SKANDAL VIDEO MASA LALU

SKANDAL VIDEO MASA LALU
Tabrakan


__ADS_3

Bagas bersama Indhira datang ke sebuah bank pemerintah, karena dia bersama Indhira akan menandangani dokumen-dokumen dalam kaitannya dengan pembelian secara kredit rumah KPR di sebuah komplek perumahan sederhana di kawasan Jakarta Selatan..


" Silahkan ditanda tangani di sebelah sini, Pak." Petugas bank menunjukkan di mana saja Bagas harus membubuhkan tanda tangannya, bergantian dengan Indhira.


" Maaf, Pak Bagas. Sepertinya saya tidak asing mendengar nama Bapak." Petugas merasa familiar dengan nama Bagaspati Mahesa.


" Nama Bagas dan Mahesa itu memang banyak dipakai orang Indonesia, Pak" Bagas merendah. Dia tahu yang dimaksud oleh petugas itu memang dirinya. Namun dia tentu tidak ingin mengaku jika dia adalah pewaris kekayaan Adibrata Mahesa, karena saat ini pun dirinya sudah tidak menikmati kekayaan Papanya itu.


" Oh iya, mungkin juga, ya, Pak." Untung saja petugas bank itu tidak banyak bertanya-tanya lagi soal namanya yang terdengar familiar di telinganya. " Saya jelaskan sekali lagi, ya, Pak. Untuk cicilan perbulan sebesar dua juta lima ratus sembilan puluh lima ribu lima ratus rupiah, akan dicicil selama seratus dua puluh bulan. Cicilan jatuh tempo setiap tanggal dua puluh lima. Usahakan untuk menyetor dana sebelum tanggal jatuh tempo, ya, Pak." Petugas bank menjelaskan tentang cicilan yang harus dibayar oleh Bagas setiap bulannya.


" Kalau sebelum sepuluh tahun itu saya mau melunasi, apa bisa, Pak?" Jika ada rejeki, Bagas berencana akan melunasinya secepat mungkin agar tidak menunggu lama selama sepuluh tahun.


" Bisa saja, Pak. Jika memang Pak Bagas ada uang dan berniat melunasi, Bapak bisa menghubungi pihak kami. Tapi, mungkin Bapak akan dikenakan biaya penalti. Besarnya penalti yang dibebankan kepada debitur kisaran lima sampai tujuh persen dari sisa tagihan yang harus dilunasi." Petugas bank menjelaskan soal penalti jika Bagas berencana melunasi KPR nya.


" Oke, oke, saya paham," sahut Bagas.


" Apa ada lagi yang ingin ditanyakan, Pak Bagas?" Tanya petugas bank kemudian.


" Saya rasa itu sudah cukup," jawab Bagas.


" Untuk penyerahan kunci, nanti akan diserahkan oleh marketing dari pihak Angkasa Raya selaku developer. Di sini marketingnya Pak Zidan, ya, Pak?" Petugas bank menyebut nama marketing PT. Angkasa Raya sebagai pihak developer yang mengerjakan perumahan KPR yang dibeli Bagas..


" Iya, benar. Pak Zidan marketingnya." Bagas membenarkan.


" Saya rasa sudah semua proses tanda tangannya, Pak." Petugas hotel mengatakan jika sudah tidak ada lagi dokumen yang mesti ditanda tangani oleh Bagas.


" Baiklah kalau begitu, kami permisi." Bagas lalu bangkit dan bersalaman dengan petugas bank diikuti oleh Indhira. Setelah berpamitan, Bagas dan Indhira lalu berjalan keluar dari bank pemerintah itu.


" Kita mau makan di mana, Yank?" Tanya Bagas saat berjalan ke luar dari bank, karena mereka tadi memilih pergi ke bank lebih dulu dan berencana akan makan siang setelah pulang melakukan penandatanganan surat jual beli dengan pihak bank.


" Terserah Mas saja. Mas mau makan di mana?" Indhira menyerahkan pilihan pada Bagas..


" Kita makan di rumah makan waktu aku lihat kamu dengan Bu Kia, gimana? Aku juga perlu berterima kasih karena manager di sana membantu aku menemukan nomer mobil Bu Kia sampai akhirnya aku dapat menemukanmu." Bagas seakan ingin berkunjung ke tempat makan saat dia pertama kali melihat Indhira setelah bertahun-tahun berpisah.


" Ya sudah, kita makan di sana," jawab Indhira.

__ADS_1


" Kita pesan ojeknya dulu." Bagas tak mengunakan motor atau meminjam mobil dari hotelnya padahal dia mempunyai diperbolehkan mengunakan fasilitas hotel itu.


