SKANDAL VIDEO MASA LALU

SKANDAL VIDEO MASA LALU
Bodyguard


__ADS_3

Indhira baru saja meluruskan kakinya. Karena kondisinya saat ini sedang kurang fit akibat seharian kemarin dia tidak menyentuh makanan, ditambah pikirannya yang dibebani masalah berat, membuat tubuhnya terasa pegal selepas mengerjakan pekerjaan rumah.


Ceklek


Indhira menoleh ke arah pintu,. saat terdengar pintu kamarnya itu dibuka dari luar hingga memperlihatkan Tante Marta yang muncul dari luar kamarnya.


" Ini!" Tante Marta melempar surat yang kemarin diserahkan Ibu Tika kepadanya. Surat panggilan yang memintanya menghadap ke kepala sekolah sebagai wali murid Indhira.


" Kamu saja yang datang ke sana! Tante tidak mau menpermalukan diri Tante sendiri datang ke sekolah kamu!" Tante Marta menolak datang ke sekolah Indhira sesuai yang diminta oleh pihak sekolah.


" Aku yang datang, Tante? T-tapi, bukankah kemarin Ibu Tika meminta Tante yang datang?" Indhira terkesiap saat Tante Marta justru menyuruhnya datang ke sekolah, sementara dia sendiri belum siap bertemu muka dengan orang-orang yang ada di lingkungan sekolah.


" Kamu pikir Tante tidak malu datang ke sekolah kamu? Mau ditaruh di mana muka Tante ini kalau sampai guru-guru kamu dan murid-murid di sana tahu jika Tante adalah Tante kamu, hahh?!"


" Sekarang kamu cepat mandi dan pergi ke sekolah! Semua ini 'kan karena ulah kamu sendiri! Siapa suruh jadi perempuan bo doh sekali, mau saja diajak ke kamar sama laki-laki! Dasar keturunan pela cur, tidak jauh-jauh kelakuannya seperti pela cur juga!" Tante Marta kemudian meninggalkan Indhira yang hanya bisa menangis.


Indhira menyeka air matanya. Jika dia datang ke sekolah, pasti dia akan bertemu dengan murid-murid lain di sekolah itu. Dan benar seperti yang dikatakan Tante Marta, pasti bakal banyak orang yang akan mencemooh karena perbuatannya.


" Ya Allah, berilah hamba kekuatan untuk menghadapi semua cobaan yang Engkau berikan." Tak kurang-kurang Indhira berdoa memohon bantuan dari Sang Penciptanya.


Satu jam kemudian Indhira sudah berada di depan gerbang sekolahnya. Indhira malu jika kehadirannya di sekolah itu harus dilihat oleh murid lain sehingga dia datang setelah jam istirahat. Dia berharap tidak ada yang mengetahui kedatangannya disekolah itu karena murid-murid sedang sibuk mengikuti pelajaran di kelas masing-masing. Untung juga di bis dalam perjalanan ke sekolah tidak ada orang yang menyadari jika dia adalah pelaku wanita video a susila yang sedang viral. Atau mungkin mereka belum tahu soal video itu. Yang pasti Indhira tidak berani menegakkan kepalanya berhadapan orang lain. Dia lebih banyak menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan wajah dan mata sembabnya.


Dengan langkah berat Indhira melangkah ke arah pintu gerbang. Sedangkan jantungnya? Jangan ditanya lagi kecepatan detak jantungnya saat ini. Terasa berpacu lebih cepat berkali-kali lipat dari biasanya.


" Pak, saya mau bertemu dengan Pak Marcel." Dengan suara lirih, Indhira berkata seraya menundukkan wajahnya. Dia tidak punya keberanian. Walaupun hanya memandang wajah security di sekolahnya.


" Neng Indhira?" Pak Heru, security yang berjaga di depan mendekat ke arah Indhira dan membukakan pintu gerbang untuk Indhira.


" Terima kasih, Pak." Indhira langsung masuk tak ingin berbincang lama dengan Pak Heru karena dia benar-benar merasa malu.


Indhira memilih berjalan dengan langkah cepat dari arah lapangan menuju ruang kepala sekolah, tidak melalui koridor karena takut jika ada murid-murid yang melihat kedatangannya.


" Eh, itu Indhira!" Tak seperti yang diharapkan Indhira, ternyata ada murid yang menyadari kedatangannya di sekolah.


" Hei, ja lang! Mau apa datang-datang ke sekolah?! Tidak punya malu menampakkan muka datang ke sini!?"


" Bikin malu nama sekolah saja kamu, Indhira!"


" Ra, bisa open booking tidak, Ra?"


