
Azkia menatap lekat wajah Indhira. Setelah kepergian Bagas, pemilik Alexa Boutique ini masih merasa penasaran dengan keinginan Indhira yang sebenarnya terhadap Bagas. Azkia bahkan tidak menyuruh Indhira mengerjakan tugasnya sebagai asisten pribadinya, dia justru memilih mengintrogasi Indhira.
" Ra, kenapa kamu begitu mudah memaafkan Bagas? Selama ini kamu dihan tam masalah yang sangat pelik, semua itu karena dia penyebabnya. Kenapa kamu bisa luluh begitu saja pada Bagas sih, Ra?" Azkia merasa heran dengan sikap Indhira yang terlalu cepat memaafkan Bagas, padahal kesalahan Bagas sangat fatal dan seharusnya Indhira bisa lebih menahan diri untuk kembali pada Bagas.
" Saya ... saya tidak punya pilihan lain, Bu." jawab Indhira gamang.
" Karena kamu dipaksa oleh Bagas, kan?" tuding Azkia.
" Dipaksa karena keadaan, Bu. Saya sulit untuk jatuh cinta pada pria lain karena saya takut mereka tidak dapat menerima masa lalu saya. Dan setelah saya dipertemukan kembali dengan Bagas, saya pikir mungkin kami memang sudah ditakdirkan untuk bersama, apalagi Bagas juga serius ingin memperbaiki hubungan mereka." Akhirnya Indhira menjelaskan alasannya mau menerima Bagas kembali.
" Artinya kamu terpaksa karena merasa takut tidak ada pria yang mau menerima kamu. Begitu, kan?" Azkia berpendapat.
" Tidak seperti itu juga, Bu!" Dengan cepat Indhira menyangkal dugaan Azkia.
" Karena kamu juga masih mengharapkan dia?" Azkia kembali bertanya.
" Saya ... saya belum bisa menghilangkan perasaan saya kepada Bagas, Bu." aku Indhira jujur seraya nenunundukkan kepalanya.
" Kamu siap menghadapi resiko terberat yang akan kamu hadapi jika tetap bertahan bersama Bagas?" Azkia benar-benar tidak yakin Indhira akan bisa bertahan menghadapi setiap rintangan yang akan menghadang hubungan Indhira dengan Bagas.
" Bagas berjanji akan terus memperjuangkan hubungan kami, Bu."
" Astaga, Ra. Kamu naif banget, sih!?" Azkia sampai geleng-geleng kepala menghadapi keluguan sikap Indhira. " Kamu hanya berpegang pada janji Bagas? Lalu bagaimana seandainya Bagas tidak dapat memenuhi janjinya, apa kamu akan baik-baik saja? Apa kamu tidak akan kembali kecewa?" Azkia sampai gemas dengan kepolosan Indhira.
Indhira terdiam mendengar ucapan Azkia. Dia memang menginginkan bersama Bagas, walaupun rasa takut itu juga tetap ada.
" Aku tidak bermaksud mengatur hidup kamu, Ra. Tapi sebagai orang yang perduli sama kamu, sebaiknya kamu pikir ulang keinginan untuk terus bersama Bagas. Aku hanya ingin melindungi kamu dari orang-orang yang akan menyakiti kamu di kemudian hari." Azkia kembali menasehati Indhira, mencoba membuka pikiran Indhira agar lebih realistis.
Bukannya Indhira tidak memperdulikan kekhawatiran Azkia, akan tetapi rasa cinta dirinya kepada Bagas begitu besar. Dia pun mencoba mengingat perjuangan Bagas untuk bisa menemukannya kembali. Rasanya sangat tidak adil jika dia mengacuhkan Bagas begitu saja.
" Saya akan berusaha berjuang mendampingi Bagas, Bu. Seandainya perjuangan kami gagal dan kami tidak bersama, mungkin memang karena kami tidak ditakdirkan berjodoh. Tapi setidaknya kami sudah berusaha." Entah dari mana Indhira punya kekuatan untuk menyusun kalimat itu dan mengucapkannya di hadapan Azkia.
Azkia menghela nafas panjang dan menghembuskannya perlahan.
" Oke jika itu memang sudah menjadi keputusanmu, Ra. Aku tidak bisa terus menahan kamu. Aku hanya memberikan saran. Jika kamu memang ingin tetap berjuang bersama Bagas, kamu harus kuatkan hati kamu mulai sekarang dari setiap intimidasi yang akan dilakukan oleh-oleh orang-orang yang akan menentang hubungan kalian.*
" Aku tahu, Rissa dan keluarganya juga pasti akan menyayangkan keputusan kamu ingin bersama Bagas, tapi mereka tidak cukup kuat untuk menentang keinginan kamu itu. Kemungkinan yang akan menjadi sandungan terbesar kalian adalah keluarga Bagas, khususnya orang tua Bagas. Mereka orang kaya yang punya status sosial tinggi. Mereka bisa melakukan apa saja sesuai keinginan mereka dengan uang yang mereka miliki. Jadi, jika kamu ingin terus berjuang bersama dengan Bagas, jangan lemah, jangan mudah menyerah menghadapi apapun jenis intimidasi yang dilakukan pihak keluarga Bagas nantinya." Azkia memberikan masukan kepada Indhira, karena dia tahu Indhira sangat lemah. Azkia ingin Indhira menjadi sosok yang kuat dan tidak mudah meneteskan air mata.
