
Dahlia dibuat ketakutan dengan perintah Angel yang menyuruhnya ikut dengan wanita paruh baya itu. Dia sudah seperti tersangka kejahatan yang dijemput oleh polisi.
Dengan sangat terpaksa dan hati yang bertanya-tanya akhirnya Dahlia mengikuti langkah Angel dari belakang, sementara keringat dingin sudah membasahi telapak tangannya. Sejujurnya dia takut jika Angel akan menyakitinya karena dulu keluarganya menyiksa menantu dari Angel.
" Firasat aku tidak enak, nih, Far. Mestinya kita tadi tanya ke Dahlia, dia mau meninggalkan wasiat apa sebelum pergi, ya!?" Fiska terkikik melihat Dahlia yang terlihat memucat saat mengikuti Angel.
" Jangan begitu, Fis! Kamu senang banget Dahlia kena masalah kayak gitu!" Farah menegur Fiska yang dianggapnya keterlaluan merasa senang di tengah ketakutan Dahlia. " Kita berempati dikitlah, Fis. Bagaimanapun juga Dahlia itu rekan kita, lho!" Farah mencoba mengingatkan Fiska untuk tidak mensyukuri apa yang menimpa Dahlia.
" Itu salah keluarga dia sendiri memperlakukan orang tidak punya hati." Fiska merasa apa yang dia katakan sesuai fakta.
" Ya sudahlah, kita tidak usah ikut campur urusan mereka. Yang penting kita bekerja dengan baik di sini." Farah meminta mereka tidak membahas masalah Dahlia lagi.
" Menurut kamu, dia itu akan dibawa ke mana, Far?" tanya Fiska penasaran.
" Aku tudak tahu, Fis. Tapi berharap semua akan baik-baik saja." Farah sendiri tidak dapat menebak ke mana ibu dari bosnya itu membawa Dahlia pergi. Namun, dia berharap jika Dahlia kembali dengan selamat tanpa mengalami luka.
Sementara itu di dalam mobil yang dikendarai Pak Zul, saat ini Dahlia duduk di samping Pak Zul, sementara Angel sendiri duduk di belakang Pak Zul.
" Kita ke mana sekarang, Bu?" tanya Pak Zul kemudian.
" Pak Zul tanya sama dia, di mana rumahnya sekarang!?" Angel justru menyuruh Pak Zul bertanya kepada Dahlia.
Perintah Angel tentu saja membuat Pak Zul bingung, begitu juga Dahlia yang langsung menelan salivanya saat Angel menyuruh supir pribadi Angel membawa mereka ke rumahnya.
" Mbak rumahnya di mana?" tanya Pak Zul pada Dahlia.
" Rumah saya tiga kilo meter di belakang hotel ini, Pak. Dari persimpangan di depan itu belok kiri." Dahlia menunjuk arah menuju rumahnya kepada Pak Zul.
" Nanti Mbak arahkan saja di mana tempatnya, ya!?" pinta Pak Zul.
" Baik, Pak," sahut Dahlia.
Lima belas menit kemudian, mereka sampai di depan gang rumah Dahlia berada.
" Rumah saya masuk gang ini, Bu." Masih dengan rasa takut, Dahlia menunjuk jalan masuk ke arah rumahnya.
" Saya ingin bertemu dengan orang tua kamu, suruh mereka kemari!" Angel enggan turun dari mobil dan menyuruh Dahlia memanggil kedua orang tua Dahlia untuk menghadapnya.
__ADS_1
" Baik, Bu." Dengan langkah tergesa, Dahlia masuk ke dalam gang menuju rumahnya.
" Memang wanita itu siapa, Bu?" tanya Pak Zul penasaran.
" Dia itu sepupunya Indhira, tapi hanya secara status," jawab Angel.
" Maksudnya, Bu?" tanya Pak Zul semakin bingung.
" Dulu Indhira itu diperlakukan seperti perbantu oleh Tantenya di rumah orang tua Indhira sendiri, Zul. Setelah itu Indhira diusir dan rumahnya dijual. Keterlaluan sekali mereka itu, kan!?" Walaupun hanya bercerita namun Angel nampak geram.
" Ya ampun, kasihan sekali Mbak Indhira." Pak Zul terkesiap setelah mendengar cerita Angel.
" Benar, Zul. Kasihan sekali menantuku itu dulu. Sudah ditekan sama pihak keluarganya, diintimidasi oleh suami saya juga." Angel ikut merasa bersalah karena saat itu tidak tahu kisah tentang Indhira yang penuh penderitaan.
