
Adibrata menatap Indhira dengan penuh kebencian. Baginya wanita itu bagaikan musuh paling berbahaya dalam keluarganya, padahal Indhira hanya wanita lemah yang tidak mempunyai kekuatan apa-apa jika harus berhadapan dengan keluarga Adibrata Mahesa.
Plaakkk
Sebuah ayunan tangan kokoh Adibrata mendarat secara kencang dan kasar di pipi mulus Indhira, Sehingga membuat wanita itu tersentak kaget hingga memegangi pipi bekas tam paran Adibrata. Tak dapat terbendung olehnya, air mata pun seketika jatuh membasahi pipinya dengan deras. Jika saja saat ini dia berada di rumah milik orang tuanya sendiri, mungkin dia akan berlari masuk ke dalam kamarnya karena merasa malu.
" Pa!"
" Astaghfirullahal adzim!"
Bagas dan Lusiana pun terperanjat, hingga mereka berdua menghampiri Adibrata dan Indhira.
" Pa, apa yang Papa lakukan?!" geram Bagas tersu lut emosi, Bagas bahkan sampai mendorong tubuh Papanya menjauh dari Indhira. Dia merasa marah akan tindakan Papanya itu.
" Ra, maafkan Papaku." Bagas mendekat ke arah Indhira dan menyentuh pipi Indhira yang tadi terkena tam paran Papanya. Namun Indhira menepis tangan Bagas.
" Kenapa Bapak menampar Indhira?" Lusiana langsung merangkulkan tangannya di pundak Indhira, karena dia tahu Indhira sangat terpu kul dengan perlakuan kasar yang diterima dari Adibrata.
" Wanita itu memang pantas mendapatkannya, Nyonya! Dia sudah merusak anak saya sampai anak saya melakukan hal yang tidak pantas dan membuat malu keluarga. Sekarang dia merusak pertunangan anak saya dengan tunangannya!" Adibrata tetap pada pendapatnya dan menganggap Indhira adalah penyebab kekacauan pada sikap Bagas yang sekarang ini sering menentangnya.
" Pa, semua itu adalah salahku! Kapan Papa mau mengerti kalau Indhira bukan orang yang merusak hidupku! Justru aku yang sudah membuat hidup dia menderita! Papa tidak bisa menyalahkan dan bersikap seenaknya terhadap Indhira!" Bagas berkata dengan nada tinggi dan penuh amarah pada Adibrata.
" Kau lihat sendiri 'kan, wanita cengeng! Karenamu anakku berani berkata kasar kepada orang tuanya sendiri! Dan kau berharap menjadi menantu di keluarga saya?! Tidak sudi saya mempunyai menantu sepertimu! Kau tidak sebanding dengan Bagas!" Tak henti-hentinya orang tua Bagas itu menghina Indhira.
" Cukup, Pa! Papa tidak berhak menghina calon istriku!" geram Bagas berusaha menahan emosi agar dia tidak lepas kendali menghadapi Papanya itu.
__ADS_1
" Maaf, Pak. Bapak sudah membuat keributan di rumah saya apalagi sampai berlaku kasar terhadap seorang wanita. Itu bukan sikap laki-laki sejati!" Lusiana yang berusaha menenangkan Indhira yang terisak ikut memberikan komentarnya akibat sikap Adibrata.
" Saya sudah mendengar dari menantu saya soal Indhira. Kenapa Bapak hanya menyalahkan Indhira? Kenapa Bapak juga tidak menyalahkan anak Bapak sendiri yang jelas-jelas membawa Indhira ke kamarnya sampai melakukan perbuatan itu!? Kenapa Bapak sibuk memikirkan nama baik keluarga Bapak sendiri tanpa memikirkan bagaimana dengan nasib Indhira? Apa Bapak bangga dengan kekayaan yang Bapak memiliki, tapi Bapak tidak punya hati nurani. Tidak pernah mempunyai empati atas penderitaan yang telah diperbuat oleh anak Bapak sendiri kepada Indhira!" Lusiana terpancing emosi, hingga dia memberikan komentar pedas kepada sikap Adibrata kepada Indhira.
" Saya juga punya anak laki-laki, dia juga keras kepala dan tak pernah mau mendengar apa yang saya ucapkan saat masih remaja. Dia membuat kesalahan dan berniat bertanggung jawab atas perbuatannya. Sebagai orang tua, saya bangga dengan sikapnya. Bukan bangga atas kesalahannya, tapi bangga karena rasa tanggung jawab atas kesalahan yang sudah dia perbuat dan saya mendukung sikap yang diambil. Seharusnya Bapak juga bangga, punya anak yang mau bertanggung jawab atas kesalahan yang sudah dia lakukan dan berusaha memperbaikinya, bukan malah menentangnya seperti ini!" Lusiana membandingkan sikapnya terhadap Raffasya dengan sikap Adibrata terhadap Bagas.
