
Ddrrtt ddrrtt
Bagas melihat ponselnya berbunyi. Nama Raffasya yang terlihat di layar ponselnya, dan yang menghubunginya saat ini. Dengan cepat, Bagas mengangkat panggilan telepon dari Raffasya.
" Halo, Pak Raffa." Sapa Bagas sangat panggil. telepon Raffasya dia jawab.
" Bagas, Mama saya tadi telepon, menceritakan kalau Papa kamu datang ke ruang orang tua saya." Seperti dugaannya, ternyata Raffasya meneleponnya pasti karena ingin melaporkan sikap Adibrata yang tidak sopan masuk ke rumah Lusiana dan melabrak Indhira.
" Saya minta maaf, Pak. Karena Papa saya sudah membuat keributan di rumah Ibu Lusi." Bagas sungguh sangat malu terhadap keluarga Raffasya atas tingkah laku orang tuanya, apalagi sampai berkata dan melakukan tindakan kekerasan seperti yang dilakukan Adibrata terhadap Indhira.
" Tidak apa-apa Bagas. Lalu bagaimana kamu dengan Papamu?" Raffasya lebih penasaran dengan apa yang terjadi dengan Bagas dan orang tua Bagas setelah huru-hara yang terjadi di rumahnya.
" Saya sudah keluar dari rumah, Pak. Papa saya memberi pilihan kepada saya, meninggalkan Indhira atau keluar dari rumah. Saya tidak punya pilihan lain selain meninggalkan rumah dan perusahaan yang saya pegang." Bagas mengatakan apa yang terjadi setelah pulang dari rumah Lusiana.
" Kamu diusir?" Raffasya tidak menyangka jika Adibrata benar-benar tega terhadap anaknya sendiri. Dia merasa jika Adibrata benar-benar sosok arogan yang hanya mementingkan dirinya dan mengutamakan egonya daripada kebahagiaan putranya sendiri.
" Saya yang memilih keluar, Pak." Bagas enggan mengatakan jika Papanya mengusirnya. Terlihat sangat kejam jika orang beranggapan jika orang tuanya telah mengusirnya dari rumah.
" Lalu sekarang rencana kamu apa, Bagas?" tanya Raffasya lagi. Dia bisa merasakan beratnya menjadi Bagas dengan tekanan yang diberikan oleh Adibrata. Bahkan meskipun Bagas memilih keluar dari rumah, itu pasti sangat bertentangan dengan hatinya. Jika harus jujur, dia yakin jika Bagas pun tidak ingin meninggalkan keluarganya. Bukan karena takut tidak mendapatkan harta, tapi seakan memutuskan hubungan keluarga adalah hal paling menyakitkan. Apalagi Adibrata menganggap Bagas bukan seperti anak, melainkan seperti seorang musuh.
" Saya akan mencari pekerjaan, Pak." jawab Bagas. Bagas memang tidak punya pilihan lain selain mencari pekerjaan. Uang yang dia punya saat ini tidak akan bisa membiayai hidup dia kedepannya, apalagi dirinya akan menikah. Dia berkewajiban memberi nafkah kepada Indhira nantinya.
" Kamu ingin melamar di perkantoran?" Mengingat jabatan Bagas sebelumnya seorang CEO, tentu Raffasya tidak berpikir jika Bagas akan memilih pekerjaan sembarangan. Selama ini Bagas selalu hidup enak dengan segala fasilitasnya, apalagi jabatan yang dia pegang sebelumnya adalah jabatan tertinggi dalam suatu perusahaan. Dibandingkan dirinya, gaji yang diterima Bagas berlipat-lipat dari jumlah gajinya. Seandainya dia dapat memberikan pekerjaan di tempatnya, dia ragu jika Bagas akan mau menerimanya.