" Tapi sekarang Mbak Indhira sudah berada di tangan Mas Bagas dan Ibu. Pasti Mbak Indhira sudah merasa bahagia saat ini, Bu." Hanya beberapa kali bertemu, Pak Zul dapat melihat jika Bagas dan Angel sangat menyayangi Indhira.
" Dia itu wanita yang dicintai anak saya, Zul. Dan saya tidak ingin kehilangan anak saya lagi," jawab Angel masih malu mengakui jika dirinya memang sangat memperhatikan Indhira.
***
" Ada apa, Dahlia? Kamu kenapa teriak-teriak begini?" tanya Tante Marta saat mendengar teriakan Dahlia.
" Ma, ada Mamanya Kak Bagas." Dahlia menyebutkan alasan yang membuatnya berteriak kencang.
" Mamanya Bagas? Mamanya Bagas kenapa memangnya?" tanya Tante Marta bingung.
" Mamahnya Kak Bagas ada di depan, Ma. Mau bertemu dengan Mama," ujar Dahlia kembali.
" Mamanya Bagas mau bertemu dengan Mama? Mamanya Bagas ingin melamar kamu jadi menantunya?" tanya Tante Marta begitu percaya diri.
" Bukan, Ma! Kayaknya Mamanya Kak Bagas mau mendam prat kita deh, Ma! Dia saja tidak mau masuk ke rumah, malah menyuruh Mama menemuinya di mobil." Dahlia membantah dugaan Mamanya tadi.
" Hahh? Mendam prat? Ya ampun, mereka bawa polisi tidak, Dahlia? Mama takut dipenjara." Tante Marta ketakutan akan dilaporkan ke polisi karena telah menjual rumah orang tua Indhira tanpa persetujuan Indhira, dan juga memperlakukan Indhira dengan kejam saat Indhira remaja dulu.
" Lalu gimana, Ma? Mama temui dulu Mamanya Kak Bagas itu, Ma. Daripada semakin marah." Dahlia menganjurkan Tante Marta untuk segera menemui Angel.
" Papa kamu saja yang suruh temui! Mama tidak mau!" Tante Marta menolak enggan menemui Angel karena dia takut.
__ADS_1
" Pa, Papa!" Teriak Tante Marta mendengar ke arah pintu ruang tengah.
" Ada apa, sih, Ma? Ganggu Papa lagi nonton bola saja!" proses Om Feri keluar dari ruangan tengah.
" Pa, sana temui Mamanya Bagas. Dia ingin bertemu dengan Papa!" Tante Marta menyebut jika kedatangan Angel adalah ingin bertemu dengan suaminya.
" Mamanya Bagas? Memang apa hubungannya Mamanya Bagas itu dengan Papa?" Om Feri merasa tidak ada sangkut pautnya dengan Angel.
" Papa dulu hampir menjual Indhira, kan? Papa harus bertanggungjawab karena perbuatan Papa itu!" Tante Marta melempar kesalahan pada suaminya.
" Tapi Indhira 'kan kabur, Ma. Jadi Papa tidak bersalah, dong!" tepis Om Ferry.
" Tapi Papa tetap punya niat jahat sama Indhira, Pa!" Tante Marta tetap merasa Om Ferry bertanggungjawab atas kesalahannya dulu.
" Eh, Mama juga setuju dengan rencana Papa itu, kan? Jadi Mama juga harus ikut tanggung jawab, dong!" Sepasang suami istri itu saling berdebat dan saling menyalahkan tanpa ada yang mau mengalah.
" Pa, Ma, sudah jangan bertengkar! Kenapa pada berantem, sih!? Mamanya Kak Bagas sudah menunggu Papa dan Mama di mobilnya. Cepat temui, Pa, Ma! Kalau tidak bisa-bisa aku tidak boleh bekerja lagi di hotel itu!" Dahlia cemas jika sampai pekerjaannya terancam karena kedua orang tuanya tidak ada yang mau menemui Angel.
" Mama tidak mau!"
" Papa juga malas menemui!"
Tante Marta dan Om Ferry sama-sama menolak tidak mau menemui Angel.
Tok tok tok
" Permisi, Mbak Dahlia. Bu Angel bilang suruh cepat menghadap." Dari arah pintu depan rumah, Pak Zul datang menyampaikan pesan dari Angel, membuat ketiga orang di dalam rumah mengarahkan pandangan pada Pak Zul.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading❤️
__ADS_1