" Huuuuu ...."


Suara beberapa siswa terdengar bergemuruh dengan kalimat-kalimat menyakitkan membuat Indhira ketakutan. Sehingga dia berlari agar cepat agar cepat sampai ke ruang kepala sekolah dan terbebas dari ejekan beberapa murid tadi.


Buuuggghhh


" Aaakkkhh ...."


Terlalu panik dengan murid-murid yang mencemoohnya tadi, Indhira sampai menabrak seseorang dan membuat tubuhnya terhuyung ke belakang.


" Indhira? Kamu kok ke sini? Bagas nya mana?" Benny, orang yang ditabrak oleh Indhira terkejut melihat kemunculan Indhira di sekolah. Dia pun menanyakan keberadaan Bagas pada Indhira. Namun, Indhira tak memperdulikan pertanyaan Benny. Dia justru melanjutkan langkahnya ke ruang kepala sekolah.


Indhira mengurungkan niatnya ke ruang Pak Marcel sendirian. Jujur, dia belum siap berhadapan langsung dengan Pak Marcel. Sehingga Indhira memilih menemui Ibu Tika terlebih dahulu untuk bisa mendampinginya menghadap ke kepala sekolah.


Tok tok tok

__ADS_1


" Assalamualaikum, Bu." sapa Indhira saat masuk ke ruang Ibu Tika.


" Waalaikumsalam, Indhira??" Ibu Tika terperanjat saat melihat kehadiran Indhira di hadapannya. " Kenapa kamu berangkat?" tanya Ibu Tika heran. Melihat wajah sedih dan mata sembab Indhira, dia bisa merasakan tekanan yang saat ini dirasakan anak muridnya itu. Setelah peristiwa yang terjadi, akan sulit untuk orang seperti Indhira bisa kembali ke sekolah dengan permasalahan yang akan dia hadapi dari murid-murid lain di sekolah ini.


" Tante kamu mana? Sedang menghadap Pak Marcel?" Ibu Tika menduga jika saat ini Indhira mengantar Tantenya ke sekolah.


" Maaf, Bu. Tante saya tidak bisa datang kemari karena ada keperluan mendesak." Dengan suara yang hampir tercekat di tenggorokan, Indhira menjelaskan kenapa Tantenya tidak bisa hadir ke sekolahan memenuhi panggilan dari pihak sekolah.


" Tidak bisa datang kemari atau tidak mau datang kemari, Indhira?" Ibu Tika sepertinya dapat membaca apa yang sebenarnya terjadi.


Sebelum pelajaran jam pertama, Ibu Tika sengaja memanggil Rissa ke ruangannya. Sebagai sahabat Indhira, Ibu Tika menduga jika Rissa sedikit tahu banyak soal keluarga Indhira. Dari Rissa lah, Ibu Tika tahu bagaimana perlakukan Tante Marta dan keluarganya selama ini kepada Indhira. Termasuk rencana mengusir Indhira dari rumah orang tuanya sendiri.


Indhira hanya diam, tak berani menjawab pertanyaan Ibu Tika.


" Lalu, kamu yang datang kemari?" tanya Ibu Tika.


" Iya, Bu. Saya takut sekolah akan memberi sanksi lebih berat jika tidak ada perwakilan yang datang kemari," lirih Indhira dengan bola mata berkaca-kaca.


Ibu Tika mende sah melihat kondisi psikis Indhira saat ini. Dia merasa iba dengan jalan hidup yang sedang dialami Indhira. Jika Indhira adalah anak yang nakal atau sering bermasalah, mungkin dia tidak akan sepusing ini. Nyatanya Indhira bukan anak seperti itu dan termasuk anak yang rajin dan pandai. Namun, dia juga tidak bisa banyak membantu, karena pihak sekolah dan yayasan lah yang menentukan nasib Indhira.


" Apa ibu bisa menemani saya menghadap Pak Marcel, Bu? Saya takut ..." ucapan Indhira dibarengi air mata yang menitik di pipinya, sehingga dia buru-buru menyeka air matanya itu.


" Baiklah, ibu akan mendampingi kamu." Ibu Tika bangkit dari kursinya dan menghampiri Indhira.


" Jangan lupa selalu berdoa sebelum kamu menghadapi segala sesuatu." Ibu Tika mengusap punggung Indhira berusaha memberikan kekuatan terhadap Indhira.


" Kita ke ruangan Pak Marcel sekarang." Dengan merangkulkan tangannya di pundak Indhira, Ibu Tika membawa Indhira menuju ruang kepala sekolah.


Sesampainya di ruangan Pak Marcel, Ibu Tika yang mengetuk pintu ruangan.