" Saya tidak membawa ijazah saya, Pak. Sekarang ini yang penting saya mendapat pekerjaan agar punya penghasilan. Karena saya harus membiayai rumah tangga saya dengan Indhira nantinya. Apapun pekerjaannya akan saya jalani selama itu pekerjaan yang halal dan tidak bertentangan dengan hukum." Bagas menjelaskan, jika saat ini dia tidak memikirkan pekerjaan apa yang harus dia terima, selama itu halal dan dia bisa mendapatkan penghasilan untuk membiayai hidupnya bersama Indhira
" Kalau kamu mau bekerja apa saja, nanti saya bantu carikan kamu pekerjaan, Bagas." Bagi Raffasya, memberikan pekerjaan untuk orang lain, bukan perkara sulit. Orang-orang di lingkungan sekitarnya adalah pebisnis. Selain dirinya, orang tuanya dan keluarga mertuanya adalah pebisnis handal. Apalagi Bagas orang berpengalaman memimpin perusahaan dan juga mempunyai pendidikan yang tinggi.
" Saya tidak enak terlalu banyak merepotkan Pak Raffa dan keluarga. Untuk pekerjaan, biar saya berusaha mencari sendiri, Pak." Entah berapa banyak Bagas merepotkan keluarga Raffasya, membuatkan enggan terus menerus merepotkan keluarga bos dari kekasihnya itu. Bagas tidak ingin hidup ketergantungan dengan bantuan orang lain. Dia ingin berhasil dengan upayanya sendiri.
" Bagas, saya dan istri saya berhutang nyawa terhadap Indhira. Karena dia sudah membantu menyelamatkan anak saya dari musibah kecelakaan yang bisa berakibat fatal. Karena itu kami akan berusaha membantu Indhira agar bisa hidup bahagia. Jika bersama kamu adalah kebahagiaan bagi Indhira, kami akan bantu kalian mengapai kebahagiaan itu." Raffasya menegaskan sekali lagi niatnya dan Azkia tidak setengah-setengah dalam membantu Bagas dan Indhira.
" Jika Indhira tahu saat ini kamu menganggur, tidak punya pekerjaan, dia akan sedih, karena itu kamu harus secepatnya mempunyai pekerjaan. Kalau kamu mencari sendiri, butuh berhari-hari mendapatkan pekerjaan itu. Jadi sebaiknya kamu jangan menolak bantuan kami." Raffasya meminta agar Bagas tidak menolak tawarannya.
" Terlepas dari kenakalan kamu di masa lalu, saya yakin kamu adalah pria yang baik dan bertanggung jawab, karena itu kami ingin membangu kamu, Bagas." lanjut Raffasya.
Bagas seakan tidak sanggup berkata-kata. Dia beruntung masih ada orang mendukungnya. Orang-orang di sekitar Indhira, baik keluarga Azkia maupun keluarga Rissa, semuanya tulus mendukung mereka berdua. Mereka yang tidak berhubungan darah dengannya dapat mengerti dan mau mendukungnya bersama Indhira. Namun orang tuanya sendiri yang seharusnya memberikan dukungan, menyemangatinya, justru seakan menjauh dan menentang pilihannya.
" Saya tidak tahu harus bagaimana membalas kebaikan Pak Raffa dan keluarga." Bagas juga tidak tahu, bagaimana harus menyampaikan rasa terima kasih atas kebaikan dan pertolongan Raffasya dan Azkia selama ini. Sepertinya hanya ucapan saja tidaklah cukup untuk membalasnya, terlepas karena Indhira telah menolong Naufal anak dari Raffasya dan Azkia.
" Jawabannya hanya satu, Bagas. Buat Indhira, karena selama ini dia sudah cukup menderita ..." Raffasya hanya memberi satu syarat ang harus dipenuhi oleh Bagas.
" Saya akan berusaha membahagiakan Indhira dengan segenap jiwa dan raga saya, Pak!" tekad Bagas. Tanpa diminta oleh Raffasya pun Bagas sudah bertekad akan membuat Indhira bahagia.
" Oh ya, sekarang ini kamu tinggal di mana? Apa kamu menginap di hotel?" Raffasya mengira Bagas menginap di hotel setelah terusir dari rumah orang tua Bagas.
" Saya hanya membawa sedikit uang, Pak. Sayang sekali jika harus menginap di hotel," aku Bagas jujur. Dia bukannya ingin mendapatkan empati dari Raffasya. Tapi dia ingin menjelaskan jika dia bisa hidup tanpa kemewahan.
" Lalu kamu di mana sekarang?" tanya Raffasya lagi.