Di kantor Bagas sendiri, pria itu sedang mengantisipasi agar Adibrata tidak sampai mengetahui sosok wanita yang datang bersamanya ke kantor. Dia pun sampai menyuruh stafnya untuk menghapus rekaman cctv di setiap sudut ruangan yang dilalui oleh Indhira saat datang bersamanya untuk berjaga-jaga jika sampai Adibrata meminta rekaman cctv di kantor itu. Dia juga menyuruh Ester dan security yang berjaga di basement untuk tutup mulut jika Papanya sampai mengorek informasi soal kehadiran.wanita di kantor Bagas.
Bukan Bagas bermaksud ingin menutupi hubungannya dari Adibrata. Dia justru ingin melindungi Indhira. Jika Papanya tahu lebih dahulu soal Indhira sebelum dia menemui Nathael. Dia takut Papanya akan menekan Indhira. Rencananya jika dia sudah menyelesaikan urusannya dengan Nathael, apa pun hasilnya, dia akan siap menghadapi rintangan yang ada termasuk rintangan terberat dari Papanya.
***
Sesuai janji Bagas siang tadi, selesai dari kantornya, Bagas segera menjemput Indhira karena dia ingin mengantar Indhira pulang dan menemui keluarga Rissa.
__ADS_1
" Assalamualaikum ..." Indhira masuk ke dalam rumah orang tua Rissa.
" Waalaikumsalam ..." Ibu Lidya yang menyambut Indhira. Wajah wanita itu langsung terperanjat saat melihat kehadiran Bagas di samping Indhira.
" Selamat malam, Tante." sapa Bagas pada Ibu Lidya yang masih tercengang melihat kedatangannya.
" M-malam." Bahkan sampai gugup Ibu Lidya menjawab sapaan salam dari Bagas dan menerima uluran tangan Bagas yang ingin menyalaminya
" Tante, ini ada Bagas ingin bertemu dengan Tante dan Om." Indhira menyebutkan jika kedatangan Bagas ke rumah Ibu Lidya dan Pak Edwin karena ingin bertemu dan berbincang dengan orang tua Rissa yang selama ini merawat dan menampung Indhira di masa-masa sulit wanita itu.
" Oh, s-silahkan masuk." Masih dengan rasa tidak percaya dengan kemunculan Bagas, Ibu Lidya mempersilahkan Bagas untuk masuk ke dalam rumahnya.
" Terima kasih, Tante." Bagas pun masuk ke dalam ruang tamu keluarga orang tua Rissa.
" Ra, Tante panggil Om dulu, ya!?" Ibu Lidya meminta Indhira untuk menemani Bagas karena dia ingin memanggil suaminya terlebih dahulu.
" Baik, Tante." sahut Indhira.
" Jadi setelah kabur dari rumah kamu, kamu tinggal di sini?" tanya Bagas, merasa konyol karena selama ini dia berhasil dibohongi oleh keluarga Rissa.
" Iya."
" Aku pernah menyuruh Benny mengawasi Rissa waktu aku dengar kamu kabur dari rumah. Tapi, Benny bilang tidak ada kamu di rumah ini." Bagas teringat saat Benny sampai mengirim foto gambar Rissa dan Mamanya yang sedang berbincang di atas balkon rumah Rissa.
Indhira menoleh ke arah Bagas. Dia juga moment itu, saat Rissa memberitahu jika Benny mengawasinya.
" Jadi kamu memang sengaja berniat sembunyi dari aku, ya?"
" Aku tidak punya pilihan lain, Bagas." sahut Indhira menjelaskan alasannya berbuat seperti itu.
" Ehem ..." Suara Pak Edwin yang berdehem muncul di ruangan tamu membuat Indhira dan Bagas menolehkan pandangan ke arah suara Pak Edwin berasal.
" Malam, Om." Bagas segera bangkit dan menyalami tangan Pak Edwin. " Saya, Bagas, Om." Bagas memperkenalkan dirinya.
" Jadi kamu yang bernama Bagas?" Pak Edwin manatap dengan sorot tajam ke arah Bagas.
" Benar, Om. Saya memang Bagas, orang yang paling bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada Indhira selama ini." Tanpa merasa takut akan mendapat intimidasi dari Pak Edwin, Bagas mengakui jika dirinya adalah pihak paling bertanggung jawab atas penderitaan Indhira.
Pak Edwin dan Ibu Lidya saling berpandangan. Mereka tidak menyangka jika Bagas berani mengakui kesalahannya. dengan mengatakan jika dirinya memang bersalah atas semua yang dialami Indhira selama ini.
" Lalu, untuk apa kamu datang kemari?" Sama hal nya dengan Raffasya, tentu saja Pak Edwin tidak akan mudah menerima kedatangan Bagas mengetahui jika Bagas sudah membuat Indhira menderita.
