
Bagas segera keluar dari ruangannya saat sang sekretaris memberitahu jika ada temannya yang bernama Benny datang berkunjung ke kantornya siang ini.
Kedatangan Benny ibarat kejutan bagi Bagas. Karena mereka sudah cukup lama tidak bertemu. Bahkan setelah dua tahun dia kembali ke Jakarta pun, belum pernah ada kesempatan untuknya atau Benny yang kini menetap di luar kota untuk bisa bertemu kembali.
Bagas mendapati sahabat lamanya itu sedang duduk di sofa tunggu dengan mata mengedar pandangan memperhatikan ruangan di sekitarnya.
" Hai, Ben!" sapa Bagas.
Benny sontak menoleh ke arah pintu saat mendengar suara Bagas, yang memanggilnya.
" Hai, Gas!" Benny pun segera bangkit lalu berjalan mendekat lalu melakukan fist bump hingga mereka berpelukan singkat karena tidak pernah bersua dalam jangka waktu yang cukup lama.
" Lama juga kita tidak bertemu, Ben!" Bagas mengingat berapa lama mereka tidak pernah bertemu langsung, walaupun dia sering berkomunikasi via telepon dengan Benny.
" Sejak aku 'ikut' melepas kau terbang ke USA, Gas." sahut Benny terkekeh. Dia memang ikut datang ke Cengkareng melepas kepergian Bagas ke Amerika secara sembunyi-sembunyi tanpa diketahui oleh Adibrata yang ikut mengantar Bagas sampai di Negeri Paman Sam. Benny saat itu hanya bisa berbincang dengan Bagas di dalam toilet. Karena Bagas kala itu ibarat tawanan yang dijaga ketat, tidak bisa bergerak bebas karena ada dua pengawal yang menjaganya. Bahkan saat ke toilet pun, pewaris kekayaan Adibrata itu sampai dikawal oleh kedua bodyguardnya.
" Kau sudah seperti burung dalam sangkar, Gas. Bagus saja kau tidak sampai dipasung oleh orang tuamu itu. Hahaha ..." Benny mencibir apa yang dialami oleh Bagas saat itu. Namun, Benny memaklumi. Sosok Adibrata yang sangat dominan dan keras tentu tidak bisa ditentang oleh Bagas yang masih muda dan hidup masih bergantung pada orang tua. Apalagi Bagas sudah terbiasa hidup enak dengan segala fasilitas terpenuhi. Mungkin seandainya dia jadi Bagas pun, dia pasti lebih memilih menurut apa kata orang tua, daripada beresiko hidup susah dan menderita.
Bagas hanya tersenyum mendengar sindiran Benny. Dia menyadari jika selama ini lemah dalam menghadapi keputusan-keputusan yang dibuat oleh Papanya yang dominan mengatur hidupnya.
" Oh ya, Ben. Kau sudah makan siang? Kita sekalian makan di luar saja, bagaimana?" Bagas melirik arloji di tangannya yang sudah menunjukkan pu kul 12.30 menit, dan kebetulan dia juga ingin mengisi perut sehingga mengajak Benny untuk pergi makan siang bersama.
" Boleh, Gas. Makanya aku ke sini waktu makan siang, biar bisa sekalian kau traktir. Hahaha ..." Benny tergelak mengakhiri kalimatnya.
" Kau tidak mengabariku lebih dulu ingin datang kemari, Ben. Untung saja hari ini aku tidak ada jadwal bertemu klien." Bagas merangkul pundak Benny dan berjalan menuju arah lift untuk turun ke basement, di mana dia memarkirkan mobilnya.
" Aku ingin memberikan kejutan padamu, Gas! Kalau aku hubungi kau lebih dahulu, bukan surprise namanya," sahut Benny kembali terkekeh.
Ting
Mereka berdua masuk ke dalam lift saat pintu lift terbuka, sampai akhirnya keluar dari lift di lantai basement. Dan saat ini mereka bersiap meninggalkan kantor Bagas, dengan Bagas sendiri yang mengendarai mobilnya.
" Oh ya, kau ada di Jakarta? Sedang tugas atau urusan pribadi?" tanya Bagas saat mobil yang dikendarai olehnya melintas di salah satu ruas jalan kota Jakarta.
" Dapat tugas dari kantor sampai besok. Dini hari nanti juga aku kembali ke Surabaya, kok." jawab Benny memberitahu alasan dia berada di Jakarta saat ini.