" Permisi, Pak. Ini ada Indhira ingin menghadap Bapak. Karena Tantenya selaku wali murid berhalangan hadir." Ibu Tika yang menjelaskan kepada Pak Marcel kenapa Indhira yang datang menghadap.


" Maafkan saya karena saya membuat masalah yang sudah mencoreng nama baik sekolah ini, Pak." Saat Indhira sudah duduk di kursi di hadapan meja Pak Marcel, Indhira lebih dulu menyampaikan permohonan maafnya kepada Pak Marcel.


Terdengar Pak Marcel menghela nafas cukup panjang. Setelah mendengar penjelasan dari Bagas dan juga Ibu Tika yang menceritakan bagaimana kondisi Indhira, sebenarnya dia juga tidak tega harus mengambil tindakan tegas yang hanya diberlakukan untuk Indhira. Sementara tindakan itu tidak diterapkan pada Bagas, yang justru paling bertanggung jawab atas kasus ini.


" Bapak sangat-sangat menyesal dengan tindakan kalian berdua, Indhira. Kamu dan Bagas adalah murid yang pintar. Kalian berdua seharusnya bisa menjadi teladan yang baik bagi teman-teman kalian. Tapi, kalian berdua justru terjerumus ke dalam pergaulan bebas yang sangat fatal, apalagi hal itu sampai tersebar di masyarakat luas." Pak Marcel menyampaikan rasa kecewanya terhadap kedua murid yang berprestasi di sekolah itu.


" Sebenarnya Bapak tidak tega harus mengambil keputusan ini, Indhira."


Jantung Indhira kembali berdetak kencang. Dari kalimat yang diucapkan Pak Marcel, dia sudah dapat meraba hukuman apa yang akan diterima olehnya.


" Tapi, jika Bapak tidak mengambil keputusan ini, Bapak takut hal ini akan ditiru oleh murid-murid lainnya, karena mereka berpikir tidak ada hukuman yang diterapkan dalam kasus ini," lanjut Pak Marcel.


" S-saya terima apapun hukuman yang diberikan kepada saya, Pak." lirih Indhira dengan suara bergetar, dan bola mata mengembun.


" Maafkan Bapak, Indhira. Bapak melakukan ini bukan karena Bapak tega sama kamu. Bukan berarti Bapak tidak kasihan terhadapmu. Tapi, Ini sudah menjadi keputusan dari Pak Leo sebagai pemilik yayasan sekolah ini. Kami sudah memutuskan bahwa kamu ..." Pak Marcel menjeda kalimatnya beberapa detik dengan pandangan menoleh ke arah Ibu Tika yang seketika itu langsung menundukkan wajahnya.


" Kamu tidak dapat melanjutkan belajar di sekolah ini, Indhira." Dengan nada cukup berat Pak Marcel mengucapkan kalimat itu.


Seketika itu juga air mata yang sejak tadi Indhira bendung jatuh membasahi pipi mulusnya disertai suara isak tangis Indhira karena tidak sanggup menahan kesedihannya. Walaupun tadi bibirnya mengatakan jika siap menerima hukuman yang sudah dia perkirakan akan dia terima. Tapi, nyatanya hal itu tidak dapat menutupi rasa kecewa dan sedihnya.


Ibu Tika mengusap punggung Indhira, sementara satu tangan lainnya menyeka air mata yang menetes di pipinya sendiri. Tidak dapat dipungkiri jika dia pun merasakan kesedihan yang dirasakan oleh Indhira saat ini.


Pak Marcel terdiam beberapa saat. Dia tahu Indhira pasti akan sedih dengan keputusan itu, sehingga dia membiarkan Indhira menangis sampai Indhira bisa tenang.

__ADS_1


" Tapi, kamu jangan berkecil hati, Indhira. Bapak dan Ibu Tika akan membantu kamu agar bisa meneruskan belajar paket C agar kamu bisa mendapatkan ijasah yang bisa kamu pakai untuk melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi atau bisa kamu pakai untuk melamar pekerjaan. Untuk biayanya, nanti kami akan bantu." Pak Marcel berjanji akan membantu membiayai Indhira untuk mengikuti belajar paket C, karena dia sudah mendapat informasi dari Ibu Tika saat istirahat tadi, bagaimana perlakuan wali murid Indhira terhadap Indhira selama ini.


" Terima kasih, Pak." ucap Indhira masih dengan tersedu.


" Bapak harap kamu jangan berkecil hati karena kamu dikeluarkan dari sekolah ini. Kamu masih muda. Perjalanan kamu ke depannya masih panjang, Indhira. Kamu harus tetap bersemangat menjalani hidup kamu." Pak Marcel mencoba menyemagati Indhira agar tidak menyerah dengan keadaan.