" Bapak seharusnya sadar, harta kekayaan yang kita miliki hanya sementara, Pak! Ini semua titipan. Jika Tuhan berkehendak, semua yang kita miliki bisa hilang seketika. Jadi sebaiknya jangan menyombongkan diri dengan membanggakan status sosial dengan merendahkan orang seperti perlakuan Bapak terhadap Indhira!" Lusiana memeluk Indhira yang menangis semakin kencang.
" Seharusnya Anda tidak usah membela wanita ini, Nyonya! Wanita ini licik! Pura-pura lemah, padahal dia itu penuh intrik untuk menjerat anak saya! Dan Anda juga sudah terpengaruh oleh wanita itu!" Mendengar Lusiana membela Indhira membuat Adibrata kesal. Dia bahkan menuduh jika Lusiana sudah menjadi korban pengaruh dari Indhira.
" Saya membela apa yang seharusnya saya bela! Bapak sudah tidak adil dan berlaku kasar pada Indhira. Saya tidak akan membiarkan Bapak seenaknya saja menghina Indhira hanya karena status sosial dia jauh di bawah Anda, Pak!" tegas Lusiana menyanggah apa yang diucapkan oleh Adibrata. Tentu saja dia tidak terima dengan perkataan Adibrata yang dia anggap terlalu arogan.
" Pa, apa yang Ibu Lusi katakan benar. Seharusnya Papa malu dengan sikap Papa ini!" Bagas pun mencoba menyadarkan Papanya dengan mengatakan jika yang dilakukan oleh Adibrata itu salah.
" Kalian ini begitu bo doh, mudah sekali terpengaruh wanita munafik seperti dia!" Adibrata kesal dan kecewa karena tidak ada yang mendukungnya.
" Berani sekali Anda menghina saya, Nyonya! Anda tidak tahu siapa saya!?" Adibrata nampak semakin murka dengan sikap Lusiana yang dia anggap sombong.
" Saya tidak perduli siapa Anda! Jangan Anda pikir saya takut dengan nama besar Anda, Tuan Adibrata!" Lusiana seolah tak terintimidasi oleh Adibrata.
" Ada apa ribut-ribut, Lusi?" Suara Fariz terdengar dari arah tangga. Sepertinya kesibukkan Fariz yang sengaja membawa pekerjaan kantor ke rumahnya sedikit terganggu, hingga membuat pria itu keluar dari kamarnya.
Fariz melihat seorang wanita muda menangis dalam pelukan Lusiana. Wanita yang dia duga adalah asisten pribadi menantunya. Lusiana sebelumnya sudah menceritakan tentang Indhira yang akan menetap di rumah mereka.
" Ini, Mas. Papanya Bagas ini tadi membuat keributan di rumah kita ini!" Lusiana mengadukan perbuatan Adibrata kepada Fariz.
__ADS_1
" Maaf, Pak. Ada apa memangnya Bapak membuat keributan di rumah kami?" Fariz yang mempunyai sifat yang lebih tenang dibandingkan dengan Lusiana, bertanya dengan nada sopan pada Adibrata.
" Sudahlah, Mas. Percuma kita bicara pada dia!" Lusiana merasa percuma mereka bicara dengan kepala dingin dengan orang seperti Adibrata. " Saya rasa sebaiknya Anda segera meninggalkan rumah kami ini, Pak! Daripada Anda terus membuat kekacauan di rumah kami!" Bahkan tanpa merasa takut Lusiana berani mengusir Adibrata dari rumahnya.
" Ma, tidak boleh seperti itu." Fariz menegur Lusiana yang mengusir Adibrata dengan tidak sopan.
" Biarkan saja, Mas! Orang berhati busuk seperti dia, tidak pantas menginjakkan kaki di rumah kita!" sahut Lusiana masih dengan emosi dengan menatap tajam ke arah Adibrata.
" Berani sekali Anda menghina saya, Nyonya! Anda tidak tahu siapa saya! Saya pastikan Anda akan menyesal dengan sikap Anda ini, Nyonya!" Adibrata semakin meradang mendengar pengusiran dan penghinaan dari Lusiana.
" Saya baru tahu sekarang, jika Anda itu manusia sombong yang tidak punya hati nurani!" cibir Lusiana menanggapi perkataan Adibrata. Mereka berdua bagaikan musuh bebuyutan.
" Pa, sebaiknya kita pulang!" Bagas yang merasa tidak enak hati dan malu atas sikap Papanya langsung menarik tangan Adibrata untuk segera meninggalkan rumah Lusiana.
" Pak, Bu, saya minta maaf atas perbuatan Papa saya dan ketidaknyamanannya. Kami permisi dulu." Bagas segera berpamitan kepada Fariz dan Lusiana.
" Ra, nanti kita bicara lagi." Bagas sebenarnya tidak tega meninggalkan Indhira. Namun dia harus membawa Papanya pergi dari rumah Lusiana.
" Ya, sebaiknya kamu cepat membawa orang tuamu ini, Bagas!" Lusiana menyahuti Bagas dengan cepat, karena dia juga sudah mu ak dengan sikap Adibrata.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung ...
Happy Reading ❤️