" Oh ...."
" Oh ya, kapan kau berencana menikah dengan tunanganmu itu, Gas? Jangan lupa undang-undang aku kalau nikah, ya!? Pasti aku usahakan datang walaupun harus datang jauh-jauh dari Surabaya." Benny menyinggung soal rencana pernikahan Bagas dan Evelyn, karena Benny mendengar kabar soal pertunangan Bagas dan Evelyn sebelumnya.
Bagas menoleh sepintas ke arah Benny, lalu kembali fokus pada kemudinya dengan menghempas nafas kasar.
" Aku tidak tahu, Ben! Mungkin juga pernikahan itu tidak akan terjadi," sahut Bagas.
" Maksudnya bagaimana, Gas? Kau tidak jadi menikah dengan Evelyn, gitu?" tanya Benny terkejut dengan kalimat yang diucapkan Bagas tadi.
" Aku sudah mendapatkan kabar tentang Indhira, Ben. Dia masih ada di Jakarta sampai saat ini," ungkap Bagas.
__ADS_1
" Hahh?? Serius?? Kau sudah bertemu dengan Indhira? Di mana?" Benny langsung memberondong Bagas dengan beberapa pertanyaan. Berita yang disampaikan Bagas memang benar-benar membuat dirinya kaget.
" Aku belum bertemu langsung dengan Indhira, tapi aku tahu kapan bisa menemukan dia. Ternyata selama ini dia selalu mengunjungi makam kedua orang tuanya, Ben. Kenapa aku tidak sampai kepikiran ke arah sana!?" Bagas merutuki kebo dohannya sendiri, karena tidak pernah kepikiran untuk mencari informasi Indhira sampai ke makam orang tua Indhira. Padahal ketika sedih dan merindukan orang tuanya, Indhira selalu mengunjungi makam kedua orang tuanya.
" Apa karena itu kamu meragukan rencana pernikahanmu, Gas?" tanya Benny kemudian.
" Aku belum bisa melupakan Indhira dari hati dan pikiranku, Ben!" Bagas mengungkapkan perasaan yang dia rasakan sejujurnya tentang Indhira.
" Tapi, kamu belum bertemu dengan Indhira langsung, kan? Bagaimana jika dia ternyata sudah menikah?" Benny merasa Bagas terlalu cepat mengambil keputusan.
" Aku yakin dia belum menikah, Ben! Karena menurut penjaga makam di sana, Indhira selalu berziarah sendirian tanpa didampingi oleh siapa-siapa. Jika dia sudah menikah, setidaknya, suaminya itu akan mengantar dia ke sana." Bagas begitu yakin akan feelingnya yang mengatakan jika Indhira belum berumah tangga.
" Tapi, itu bukan jaminan kamu bisa kembali dengan dia, Gas! Belum tentu juga dia mau menerima kamu kembali. Apalagi dulu saja dia selalu menghindarimu." Benny tidak yakin Bagas akan mudah mendapatkan maaf dari Indhira.
" Itu yang ingin aku perjuangkan, Ben! Mendapatkan maaf dan menebus kesalahanku dulu kepadanya!" tegas Bagas.
" Dengan memutuskan pertunangan kamu dengan Evelyn?" Benny tidak menduga Bagas akan senekat itu mengakhiri pertunangan yang digelar mewah beberapa waktu lalu.
" Iya, itu resikonya," sahut Bagas.
" Lalu bagaimana dengan Papamu? Aku yakin Papamu tidak akan menyetujui rencanamu ini, Gas! Apalagi saat ini kamu sudah bertunangan dengan anak teman Papamu. Akan sulit untuk kau dan Indhira bisa bersama." Benny meminta Bagas mempertimbangkan dampak yang akan terjadi jika Bagas tetap memutuskan akan mengejar Indhira.
" Aku rasa sudah saatnya aku menentukan pilihan hidupku sekarang, Ben!" tegas Bagas.
" Bagaimana jika Papamu mengancam akan menarik semua hartamu termasuk perusahaan yang sedang kau pimpin ini, Gas?" Mengenal karakter Adibrata yang keras kepala, dan dapat melakukan apa saja dengan kekuasaannya, Benny khawatir Adibrata masih akan melakukan hal yang sama untuk menghalangi hubungan Bagas dan Indhira.