Bagas lalu mengeluarkan ponsel dari saku blazernya lalu dia memesan ojek online yang akan membawa dirinya dan sang istri ke restoran yang mereka tuju. Setelah menunggu sekitar sepuluh menit, akhirnya mobil yang dipesan oleh Bagas dan Indhira sampai juga di hadapan mereka dan bersiap mengantar mereka ke rumah makan pilihan mereka.


" Apa kita akan langsung menempati rumah itu kalau sudah mendapat kuncinya?" Tanya Indhira saat mereka berada di dalam perjalanan menuju restoran.


" Aku ingin rumah itu direnovasi lebih dulu biar sekalian kita pindah ke sana rumah sudah beres." Bagas ingin saat pindah nanti rumah mereka sudah layak huni.


" Untuk merenovasi pasti akan butuh dana yang banyak, Mas. Pakai uang yang dikembalikan dari Tante Lidya saja gimana, Mas?" Sisa uang yang pernah diberikan kepada Ibu Lidya memang ditransfer ke rekening Indhira oleh Mama Rissa, karena Ibu Lidya tahu, saat ini Bagas dan Indhira sangat memerlukan uang pegangan untuk memenuhi kebutuhan mereka. Apalagi saat Ibu Lidya tahu jika Bagas berniat mengambil KPR.


" Janganlah, Yank. Uang itu biar dipegang sama kamu saja." Bagas menolak menggunakan uang yang pernah dia serahkan untuk persiapan pernikahannya kemarin.


" Tidak apa-apalah, Mas. Lagipula untuk apa aku simpan uang banyak-banyak? Mending uang itu dipakai renovasi rumah, daripada Mas harus ambil hutang dari bank." Indhira tidak ingin suaminya terlalu banyak mengambil hutang bank, karena mereka juga harus menyicil kredit rumah sebulan-bulannya.


" Ya sudah, kita pikirkan lagi nanti," sahut Bagas.


Ciiittt


Brraakkk


" Sayang kamu tidak apa-apa?" Bagas khawatir saat melihat kening Indhira sampai terbentur sandaran jok mobil di depannya.


" Tidak apa-apa, Mas." Untung saja sandaran jok mobil yang berbahan empuk tidak sampai mencederai kening Indhira.


" Kenapa, Pak?" Kini Bagas bertanya pada driver ojek online.


" Tabrakan, Mas." Driver ojek online itu kemudian membuka seat belt lalu membuka pintu dan keluar dari mobil.


" Mas mau ke mana?" Melihat Bagas juga ingin keluar dari mobil, Indhira justru merasa ketakutan.


" Aku mau lihat ke luar. Yank. Kamu tunggu di sini saja." Bagas meminta Indhira untuk tidak mengikutinya.


" Tapi aku takut, Mas." Indhira takut jika akan ada keributan di luar sana.


" It's oke, Yank." Bagas mebenpuk pelan tangan Indhira yang melingkar di lengannya.

__ADS_1


" Tapi, Mas ...."


" Tidak apa-apa, kok!" Bagas mencoba meyakinkan lalu keluar dari dalam mobil itu.


Bagas melihat driver ojek online sedang beradu mulut dengan supir yang membawa mobil yang ditabrak oleh mobil ojek online yang membawa dirinya dengan Indhira.


Bagas memicingkan matanya melihat supir mobil yang ditabrak ternyata sangat dia kenal. Bahkan mobilnya pun sangat dia hapal milik siapa.


" Bagaimana saya bisa ganti, Pak? Sehari-hariya saja saya jadi driver ojol."


" Tapi mobil bos saya penyok kayak gini!"8


" Bapak juga salah, mau belok tidak lihat. ke arah kanan jalan dulu, tidak lihat kondisi jalan bagaimana!?"


Kedua orang berprofesi supir itu saling berdebat dan saling merasa benar dan menyalahkan.


" Pak Zul, kenapa?" Bagas lalu mendekat ke arah kedua orang yang saling berdebat itu.


" Den Bagas?" Supir yang bernama Pak Zul langsung menolehkan pandangan ke arah Bagas. Dia bahkan membelalakkan matanya saat melihat anak majikannya itu ada di hadapannya saat ini.


" Kenapa mobilnya? Pak Zul sama siapa?" Tanya Bagas kemudian.


" Mobil yang saya kendarai ditabrak sama mobil orang ini, Den. Saya sekarang ini bersama Mama Den Bagas." Pak Zul menyebutkan dengan siapa dia saat ini.


" Mama?" Bagas langsung menoleh ke arah mobil Mamanya.


" Bagas?" Secara bersamaan, pintu mobil mewah di hadapannya itu terbuka hingga terlihat sosok Angel yang keluar dari dalam mobil tersebut.


*


*


*


Bersambung ...

__ADS_1


Happy Reading ❤️


__ADS_2