" Sampai menunggu pagi, saya menunggu di cafe yang buka dua puluh empat jam, Pak. Besok pagi rencananya saya ingin menemui Indhira kembali di rumah Ibu Lusi." Bagas menjelaskan rencananya pada Raffasya untuk esok hari yang akan mendatangi rumah orang tua Raffasya untuk menemui Indhira dan memveri penjelasan kepada Indhira agar tidak salah paham.
" Sebaiknya kamu menginap di rumah saya saja daripada kamu di cafe itu, Bagas." Raffasya menawarkan Bagas untuk menginap di rumahnya, sementara cafe dia tidak buka dua puluh empat jam.
" Untuk kali ini, biarkan saya di sini saja, Pak." Kali ini Bagas menolak tawaran Raffasya. Dia tidak enak jika harus menginap di rumah Raffasya dan Azkia. Dia juga tidak ingin dikata aji mumpung. Karena kedekatannya dan kebaikan Raffasya, dia bisa seenaknya saja memanfaatkannya untuk keuntungannya sendiri.
" Ya sudah, kalau kemauamu seperti itu. Saya tutup dulu teleponnya." Raffasya berniat mengakhiri panggilan teleponnya.
" Baik, Pak. Terima kasih, selamat malam, Pak." Bagas dan Raffasya pun mengakhiri sambungan telepon mereka.
Bagas menaruh ponsel di meja lalu menyandarkan punggung ke sandaran kursi cafe. Dia harus semangat menghadapi masa depan, apa pun yang akan terjadi, dia yakin bisa melewati rintangan demi mendapatkan kebahagiannya bersama Indhira.
***
Ketika pagi menjelang, Bagas segera mencuci wajahnya di toilet cafe. Semalaman dia menghabiskan dua gelas kopi dan sepiring roti bakar. Walau rasa kantuk masih menderanya, namun berusaha dia tahan, karena dia tidak bisa tertidur di dalam cafe. Bagas sengaja tidak menginap di hotel untuk mengirit pengeluaran karena uangnya saat ini sangat terbatas untuk dia hamburkan.
Setelah keluar dari cafe, Bagas mencari masjid terdekat untuk dia melaksanakan sholat Shubuh terlebih dahulu, sambil menunggu hingga warna langit kembali terang, karena dia ingin kembali ke rumah Lusiana. Sementara nomer telepon Indhira yang sejak sebelum Shubuh dihubunginya tidak juga merespon panggilannya, bahkan pesannya pun diacuhkan oleh wanita itu. Padahal, dia tahu jika Indhira selalu terbangun sebelum waktu sholat Shubuh tiba.
Bagas merebahkan tubuhnya di teras masjid, karena langit masih gelap, dia mencoba untuk memejamkan matanya beberapa saat untuk menuntaskan rasa kantuknya yang begitu kuat menggelayuti kelopak matanya, apalagi mulutnya beberapa kali menguap. Sepertinya dua gelas kopi yang dia minum semalaman, hanya tahan membuat matanya terjaga sampai Shubuh.
Sementara di kamar tamu Lusiana, Indhira baru saja selesai berdoa setelah melaksanakan sholat Shubuh. Dia melihat ponselnya, karena sejak bangun tidur tadi, dia tidak memeriksa ponselnya terlebih dahulu.
Lebih dari sepuluh panggilan masuk dari Bagas yang tak terangkat olehnya, juga beberapa pesan yang dikirimkan Bagas kepadanya, yang tidak ingin dibacanya. Indhira bahkan menghapus semua chat dengan Bagas, karena dia berniat melupakan pria itu. Pria yang sangat dia cintai, namun selalu berakhir dengan luka.
__ADS_1
Indhira merebahkan tubuhnya kembali di atas tempat tidur. Tidak seperti biasanya jika berada di tempat orang lain, dia pasti akan beranjak ke arah dapur untuk membantu pekerjaan ART di rumah yang dia singgahi. Kali ini Indhira seperti tidak bergairah menjalani aktivitasnya hari ini. Dia seperti sedang merasakan patah hati untuk yang kedua kalinya dari pria yang sama. Indhira seakan menyesali pertemuannya kembali dengan Bagas. Mungkin jika dia tidak bertemu dengan Bagas, dia bisa hidup normal dan menjalankan aktivitas barunya sebagai asisten pribadi Azkia tanpa ada gangguan.