Bagas diam beberapa saat. Bagas sadar, memilih Indhira sama saja menggiring dirinya ke dalam suatu masalah. Tapi, dia harus siap menerima itu. Termasuk menerima keputusan terburuk dari Papanya.
" Aku bukan hanya mengkhawatirkan itu, Gas. Ada hal lain yang mungkin bisa terjadi jika kau tetap pada pendirianmu itu." Ada hal lain yang dipikirkan oleh Benny.
" Hal apa?" Bagas menoleh ke arah Benny.
" Aku justru khawatir dengan Indhira, Gas! Aku takut Papamu akan mengintimidasi Indhira kalau kau sampai meninggalkan tunanganmu itu. Kau tentu masih ingat, bagaimana Papamu dulu menekan Pak Marcel dan Pak Leo untuk mengeluarkan Indhira dari sekolah, padahal jelas-jelas itu kesalahanmu." Benny mengingatkan. Bagas sosal sikap Adibrata yang tidak adil terhadap Indhira.
" Aku khawatir kalau Papamu akan menyalahkan Indhira kembali, karena Papamu beranggapan Indhira telah membuatmu mengakhiri pertunanganmu dengan Evelyn, Gas! Kalau sudah begini, pasti Indhira yang akan menderita lagi." Benny menjelaskan hal buruk yang mungkin akan terjadi dengan keputusan Bagas itu. Benny merasa kasihan terhadap Indhira.
" Aku berjanji akan melindungi Indhira, Ben! Jika dulu aku tidak dapat berbuat apa-apa, kali ini aku harus bisa menjaga dan melindungi dia dari siapa pun juga, termasuk dari tindakan yang akan Papaku lakukan!" tegas Bagas, sepertinya sudah tidak dapat digoyahkan tekadnya.
Benny menghela nafas panjang. Walaupun Bagas bersumpah akan menjaga dan melindungi Indhira, itu bukan jaminan jika Indhira akan aman dari masalah.
" Kita makan di sini saja, ya!?" Bagas mengarahkan mobilnya masuk ke halaman rumah makan khas Sunda yang kebetulan dia lewati.
***
Azkia dan Indhira sudah berada di dalam restoran dan menyantap makanan yang mereka pesan sambil berbincang ringan. Azkia sedang berusaha menaikkan kepercayaan diri Indhira yang terpuruk akibat peristiwa kemarin. Memang tidak mudah bagi Indhira menghadapi permasalahan ini, apalagi Indhira mempunyai sifat introvert,
" Kamu belum pernah pacaran lagi sejak putus dari pacarmu dulu, Indhira?" tanya Azkia di sela-sela obrolan mereka.
__ADS_1
" Saya memang tidak pernah membuka hati lagi untuk dapat dekat dengan pria lain, Bu. Saya masih trauma dengan kejadian dulu," ungkap Indhira sejujurnya.
" Tapi, banyak pria yang menyatakan cinta ke kamu, kan?" Dengan paras cantik dan sikap Indhira yang selama ini dikenal lembut dan santun, tentu tidak sulit untuk pria jatuh hati pada sosok Indhira.
Indhira hanya menganggukkan kepalanys pelan. Dia tidak berani mengatakan dengan menggunakan ucapan, karena takut dianggap sombong karena banyak pria yang menyukai.
" Usia kamu berapa sekarang?" tanya Azkia kemudian.
" Tahun ini dua puluh enam tahun, Bu." jawab Indhira.
" Dua puluh enam tahun?" Azkia menganggukkan kepala seraya berpikir. " Usia kamu sudah matang untuk berumah tangga, lho! Kamu tidak mungkin menutup hati terus seperti ini, Indhira! Kamu harus bangkit! Kamu berhak mendapatkan kebahagiaan masa depan kamu. Kamu berhak dicintai dan mencintai seseorang lalu berumah tangga dan mempunyai anak." Azkia berusaha terus memberi motivasi agar Indhira tidak terus terjebak dengan trauma akan masa lalunya.
" Saya masih tidak percaya diri, Bu. Apa masih ada yang mau menerima saya dengan masa lalu saya yang seperti itu?" Pesimis nada kalimat yang diucapkan oleh Indhira.
" Di antara pria yang suka sama kamu, pasti ada yang benar-benar tulus mencintai kamu, Indhira." ucap Azkia kemudian.
