat dan dilaporkan ke pihak ke polisi. Apes sekali aku ini," keluh Elma yang merasa benar-benar dirugikan dalam hal ini.


*


*


*


Bersambung ...

__ADS_1


Happy Reading ❤️


__ADS_2