Setelah matahari menampakkan wujudnya, Bagas terjaga dari tidurnya saat seseorang membangunkannya. Orang yang membangunkannya adalah marbot, orang yang berjaga di masjid tersebut.
" Mas, maaf. Lantainya mau saya bersihkan," ucap marbot masjid itu dengan tangan memegang gagang kain pel.
" Oh, tidak apa-apa, Pak." Bagas langsung bangkit dari tidurnya. " Maaf saya ketiduran di sini." Bagas meminta maaf kepada penjaga masjid itu.
" Tidak apa-apa, Mas." sahut penjaga masjid dengan ramah.
Bagas mengambil dompetnya. Dia lalu mengeluarkan selembar uang seratus ribuan untuk dia serahkan kepada penjaga masjid. Walaupun dia berusaha untuk irit, namun tidak menghalangi niatnya untuk memberi uang kepada orang yang dia anggap kehidupan sosialnya di bawah dia. Indhira juga selalu mengingatkan dirinya jika beramal dengan ikhlas dapat membukakan pintu rezeki untuknya.
" Ini ntuk Bapak." Bagas menyodorkan uang itu kepada petugas masjid.
" Langsung ke kotak amal saja di sana, Mas." Penjaga masjid menolak uang dari Bagas tapi menunjuk kotak amal yang berada di dekat pintu masuk masjid.
" Ini untuk Bapak, kok! Lagipula jumlahnya tidak banyak." Bagas memang berniat langsung memberi kepada petugas masjid.
" Waduh, terima kasih, lho, Mas. Semoga berkah, Mas nya diberi kesehatan, rejeki yang lancar. Mas nya sudah menikah belum?" tanya petugas masjid itu.
" Belum, Pak. Tapi Minggu depan saya mau menikah," sahut Bagas jujur.
" Saya doakan semoga rencana pernikahannya berjalan lancar dan menjadi keluarga Sakinah Mawaddah Warohmah." Petugas masjid langsung mendoakan kebaikan bagi Bagas.
" Aamiin, Pak. Terima kasih." sahut Bagas.
Setelah kembali mencuci muka di tempat wudhu, Bagas kemudian meninggalkan masjid untuk ke rumah Lusiana. Dia ingin memberi penjelasan kepada Indhira terlebih dahulu soal pertunangan dirinya dengan Evelyn yang sudah berakhir. Dia yakin hal yang membuat Indhira tidak merespon telepon dan pesannya pasti karena pertunangan itu.
***
Menggunakan ojek online, jam delapan tepat Bagas tiba di depan rumah Lusiana. Memang terlalu pagi dia berkunjung ke rumah orang, namun dia harus secepatnya bertemu dengan Indhira.
" Pagi, Pak. Saya Bagas, saya ingin bertemu dengan Ibu Lusiana atau Pak Fariz." Karena yang berjaga di pos satpam bukan security yang berjaga semalam. Bagas harus mengenalkan dirinya kepada security. Bagas tidak mengatakan ingin bertemu dengan Indhira, karena dia berpikir jika security tidak mengenal Indhira.
" Semalam saya sudah bertemu dengan beliau, dan hari ini saya ada keperluan lagi dengan Ibu Lusiana dan Pak Fariz." Bagas mencoba meyakinkan jika dia sudah bertemu dengan Lusiana dan Fariz sebelumnya.
" Oh, sebentar, ya, Mas. Nanti saya laporkan dulu." Security yang pagi ini berjaga segera kembali menuju posnya untuk memberitahu ART di dalam rumah perihal kedatangan Bagas.
Beberapa menit sebelumnya di dalam rumah Lusiana ....
" Oh, Ibu ... saya sedang menggoreng ayam, Bu." jawab Indhira, tanpa bergerak dari tempat dia berdiri.
" Padahal kamu tidak usah repot-repot. membantu Junah, Indhira. Itu sudah tugasnya Junah." Lusiana melarang Indhira melakukan pekerjaan di dapur.
" Tidak apa-apa, Bu. Hanya menggoreng saja, kok." Meski hatinya sedang sedih, Indhira tidak ingin bermalas-malasan di rumah orang.