" Saya tidak tahu, Bu. Saya bukan hanya kehilangan kesucian saja, tapi saya juga punya skandal video viral itu. Seandainya benar ada pria yang mau menerima masa lalu saya, belum tentu keluarga dia mau menerima saya. Rekam jejak digital saya mungkin tidak akan hilang sampai kapan pun." Indhira menarik nafas yang terasa berat, bahkan terasa sakit di dadanya jika membicarakan soal video viral itu.
" Hmmm, seandainya kamu bertemu lagi dengan mantan kekasih kamu dulu gimana?" tanya Azkia tiba-tiba.
" Maksud ibu?" Indhira tidak menyangka Azkia akan memberikan pertanyaan seperti itu.
" Seandainya kamu bertemu kembali dengan mantan kekasih kamu dulu, dan dia mengajak kamu untuk balikan, mengajak kamu menjalin hubungan kalian yang sempat kandas. Gimana sikap kamu?" Azkia penasaran dengan sikap yang akan diambil oleh Indhira.
" Saya rasa itu tidak mungkin, Bu." Indhira tidak ingin berandai-andai, apalagi menyangkut hubungannya dengan Bagas.
" Segala kemungkinan itu bisa saja terjadi, kan? Kamu percaya, tidak? Kalau orang yang tahu hubungan aku dan suamiku awalnya seperti apa, mereka tidak akan percaya kalau sekarang ini kami jadi pasangan suami istri yang bahagia." Azkia menceritakan bagaimana kisah dia dengan suaminya sampai akhirnya hidup bahagia dengan anak-anak mereka.
" Aku dan suamiku sejak kecil, waktu SD sampai sebelum kejadian itu, kita itu saling bermusuhan. Tidak pernah akur. Kalau bertemu selalu ribut, bahkan sampai adu fisik. Aku pernah menendang suamiku, suamiku malah pernah menceburkan aku ke kolam ikan saking kesalnya dia sama aku. Hahaha ..." Azkia teringat masa mudanya dulu, ketika dia dan Raffasya masih saling bermusuhan.
" Masa, Bu? Tapi Pak Raffa dan Bu Kia selalu kelihatan romantis, sulit dipercaya kalau Ibu dan Bapak pernah bermusuhan." Indhira begitu takjub mendengar kisah cinta bosnya yang ternyata tidak seindah yang pernah dia bayangkan. Karena Indhira pernah berpikir Azkia dan Raffasya adalah sepasang kekasih yang saling mencintai dan akhirnya mereka menikah.
" Saya dulu menyangka Ibu dan Bapak memang sudah saling cinta sejak sebelum menikah," ucap Indhira.
" Kita memang tidak pernah bisa menduga kisah hidup kita ke depannya akan seperti apa, Indhira. Aku kala itu justru punya pacar waktu kejadian dengan suamiku yang akhirnya menyebabkan aku hamil," lanjut Azkia kemudian.
Indhira mende sah, mendengar kisah cinta Azkia dan Raffasya membuat dirinya bertanya-tanya. Mungkinkah ada keajaiban sehingga dia juga bisa mendapatkan kebahagiaan seperti yang didapatkan oleh bosnya itu. Tapi Indhira sadar, kisah dirinya dan Azkia berbeda, setidaknya Azkia terlahir dari keluarga berada yang selalu mendukung Azkia, tidak seperti dirinya yang kini yatim piatu. Bahkan keluarga yang tersisa pun tidak memperdulikannya, namun justru membuatnya semakin hancur lagi.
" Tapi, masalah yang saya hadapi lebih kompleks dari masalah yang Ibu hadapi dulu, Bu. Ini beruntung, Pak Raffa bisa langsung mengambil keputusan untuk bertanggung jawab atas kemauan sendiri, tanpa ada paksaan atau larangan dari siapa pun. Beda dengan saya dulu ..." lirih Indhira, walaupun dia tahu Bagas pernah berjanji akan bertanggungjawab terhadapnya, akan tetapi Bagas tidak mampu menentang orang tuanya.
" Iya juga, sih ..." sahut Azkia sambil menganggukkan kepalanya. Sementara matanya menatap dua orang pria yang berjalan masuk dari pintu restoran. Salah satu dari pria itu terlihat sangat menonjol. Aura kepemimpinannya terancar dari wajah dan penampilan pria itu. Saat itu, Azkia pun langsung menduga jika pria itu adalah seorang CEO atau eksekutif muda yang mempunyai jabatan penting dalam suatu perusahaan.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung ...
Happy Reading❤️