***


Saat melihat Indhira muncul di sekolah, Benny segera menghubungi Bagas. Benny yakin jika Bagas tidak tahu soal kedatangan Indhira ke sekolah mereka.


" Halo, ada apa, Ben?" tanya Bagas yang sedang duduk termenung di teras balkon kamarnya, karena dia masih belum diperbolehkan ke sekolah.


" Gas, ada Indhira di sekolah."


" Hahhh? Apa?? Indhira ke sekolah??" Bagas tersentak kaget saat Benny memberi kabar kedatangan Indhira di sekolah mereka.


" Ada apa dia ke sana, Ben?" Bagas bergegas masuk ke kamarnya dan segera memakai jaket lalu mengambil kunci motornya.


" Dia tadi masuk ke ruangan Bu Tika, Gas."


" Oke, oke, aku ke sekolahan sekarang!" Bagas segera mengakhiri percakaan teleponnya dengan Benny dan berlari keluar dari kamarnya.


Saat motor yang dikendarai Bagas sampai di pintu gerbang rumahnya. Dua orang bertubuh tinggi kekar menghampiri Bagas. Bagas tidak kenal siapa mereka.


" Pak, mereka ini siapa?" tanya Bagas kepada Pak Yanto, sebagai security di rumahnya itu.


" Saya Dahlan dan ini rekan saya Taufan. Kami diberi tugas oleh Pak Adibrata untuk menjaga Mas Bagas." salah seorang pria bertubuh kekar itu memperkenalkan dirinya pada Bagas.


" Menjaga aku? Untuk apa?" tanya Bagas heran, karena sejak kecil dirinya tidak pernah dijaga oleh orang-orang yang cocok disebut bodyguard itu.


" Agar Mas Bagas tidak melakukan kesalahan lagi." Taufan yang kini menjawab.


Bagas mendengus kasar. Namun, dia tidak dapat menolak apa yang sudah diperintahkan oleh Papanya. Dia dapat menduga jika gerak geriknya kelak akan dipantau oleh ke dua pria itu.


" Pak Yanto, cepat buka gerbangnya!" Merasa sudah membuang waktu karena berbincang dengan Dahlan dan Taufan, Bagas menyuruh Pak Yanto segera membukakan pintu, karena dia takut Indhira mengalami sesuatu saat bertemu murid-murid lain yang pasti akan membully Indhira.


" Maaf, Mas Bagas. Pak Adibrata melarang Mas Bagas pergi dari rumah." Dahlan melarang Bagas yang ingin pergi,


" Aku ini mau ke sekolah, Pak! Memangnya Papa saya melarang saya ke sekolah!?" Bagas kesal karena niatnya pergi ke sekolah justru dihalangi oleh Dahlan dan Taufan.


" Menurut info yang saya dapat dari Pak Adibrata, Mas Bagas masih belum diijinkan berangkat ke sekolah dulu." Tentu saja Adibrata tidak mengijinkan Bagas sekolah selama kasus ini belum mereda.


" Tapi saya ada keperluan di sekolah, Pak! Memangnya hanya untuk ke sekolah saja tidak boleh!? Bapak bisa mengikuti saya jika tidak percaya!" geram Bagas.


" Maaf, Mas Bagas. Itu sudah perintah yang diberikan oleh Pak Adibrata kepada kami. Saya harap Mas Bagas dapat mengerti posisi kami!" tegas Taufan, yang memiliki wajah lebih galak ketimbang Dahlan.


Walaupun Bagas menguasai ilmu bela diri, tapi dia yakin tidak dapat melumpuhkan Dahlan dan Taufan, yang dipastikan memiliki ilmu bela diri jauh di atasnya. Ditambah badan mereka yang besar. Apalagi pintu gerbang saat itu dalam keadaan terkunci membuatnya sulit untuk bisa kabur dari rumahnya itu.


Akhirnya dengan sangat terpaksa dan hati yang sangat kesal, Bagas memutar arah dan kembali ke garasi untuk menaruh motornya kembali. Dia juga segera mengabari Benny, mengatakan jika dia tidak dapat keluar dari rumah karena ada dua orang yang menghalanginya pergi dari rumah dan meminta Benny segera menemui Rissa agar Rissa dapat menemani Indhira selama Indhira ada di sekolah. Dia yakin Indhira butuh seseorang yang dapat menemaninya menghadapi kemungkinan serangan caki maki dari teman-teman di sekolahnya.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ....


Happy Reading ❤️


__ADS_2