" Tante mau bicara dengan kamu, Indhira. Biar Junah saja yang meneruskan menggoreng." Lusiana mengulurkan tangan menggandeng Indhira dan mengajak Indhira berbicara santai di teras pekarangan samping rumahnya.
" Apa kamu sudah membaik, Indhira?" tanya Lusiana setelah mereka berdua duduk di kursi teras samping Lusiana.
" Iya, Bu.." sahut Indhira.
" Lalu bagaimana sikap kamu setelah kejadian semalam?" Lusiana ingin tahu bagaimana keputusan yang diambil oleh Indhira.
" Saya minta maaf, Bu. Karena kehadiran saya sudah membuat keributan di rumah Ibu ini." Bagaimanapun juga Indhira tidak enak hati karena kehadiran Adibrata yang membuat gaduh di rumah Lusiana karena kehadirannya di rumah itu.
" Jangan pikirkan hal itu, Ra. Tante tidak masalahkan itu. Oh ya, Kia bilang besok kamu mau pergi belanja untuk keperluan akad nikah, ya? Kalau kamu mau ijin pergi berbelanja, tidak apa-apa pergi saja, Ra." Lusiana sengaja menyinggung soal rencana pernikahan Indhira dengan Bagas.
Indhira menghela nafas panjang mendengar ucapan Lusiana. Awalnya dia memang berencana pergi berbelanja keperluan untuk akad dengan Bagas. Namun dia rasa semua itu sudah tidak perlu dia lakukan lagi, karena dia akan membatalkan rencana pernikahannya dengan pria itu.
" Tidak, Bu. Saya tidak jadi pergi," sahut Indhira dengan wajah tertunduk.
" Lho, kenapa? Kamu mau menikah pertengahan Minggu depan, kan? Kalau kamu memang sibuk dengan rencana pernikahan kamu tidak apa-apa, Tante tidak akan melarang." Lusiana dapat menduga jika perubahan rencana Indhira akibat kejadian semalam.
" Tidak usah, Bu. Saya tidak jadi pergi berbelanja." Indhira masih enggan terbuka dengan Lusiana, karena dia masih malu harus menceritakan masalah pribadinya pada Lusiana.
" Kamu tidak bermaksud membatalkan rencana pernikahan kamu, kan?" Lusiana dapat menduga apa yang dipikirkan oleh Indhira.
Indhira terkesiap saat Lusiana seolah tahu apa yang direncanakannya.
" Sebaiknya kamu bicara dulu dengan Bagas, sebelum mengambil tindakan, Ra. Dengarkan penjelasan Bagas lebih dahulu. Kalian saling mencintai. Jangan sampai kesalahanpahaman yang terjadi di antara kalian malah memisahkan kalian berdua." Lusiana berusaha menasehati Indhira. Karena dia sudah berjanji akan mendukung Raffasya yang ingin membantu menyatukan Bagas dan Indhira.
Indhira terdiam, dia tidak tahu harus bagaimana? Walaupun dia sangat mencintai Bagas, tapi dia tidak ingin menjadi orang ketiga dalam hubungan orang lain.
__ADS_1
" Bu, maaf. Ada tamu di luar. Katanya mau bertemu dengan Ibu atau Bapak." Mimin, ART Lusiana selain Bi Junah memberitahu Lusiana soal kedatangan Bagas setelah mendapat informasi dari security di depan.
" Tamu? Siapa pagi-pagi begini bertamu ke rumah, Min?'" tanya Lusiana dengan kening berkerut.
" Kata Pak Jojo sih, namanya Bagas, Bu." jawab Mimin.
Indhira membelalakkan matanya saat Mimin menyebut nama Bagas yang datang ke rumah Lusiana.
" Bagas?" Lusiana justru menatap ke arah Indhira, membuat Indhira tidak enak hati, karena Bagas datang bertamu di pagi hari.
" Suruh masuk saja, Min." Lusiana menyuruh Mimin memberitahu Jojo untuk mempersilahkan Bagas masuk ke dalam rumahnya.
" Baik, Bu." Mimin meninggalkan Lusiana dan Indhira.
" Bu, sebaiknya jangan diterima!" Indhira memohon agar Lusiana tidak menemui Bagas.