" Saya datang kemari karena saya ingin menyampaikan permohonan maaf saya terhadap Om, Tante dan keluarga Rissa. Karena ulah saya, telah membuat Om dan Tante harus menanggung Indhira tinggal di sini. Saya juga menyampaikan terima kasih, karena pertolongan Om dan Tante membuat Indhira bisa bertahan dari masalah yang dia hadapi selama lebih dari delapan tahun ini." Tak ingin menghilangkan jasa kedua orang tua Rissa, Bagas juga menyampaikan permohonan maaf dan terima kasih karena perlakuan baik keluarga Rissa kepada Indhira.
" Bagi kami itu tidak masalah. Indhira anak baik, dia sudah kami anggap seperti anak kami sendiri," jawab Pak Edwin menanggapi pemohonan maaf dan rasa terima kasih Bagas.
__ADS_1
" Saya bersyukur, Indhira berada dalam lingkungan orang-orang yang melindungi dia." Bagas menoleh ke arah Indhira sejenak.
" Lalu, apa lagi yang ingin kamu sampaikan kepada kami?" tanya Edwin kembali.
" Saya kemari ingin meminta ijin kepada Om dan Tante, karena saya berniat menebus kesalahan saya terhadap Indhira. Saya berniat ingin menikahi Indhira, Om, Tante. Saya tahu ini tidak akan mudah bagi saya. Karena itu saya mohon restu dan dari Om dan Tante untuk mendukung niat saya itu." Bagas akhirnya menjelaskan tujuan utamanya datang ke rumah orang tua Rissa.
Orang tua Rissa kembali terperanjat mendengar niat Bagas yang ingin menikahi Indhira. Mereka kembali saling berpandangan dengan kening berkerut, lalu kini sama-sama menatap Indhira.
***
Indhira baru selesai melaksanakan sholat Isya setelah membersihkan tubuhnya terlebih dahulu karena saat ini sudah mendekati jam delapan malam.
Sekitar setengah jam lalu Bagas baru saja pulang setelah berhasil meyakinkan kedua orang tua Rissa tentang niatnya ingin menikah dengan Indhira. Syukurlah Bagas tidak mengalami kesulitan saat meyakinkan orang tua Rissa. Setelah restu dari pihak Indhira didapat akan semakin ringan langkahnya untuk mencapai apa yang diinginkan oleh mereka berdua.
Ddrrtt ddrrtt
Indhira meraih ponselnya saat mendengar benda pipih itu berbunyi. Ternyata nama Rissa yang muncul di layar ponselnya.
Indhira mende sah, sepertinya Ibu Lidya sudah memberitahu tentang kedatangan Bagas kepada Rissa sehingga sahabatnya itu langsung menghubunginya saat ini.
" Assalamualaikum, Ris." sapa Indhira mengangkat panggilan telepon masuk Rissa.
" Waalaikumsalam .. Ra, benar Bagas datang ke rumah? Kok, dia bisa ketemu sama kamu? Terus, benar kamu mau menerima dia kembali? Menikah dengan dia? Ya ampun, Ra. Kenapa kamu terburu-buru mengambil keputusan, sih!?" Sama seperti hal nya Azkia, Rissa juga sangat menyanyangkan keputusan Indhira yang dianggapnya terlalu tergesa-gesa tidak berdiskusi dulu dengannya.
" Ris, aku mengerti kecemasan kamu. Aku paham kamu sangat mengkhawatirkan aku. Tapi, aku sudah berjanji pada Bagas kalau kami akan berjuang bersama. apa pun hasil yang kami dapat, setidaknya kami sudah berusaha." Indhira menjelaskan kepada Rissa kenapa dirinya mau menerima Bagas kembali.
" Dan juga, selama ini Bagas selalu berusaha mencariku. Rasanya tidak adil jika aku tidak memberi kesempatan kepadanya untuk memperbaiki kesalahannya yang lalu. Jika kamu menganggap aku ini wanita bo doh, aku terima, Ris. Aku hanya tidak bisa berpindah ke lain hati, dan aku ingin membuka hatiku kembali untuk Bagas." Mungkin orang akan menganggap dirinya terlalu naif, seolah melupakan penderitaannya selama. Tapi, apakah salah jika dia juga ingin meraih kebahagiaannya? Dan kebahagiaan dirinya adalah bersama dengan Bagas.
Sementara di rumahnya, Bagas yang baru saja tiba dari rumah Rissa langsung dihadang pertanyaan oleh Adibrata di ruangan tamu.
" Ke mana saja kau seharian ini, Bagas?!" selidik Adibraya tentang tatap mata tajam meminta jawaban dari Bagas.
" Aku ada keperluan," sahut Bagas kemudian.
" Papa sudah katakan padamu, jangan meninggalkan kantor untuk hal yang tidak penting!" Adibrata mengingatkan kembali bernada ancaman nada putrnya itu.
Bagas tidak merespon kalimat yang diucapkan oleh Adibrata. Dia justru melangkah menuju ke kamarnya sambil berucap, " Goodnight, Pa "
*
*
*
Bersambung ....
__ADS_1
Happy Reading,❤️