" Ra, kamu sebaiknya menemui Bagas. Bicarakan baik-baik masalah kalian. Tante yakin Bagas datang untuk menemui kamu." Lusiana mengajak Indhira untuk menemui Bagas. " Kalau kamu menghindar, ini tidak akan menyelesaikan persoalan."
Mendengar ucapan Lusiana, mau tidak mau, Indhira pun mengikuti apa yang diminta oleh Lusiana. Dia harus berhadapan kembali dengan Bagas.
Di ruang tamu, Indhira melihat Bagas sudah duduk di sofa. Pria itu langsung bangkit saat melihat dirinya dan Lusiana.
" Bu, maaf saja mengganggu waktunya." Bagas menyalami Lusiana.
" Tidak apa-apa, Bagas." sahut Lusiana.
" Ra ..." Kini Bagas menoleh ke arah Indhira yang seketika itu memalingkan wajah tak ingin menatap Bagas.
" Oh ya, kamu sudah sarapan belum, Bagas? Ikut gabung sarapan dengan kami dulu saja, yuk!" Lusiana malah mengajak Bagas untuk ikut sarapan bersama dengannya. Sebentarnya Lusiana sudah mendapat informasi dari Raffasya semalam soal Bagas yang diusir Adibrata, karena itu Lusiana mengajak Bagas untuk sarapan bersama.
" Tidak usah repot-repot, Bu." Bagas menolak tawaran Lusiana yang mengajaknya sarapan bersama.
" Tidak apa-apa, ayo!" Lusiana berjalan lebih dahulu ke dalam ruangan makan.
Indhira melirik ke arah Bagas, dia sebenarnya tidak ingin bertemu dengan Bagas saat ini, karena dia masih merasa kecewa karena Bagas sudah membohonginya.
" Ra, aku minta maaf atas perbuatan Papaku kemarin ..." Bagas masih sempat mengatakan permintaan maafnya pada Indhira atas perbuatan Papanya kemarin malam.
Indhira mende sah mendegar ucapan Bagas. Hatinya masih terasa sakit mengingat tam paran yang dilakukan orang tua Bagas kepadanya.
" Indhira! Bagas! Ayo kita sarapan dulu!" Suara Lusiana terdengar kembali dari dalam ruangan makan. Membuat Bagas dan Indhira langsung menghampiri.
" Ayo, sini duduk!" Lusiana mempersilahkan Bagas dan Indhira untuk duduk di kursi meja makan.
" Terima kasih, Bu." sahut Bagas duduk di seberang Lusiana, sementara Indhira duduk di samping Lusiana.
" Min, tolong panggilkan Bapak suruh sarapan!" Lusiana lalu menyuruh Mimin untuk memanggil suaminya.
" Baik, Bu." Mimin bergegas memanggil Fariz untuk ikut bergabung.
Sepuluh menit kemudian, mereka berempat sudah menikmati sarapan pagi bersama.
" Oh ya, kamu tidak berangkat ke kantor, Bagas?" Lusiana memulai percakapan kembali.
" Saya sudah tidak bekerja, Bu." sahut Bagas.
Indhira langsung menolehkan pandangan saat mendengar jawaban Bagas. Apakah Bagas meninggalkan pekerjaannya? Itu yang ada di benak Indhira.
" Tidak bekerja?" Lusiana dan Fariz saling berpandangan." Maksudnya kamu sudah tidak bekerja di perusahaan Papa kamu?" tanya Lusiana kembali.
" Benar, Bu." jawab Bagas.
" Jadi yang dikatakan oleh Raffa kalau kamu diusir dari rumah dan didepak dari perusahaan oleh Papa kamu itu benar, Bagas?"
Pertanyaan Lusiana selanjutnya membuat Bagas dan Indhita saling terbelalak dan beradu pandang. Bagas tidak tahu jika berita dirinya sudah keluar dari rumahnya dan sudah tidak diijinkan kembali bekerja, sudah sampai di telinga Lusiana. Sementara Indhira terperanjat saat tahu jika tunangannya itu diusir dari rumahnya. Indhira menduga hal itu berhubungan dengannya, karena Bagas masih berhubungan dengannya.
*
*
*
Bersambung ....
__ADS_1
Happy Reading ❤️